Setelah mendapat kabar jika Dosen berhalangan hadir, Abyra langsung melesat menuju apartemen Raka. Ia sempat menanyakan keberadaan pria itu dan menyuruh Abyra datang ke tempat tinggalnya karena sedang malas bertemu di luar. Dan kini, sudah hampir satu jam Abyra bersantai di sebuah sofa panjang sambil menggoreskan sesuatu ke atas sketchbook miliknya.
Meski masih dilanda rasa penasaran, Abyra sengaja tidak membahas ke mana semalam Raka pergi, mengingat mood pria itu kerap berubah dan tak ingin mengganggu suasana yang terbilang damai. Raka sendiri saat ini tengah membaca buku sambil tiduran di paha gadis itu.
“By…”
“Hmm…”
“Kamu nggak lapar?”
“Kamu mau makan?”
Raka mengubah posisinya menjadi duduk, dan menatap Abyra dengan datar. “Aku tanya kamu, kenapa kamu tanya balik?”
Abyra terkekeh tanpa melepaskan pandangannya dari sketchbook miliknya.
“Aku tanya,” Raka mengulang ucapannya.
“Iya, ini aku jawab.”
“Aku cium kamu, nih.”
Abyra terdiam. Ada semburat merah menjalar di kedua pipinya. Ia menahan senyumnya. Raka bisa mengucapkan kalimat itu dengan datar, tapi pria itu tidak tahu efek yang diberikan dapat membuat perut Abyra menjadi mulas.
Abyra memberikan atensinya pada Raka yang masih memandanginya. Ia tidak lagi memegang sketchbook miliknya dan memiringkan duduknya sehingga mereka saling berhadapan. Entah berapa lama Abyra bisa kuat bertatapan dengan pria yang begitu dicintainya.
Sebuah kecupan singkat mendarat di pipinya. Raka tersenyum manis setelah melakukan itu. Ia juga merapikan anak rambut Abyra ke sela-sela telinganya.
Entah mendapat keberanian dari mana, Abyra pun protes dengan tindakan Raka barusan. “Aku nggak mengharapkan kamu menciumku di situ, Raka…”
Raka menaikkan satu alisnya. Dan yang terjadi selanjutnya adalah, ia menerima sesapan yang begitu dalam di bibirnya. Raka tahu Abyra tak bisa lagi menahan dirinya. Dan yang dapat ia lakukan adalah membalas sesapan itu dengan lebih dalam. Merengkuh wajah Abyra dengan kedua tangannya, hingga tanpa sadar Abyra berpindah posisi dengan duduk di atas pangkuannya.
Ciuman itu semakin dalam dan panas. Raka tahu Abyra tidak akan cepat menghentikannya, tapi ia sendiri pun menikmatinya dengan meremas rambut Abyra sehingga membuat gadis itu mengerang dengan menggigit kecil bibir bawahnya. Raka tak bisa menahan tangannya saat Abyra berpindah dari bibir ke lehernya. Gadis itu mencium lehernya dengan perlahan dan membuat tangan Raka berpindah menyelusup kaus yang dipakai Abyra. Tangannya hampir meremas d**a gadis itu kalau saja ponselnya tidak tiba-tiba berbunyi.
Keduanya terdiam bersama dengan ponsel yang terus berbunyi. Abyra menoleh ke atas meja, melihat nama si penelpon yang terlihat jelas. Ia langsung kembali ke tempat dan merapikan rambut serta kausnya yang sedikit berantakkan. Raka menyadari perubahan sikap Abyra tanpa ingin membahasnya. Dan mereka terdiam sampai suara telepon itu berhenti.
“Hmm, aku ada janjian makan malam sama Dayasa.” Raka tahu Abyra menghindari kontak mata dengannya, dan Raka sadar hal itu karena Abyra tahu penelepon barusan adalah Tarisa.
“Oke.”
Abyra mencium kening Raka dan pergi meninggalkan pria itu sendiri di apartemennya.
***
“Kenapa sih, lo nggak berani bahas Tarisa ke Raka?” tanya Dayasa gemas. Kini mereka sudah ada di Koju. Abyra tidak benar-benar punya janji makan malam dengan Dayasa. Ia baru menghubungi sahabatnya saat pergi dari apartemen Raka.
“Gue merasa Tarisa itu ada di ranah yang nggak boleh tersentuh sama gue, Sa.” Abyra menjawab santai. Padahal jelas-jelas Dayasa lihat jika teman baiknya itu sedang cemburu.
“Ya tapi kan, Raka pacar lo.”
“Kan baru pacar, bukan suami.”
“Ah lo mah aneh, sebel gue.” Respons Dayasa membuat Abyra tersenyum geli. Ia akui hatinya begitu resah dengan kedekatan Raka dan Tarisa. Tapi karena kedekatan itu sudah terjadi jauh sebelum ia dan Raka berpacaran, Tarisa menganggap ia tidak bisa mengungkapkan kecurigaannya pada Raka.
“Gue tahu lo jaga banget supaya nggak ada masalah di antara kalian, tapi menurut gue nggak ada salahnya sesekali lo tanya kedekatan mereka. Kedekatan mereka tuh buat gue nggak wajar, By. Dan bisa-bisanya lo bersikap kayak nggak ada apa-apa.”
Abyra lagi-lagi tersenyum menanggapi kecerewetan Dayasa.
Tiba-tiba sang pemilik Koju, Martian, datang membawakan sepiring choux keju ke meja mereka. Abyra dan Dayasa saling pandang, karena tidak ada di antara mereka yang memesan kue.
“Buat kalian, pelanggan tetap gue.” Martian tersenyum.
“Buat kita apa buat Abyra doang, nih?” goda Dayasa sambil mengambil sepotong choux yang tampak menggiurkan.
“Makasi ya, Mar…” Abyra menatap Martian yang tampak salah tingkah dengan menggaruk belakang kepalanya.
“Gue ke bawah lagi ya.” Martian pun pergi setelahnya. Meninggalkan Dayasa yang masih saja tersenyum menggodanya.
***
Abyra sedang terlelap di dalam kamarnya yang gelap. Jendela lebar dengan tirai gorden yang dibiarkan terbuka membuat cahaya bulan masuk ke dalam kamarnya. Namun getaran ponsel di atas nakas membuat ia harus menghentikan nyamannya terlelap. Dengan mata berat Abyra meraba ponselnya di sisi samping tempat tidurnya. Dilihatnya sebentar nama si penelepon yang kemudian langsung membuat ia tersadar penuh setelah mengetahui itu Raka.
"Halo?"
"Kamu udah tidur, yaaa? Bangun doonggggg... samperin aku."
Abyra sedikit terkejut. Dilihatnya jam menunjukan pukul satu lewat dua puluh menit.
"Kamu di mana?" tanya Abyra ragu.
"Aku ada di tempat kesukaan kamu."
"Ngapain? Sama siapa? Kamu naik apa ke sana?"
Terdengar suara tawa Raka yang sedikit meledek. "Aku tunggu yaaaa... daaah...!" Sambungan telepon terputus ketika Raka selesai mengucapkan kalimat terakhirnya. Abyra tidak mengerti. Pria yang biasanya dingin padanya itu terdengar begitu ceria pada tengah malam seperti sekarang.
***
Abyra terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara. Namun sejak kecil ia terbiasa tinggal sendiri di rumah dan hanya ditemani oleh pengasuh serta beberapa pembantu di rumah. Kedua kakaknya melanjutkan studi di luar negri. Kakak perempuannya sempat kuliah kedokteran di Jerman, dan setelah mendapat gelar sebagai dokter ia kembali ke Jakarta. Kakak perempuannya sudah menikah. Ia tinggal bersama suami dan anak perempuannya yang berusia 5 tahun. Sementara kakak laki-lakinya mengambil s2 di Melbourne, dan hanya pulang ke Jakarta bila libur kuliah. Dan sebagai pasangan pengusaha, orangtua Abyra pun lebih sering menghabiskan waktu di luar negri untuk urusan bisnis.
Semenjak Abyra masih kecil ada satu tempat yang selalu ia kunjungi bersama orangtuanya beserta kedua kakaknya. Tempat itu berupa sebuah hutan kecil yang berada di pinggir kota. Hutan kecil itu berada di belakang sebuah bangunan hotel milik keluarganya. Di ujung hutan kecil tersebut ada sebuah danau buatan dengan permandangan kabut tebal yang kasat mata. Di pinggir danau terdapat sebuah pohon yang besar dengan sebuah ayunan yang menggantung di salah satu dahan kekarnya.
Di sisi danau ini biasanya Abyra dan keluarganya menghabiskan waktu bersama. Papa dan Vicko akan memancing di pinggir danau. Lalu Mama, Mariana, serta Abyra akan membuat barbeque di atas pemanggang. Mereka selalu melakukan piknik di tempat ini sambil menikmati kuningnya langit sore dan berakhir dengan hamparan bintang di malam hari.
Namun hal itu jarang sekali mereka lakukan setelah kedua kakak Abyra melanjutkan pendidikan ke luar negri. Usaha orangtua Abyra di bidang perhotelan yang semakin berkembang juga membuat mereka jarang berada di rumah. Dan beberapa kali Abyra selalu meminta Raka untuk menemaninya melihat langit sore di tempat ini.
Malam ini, kabut tipis yang berada di sekitar danau tidak menghalangi pandangan. Hawa dingin dikalahkan dengan perasaan tenang ketika memandang hamparan bintang di langit luas. Abyra melihat sebuah sedan hitam Raka telah tiba terlebih dahulu. Dengan perlahan ia memarkirkan mobilnya di dekat mobil Raka. Suara pintu mobil yang ditutup Abyra tampaknya menyadarkan Raka dari lamunannya saat ini. Ia berjalan perlahan menghampiri Raka yang sedang terdiam duduk di atas ayunan.
Raka menoleh. Ada yang berbeda dengan Raka. Wajahnya terlihat tenang, beda dengan biasanya. Abyra memang mengenal Raka dengan baik tapi hingga saat ini Abyra masih tidak bisa menebak suasana hati Raka yang sering berubah-ubah. Biasa ia menghadapi Raka yang cuek, yang pemarah, yang angkuh, yang tidak mau didekati, yang tidak peduli, dan segala sifat dingin lainnya. Meski sudah berhasil memilikinya, Abyra sering merasa jika ia seakan tidak bisa benar-benar menyentuh pria itu.
Namun untuk saat ini Abyra mendapati Raka yang tampak bersahabat. Dan ia menyukai itu.
"Kamu ngapain?"
Raka tersenyum sambil menepuk-nepuk pangkuannya. "Sini, sih. Gak cape kamu berdiri terus?" Raka menarik lengan Abyra, menyuruh Abyra untuk duduk di pangkuannya. Ayunan bergerak perlahan. Kini dua pasang mata itu tengah memandang hamparan kabut yang ada di sekeliling danau. "Kamu mau aja aku suruh datang malam-malam gini."
Abyra tertawa kecil sambil berpegangan pada kedua tali ayunan. "Kalau aku gak datang nanti kamu nungguin aku sampe pagi."
Raka mempererat pelukannya supaya keseimbangan mereka tetap terjaga. "Aku lagi nyobain mobilku dari bengkel tadi. Terus aku ke sini. Aku juga gak tahu kenapa tiba-tiba aku pengin ke sini. Tapi pas sampai di sini rasanya aneh nggak sama kamu."
Tidak ada jawaban dari Abyra. Raka melirik wajah Abyra. "Kok, kamu diam aja? Kamu masih marah gara-gara Tarisa telepon, ya?"
"Gak kok."
"Terus kenapa?" tanyanya lembut.
Abyra menoleh. Wajah mereka kini begitu dekat. "Kadang aku berpikir, apa aku harus menyerah tentang kamu?" Abyra berucap perlahan. Seolah-olah ia sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Raka terdiam sesaat. "Kenapa kamu gak ninggalin aku aja. Bukan hal yang sulit kok, kamu dapetin yang lebih baik dari aku."
"Hmmm, aku sulit dapet yang lebih baik, atau aku yang sulit ngelepasin kamu? Aku kan, dapetin kamu dengan susah payah, enak aja, masa iya mau aku lepasin begitu aja."
Raka tertawa kecil. "Haha.. Aku kan, fleksibel. Kamu mau sama aku, ya.... syukur. Gak mau ya, gak apa-apa."
Abyra sedikit kesal mendengar ucapan Raka meski ia tahu pria itu bercanda. "Kamu pernah berpikir perlu berjuang untuk mempertahankan aku gak, sih?" tanyanya lagi
"Hmm... gak pernah. Abis aku selalu ngerasa kalau kamu gak akan ke mana-mana. Ya, walaupun kebanyakan orang selalu berkata kalau kita gak pernah sadar apa yang kita punya sebelum semuanya hilang. Mungkin aku belum pernah berpikir akan kehilangan kamu, jadinya ya seperti itu." Abyra hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Raka. Ia memang tidak akan pernah ke mana-mana. Sedikitpun tidak ada niatan dirinya untuk meninggalkan Raka.
Abyra dan Raka mulai terbawa dengan lamunan masing-masing. Hamparan bintang di langit, serta kabut yang semakin menebal membuat luas danau yang seakan tampak tak terbatas. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Raka mengantar Abyra sampai ke mobil yang parkir tepat di belakang mobilnya.
"Kamu juga langsung pulang ya?" pinta Abyra di ambang pintu mobilnya yang tengah terbuka. Ia tersenyum pada Raka. Ada perasaan masih ingin tetap tinggal dalam hatinya, tapi rasa lelah dan kantuk mengharuskan ia kembali ke rumah.
Raka tersenyum sambil mengangguk perlahan. "Kamu hati-hati ya." Ditatapnya Abyra lekat-lekat. Menanti setiap detik pergerakan Abyra masuk ke mobilnya. Namun hal lain mendorong Raka untuk menghampiri Abyra. Mencegah pintu mobil itu tertutup dan menarik lengan Abyra agar ia tidak masuk ke dalam.
"Abyra..."
"Iya...."
Mereka kembali saling bertatap. Wajah mereka sangat dekat. Raka menatap Abyra dengan sendu. Menunjukan raut wajah yang kembali berbeda, dan lagi-lagi membuat Abyra heran. Tidak biasanya Raka terlihat seperti ini. Ada perasaan sedih sekaligus takut yang terpancar dari mata Raka yang hanya bisa terbaca oleh Abyra.
"Aku sering bikin kamu sedih, ya?"
Abyra tertawa kecil. Ia tidak menyangka Raka akan menanyakan hal ini kepadanya. "Gak sering, kok. Kenapa emangnya?"
"Gak tahu kenapa tiba-tiba aku ngerasa takut kalau pagi ini aku gak bisa ketemu kamu lagi."
Abyra tersenyum. Hatinya menghangat. "Kenapa? Pasti kamu mau kabur, deh."
Raka semakin menatap Abyra lekat. Dipegangnya kedua pipi Abyra. "Terima kasih buat segala kesabaran kamu. Aku pasti bisa lebih baik buat kamu."
"Kamu ngomong apa, sih?"
"Kamu bisa tunggu sebentar lagi kan? Kamu bisa bersabar sedikit lagi kan? Aku gak mau janji tapi aku sedang berusaha. Aku berusaha untuk jadi yang terbaik buat kamu. Yang mencintai kamu lebih dari sekarang." Abyra dapat melihat tatapan sedih terpancar dari mata Raka. Tidak biasanya Raka seperti ini.
"Kamu nggak boleh suka sama orang lain selain aku. Kamu cuma bahagia kalau sama aku kan? Kamu gak pernah menyerah soal aku kan?"
Abyra tertawa kecil. Bersikap tenang seperti biasa tapi air matanya mulai menggembang. Ada perasaan bahagia luar biasa di hatinya. Sebelumnya Raka memang tidak pernah berucap seperti ini. Abyra juga tidak ingin bersusah-susah menanyakan ada apa dengan Raka saat ini. Ia hanya merasa jika saat ini ia sangat sedih sekaligus tersentuh oleh ucapan-ucapan Raka barusan.
"Emangnya kamu pernah lihat aku menyerah soal kamu? Gak pernah kan?"
"Entah kenapa aku ngerasa kalau sebenarnya yang paling takut itu aku. Aku tiba-tiba takut kalau kamu pergi. Dan di saat itu aku baru sadar..... kalau aku baru aja kehilangan sebuah rumah. Aku ingin kamu tetap menjadi rumah buat aku. Buat tempat aku pulang. Selamanya aku ingin pulang ke hati kamu."
Abyra melepaskan pegangan tangan Raka di pipinya. Ia memeluk Raka dengan erat. Ada perasaan bahagia yang menghangatkan hatinya. Ia menangis. Ia tidak peduli dan tidak ingin tahu mengapa tiba-tiba Raka berkata seperti ini padanya. Ia hanya merasa bahwa saat ini ia sedang memeluk kebahagiaannya. Kebahagiaan yang datang sendiri padanya. Angin kembali menerpa membuat mereka saling mempererat pelukan. Bulan terlihat penuh dengan hamparan bintang di langit luas.
Begitu erat Abyra memeluk kebahagiaannya. Sedikitpun rasa takut itu hilang sudah. Ia merasa telah menjadi orang paling kuat di dunia ini, tidak peduli sekalipun pagi ini dunia akan berakhir. Tidak peduli rintangan apapun yang akan menghadangnya ia merasa sanggup menghadapi asal Raka ada di pelukannya. Asal Raka terus menggenggam tangannya. Abyra tidak peduli. Tidak terbayang, karena memang dunianya akan benar berakhir....