Part 1
Ku kira aku bisa melewati 3 tahun masa SMA ku dengan aman dan damai. Namun kenyataannya, aku harus melewati masa-masa sulit ini, padahal masa SMA ku hanya tinggal sekitar 4 bulan lagi.
Sebelum masa tenang untuk Ujian Nasional, di sekolahku diselenggarakan semacam acara festival sekolah, bermacam kegiatan silih berganti setiap harinya selama sepekan. Dimulai dari Bazar, acara donasi, pertandingan olahraga antar kelas, dan di tutup dengan pentas seni.
Saat ini aku berdua dengan sahabatku Maryam, duduk di salah satu kursi stadion sekolah. Karena hari ini ada pertandingan sepakbola, kelas kami XII IPA 1, melawan kelas XII IPS 3. Tentu saja wali kelas kami menghimbau untuk memberikan dukungan kepada kelas kami.
Dengan berat hari aku terpaksa berada di sini bersama Maryam yang terlihat sangat antusias karena ada sosok yang menjadi idolanya sejak kelas X dulu, Radith kelas XII IPS 3.
"Mar, kamu itu penghianat." Teriakku di telinga Maryam, karena suasana stadion sekolah sunggu riuh dengan teriakan para supporter.
Maryam menautkan kedua alisnya, nampak dia bingung dan berusaha mencerna ucapanku.
"Jangan sembarangan kalo ngomong Va." Cibir Maryam.
"Aku bicara berdasarkan fakta, Mar. Kamu malah mendukung Radith yang jelas-jelas musuh kita sekarang." Maryam tertawa mendengar ucapanku.
"Yang tahu kan cuma lo aja, Va. Yang lain nggak." Ucapnya tanpa menoleh ke arahku. Matanya sibuk mengikuti kemanapun Radith berlari menggiring bola.
"Gue cabut duluan ya, bete banget." Teriakku di telinga Maryam, Maryam hanya menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Aku mendengkus kesal, kalau sudah kena sindrom Radith, Maryam seperti orang asing kepadaku.
Aku melangkahkan kakiku dengan lunglai menuju kelas, namun belum jauh aku berjalan, aku mendengar Maryam berteriak memanggil namaku.
"Zeva! Zevara Cantika." Aku melihat Maryam berlari tergesa-gesa menghampiriku.
"Kenapa sih teriak-teriak?"
"Itu ... Itu ... " Ucapnya dengan terengah-engah sambil mengatur nafasnya.
"Kenapa?" Tanyaku penasaran. Tanpa berkata-kata lagi Maryam langsung menarik pergelangan tanganku, akupun terhuyung mengikuti langkah Maryam kembali menuju stadion sekolah.
"... ternyata sudah datang yang ditunggu." Aku mencari sumber suara yang memakai microphone, saat kami sudah kembali duduk di tempat kami semula, dari kejauhan aku melihat Farris, teman sekelasku yang sedang berbicara. Maryam bertepuk tangan heboh, dengan sesekali menoleh ke arahku. Aku masih bingung, belum mengerti sebenarnya ada apa?.
"Zevara Cantika, aku Farris Saddam dengan ini menyatakan bahwa aku mencintaimu. Jadi pacarku ya." Ucapnya dengan percaya diri, bahkan pernyataannya itu bukan sebuah pilihan, namun terkesan pemaksaan. Aku melihat sekeliling stadion yang serempak melihat ke arahku, tak terkecuali Maryam sambil cengir kuda ke arahku sambil menganggukkan kepalanya, seolah memberi isyarat agar aku menerima pernyataan Faris.
Tak lama kemudian, seperti ada yang mengkomando, semua berteriak.
"Terima!."
"Terima!."
"Terima!."
"Va, jawab." Maryam menyenggol lenganku membuatku fokus dengan keadaan saat ini. Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak punya perasaan apapun terhadap Farris. Kalau aku menolaknya sekarang, bukankah itu akan membuatnya malu?
Aku segera beranjak untuk segera keluar dari stadion, aku bahkan mengabaikan Maryam yang berteriak-teriak memanggil namaku. Aku juga mendengar suara sorakan ketika aku berlalu. Aku bahkan tidak berani menatap wajah Farris sebelum aku keluar dari stadion.
Aku berlari kecil ke arah belakang sekolah. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Menerima ataupun menolak Farris seperti buah simalakama. Jika aku menolak, aku pasti akan mendapat cacian dari para pemuja Farris, menerimanya pun, aku pasti akan di serang oleh pemuja Farris garis keras.
Farris memang idola di sekolahku, selain wajahnya yang tampan, dia berprestasi. Bukan hanya prestasi akademik, prestasi olahragapun tidak diragukan lagi. Itulah mengapa dia sering di juluki Bintang Lapangan Jenius.
Aku bahkan sering melihat bagaimana nasib siswi yang menolak Farris. Para pemujanya pasti akan melontarkan kata-kata pedas seperti 'Sok Kecantikan', 'Sok jual mahal',atau banyak kalimat lainnya.
Sedangkan yang menerima pernyataan cinta Farris juga mendapat perlakuan yang sama. Siswi-siswi pemuja Farris garis keras, bahkan tidak segan menggunakan kekerasan agar Siswi tersebut putus hubungan dengan Farris, dengan embel-embel mereka tidak pantas untuk Farris.
Hufh... Aku menghela nafas, membayangkan apa yang akan menimpa diriku nanti.
"Sudah gue duga lo pasti ngumpet di sini." Ucap Farris sambil mengatur nafasnya. Aku melirik ke sekeliling kami, takut-takut kalau banyak yang melihat kami.
"Lo kenapa kabur?" Tanya Farris lagi.
"Lo kenapa rese?" Tanyaku kesal.
"Rese kenapa?"
"Lo tau gue mau melewati masa SMA gue dengan damai, kenapa lo ngelakuin hal konyol kaya tadi?" Ucapku sambil mendorong tubuhnya menjauh dariku.
"Gue sayang sama lo, Va. Gue mau lo jadi pacar gue." Ucapnya sambil meraih tanganku, aku menepisnya dengan kasar.
"Dan lo mau gue bernasib sama dengan mantan-mantan lo? Lo sadar gak sih kalo pemuja lo itu fanatik dan bar-bar semua?" Tanyaku dengan emosi.
"Gue jamin, gue akan menjaga lo dengan baik, kejadian yang dulu-dulu itu gak akan terjadi lagi. Lo mau kan terima cinta gue?" Tanyanya berusaha meyakinkanku.
"Maaf, Ris. Tapi selama ini gue gak ada perasaan apa-apa sama lo. Lagipula, Bunda juga melarang keras gue pacaran." Aku segera berlalu meninggalkan Faris, namun langkahku terhenti karena Faris mencekal pergelangan tanganku.
"Kita bisa backstreet dari Bunda, Va."
"Tapi gue gak ada perasaan apa-apa sama lo, Ris." Ucapku berusaha melepaskan cekalan tangan Farris.
"Gue akan berusaha membuat lo jatuh cinta sama gue, Va." Ucapnya sambil mempererat cekalan tangannya. Aku bergeming, sesaat menatap matanya yang penuh harap. Namun tidak berselang lama, kesadaranku kembali, aku bergidik ngeri membayangkan apa yang aku terima nanti dari para pemuja Farris.
"Lepas!" Ucapku kesal, karena Farris mencekal tanganku dengan kencang.
"Enggak akan sebelum lo mau jadi pacar gue!." Ucap Farris bersikeras. Perlahan aku mendengar banyak siswa lain menghampiri kami, seolah penasaran dengan apa yang terjadi.
Mereka terdiri dari dua kubu, yang mendukungku agar menerima Farris, juga ada yang mencibirku karena mereka menilai aku tidak pantas menjadi pacar Farris. Lagipula, siapa yang mau menjadi pacar Farris?
"Farris, lepas, sakit ... " rintihku. Namun Farris masih mencekal pergelangan tanganku, dan berusaha menarikku agar mendekat kepadanya. Saat aku berusaha membuka cekalan tangan Farris dengan tanganku yang satunya, tiba-tiba ada tangan kekar yang membantuku membuka cekalan tangan Farris.
"Lepasi tangan Yayang!" Ketus Kay sambil menghempaskan tangan Farris dengan kasar. Sontak suasana semakin riuh dengan kehadiran Kay.
Setelah pergelangan tanganku berhasil lepas dari cekalan tangan Farris, Kay menarik tanganku agar berdiri di belakangnya.
"Semuanya harus tau, gue mau bikin pengumuman." Ucap Kay sambil melihat ke arah siswa yang berkerumun. Sejenak Kay menatapku, kemudian kembali menatap kerumunan siswa, setelah sebelumnya melirik sinis ke arah Farris.
"Yayang, eh maksud gue Zevara Cantika, adalah pacar gue." Ucap Kay lantang. Sontak saja semua saling pandang dan berbisik-bisik.
"Lo jangan asal ngomong Kay, gue tau lo dan Zeva cuma sahabatan." Ucap Farris seolah tidak terima. Kay tertawa mendengar ucapan Farris.
"Kenapa? Enggak percaya? Tanya aja Zeva." Ucap Kay sambil berbalik menghadapku. Kay menundukkan kepalanya, dan menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga.
"Perintah Abang Yayang." Bisiknya di telingaku, sialnya Kay mengambil kesempatan dengan mencium pipiku sekilas. Suasana semakin heboh karena tindakan Kay.
"Lo pasti sekongkol sama Kay, kan? Zeva, lo bener-bener gak pacaran sama Kay, kan?" Tanya Farris emosi. Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.
"Gue emang pacaran sama Kay." Jawabku setengah berbisik. Farris mengusap wajahnya kasar.
"Munafik!" Umpatnya.
"Barusan lo bilang gak boleh pacaran sama Bunda, terus sekarang lo bilang pacaran sama Kay, dasar cewek munafik!" Farris berlalu memecah kerumunan siswa yang masih saja penasaran dan berbisik-bisik. Aku hanya diam sambil menundukkan kepalaku memandang kedua kakiku yang menendang-nendang kerikil tanpa arah.
"Bubar ... bubar ..." Ucap Kay berusaha membubarkan kerumunan. Setelah Kay berhasil membubarkan kerumunan para siswa yang kepo, Kay mengajakku untuk duduk di bangku taman belakang sekolah.
"Maaf ya Yang, ini karena murni perintah Abang Yayang. Dia tau gimana rumor si Farris. Nah Abang Yayang gak mau kamu sampe jadi korban berikutnya Farris." Ucap Kay sambil berusaha menggenggam kedua tanganku.
"Tapi lo juga ngambil kesempatan dengan cium-cium pipi." Jawabku kesal.
"Ya ampun, Yang. itu tuh spontanitas. Kalo gak cium pipi, ketauan dong, kalo aku bisikin kamu buat bohongin si Farris jelek itu." Ucap Kay berusaha meyakinkanku.
"Kalo kamu marah karena aku cium pipi, ya udah deh, aku kembaliin." Ucap Kay lagi.
"Gimana cara mengembalikan ciuman yang udah lo ambil?" Tanyaku bingung.
"Ya aku cium kamu lagi, Yang. Buat kembaliinnya." Ucapnya sambil tertawa. Sial. Aku memukul lengan Kay.
"Ya itu sih maunya lo." Ucapku kesal.
"Jangan bilang Abang Yayang, ya Yang." Pinta Kay.
"Bisa habis nanti aku dipukul sama Abang Yayang, disuruh jagain Yayang, malah nyium Yayang." Ucap Kay sambil cengengesan.
"Tapi jangan diulangin lagi."
"Iya, kecuali Yayang yang minta dicium." Ucapnya menggodaku sambil tertawa. Baru saja aku hendak memukul lengan Kay lagi, namun dia sudah berlari meninggalkanku.
Kalian mungkin bingung, kenapa Kay memanggilku Yayang, dan Abangku juga dengan sebutan Abang Yayang. Ini semua karena Bunda memanggil kami dengan sebutan Sayang. Jika memanggil aku dan Abangku, bunda selalu memanggil kami dengan sebutan 'Yang'. Jadilah di rumah aku di panggil Yayang, dan Abang dipanggil Abang Yayang.
Awalnya aku juga tidak terlalu mengenal Kay. Aku hanya sekedar mengenal Kay dari teman-temanku. Siapa yang tidak mengenal Kay, dia terkenal sebagai anak tunggal pewaris group Arganta. Meskipun terlahir sebagai anak tunggal pewaris kekayaan orangtuanya, tidak menjadikan Kay sombong. Sejak pertama aku melihat Kay, aku melihatnya sebagai sosok yang santun dan cenderung pendiam.
Entah kenapa sekarang Kay lebih menjadi sosok yang pecicilan semenjak Abang Yayang membawanya ke rumah kami. Saat itu Abang Yayang membawa Kay ke rumah, karena Abang Yayang menyelamatkan Kay dari gerombolan pemuda yang hendak memalaknya.
Sejak saat itu pula, aku baru tahu Kay bukanlah sosok pendiam seperti yang aku kira. Dia begitu pecicilan, dan sangat kesepian. Kay kerap datang ke rumahku, dengan alasan minta makan. Padahal aku yakin, orang sekaya Kay, tidak mungkin membiarkan anaknya kelaparan.
Bunda juga begitu menyayangi Kay, bahkan menganggapnya sudah seperti anaknya sendiri.
"Zeva!" Lamunanku seketika buyar, sat merasakan tepukan di pundakku.
"Maryam?" Wajah Maryam begitu pucat, nafasnya juga terengah-engah.
"Kenapa?" Tanyaku lagi.
"Kay ... Farris ... itu..."
"Kenapa?" Tanyaku lagi semakin penasaran.
"Mereka berantem di lapangan!"
"Dimana?" Tanyaku panik.
"Di lapangan." Aku berlari sekencang yang aku bisa. Bahkan suara teriakkan Maryam yang memanggilku tidak aku hiraukan.
Dari kejauhan aku melihat kerumunan para siswa di sekitar lapangan. Samar-samar aku mendengar mereka meneriakkan kedua nama, yaitu Kay dan Farris.
Sial, kenapa mereka bukan berusaha melerai, malah seolah memberikan dukungan pada orang yang berkelahi. Aku berusaha menyelinap di antara kerumunan para siswa untuk segera masuk ke dalam lapangan. Nafasku terengah-engah saat aku tiba di lapangan. Aku bahkan belum sempat mencari dimana Kay dan Farris berkelahi.
"Berhenti!" Teriakku sambil memegang kedua lututku. Aku menarik nafas panjang berusaha menetralkan nafasku. Saat aku berusaha mencari keberadaan Kay dan Farris. Semua mata memandang ke arahku. Aku melihat Kay tersenyum lebar di sebelah Farris yang sedang memegang bola.
"Yayang." Ucap Kay menghampiriku.
"Kay, kata Maryam ... lo sama Farris berantem." Kay tersenyum manis sambil mengacak-acak rambutku.
"Tadinya, tapi berantemnya dengan cara olahraga main bola." Ucapnya lagi.
"Jangan bilang kalo kamu khawatir sama aku, Yang." Aku mendorong tubuh Kay karena kesal mendengar ucapannya. Tetapi Kay malah tertawa terbahak-bahak.
"Kay bilang, kalo dia kalah, lo harus jadian sama gue, dan putus sama Kay." Teriak Farris membuatku tercengang.
"Kay." panggilku menatap Kay. Kay kembali mengacak-acak rambutku sambil tersenyum.
"Yayang jangan khawatir, aku pasti akan menang."
"Kalo kalah? inget Kay, lo gak pernah main sepak bola." Ucapku kesal. Bukan karena ucapan Farris. Hanya saja, mereka bertaruh tanpa bertanya terlebih dulu kepadaku.
"Enggak pernah main, bukan berarti nggak bisa main, Yang." Ucapnya lagi.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Pak Dadang, guru olahraga kami berusaha membubarkan kerumunan.
"Iseng-isenh bakar kalori aja Pak." Jawab Kay santai. Pak Dadang hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Kay.
"Semuanya kembali ke stadion. Dan kamu, Farris, setelah ini babak final." Ucap Pak Dadang lagi. Tentu saja Farris dengan terpaksa mengikuti perintah Pak Dadang. Pak Dadang kembali berusaha membubarkan kerumunan siswa, dan meminta para siswa agar kembali ke stadion utama.
"Inget, Kay. Urusan kita belum selesai!." Ucap Farris sebelum meninggalkan lapangan. Bahkan Farris dengan sengaja menabrak tubuh Kay.
"Sengaja." Ucapnya Farris lagi. Kay hanya tersenyum mendapatkan perlakuan menyebalkan dari Farris. Aku bahkan ingin menendang Farris melihat tingkahnya yang menyebalkan. Aku sampai heran, kenapa orang semenyebalkan Farris bisa dipuja-puja.
Tiba-tiba aku merasakan kedua pipiku tertarik.
"Sakit, Kay." Ucapku saat sadar Kay mencubit kedua pipiku.
"Segitunya ngeliat Farris. Nyesel ya udah nolak dia tadi?"
"Idih, siapa juga yang nyesel." Aku menghentakkan kedua kakiku sebelum meninggalkan Kay yang tertawa. Sinting
"Yang." Panggil Kay berusaha mengejarku.
"Kenapa?" Jawabku kesal.
"Mau kemana?"
"Kepo!"
"Tentu, semua tentang Yayang aku selalu kepo." Aku menghentikan langkahku, dan memutar tubuhku menghadap Kay.
"Bisa nggak lo gak berurusan sama manusia nyebelin Farris itu?" Tanyaku kesal, namun Kay malah tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Enggak bisa kalo itu berhubungan dengan Yayang." Jawabnya sambil tersenyum. Manis, tampan, begitulah Kay kalau sedang tersenyum. Namun sikapnya yang pecicilan, dan over protektif membuatku seperti melihat sosok Abang Yayang. Menyebalkan.
"Aku udah janji sama Abang Yayang buat jagain kamu, Yang." Imbuhnya lagi.
"Please, Kay. Berhenti untuk mewujudkan semua perintang Abang Yayang. Kamu itu bukan pesuruhnya, lagipula aku bisa jaga diri sendiri." Ucapku kesal. Aku kembali melangkahkan kakiku meninggalkan Kay yang masih berusaha mengejarku.
"Yang, mau kemana?" Tanyanya lagi.
"Ke kelas."
"Ikut, Yang."
"Terserah." Aku melangkahkan kakiku lebih cepat, agar tidak berjalan berdampingan dengan Kay. Setibaku di kelas, aku segera mengambil tasku, dan keluar dari kelas
"Yang, mau kemana bawa tas?" Tanya Kay mencekan pergelangan tanganku.
"Pulang." Jawabku sambil menghempaskan cekalan tangan Kay.
"Aku antar Yang."
"Enggak usah."
"Yayang!" Panggil Kay sedikit membentak. Aku menghembuskan nafas kasar. Dan menatap Kay.
"Please jangan ngambek, nanti Bunda khawatir kalo kamu pulang sendiri. Aku antar, ya?" Bujuk Kay dengan memelas.
"Aku ambil tas dulu, ya. Kamu tunggu di sini."
"Ya udah cepat!". Jawabku kesal. Kay segera berlari ke kelas untuk mengambil tasnya. Semenjak Ayah pergi meninggalkan kami, biasanya Abang Yayang yang menjemputku di sekolah, biasanya Abang Yayang selalu menyempatkan menjemputku di sela-sela jam kuliahnya.
Entah bagaimana abang Yayang mengatur waktu kuliah dan menjemputku. Yang pasti, Abang Yayang tidak pernah telat menjemputku. Jika Abang Yayang telat menjemput, biasanya Abang Yayang akan mengabariku, dan memintaku menunggu di kantin atau di halte depan dekat pos satpam.
Namun semenjak Kay masuk dalam kehidupan kami, Abang Yayang seolah sibuk. Terakhir aku baru tahu, kalo Abang Yayang menjadi supir taksi online menggunakan mobil Kay yang di pinjamnya.
Awalnya aku marah, untuk apa Abang Yayang menjadi supir taksi online, namun ketika Abang Yayang meyakinkanku, bahwa semua yang dilakukannya untuk meringankan beban Bunda, lagi-lagi aku tidak bisa mencegahnya. Terlebih Abang Yayang juga ingin membantu Bunda menyiapkan dana untuk aku kuliah nanti.
Sejak saat itu, Kay yang menggantikan tugas Abang Yayang untuk mengantarku pulang. Entah kenapa, Kay juga tidak pernah merasa keberatan dengan hal itu. Kay selalu berdalih, ini caranya membalas budi Abang Yayang yang sudah menolongnya dulu.
"Sudah, yuk pulang." Ajak Kay sambil menggandeng tanganku. Aku mengikuti langkah kaki Kay menuju tempat parkir motor. Ya, Kay memakai motor butut milik Abang Yayang, sedangkan mobil miliknya dipinjamkan ke Abang Yayang.
Setelah memakaikan helm dan jaket, Kay membantu menaikkan resleting jaketku. Kenapa aku diam saja? Percuma menolak Kay, pemaksa!.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di rumah. Namun belum sempurna motor Kay berhenti di pekarangan rumah, aku mendengar teriakan Bunda yang histeris sambil menangis.