“Ibu.” Nyonya Kang menatap Jongin selama beberapa detik, wanita baya itu terlihat cukup panik saat tiba-tiba Hana kembali mulai menangis sesenggukan. Wanita baya itu sontak menarik tubuh si gadis, memeluknya hangat juga menepuk-nepuk pelan punggungnya. “Tidak apa, tidak apa. Luapkan saja semuanya, jangan ditahan karena itu hanya akan membuat dadamu terasa sesak,” kata wanita itu. Tidak lama kemudian Hana dan Jongin dibawa masuk ke dalam kedai. Beruntung kondisi kedai masih tergolong sepi karena waktu yang belum memasuki jam makan siang. “Minumlah dulu, teh bisa membuat suasana hatimu membaik. Atau kau mau coklat? Kebetulan anak perempuan bibi suka sekali dengan minuman coklat, jadi bibi punya banyak persediaan.” Nyonya Kang berbicara dengan senyum tipis. Jelas sekali terlihat raut ke

