"Gimana keadaan Raka, Sayang?"
"Raka masih belum sadar, Ma. Tapi kita semua di sini berharap banyak sama kesembuhannya."
"Besok Mama sama Papa pulang ke Jakarta. Kamu yang sabar, ya. Sampaikan salam Mama sama Papa buat mamahnya Raka."
"Iya, Ma."
Abyra kembali memasukan telepon genggamnya ke dalam kantong celana jins-nya. Pagi ini ia sudah kembali berada di rumah sakit. Pagi-pagi sekali ia hanya pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Ia berada tepat di depan mesin kopi. Tatapannya terlihat sedih. Yang ia pikirkan benar-benar hanya kesembuhan Raka.
"Good morning, Raka," sapa Abyra saat memasuki kamar rawat Raka. Semua tampak sepi. Raka masih terbaring tak berdaya. Suara monitor terdengar menandakan detak jantung Raka masih berdenyut. Riani sedang mengambil beberapa keperluannya di rumah sementara Rasca berada di kantornya. Abyra sendiri sedang menunggu Dayasa dan Arian yang masih berada di kampus.
Abyra meletakan gelas kopinya di atas meja. Kemudian membuka gorden agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam kamar. Abyra melihat kemacetan di luar sana mengingat saat ini ia berada di lantai yang cukup tinggi. Lagi-lagi ia tersadar, ia tidak boleh sedih. Ia yakin Raka dapat melihatnya saat ini.
Abyra mendekati Raka. Mengecup kening Raka. Raka tampak pucat. Abyra menoleh sebuah kalender duduk di dekatnya. Saat ini tanggal 18 Desember.
"Hei. Lusa ternyata ulang tahun kamu ya?" Abyra meraih tangan Raka dan menggenggamnya perlahan. "Kalau kamu udah sembuh, nanti kita rayain sama-sama ya. Kita rayain di danau mau? Atau kita ajak Dayasa, Arian, dan teman-teman kamu yang lain buat adain lagi pesta kembang api di sana. Oh atau sekalian aja kita rayain pas malam tahun baru, gimana?"
BRAKK...!!!
"HAI! Annyeonghaseyo!!!" Suara teriakan Dayasa sedikit menganggetkan Abyra. Ditengoknya ke arah pintu masuk. Tampak Arian yang sedang membekap mulut Dayasa dengan erat sembari mengomel.
"Kamu bisa santai dikit gak, sih? Udah tahu ini rumah sakit. Pakai teriak-teriak segala lagi." Omelan Arian membuat Abyra sedikit terhibur. Ia tertawa kecil melihat Dayasa yang langsung meminta maaf kepada Arian.
"Kok, gak pada kuliah?"
"Gak ada dosennya," jawab Dayasa sambil mendekati vas bunga yang berada di dekat Abyra. Ia mengganti bunga tersebut dengan bunga matahari yang dibawanya.
"Gue sih, yang gak ada dosennya. Eh dia ngikut-ngikut tuh," sahut Arian sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dayasa langsung mencibir pada Arian tapi tidak dihiraukan.
"Kok, lo malah bawain bunga kesukaan gue, sih?"
"Apa pun yang lo suka, Raka juga pasti suka."
"Gue suka ondel-ondel, lo juga suka gak, Sa?" tanya Arian sedikit meledek. Dayasa menoleh pada Arian kesal. Ondel-ondel merupakan hal yang paling ditakuti oleh Dayasa. Sejak kecil ia takut sekali dengan ondel-ondel. Pernah dulu ia tidak mau sekolah hanya karna sekolah sedang mengadakan pameran kesenian Jakarta, di mana di sekolah terdapat pagelaran berupa ondel-ondel. Dipaksa bagaimanapun oleh mamahnya untuk ke sekolah, Dayasa malah marah-marah dan mengurung diri di kamar.
"Denger namanya aja gue udah merinding." Dayasa bergidik ngeri
"Gak cinta lo sama gue berarti," cibir Arian.
"Au ah."
Tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan di luar kamar rawat. Suara Riani terdengar marah. Abyra, Dayasa, dan Arian saling berpandangan. Tanpa menunggu lama mereka bertiga segera keluar untuk mencari tahu ada apa.
"Kamu gak perlu datang untuk melihat Raka. Saya gak akan pernah mengizinkan kamu menjenguk Raka." Riani tampak didamping oleh seorang pembantu yang sudah tua. Dia adalah Mbok Irah. Mbok Irah sedang berusaha menenangkan majikannya tersebut.
Riani tengah berhadapan dengan Tarisa. Tarisa juga mengenakan pakaian pasien rumah sakit. Ada sebuah perban di dahinya. Ia tidak mengenakan alas kaki. Abyra sudah bisa menduga jika Riani melarang Tarisa untuk menemui Raka. Dilihatnya Tarisa tampak menangis sambil dipegangi oleh seorang wanita. Entah ibunya atau bukan. Wanita itu belum terlalu tua tapi berdandan sangat menor dengan model rambut ikal sebahu. Ia pun seperti tidak mau mengambil risiko dengan menahan Tarisa agar tidak mendekati kamar rawat Raka.
"Tante. Aku mau lihat Raka sebentar aja."
"Kamu gak perlu ketemu-ketemu Raka lagi."
"Sebentar aja, Tante." Tarisa merajuk. Ia terus memohon pada Riani.
"Kamu gak perlu lagi datang-datang ke keluarga saya, apalagi mendekati anak saya. Cukup sudah, saya gak mau dengar apa-apa lagi tentang kamu, Tarisa!"
Sang wanita yang dari tadi memegangi Tarisa tampak berusaha mengajak Tarisa pergi tapi tampaknya Tarisa belum mau pergi. Matanya berkaca-kaca. Arian dan Dayasa hanya melihatnya di ambang pintu. Sedangkan Abyra mendekati Riani dan membujuknya untuk segera masuk.
Riani tampak sedih. Ia mendekati sofa yang tadi sempat diduduki Arian. Seperti ada sesuatu yang menjadi beban di hatinya. Mbok Irah mulai sibuk membereskan bawaan Riani tanpa berani mengganggu majikannya itu. Abyra dan yang lainnya pun tampak ragu untuk mendekati Riani.
"Tante..."
"Udah, udah gak apa-apa. Biarin Tante menenangkan pikiran Tante dulu."
"Bener gak apa-apa?"
Riani berusaha tersenyum pada Abyra. Walaupun tidak lagi muda, tapi wajah Riani masih terlihat cantik. Ia memiliki mata berwarna coklat seperti mata milik Raka. "Kamu, Dayasa, dan Arian cari sarapan dulu sana di kantin"
Mereka tahu kalau Riani mengusir mereka secara halus. Dan tanpa menunggu lama, mereka bertiga langsung meninggalkan kamar rawat Raka dan menuju sebuah kafe kecil di lantai bawah bangunan rumah sakit.
Malam di mana Abyra bertemu dengan Raka, tanpa sepengetahuan Abyra, sehabis dari danau yang berada di hutan kecil itu Raka tidak langsung pulang, melainkan bertemu dengan Tarisa. Saat kecelakaan, mereka berada dalam satu mobil. Beruntung Tarisa hanya luka ringan, serta luka di kepalanya yang tidak terlalu parah. Sedangkan Raka mengalami benturan di kepala yang cukup keras sehingga menyebabkan pendarahan dan membuatnya koma hingga saat ini.
Abyra memang pernah mendengar jika Riani sangat tidak menyukai Tarisa, tapi hingga saat ini ia tidak pernah tahu penyebab utama mengapa Riani sangat membenci Tarisa. Bahkan ia seperti memiliki luka yang teramat dalam bila melihat wajah Tarisa. Dan kemarahan Riani semakin memuncak ketika ia mengetahui kecelakaan itu terjadi saat Raka bersama Tarisa.
"Lo gak makan, By?" Dayasa menepuk punggung tangan Abyra. Abyra hanya menggeleng perlahan sambil tersenyum tipis.
Kafe rumah sakit tidak terlalu ramai. Ruangan kafe tersebut agak gelap. Lantai yang terbuat dari kayu dengan dinding berwarna coklat serta lampu-lampu gantung di setiap sudut ruangan. Arian menghampiri mereka sambil membawa nampan berisi makanan. Ia meletakannya di hadapan Dayasa kemudian meletakan secangkir kopi panas untuknya sendiri.
"By, kok gak makan sih? Biar gue pesenin lagi ya?" Abyra langsung memegangi lengan Arian sebelum Arian beranjak dari kursinya. Ia menggeleng mantap.
"Lo lihat nih teman lo, sarapan aja udah kayak makan siang," ledek Arian.
Dayasa yang sedang berusaha membuka bungkus sandwich dengan giginya langsung melirik Arian sinis. "Gak suka lo gue banyak makan?" Arian hanya tertawa kecil sambil menepuk punggung Dayasa.
Abyra kembali terdiam tapi kali ini ia tampak fokus dengan layar telepon genggamnya. Tiba-tiba ia memasukan ponselnya ke dalam tas lalu beranjak dari kursinya.
"Gue mau jemput Vicko dulu, ya."
"Loh? Vicko balik ke Jakarta?" tanya Dayasa heran. "Mau dianter Arian?"
"Iya. Apa mau gue anterin aja?"
"Gak usah, gak usah. Kalian di sini aja. Takutnya Tante Riani butuh sesuatu terus gak ada yang bisa dimintain tolong." Dayasa dan Arian hanya mengangguk patuh. Namun ada raut tidak rela di wajah Dayasa ketika Abyra lebih memilih untuk pergi sendiri. Abyra tersenyum. Ia meraih cangkir kopi milik Arian dan meminumnya sedikit.
"Hmm... sebentar. Nanti juga gue sama Vicko langsung ke sini. Daahh..." Abyra langsung beranjak meninggalkan kafe tersebut dan melangkah cepat menuju parkiran mobil. Pagi ini tampak terik sekali. Abyra sudah menduga pasti sore atau malam harinya akan turun hujan. Ia pun mempercepat langkah kakinya karna baru saja Vicko mengirim pesan padanya jika ia sudah tiba di bandara.