Dingin menggerogoti tulang, mengikis kulit. Kepala serasa dihantam palu berkali-kali samlai hujan panas itu reda. Lebih tepatnya berpindah ke tempat lain. Selain itu ruang dimensi berkumpulnya para pedang yang tak bisa dilihat langsung oleh mata pun menyudahi sedangan ujian pertamanya. Chris bisa bernapas lega. Bukan, melainkan mengatur ulang pernapasannya. Cahaya yang menembus dirinya jauh lebih mengerikan dibanding sakit akibat terguyur hujan. Air yang menetes dari rambutnya luruh hingga menyatu dengan tanah. Dia lemas sebentar. 'Tidak, ini hanya permulaan. Aku harus terus melakukannya,' batin Chris dalam bermeditasi. Selagi napas yang terengah mulai membaik dan normal, Chris kembali fokus bermeditasi. Ada apa di sana? Dia tidak tahu. Air yang sempat menghujaninya itu hanya sebagian

