Hana turut melirik ke arah pintu. Memang jika di dengarkan dengan seksama, ada suara seperti berbisik lirih dan sedikit ribut di sana. Tapi yang jadi pertanyaan, untuk apa orang tua Do Hana ada di sana? Mengintip? Yang benar saja! Beberapa menit berlalu dengan lambat, bahkan rasanya untuk menghabiskan waktu semenit Hana merasa itu seperti satu jam lamanya. Apalagi dengan posisi ambigu juga pemandangan yang sialnya begitu menggoda mata, membuat Hana kian merutuk, mengumpat dalam hatinya kenapa ini harus terjadi padanya. “Mereka sudah pergi,” kata Lee Yeol lirih. Hana menghela napas lega begitu Lee Yeol sudah menyingkir dari atas tubuhnya. Pria itu kemudian mengambil sebuah kaos lengan pendek berwarna putih dari dalam koper, memakainya dengan santai tanpa memikirkan keberadaan Do Hana d

