Kedua tangan terbalut rapi. Sekarang terasa berat ketika memegang sesuatu. Kalung itu masih sempurna di lehernya ketika pakaiannya sudah berganti. Chris membawa kantung kain untuk menaruh pakaiannya. Sekarang dia terlihat seperti pengembara dari jauh. Kini sudah berani menampakkan dirinya di hadapan semua orang. Senyumnya tipis sehangat mentari pagi. Para gadis mulai terpesona melihat Chris. Tubuhnya yang kuat diperbincangkan. Rambut Chris yang tidak tertata rapi memikat mereka. Wajahnya begitu cerah bersinar. Tegapnya tubuh Chris bagai pahatan yang luar biasa.
"Aaaaa, anugerah apa yang kulihat ini?! Tampan sekali!!!"
"Oh, sungguh malangnya nasibku. Mataku dibutakan oleh pesonanya!"
"Hai, Tuan tampan! Kau tampan sekali! Siapa namamu? Boleh kita berkenalan?"
"Dia pasti pengembara. Lihat, dia membawa barang."
"Siapa laki-laki asing itu? Aku rasa kesatria tangguh. Badannya dua kali lebih besar dariku. Aku ingin memeluknya!"
"Waaaahhhh, lihat wajah itu! Auranya begitu melelehkan jiwaku! Aku mau dia, aku mau dia!"
"Kenapa tiba-tiba ada laki-laki itu? Sudah lama tidak ada pengembara ataupun orang asing. Lalu, siapa perempuan yang menemaninya? Dia membawa pedang."
Masih banyak lagi seruan kagum pada Chris yang membuat senyum Chris semakin manis. Armei berdecak dan Chris hanya meliriknya. Mereka terus berjalan tanpa menghiraukan ocehan di sekitarnya.
'Iya-iya, terima kasih. Tidak di kota Vier juga tidak di sini pesonaku benar-benar memikat, ya? Kharisma yang indah, 'kan? Sayangnya aku tidak tertarik pada kalian. Maaf, ya,' kata Chris dalam hati.
"Cih! Senang dipuji seperti itu? Gadis-gadis konyol!" desis Armei tanpa menoleh pada Chris.
Chris meliriknya sekilas, "Iya, tapi tidak terlalu. Di tempatku semua perempuan juga memujiku. Aku melebihi artis terkenal bagi mereka."
"Artis?" Armei mengerutkan dahi.
"Ah, itu semacam idola. Orang yang luar biasa menawan bagi semua orang," jawab Chris.
"Oh, aku mengerti," Armei kembali acuh.
Chris menatap sekeliling membiarkan dirinya dipandangi heran serta sorotan berbinar dari semua perempuan. "Rumah-rumah di sini terlihat sama, ya. Hanya halaman mereka yang berbeda. Ini pemukiman yang unik," gumamnya.
"Kami tinggal bersamaan. Mereka bekerja bergantian dan saling membantu," jawab Armei.
"Wah, cukup harmonis. Hidup aman damai seperti ini bagaimana bisa ada tindak kejahatan sampai membentuk sebuah misi?" Chris masih tidak paham.
Tempat di sekitarnya memanglah sangat damai. Semua orang ceria dan melakukan aktivitas dengan bekerja sama. Kehidupan yang baik tanpa ada pertikaian. Chris tidak menemukan keganjalan sama sekali, itu membuatnya sedikit pusing.
"Aku tidak tau," Armei berkata jujur.
"Itu wajar karena kau juga tidak tau isi surat misi itu," sambung Chris dan Armei mengangguk.
Chris tidak memperhatikan sesuatu yang sedang mengikutinya dari belakang. Armei juga tidak menoleh sedikitpun. Mereka membawa beberapa cermin dan mengarahkan cermin itu pada Chris. Semua orang tidak mencurigai mereka karena mereka bersikap layaknya penduduk biasa. Ketika dirasa cukup, mereka segera pergi membawa cermin itu dengan hati-hati. Tujuan mereka adalah istana.
Di tengah padatnya aktivitas manusia, sebuah bangunan megah berdiri kokoh dengan satu penguasa yaitu sang Raja. Istana yang bukan hanya istana, melainkan ada paviliun dan juga kastil. Semua orang menyebutnya kembaran dari istana. Namun, sang penguasa hanya tinggal di satu tempat yaitu singgasananya yang terdapat di aula istana. Dia suka di ruang terbuka dan luas. Banyak pengawal bersenjata tajam nan mengerikan. Pelayan siap sedia melayani apapun yang ada. Rindangnya pepohonan bersama sumber air terpancar dari tebing belakang istana. Siapapun pasti terpesona dan ingin tinggal di sana. Sayangnya tidak semua yang tinggal di istana akan bahagia. Nyatanya senyum mereka hambar seperti ada yang kurang.
"Salam, Yang Mulia. Kami menemukan sesuatu yang penting."
Orang-orang yang mengikuti Chris datang melapor pada penguasa dunia bayangan. Mereka memberikan cermin itu. Kepala terus tertunduk walau cermin itu sudah diterima sang Raja. Dalam sekali usap dia terkejut. Cermin itu menunjukkan dua orang berlawanan jenis sedang berjalan di tengah keramaian yaitu Chris dan Armei. Dahinya berkerut, pandangan tak lepas dari kaki Chris. Tepatnya apa yang selalu mengikuti langkah Chris yaitu bayangan Chris. Sang Raja membuang cermin itu dengan raut marah. Mereka yang melapor menangkupkan tangan.
"Kami akan menyelidiki lelaki dengan bayangan istimewa itu. Yang Mulia, tidak perlu khawatir."
Mereka pergi mencari keberadaan Chris. Raja mengepalkan tangan tanpa bicara. Tongkat yang tak lepas dari tangannya mulai berasap seolah merasakan hal yang sama seperti pemiliknya. Chris, adalah malapetaka baginya. Bayangan itu adalah buktinya.
~~~
Pelipis Chris terasa berdenyut-denyut. Pusing tak habis-habis terlebih lagi Armei yang telinganya panas. Bukan terbakar matahari atau api, melainkan pujian dan rayuan gadis-gadis centil diperuntukkan bagi Chris. Sepanjang jalan, hingga sekarang selalu mengikuti Chris. Bahkan tempat mereka sudah cukup jauh dan ada gadis-gadis baru lagi yang ikut serta mengagumi Chris.
"Ayolah, aku tidak sekeren itu." gumam Chris seraya memijat pelipis.
"Kau sangat populer," ucapan Armei membuat Chris meliriknya, "Di duniaku juga seperti itu. Aku pusing setiap hari karenanya."
"Sungguh? Wow, mengagumkan. Tapi aku akui kau memang tampan. Nyaris sempurna untuk seumuran lelaki muda," sambung Armei.
"Diam kau, Bibi. Aku tidak terlalu tertarik perempuan," Chris mendesis kesal.
Armei heran, "Kenapa? Kau lebih suka laki-laki?"
"Bukan begitu. Hanya aku tidak tertarik. Mereka bukan ambisiku," Chris mengatakan yang sebenarnya.
Armei mengangguk, "Aku mengerti. Kau punya semangat tinggi sampai api yang membara dalam dirimu bukanlah kasih sayang perempuan, melainkan kesatria tangguh pembela keadilan."
"Wow, kata-katamu cukup menakutkan." Chris terkekeh geli. Armei tersenyum miring.
'Aku ingin lihat seberapa jauh perjalananmu di dunia ini, Evans Chris,' kata Armei dalam hati.
Lelah sudah kaki berjalan seharian. Matahari hampir tepat di atas kepala. Awan begitu cerah. Chris bertanya-tanya apakah hujan bisa turun di dunia bayangan. Mengeluh mengeluarkan napas panas setiap saat juga tidak ada gunanya. Namun, mendadak kakinya berhenti. Armei pun sama. Chris menganga melihat apa yang ada di hadapannya. Ramai, meriah, apa yang dia cari ada di sana.
"Woaahhh, ramainya! Ini pasar aku benar, 'kan?! Ayo makan!" Chris menarik Armei semangat memasuki pasar.
Begitu ramai dan padat. Banyak orang melakukan aksi tawar-menawar dan itu mengagumkan Chris seiring dia mencari tempat makan. Armei hanya tersenyum. Sudah lama dia tidak melihat kemeriahan yang begitu menyenangkan di siang hari. Ratusan manusia saling bicara dan menolong satu sama lain. Mereka bersama, tidak seperti dirinya yang sendirian di gurun puluhan tahun.
"Astaga, pasar yang benar-benar hidup! Apa setiap hari seperti ini? Ini seperti pasar tradisional di tempatku. Orang memang suka menawar harga, ada juga penjual yang berbuat curang. Hal ini wajar, hanya bagaimana mereka menanggapinya. Bibi, kau mendengarku? Eh? Kenapa kau menangis?" Chris mengoceh memandang sekeliling. Terdiam ketika mendapati air mata Armei jatuh. Armei segera mengusap air matanya. "Aku tidak menangis. Aku merasa senang bisa berkumpul dengan orang-orang lagi," gumamnya.
Chris meringis bodoh, "Ah, aku mengerti perasaanmu." dia memalingkan wajahnya. "Siapa suruh terlalu setia?" sambungnya lirih.
Bugh!!!
"Aku mendengarnu, Bodoh!" Armei meninju pipi Chris.
"Aaawww, sakit sekali!" bukan Chris yang mengatakannya, melainkan gadis-gadis di pasar yang sudah terpengaruh oleh paras Chris. Chris sedikit terhuyung memegang pipinya kesakitan menjadi direbut gadis-gadis itu. Dia bingung ingin melepaskan diri, tetapi tidak bisa. Para gadis itu mengelilinginya menjauhkannya dari Armei.
"Hei, lepaskan aku! Ah, kau menginjak kakiku!" Chris kesulitan. Dia berdecak memandang Armei meminta bantuan, tetapi Armei hanya diam dan acuh.
"Kenapa kau memukulnya?! Kau tidak lihat dia tampan?! Matamu buta, ya?!" salah satu dari mereka marah.
"Lihat, pipinya jadi memar! Aku akan mengobatinya sepenuh hati!"
"Kau wanita jahat! Beraninya memukul laki-laki yang tidak bersalah. Aku melihat interaksi kalian dari tadi. Aku juga sudah mengusir para gadis yang mengejar laki-laki ini. Memangnya kau siapa? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," salah satu dari mereka lagi tersulut begitu cerewet sampai Chris menyumpali telinganya.
"Aduh, cerewet sekali. Merepotkan," gerutu Chris.
"Bukankah kalian juga tidak pernah melihatnya?" Armei menunjuk Chris.
Chris tersentak lalu mengangguk cepat karena gadis-gadis itu melihatnya. "Iya-iya, aku juga baru di sini. Di-dia temanku. Kalian salah paham, hehe. Lepaskan aku, ya. Gadis baik, jangan marah-marah. Nanti cantiknya hilang," Chris berusaha sesantai mungkin. Wajah mereka tersipu.
"Aaaaa, manis sekali! Siapa namamu? Dari mana dan mau ke mana? Kami bisa mengantarmu. Diam-diam merayu, terima kasih."
"Aku dibilang cantik!"
"Aw, aku leleh seperti lilin lentera yang padam. Ucapanmu begitu halus menggelitik jiwa. Aku bisa mati."
Sahutan dari para gadis itu yang justru gemas ingin mencubit Chris. Sudut bibir Chris berkedut dan matanya melebar.
'Bukan itu yang aku maksud,' keluhnya dalam hati.
Tiba-tiba mereka membawa Chris dengan senang. Mereka hendak mengajak Chris bersenang-senang di pasar hingga senja. Semua orang tua, pedagang, dan pembeli yang tidak tertarik pada tingkah perempuan muda di sana hanya memandang dan menggeleng maklum. Mereka tetap melanjutkan aktivitas pasar.
"Apa?! Tidak, kalian salah memahaminya! Bibi Armei, tolong aku! Aargh, jangan tarik aku! Hei, lepaskan tanganku! Kalian agresif sekali! Ini pelecehan! Aargh, jangan sentuh bagian itu! Ketiakku geli, aku belum mandi!" Chris tenggelam di antara mereka yang membawanya ke suatu tempat. Kakinya menendang-nendang ingin meloloskan diri. Tangannya melambai-lambai meminta bantuan Armei.
Armei menekuk dahinya, "Dia bodoh!"
Terpaksa mengikuti kemanapun Chris dibawa pergi. Ternyata para gadis muda itu membawa Chris ke sebuah penginapan. Chris dibiarkan duduk di restoran penginapan tersebut dan disajikan banyak makanan. Chris yang mulanya kesal ingin marah menjadi berbinar melihat makanan. Semuanya hangat dan beragam. Terlihat nikmat sampai perutnya sudah berbunyi membuat para gadis itu tertawa.
"Waaahhh, apa semua makanan lezat ini untukku?" jemari Chris bergerak-gerak tidak sabar ingin memakannya.
"Tentu saja! Anggap saja ini hadiah dari kami. Kalau kah suka, aku juga bisa memasak lebih banyak makanan enak. Aku calon istri yang baik, 'kan?" salah satu dari mereka tersipu malu menjawabnya. Pipinya merah muda membuat Chris terkekeh kaku.
"Ahaha, kalian baik sekali!" Chris menunjukkan deretan giginya terpaksa.
'Sial! Aku terjebak di antara gadis-gadis payah ini. Mereka menyogokku dengan makanan. Tau saja kalau aku sedang lapar. Tapi aku tidak bisa diperdaya,' batin Chris.
"Eemm, terima kasih atas makanannya, tapi aku harus pergi. Bibi tadi sedang menungguku." Chris berusaha berdiri, tetapi mereka menekan pundaknya sehingga Chris kembali duduk. Dia agak risih dipandangi orang-orang yang ada di restoran penginapan itu.
"Wanita tua tadi maksudmu? Benar temanmu, ya?" tanya yang lain.
"Iya, benar. Kalian jangan mengganggunya, ya. Dia membawa pedang." bisik Chris di akhir ucapannya. Mereka semua terkejut menutupi mulutnya.
"Astaga, pedang?! Menakutkan sekali! Apa dia penjahat?"
"Apa pandai besi? Apa buronan yang dicari-cari?"
"Jangan-jangan dia menculikmu!"
Berbagai pekikan tertahan dari mereka membuat Chris ingin tertawa. Chris menghilangkan tangannya sambil menggeleng, "Bukan, dia tidak jahat, tapi cukup berbahaya. Sudah kubilang dia temanku. Baiklah, senang bertemu kalian. Aku harus pergi." Chris beranjak lagi dan kali ini mereka membiarkannya. Chris menoleh ke belakang sebentar. Ternyata mereka sedang berbisik-bisik membicarakan Armei sambil memakan makanan yang disajikan untuk Chris tadi. "Haha, cepat sekali terpengaruh. Kenapa perempuan sangat polos? Mungkin di segala penjuru dunia perempuan memang sepolos itu," gumam Chris heran.
Dia keluar dari restoran dengan aman. Langsung bertemu dengan Armei yang memasang raut tajam. Chris terkejut sampai mengelus d**a.
"Kenapa dengan mereka?" Armei menatap kerumunan gadis yang membawa Chris.
Chris ikut meliriknya sebentar. Senyum manisnya terukir, "Mereka sedang membicarakanmu. Aku hebat, 'kan? Dalam sekejap kau pasti akan terkenal sama sepertiku." melanjutkan perjalanan lebih dulu.
"Aku tidak percaya. Kau pasti berbuat ulah," Armei mengikuti Chris.
"Hahaha, itu benar. Mereka menganggapmu penjahat karena pedangmu." Chris menunjuk pedang di tangan kiri Armei.
"Apa yang kau katakan pada mereka?" Armei sangat santai.
"Tidak ada. Mereka saja yang terlalu percaya dan berpikir yang bukan-bukan. Biarkan saja kalau mereka ... Aaargghh!" Chris terhuyung sampai berputar dua kali. Lengannya ditabrak orang yang lari ke arah berlawanan dengannya.
"Chris! Kau tidak apa-apa?" Armei ingin membantu Chris, tetapi Chris mengangkat tangannya membuat Armei tidak jadi menyentuhnya. "Aku tidak apa-apa, jangan sentuh aku. Apa itu tadi? Cepat sekali!"
Pandangan lurus nan serius menatap ke belakang. Armei juga penasaran. Lalu, beberapa orang berbadan kekar dan berpakaian sederhana sedang lari ke arahnya. Chris terbelalak dan menepi seketika.
"Hei, pencuri! Berhenti!"
"Dasar pencuri! Berhenti kau!"
"Pencuri itu lagi! Tangkap si licik itu!!!"
"Astaga, kakiku!"
Seruan orang-orang itu semakin menambah pertanyaan bagi Chris.
"Pencuri?" gumam Chris. Menatap jalan sebelumnya. Mereka mengejar orang yang menabrak Chris. "Jadi yang tadi itu pencuri? Pencuri yang berambut panjang?" alisnya terangkat sebelah. Dia tidak menyangka jika ada pencuri di dunia bayangan.
"Rambutnya panjang?" Armei mengernyit.
"Iya, kau tidak melihatnya. Rambutnya bahkan menyapu wajahku sangat cepat tadi. Hampir saja masuk ke mataku." Chris mengucek matanya.
"Tidak, aku tidak melihat apa-apa. Aku kira itu angin yang melintasimu saja." Armei mengendikkan bahu.
"Apa? Mustahil kau tidak melihatnya. Dia ... memang sangat cepat tadi. Lenganku masih sakit ditabraknya." Chris menunjukkan lengannya yang dia pegang. Lalu, menyadari sesuatu. "Eh? Apa ini?" mengangkat tangan yang ditabrak pencuri tadi.
"Sejak kapan kau membawanya?" Armei menunjuk benda di tangan Chris.
Chris meneleng, "Entahlah, tapi benda ini seperti senjata. Sejak kapan ada di tanganku?"
Tongkat kecil yang terbuat dari besi. Beratnya menyamai pedang. Chris meneliti benda itu. Tidak sengaja menekan ujung benda itu dan keluarlah sebuah mata pedang.
"Wow! Benar-benar senjata!" Chris tersentak mundur.
"Panjangnya hanya setengah dari pedangku. Baru kali ini aku melihat ada senjata tersembunyi seperti itu. Kenapa pencuri tadi mencurinya?" Armei berpikir.
Chris masih memainkan senjata itu. Dia bingung menyebutnya tongkat atau pedang, "Ini lumayan. Mungkin senjata ini bukan senjata biasa."
"Itu dia senjatanya! Tangkap orang itu!"
Tiba-tiba orang-orang yang mengejar pencuri berbalik arah ketika melihat benda yang dibawa Chris.
"Hei, itu dia senjatanya! Ternyata dia komplotan pencuri itu! Tangkap dia!" seruan salah satu dari mereka sangat keras sambil menunjuk Chris tidak sopan. Mereka mengejar Chris, sontak Chris kebingungan. Dia lari secepat kilat mengitari jalanan pasar menghindari kejaran mereka. Kakinya sampai terjingkat-jingkat karena terburu-buru.
"Astaga! Apa lagi sekarang?! Kenapa aku jadi buronan?! Hei, kalian! Jangan kejar aku! Aku bukan pencuri!" seru Chris seraya melirik ke belakang tanpa berhenti berlari.
"Tangkap dia! Jangan lepaskan dia!"
Debu sampai berterbangan gara-gara laju mereka. Armei melongo ketika mereka melintasinya. Semua orang yang di pasar ikut kebingungan.
"Dasar bodoh! Dia merepotkan saja! Aku harus mencari pencuri yang asli!" geram Armei berbalik arah berlari mencari pencuri yang bahkan tidak sempat dia lihat.
Chris semakin terbirit-b***t. Dia ingin melempar senjata itu, tetapi sayang. Orang-orang mulai panik membicarakannya. Tidak sedikit yang mencoba menghentikan Chris. Mereka menghalangi Chris dengan segala cara sampai dagangan mereka banyak yang rusak. Chris merusaknya secara tidak sengaja.
"Maaf! Aku buru-buru!" teriak Chris pada pedagang yang dia rusak barang dagangannya.
"Berhenti kau, komplotan pencuri!"
"Kau tidak bisa lari dari pasar ini! Kepung dia! Jangan diberi jalan!"
Chris merinding mendengarnya. "Sial yang buruk! Benda ini membuatku lebih pusing dari pada pusing saat dikelilingi para gadis," gumamnya.
"Huaaaaa! Menjauhkan dari jalanku!"
Sebuah gerobak berisi sayuran datang menghadang dan Chris melompatinya dengan sangat indah.
"Woaaahh, lompatan yang tinggi!" ujar pemilik gerobak sayuran itu.
Chris mengelus d**a saat kakinya berhasil berpijak, "Huft, hampir saja."
Dia meringis dan lanjut berlari. Aksi kejar-kejaran masih berlanjut, begitu juga dengan pencarian Armei pada pencuri yang sebenarnya. Dia bertanya pada beberapa pedagang yang melihat pencuri itu dan mengarahkan jalan pada Armei.
"Kalau kau tau ke mana pencuri itu pergi, kenapa tidak menangkapnya?" Armei kesal pada salah satu pedagang yang memberitahunya.
"Untuk apa? Hasilnya juga percuma. Setiap hari dia mencuri di sini. Tidak ada yang bisa menangkapnya sama sekali." pedagang itu mengibaskan tangannya.
"Apa? Pencuri sehebat itu?" Armei mengernyit.
"Dia sudah banyak berbuat ulah, Nyonya. Biarkan saja, kami sudah lelah."
"Aku masih gadis asal kau tau saja!" Armei menancapkan pisau pedagang itu ke meja membuat sang pedagang terdiam. Dia berdecak berbalik dan melanjutkan pencarian.
"Ada pencuri seperti itu? Benar juga, yang tadi itu trik atau semacam keahlian khusus? Dia berlari sangat cepat dan aku tidak bisa melihatnya. Kalau Chris berkata dia berambut panjang pasti pencurinya perempuan. Mungkin tidak akan jauh dari sini," geramnya.
Armei kebingungan, sudah hampir keluar dari pasar dan proses jual-beli di sana cukup aman. Tidak ada tanda-tanda pencuri atau hal yang mencurigakan. Armei mengira pencuri itu sangat licik dan pandai memanipulasi identitas. Mungkin dia bersembunyi di antara penghuni pasar.