Di dalam kamar tidur, merebahkan diri di atas sebuah kasur berukuran single. Menikmati rasa lembut kain sprei menyentuh kulit wajahnya, Karisa memejamkan kedua mata sambil mengistirahatkan isi kepala, yang selalu diajaknya kerja keras setiap hari, untuk konsentrasi kuliah dan mengajar.
Ponsel Karisa bordering. Penelpon tidak ada dalam daftar kontaknya, jadi ia membiarkannya saja. Tidak lama kemudian, nomor yang sama mengirimkan pesan tertulis. Karisa membuka isi pesan tersebut dan membacanya sambil tiduran.
"Selamat malam, Miss Karisa, perkenalkan saya Daniel, wakil yayasan dari sekolah XYZ. Ada hal yang perlu saya bicarakan, setelah menerima pesan ini, harap miss Karisa menelpon saya kembali. Terima kasih."
Karisa terkejut saat menatap pesan masuk itu. Sekolah XYZ sangat terkenal karena cabangnya yang merajalela di mana-mana. Dengan perasaan membuncah, Karisa segera menjawab pesan yang masuk.
"Malam, Pak Daniel, mohon maaf, tadi saya sedang tidak dekat dengan ponsel. Ada yang bisa saya bantu?"
Tidak lama kemudian, dering ponselnya berbunyi dan Karisa segera mengangkatnya.
"Halo, Malam dengan Pak Daniel?"
"Malam, Miss Karisa, maaf mengganggu karena saya menelpon malam-malam."
"Oh, tidak apa, Pak. Saya memang baru sempat juga jam segini, karena saya kuliah dan mengajar sampai sore."
"Oh.. jadi begitu. Begini, saya langsung saja mengutarakan maksud saya. Kepala Yayasan Linardi, pemilik dari Sekolah XYZ, sedang mencari guru les privat untuk anaknya berusia 3 tahun, dan saya mendengar tentang cara mengajar anda yang berbeda dan menjadi favorit di sekolah kami."
Karisa tersenyum sejenak mendengar pujian dari orang yang tidak dikenalnya.
"Mereka hanya melebih-lebihkan saja, Pak. Ssaya hanya menikmati pekerjaan saya, karena memang cita-cita saya di bidang pendidikan dan kebetulan saya mahir dalam bahasa inggris."
"Oke, kalau begitu, apa anda mau mencoba menjadi guru privat anak pemilik Yayasan Linardi? Usia nya baru 3 tahun, tujuannya ingin mempersiapkan anaknya untuk sekolah saat dia berusia 4 tahun."
"Tapi, Pak, saya mengajar bimbel, dan saya masih kuliah, mengajar di sekolah XYZ juga karena kebetulan saya atur 2 hari agar saya kuliah siang."
Daniel menghela nafas sejenak.
"Maaf, Miss, kalo boleh saya ingin mengajukan gaji yang akan Miss terima hanya untuk mengajar anak ini. Miss Karisa akan menerima gaji lima juta setiap bulannya. Kinerja mengajar akan di evaluasi selama 3 bulan dengan melihat perkembangan anaknya. Kalau ada perkembangan dalam kurikulum dan motorik, maka gaji Miss akan dinaikan menjadi tujuh juta. Bagaimana?"
Mata Karisa membulat, tidak percaya dengan gaji yang akan diterimanya hanya untuk mengajar selama 2 jam saja. Bahkan, bekerja di dua tempat saja, gaji Karisa tidak sebanyak itu. Tentu saja Karisa tertarik dengan tawaran ini, ia bahkan bisa menambah pendapatannya lebih lagi agar bisa membiayai kuliah adiknya. Kevin ingin kuliah sampai jenjang S2, walaupun sekarang adiknya masih mendapat beasiswa, ia ingin menabung untuk uang pendaftaran kuliah S2 adiknya.
"Baik, Pak. Tawaran seperti itu, tentunya mubazir jika saya tolak. Tapi, apa ada sesuatu dengan anak ini, sampai-sampai guru yang mengajar mendapat gaji yang besar?"
"Saya yakin dari foto anda yang diberikan kepala sekolah, anda pasti seorang guru yang cantik dan pintar."
‘Nah loh, kok jadi ngerayu ini orang’, dalam batin Karisa
“Jonathan, dia anak yang baik pada dasarnya. Hanya saja kurang kasih sayang dan disiplin dari orang rumah. Jadi, sikapnya manja dank eras kepala. Saya rasa, Miss Karisa bisa menangani anak seperti Jonathan.”
“Baik, Pak. Akan saya coba.”
“Saya senang, Miss Karisa menerima tawaran ini.”
"Maaf, Pak, saya sudahi pembicaraan ini kalo sudah tidak ada yang penting lagi."
"Ohh iya, baik. Terima kasih, Miss. Selamat Malam."
Daniel mengirim alamat tujuan kepada Karisa, agar setiap pulang kuliah ia ke rumah Kenzo untuk mengajarkan putranya.
Tirtania Karisa Santoso gadis berusia 22 tahun, tidak terlalu tinggi namun tubuhnya proporsional. Wajahnya cantik karena turunan blasteran tionghoa Pakistan, dengan mata bulat, alis tebal serta bulu mata lentik. Seorang mahasiswa semester 8. Ia kuliah sambil bekerja untuk membayar biaya kuliahnya sendiri. Karena ia mahir berbahasa Inggris, maka ia mencoba menjadi guru les di sebuah bimbingan belajar. Cara mengajarnya yang unik, membuatnya mendapatkan tawaran mengajar sebagai seorang guru mata pelajaran bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar swasta, tidak jauh dari tempatnya mengajar les.
Luis Kenzo Linardo berusia 30 tahun, seorang duda dengan 1 anak yang bernama Kenson Jonathan Linardo berusia 3 tahun. Tingginya 185cm, dengan tubuh atletis. Wajahnya tampan dengan netra mata coklat, tatapannya tajam, hidungnya mancung seperti orang bule, mempunyai rahang tegas dengan bibir tipis. Semua yang menatapnya pasti terpesona dengan ketampanannya. Ia adalah pemilik Yayasan Linardi yang bergerak dalam bidang pendidikan. Salah satunya adalah sekolah dengan berbagai cabang di Indonesia. Ia menikah dengan Madie seorang model ternama saat berusia 26 tahun, namun wanita itu lebih memilih kariernya dan tega meninggalkan suami dan anaknya yang masih bayi. Madie bercerai dengan Kenzo sejak usia Jonathan baru 3 bulan.
***
Karisa sudah berdiri di depan pintu gerbang alamat yang diberikan Daniel. Menghembuskan nafas sambil memberanikan diri memencet bel rumah Pak Kenzo. "Semoga Jonathan bisa menerimaku."
Terdengar suara dari interkon disebelah bel itu, "Sore, dengan siapa yah?"
" Sore. Saya dengan Karisa, guru baru yang akan mengajar Jonathan."
"Oh .. iya, sebentar yah.".
Seseorang petugas keamanan membuka pintu gerbang, "Silahkan masuk, Miss Karisa, ibu sudah menunggu di dalam. Mari saya antar ke dalam."
" Terima kasih, Pak .... Madun."
Karisa menyalami sambil melihat nama yang tertera di seragam bapak itu.
Mata Karisa terbelalak saat melihat pemandangan dari gerbang. Taman dengan dekorasi air mancur di tengah dan pepohonan rimbun disekitar nya, dari gerbang menuju rumah besar itu sekitar 15 meter.
‘Tamannya saja, kalo jadi rumah bisa besar ini’ gumam Karisa dalam hatinya, mengagumi rumah berdesign klasik eropa.
Karisa memasuki rumah tersebut dan dipersilahkan duduk di ruang tamu. Sepuluh menit kemudian seorang wanita dengan umur paruh baya, cantik dan anggun penampilannya datang menghampiri Karisa.
"Selamat sore, Miss Karisa, perkenalkan saya dengan Susi, neneknya Jonatahan."
"Selamat sore…"
Mata Karisa dan Bu Susi melebar, senyuman lebar timbul di bibir keduanya.
“Tante!”
“Karisa! Jadi Karisa guru les Jojo itu kamu. Astaga! Tante sampai enggak sadar loh. Kirain hanya sama namanya saja.”
“Jadi, Jonathan itu cucunya Tante Susi?”
“Iya.“
Bu Susi tersadar dengan kehadiran seseorang disampingnya.
“Oh iya, Bianca. Ini Karisa, anak gadis yang selalu Mama ceritain itu. Karisa, kenalin ini Bianca, adiknya Kenzo.”
Karisa dan Bianca berkenalan. Tidak ada percakapan lanjutan setelah itu, karena Bianca memang bawaannya pendiam dan tidak nyaman berkenalan dengan orang baru.
Karisa dapat melihat senyuman yang diberikan untuknya begitu dingin dan datar.
Bu Susi melihat jam di salah satu meja yang terletak di ruang tamu.
“Masih ada 20 menit lagi. Sini, ngobrol sebentar dulu.”
Karisa tersenyum dan menerima ajakan seseorang yang begitu berjasa dalam hidupnya, setelah ia dan Kevin sang adik, ditinggal selamanya oleh kedua orang tua mereka. Bianca ikut mendengarkan percakapan mereka. Bagi Bu Susi, tidak ada yang disembunyikan dari Bianca.
“Gimana kuliah kamu?”
“Semester depan mulai skripsi, Tan. Kevin juga sudah semester 4.”
“Tante senang banget ketemu kamu. Rasanya hampir 6 bulan yah, kita enggak ketemuan. Kamu masih mengajar di Sekolah XYZ, kan?”
Karisa berpikir sejenak, bagaimana ia menerima tawaran bekerja di Sekolah XYZ. Ternyata karena Bu Susi adalah pemiliknya.
“Masih, Tan. Berkat mengajar di sana, saya bisa menghidupi diri sendiri dan Kevin.”
Wajah Bu Susi merajuk, bibirnya dikerucutkan.
“Habis mau gimana lagi. Kamu enggak mau kalau di kasih bantuan uang. Kebetulan sekolah di sana butuh guru inggris, jadi Tante rekomendasiin nama kamu deh.”
Karisa memegang telapak tangan Bu Susi sambil tersenyum.
“Aku yang terima kasih. Tante sama Om Ferry terlalu baik buat kami, aku jadi merasa punya hutang budi sama Tante dan Om..”
‘Semuanya untuk menebus kesalahanku di masa lalu. Andai kamu tahu Karisa, kalau aku adalah salah satu penyebab hidup kalian menderita.’ Dalam hati Bu Susi dengan tatapan mata sendunya memikirkan masa lalu.
“Kami ikhlas kok. Sebenarnya, Tante menginginkan satu hal dari kamu. Tapi, Tante harap kamu enggak marah.”
Inilah yang disukai Karisa dari Bu Susi. Suka berkata apa adanya tanpa ditutup-tutupi. Tidak sungkan mengatakan sesuatu yang tidak nyaman di dengar telinga orang lain bila ingin menegur.
“Apa, Tan? Karisa pasti akan kabulin kalau aku mampu.”
“Ehm, kamu pernah bertemu pemilik Yayasan di sekolah itu?”
Karisa menggeleng kepala.
“Oh, Ya sudah. Enggak apa-apa. Yuk, kita ke kamar Jojo, sekalian kenalan.”
"Ehm, maaf, Tan. Kalau boleh, hari ini saya ingin mengenal Jonathan dulu, sebelum memulai pelajaran. Seorang anak itu perlu rasa nyaman, apalagi bertemu orang asing, pasti akan merasa risih kalau langsung belajar."
Bu Susi menatap Risa, "Kamu berbeda yah, biasanya guru lain datang pasti bertanya pelajaran Jojo sampai mana, udah bisa apa, ngak pernah mengenali sifat Jojo dulu. Kadang, Tante yang nyerocos ngasih tahu sifat anaknya."
"Maaf, apa Tante keberatan?"
Bu Susi tersenyum, senang sekali melihat langkah awal gadis kesukaannya.
"Tidak, Tante tidak keberatan, menurut saya, usia Jojo juga masih kecil, hanya saja kami berpikir agar Jojo mulai belajar dari sekarang, agar tidak terbiasa dengan gadget dan menonton seharian."
"Terima kasih, Tan. Biar aku dan Jojo saling mengenal dulu yah."
Risa mengagumi sosok Bu Susi begitu lembut dan baik. Setidaknya mengobati kerinduannya akan kehangatan kasih sayang kedua orang tuanya.
Pintu ruangan Jojo dibuka, mata Risa terpesona dengan dekorasi di dalamnya, ruangan anak itu terdiri dari 2 ruang berbeda, ruang serbaguna untuk bermain dan belajar, lalu terdapat pintu didalamnya yaitu kamar tidur Jojo.
Bu Susi mengetuk pintu sambil membukanya bersamaan.
"Jojo sayang, miss kamu sudah datang nih, yuk, kenalan."
Jojo yang sedang asik menonton film kartun kesukaannya, tidak menoleh sedikitpun.
"Jo ngak mau belajal, Oma."
"Kan Oma ngak bilang belajar, cuma kenalan dulu."
Jojo menghela nafas kesal saat kegiatan nonton TV nya terganggu dan akhirnya keluar kamar mengikuti perintah sang oma.
Wajahnya cemberut, bibirnya di tekuk dan matanya memperlihatkan kilatan tajam sebagai rasa tidak senangnya saat bertemu Risa.
"Ayo, disalami miss nya."
Risa menghampiri dan membungkuk turun berlutut agar tinggi badannya sejajar dengan Jojo.
"Hallo, handsome boy, I'm Miss Risa. I want to be your friend and play with you. Will you be my friend?"
Risa menyodorkan tangannya untuk bersalaman namun belum mendapat respon dari Jojo.
Tangan Risa tidak disambut Jojo, malahan Jojo membuang muka tidak ingin melihatnya. Pikirnya, semua guru yang datang pasti sama saja.
"Ohh ... I know something. Do you know the trend of saying hello to someone?"
Mata Jojo yang tadinya memancarkan kilatan tajam, berubah menjadi rasa penasaran dan mulai merespon dengan menoleh menatap Karisa. Tapi, dirinya bukan anak kecil yang mampu dibodohi. Ia diajarkan, kalau berkenalan pasti bersalaman.
"We shake hands when we say hello, right?"
Karisa menggoyangkan jari tengahnya ke kiri dan kanan dengan santai, seperti melambangkan perkataan Jojo salah.
"Nahhh.. It’s formal style at school or in the office. My way is different."
"So, how you do it?"