Ponsel di atas meja itu bergetar sekali lagi. Tertera nama Sean di sana sebagai pemanggil. Jina menghela napas pelan. Ia melirik ke arah ponselnya yang sudah padam, ia menghela napas lagi, memeluk lututnya sendiri dan menumpukan dagunya di atas lutut. Bukannya ia berniat untuk menjauhi Sean, hanya saja melihat bagaimana kedekatan pria itu bersama gadis bernama Park Yoora membuat perasaan Jina menjadi gelisah. Keduanya terlihat dekat, bahkan Yoora tidak segan untuk melakukan kontak fisik dengan Sean. Pun dengan pria itu sendiri, ia bisa menerima sentuhan Yoora tanpa menolak sedikitpun. Apalagi saat Yoora justru berlari mengejarnya dan memintanya untuk menemui Sean sekali lagi. Bukannya Jina ingin dikejar oleh Sean, ia juga sadar bagaimana kondisi pria itu. Hanya saja ia justru menangk

