tiga

872 Words
Cahaya matahari masuk melalui jendela membentuk garis-garis sinar kekuningan yang mengarah pada tempat tidur Abyra. Jam menunjukan pukul 8 pagi. Suara jam besar menggema di ruang tamu hingga terdengar sampai ke kamar. Rumah Abyra memang selalu terlihat sepi. Hanya bisa menemukan para pekerja di setiap sudut rumah yang sedang melakukan pekerjaan bersih-bersih di pagi hari. Tampak Dayasa lari tergesa-gera dari ruang utama dan berlari melewati beberapa pekerja berseragam yang sedang membereskan perabotan rumah. Dayasa dan Abyra bersahabat dari SMA. Dan kedatangannya sudah tidak asing lagi di rumah ini. Ia tidak perlu berhadapan dengan security yang ada di depan rumah untuk menemui sang pemilik rumah. Rambut coklat ikal sepunggung bergoyang ke sana kemari ketika ia berlari memasuki rumah besar ini. Dengan sepatu heels tingginya ia mampu berlari bahkan menaiki setiap anak tanga yang membawanya menuju kamar Abyra. Dayasa terpaku saat ia membuka pintu kamar dan mendapati Abyra masih tertidur. Perlahan Abyra membuka matanya. Dengan senyum tipis ia melirik Dayasa yang ada di ambang pintu. "Good morning..." Dayasa tersenyum dan mendekati Abyra. Ia berjalan sangat pelan. Ia berusaha menunjukan ekspresi seperti biasanya. "Handpone lo nggak aktif ya?" Abyra menepuk sisi pinggir tempat tidurnya. Mengayomi agar Dayasa duduk di dekatnya. Abyra masih mengenakan baju yang tadi malam ia pakai untuk bertemu Raka. "Kayaknya lowbat, deh. Gue semalam ketemu sama Raka sampe jam tiga pagi." Dayasa hanya tersenyum. Tidak ada tanggapan darinya. Justru Dayasa malah membuang pandangannya dan membuat Abyra yang mengenalnya sebagai teman dekat bisa melihat ada kejanggalan dari Dayasa. Tentu saja tidak seperti Dayasa yang biasanya. "Ada apa, sih? Kok, lo sedih gitu?" Dayasa berusaha untuk kembali menatap Abyra sambil tersenyum tapi matanya seperti tak kuasa menutupi apa yang ada di dirinya. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca. Kali ini Dayasa benar-benar tidak dapat menahan tangisnya. Semakin ia menatap Abyra, semakin ia tidak dapat menahan air matanya. Tentu hal ini membuat Abyra makin kesal dan memaksa Dayasa untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ada apa, Sa? Bilang sama gue sekarang. Kalau nggak ada hal yang penting nggak mungkin lo pagi-pagi ke sini." Dayasa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan menangis. *** Abyra dan Dayasa menghentikan mobil mereka tepat di depan lobi rumah sakit. Dayasa langsung memberikan kunci mobilnya kepada petugas valet sementara Abyra sudah berlari mendahului Dayasa. Abyra langsung mencari ruangan di mana Raka berada. Koridor rumah sakit tampak ramai dengan suara langkah kaki mereka yang berlari tergesa-gesa. "Kak Rasca... Raka di mana? Gimana keadaan dia?" tanya Abyra kepada kakak laki-laki Raka saat ia temui di sebuah lorong rumah sakit. Rasca hanya berbeda tiga tahun dari Raka, dan sudah beberapa kali Abyra bertemu dengan Rasca. Rasca dapat melihat tatapan cemas di mata Abyra. Ia mengajak Abyra untuk duduk di kursi tunggu yang ada di dekat mereka. Rasca menoleh pada Dayasa. Kemudian ia kembali beralih pada Abyra yang tampak tidak sabar menunggu jawaban darinya. "Kita sama-sama berdoa buat kesembuhan Raka ya, Aby." "Ya tapi Raka kenapa? Kenapa sekarang dia ada di rumah sakit? Dari kapan dia masuk rumah sakit? Semalam aku masih ketemu sama dia, kenapa sekarang tau-tau dia udah ada di rumah sakit?" "Tenang, Abyra." Dayasa mendekati Abyra dan memeluknya sambil berdiri. "Kita semua juga gak mau ada kejadian kayak gini." Tiba-tiba Riani, Ibu Raka keluar dari sebuah ruangan bersama seorang dokter yang tidak lain adalah Mariana, kakak Abyra. Dilihatnya mata Riani yang terlihat sedikit sembab. Mariana tampak berbicara pada Riani kemudian menghampiri Abyra. Abyra langsung bangun dari duduknya dan juga menghampiri Mariana. "Kamu jangan banyak bertanya dulu sama mamanya Raka. Kamu hibur dia, ya," pesan Mariana dengan suara perlahan. Tatapan matanya terlihat sangat iba. "Tapi Raka bagaimana?" Mariana tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis sambil mengelus pipi adiknya itu. Mariana berlalu meninggalkan kerumunan orang yang sedang bersedih. "Tanteee..." Abyra menghampiri Riani. Riani menyambut Abyra dengan pelukan. Ia menangis. "Tante sabar, ya. Raka pasti baik-baik aja." Abyra berusaha menenangkan Riani walaupun saat ini hatinya juga sedang kalut. Hatinya dipenuhi dengan rasa penasaran yang luar biasa. Kalau saja ia tidak bisa mengontrol dirinya, pasti dia sudah memaksakan tiap orang untuk mengatakan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Riani melepaskan pelukannya. Kini wajahnya tampak kesal tapi kesedihan masih terpancar jelas di wajahnya. "Semua gara-gara Raka masih bergaul dengan perempuan itu." Abyra terdiam. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Riani barusan. Perempuan itu? Perempuan yang mana? "Maksud Tante?" "Bener kata Tante. Kalau saja pagi ini Raka gak pergi sama Tarisa, semua ini gak bakal terjadi," tambah Dayasa. Abyra menoleh pada Dayasa. Ada berjuta tanya memenuhi pikirannya. Sepertinya hanya dirinya sendiri yang tidak tahu ada apa sebenarnya. "Udah-udah. Gak usah saling menyalahkan. Udah kejadian ya, udah. Mending sekarang kita sama-sama berdoa buat kesembuhan Raka." Rasca mendekati Riani dan mengusap punggung Ibunya. Semua terdiam. Abyra tidak peduli dengan perempuan yang mereka bicarakan. Dengan perasaan kalut Abyra hanya berpikir kenapa kejadian ini bisa menimpa Raka. Raka yang beberapa jam lalu masih dapat ia temui, kenapa pagi ini ia mendapati kabar lain. Yang malam tadi masih dapat ia dengar suaranya, kini terbaring kaku di atas tempat tidur dengan sebuah masker oksigen di wajahnya. Abyra melihat Raka dari luar jendela. Ia menangis. Ingin rasanya semua ini tidak nyata. Ia berdoa dalam hati, berdoa dan memohon kepada Tuhan demi kesembuhan Raka. Rasanya ia tidak pernah sanggup membayangkan akan kehilangan Raka. Tidak akan pernah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD