Bab 2. Mengenal Jonathan

1743 Words
Risa tersenyum penuh kemenangan, akhirnya bisa mendapatkan perhatian murid barunya ini. Memundurkan sedikit tubuhnya untuk memulai acara kenalan mereka. Mengibaskan kedua tangannya seperti sedang bersiap-siap melakukan sesuatu yang mengasikkan. "Will you follow me?" Jojo mengangguk cepat karena bersemangat sekaligus jiwa penasarannya terusik ingin tahu, garis bibirnya menarik tersenyum tipis merasakan ada hal yang berbeda dari guru barunya ini. "Come here, stand close to me, Jo." Karisa memperagakan cara menarik berkenalan dengan irama lagu, beberapa variasi gerakan tangan, dan hanya dua kali mengulang gerakan tersebut, Jojo sudah hafal, anak ini memberikan senyum tawa karena senang dengan hal baru yang ia pelajari. Bu Susi memperhatikan interaksi keduanya dan ikut tersenyum senang, terutama karena cucunya tidak menunjukkan sikap difensif berlebihan seperti biasanya. "Maaf , Tante. Jojo dalam sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris yah?" "Saya biasanya pakai Bahasa Indonesia, kalo daddynya campur, biar anaknya ngerti 2 bahasa sejak kecil." "Ohh... Baiklah kalo begitu." Jojo terus mengulangi cara berkenalan barunya seakan menjadi hal baru yang menyenangkan untuk ia praktekkan kepada siapapun orang rumah yang ditemuinya. "Jojo mau kasih tahu Daddy cala balu kenalan selu." Risa dan Bu Susi tertawa melihat kelucuan anak kecil ini, dan entah kenapa Risa sayang dengan anak ini, saat mata mereka bertemu, seakan hal sesuatu seperti magnet yang menarik dirinya untuk mengenal Jojo lebih dekat lagi.. "Ehm... Jojo, can I be your friend? Miss kepingin jadi temen Jojo. boleh ngak?" Jo mengangkat jarinya ke arah pipi, matanya melihat ke atas sambil memiringkan kepalanya seperti berpikir, sungguh gemas melihat tingkah anak ini. Kemudian, tatapan tajam mata anak itu terlihat lagi menatap Karisa, seperti memberikan sebuah ultimatum. "With one condition, Jo ngak suka disuluh tulis-tulis." "Iya, menulis kalo banyak Jojo pasti capek yah. Miss mengerti kok. Tapi kalo kita nulisnya di papan tulis itu mau kan? Kita main tebak-tebakan. Jojo yang tulis, miss yang tebak, trus miss nulis Jo gantian tebak, mau?" Dengan cepat dan bersemangat, Jojo mengangguk berulang-ulang. "So, you will play with me?" Risa menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Jojo " We play and learn with fun. So, we are friends now?" Jojo menyambut dengan mengaiktkan kelingkingnya ke jari Risa sebagai tanda setuju. "Deal...." *** Beberapa hari ini, Bu Susi melihat kedekatan Risa dan Jonathan. Ada rasa haru, melihat Risa mempunyai insting seorang ibu saat bersama Jojo. Ketulusannya dalam mendidik dapat dirasakan sendiri oleh Jojo yang merasa nyaman dekat dengan Karisa. Menjelang tidur, biasanya Bu Susi mengobrol dengan suaminya di atas ranjang pengantin mereka yang usianya lebih tua dari Kenzo, membahas apapun keseharian mereka di atas ranjang tersebut. “Pa. Masih ingat Karisa dan Kevin, kan?” “Iyah, sudah lama enggak dengar kabar mereka. Gimana? Kamu ketemu sama mereka?” “Bukan ketemu lagi, sekarang aku bisa setiap hari ngobrol.” Pak Ferry mengerutkan dahinya, bingung dengan ucapan istrinya. “Papa tahu ngak? Pasti ngak kan. Karisa itu sekarang guru privatnya Jojo, sudah tiga hari dia ngajarin cucu kamu. Makanya, sudah pensiun, jangan suka ngubek kantor. Kenzo juga bisa tanganin sekarang. Nanti kecapean loh.” “Karisa jadi gurunya Jojo? Kok bisa?” “Daniel yang kirim dia dari sekolah kita. Tapi, yang mau Mama bahas ke Papa bukan soal Jojo.” “Terus?” Pak Ferry tersenyum seakan sudah mengetahui apa yang akan dikatakan istrinya. “Papa tahu kan, aku senang sama Karisa. Sepertinya akan cocok dinikahin sama Kenzo. Apalagi, Karisa gampang banget dekat sama jojo. Baru tiga hari, mereka berdua akrab seperti ibu dan anak. Jojo juga enggak marah-marah kayak dulu.” “Terus?” Bu Susi memberikan hadiah cubitan kecil di perut Pak Ferry yang merasa sedang dijahili. “Sakit, Ma.” “Habis, terus terus melulu. Memangnya tukang parkir.” Pak Ferry tertawa geli melihat bibir istrinya mengerucut kesal. Dikecupnya sebentar karena gemas, dan benar saja, raut wajah Bu Susi langsung merona. Walaupun mereka menikah sudah 30 tahun lebih, tapi tetap saja Pak Ferry masih mampu membuat pipi istrinya merona.. “Aku mau nikahin mereka, Pa. Kamu bantuin aku untuk paksain Kenzo. Please, Pa. Setidaknya aku bisa merasa tenang, hutang masa laluku terbayar dengan pernikahan mereka.” Mendengar hal itu, Pak Ferry menghembus kasar nafasnya. Mengerti semua maksud perkataan istrinya. “Aku yang buat keputusan, kenapa harus kamu yang merasa bersalah.” “Ih, Papa. Berperasaan dikit, kenapa sih.” “Iya, iya. Papa dukung keputusan kamu, Sayangku.” Keesokkan harinya, Bu Susi segera memberitahukan niatnya kepada Karisa, yang tentu saja mendapat pelototan dari gadis cantik tersebut. Mereka berbincang di ruangan Jojo saat ini sambil duduk di sofa saat Jonathan sedang mandi sore. “Tante, aku belum pernah bertemu papanya Jojo, ngak mungkin lah main nikah.” “Tapi, kamu sayang sama Jojo, kan.” Karisa menatap heran seorang ibu dihadapannya yang sedang memelas, meminta agar keinginannya dipenuhi. Di satu sisi, Karisa tidak tega menolaknya, mengingat kebaikan dan ketulusan yang sudah diberikan suami istri ini untuknya dan Kevin. Tapi, di sisi lain, ia tidak mungkin mau dijodohkan, apalagi dengan laki-laki yang belum pernah ditemuinya. “Tan, aku enggak bilang menolak ataupun menerima. Biarkan waktu yang akan membawa kepada siapa jodohnya Risa. Tawaran Tante, Risa sangat berterima kasih, akan aku coba untuk mengenal daddynya Jojo.” Walaupun Risa memberikan jawaban mengambang, Bu Susi sudah merasa senang, setidaknya Risa tidak menolaknya. Tinggal bagaimana memaksa putranya untuk menerima perjodohan ini. “Oke. Tante senang, setidaknya kamu tidak menolak langsung. Kamu pasti akan jatuh cinta sama Kenzo. Dia pria yang sangat baik dan perhatian kalau sudah mencintai seseorang. Malam itu, Karisa bolak balik mengubah posisi berbaringnya. Ada keresahan memikirkan permintaan Bu Susi. Karisa berangkat kuliah dengan membawa sisa rasa kantuk karena semalam. Di sela-sela waktu luang menunggu kelas berikutnya ia selalu memanfaatkan waktu dengan membuat tugas kuliahnya, buat Karisa waktunya sangat berharga untuk dia buang dengan bergosip ataupun main-main dengan teman kuliah lainnya. "Risa, makan dulu jangan ngerjain tugas yang masih lama kumpulnya." Cika menegurnya. Karisa masih menulis sambil menelan makan siangnya, "Ini gua lagi ngunyah kan, tangan gua yang lain kerja." Cika menggelengkan kepalanya melihat kerja keras sahabatnya ini. Ada rasa iba sekaligus bangga melihat kegigihan seorang Karisa. "Kalo gitu gua minjem yah, kalau loe udah selesai sama tugasnya." Cika memberikan tatap mata berharap sambil memberikan cengiran ciri khasnya. "Boleh, upahnya asal jangan lupa absenin gua yah, kalau pas gua ngak bisa hadir kuliah." Cika menaikan tangan seperti tanda memberi hormat, "Siap bu boss." "Masih belom jadi bos, nunggu gua punya sekolah sendiri baru panggil gua bos, hahaha." Cika dan Karisa menjalin persahabatan sejak SMA, Mereka mendaftar ke universitas yang sama namun dengan jurusan yang berbeda. Terkadang, Cika mengajak Karisa pulang bersama, agar Karisa menghemat ongkos perjalanan. Kegigihan Karisa sama besarnya dengan sifat keras kepalanya. Karisa tidak akan mau diberi bantuan uang begitu saja, ia tidak mau dipandang iba oleh siapapun. Seperti sekarang, Cika mengantar Karisa menuju rumah Jojo. Hanya saja, Karisa meminta diantar sampai perempatan jalan besar, agar Cika tidak harus memutar balik mobilnya. “Cik, loe tau Tante Susi, kan.” “Iya, ibu peri buat loe itu kan.” “Dia minta gua nikah sama anaknya yang duda.” Cika menginjak pedal rem dengan cepat. Untung saja lalu lintas tidak ramai, dan mobil mereka tidak di tengah jalan raya. “Serius??” “Buset deh. Kira-kira ngeremnya Cika. Kalau ngak pake seatbelt, udah melayang badan gua.” Cika menangkup kedua telapak tangannya meminta maaf sambil terkekeh. “Maap, maap. Beneran gua kaget. Terus, loe jawab apa? Secara, loe merasa berhutang budi kan sama Tante Susi dan Om Ferry.” “Loe emang teman yang paling tahu pikiran gua. Bener! Gua enggak nolak, tapi juga ngak bilang terima. Biar waktu saja yang nanti bawa jodoh gua.” Tiba-tiba Cika tertawa sendiri. “Jangan-jangan jodoh loe itu, waktu kita ke kantor polisi.” “Idih, ogah banget deh. Emang sih, cowok kemarin itu mukanya ganteng banget, tapi kalau kelakuan kayak gitu mah minus banget.” “Kan udah dibilang cuma salah paham aja.” “Gua enggak percaya. Namanya juga orang kaya, duit bisa merubah situasi orang. Yang benar jadi salah, yang salah dianggap benar.” “Gua percaya sih. Mata manusia itu ngak bisa bohong. Gua lihat dia baik kok orangnya. Dari penampilannya, bukan orang sembarangan deh.” Karisa memutar matanya jengah, malas mengingat kejadian itu lagi. Hari ini Karisa diajak Bu Susi untuk memasak makan malam bersama. Bu Susi tahu kalau Karisa jago memasak. Ia juga mengatur agar Kenzo pulang cepat agar bisa makan bersama-sama. “Tante, kalau masakannya kurang cocok, jangan marah yah.” Karisa dan Bu Susi menata meja makan, Jojo sedang mandi setelah selesai belajar tadi. Pak Ferry juga sudah pulang sejam lalu. Seperti biasa, jam 6.30 tepat, ia akan turun menuju ruang makan. “Sayang, kamu masak apa hari ini? Wanginya agak berbeda, sepertinya bukan kamu yang masak.” Bu Susi tidak merasa canggung memeluk suaminya di depan Karisa. Justru, wajah Karisa merona menahan malu sendiri. Bianca sudah turun ke ruang makan dan terkejut melihat kehadiran Karisa di ruang makan mereka. “Karisa tuh yang masak.” Puji Bu Susi. “Om bakal cobain satu-satu. Kalau jaman dulu, ini salah satu tes calon menantu nih.” Jangan ditanya lagi rona di pipi wajah Karisa, perkataan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Entah pujian ataukah sindiran, Karisa bertarung sendiri dalam hatinya. Berbeda dengan raut wajah Bianca yang berubah total saat mendengar Pak Ferry mengatakan Karisa adalah calon menantu. Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu depan rumah terbuka. “Pasti Kenzo pulang. Tante sengaja suruh Kenzo pulang cepat, biar bisa ketemu sama kamu. Kenalan yah, Risa.” ‘Kenapa jantung jadi deg-degan gini sih. Kan belom kenal. Masa grogian. Nafas, Risa, nafas.’ Bu Susi menyambut Kenzo, kemudian menariknya dengan cepat ke meja makan. Sedangkan Risa menutupi kegugupannya dengan meneruskan menata piring di meja makan. Berbisik-bisik di ruang tamu, Bu Susi memastikan putranya bersikap manis nanti. “Ada Karisa, yang mau Mami jodohin sama kamu. Jangan ketus, yah. Kenalan dulu, jangan langsung ditolak.” “Apaan sih, Ma. Aku baru pulang kerja, capek banyak meeting hari ini.” “Ya udah, pokoknya kenalan aja dulu. Jangan jutek!” Kenzo hanya bisa bergumam kesal dengan helaan nafas panjangnya, mengikuti tarikan tangan sang mama menuju dapur. “Kenzo, ini guru les Jojo yang Mama ceritain. Namanya Karisa. Karisa, sini nak. Kenalan sama papanya Jojo.” Mendengar namanya disebut, Karisa membalikkan tubuhnya sambil tersenyum. Setidaknya ia harus memberikan kesan baik untuk pemilik sekolah tempatnya bekerja. Senyuman Karisa berubah. Mata Karisa membulat besar menatap pria dihadapannya, seperti ia sedang melihat hantu tampan. “Kamu!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD