Bab 3. Si Laki-laki m***m

1828 Words
Flashback On setahun lalu Sore itu Kenzo sengaja naik angkutan umum, karena tantangan Daniel. Supirnya sedang tidak masuk, dan mobilnya mogok. Kenzo malas membawa mobil Mercedes e-coupe nya ke kantor karena jalanan menuju ke kantor sedang diperbaiki. Akhirnya, ia berangkat menggunakan taksi. Daniel menyarankan untuk pulang menggunakan bis, untuk melihat kehidupan sehari-hari para masyarakat middle low. Awalnya Kenzo menolak, namun karena tantangan Daniel yang mengatakan dirinya bukan laki-laki metropolitan kalau belum pernah naik bis, andrenalin kemacoannya terpacu. Saat itu ada seorang pengagum rahasia yang mengejar Kenzo tanpa sepengetahuannya, namanya Lolita. Ia sering kali menguntit Kenzo hanya sekedar berpapasan dengannya. Terkadang berpura-pura menjadi seorang CEO nama perusahaan dan menghubungi kantor Kenzo, hanya untuk mendengar suara seksi Kenzo. Ketika Lolita tahu Kenzo naik bis kota, ia merencanakan pikiran kotor terhadapnya. Suasana bis kota penuh, sebagai seorang laki-laki, Kenzo berdiri sambil berpegangan di tali yang menggantung. Lolita sengaja berdiri di sampingnya. Bis meaju cepat dan tiba-tiba rem mendadak. Setiap kali bis mengerem, tubuh Kenzo mengikuti gerakan ke depan. Karena Lolita sengaja berdiri disampingnya terlalu dekat, mau tidak mau Kenzo menabrak tubuh wanita itu. Beberapa kali terjadi hal yang sama. Lolita senang sekali hanya mendapatkan sentuhan fisik saja, tubuhnya sudah mendesir, tapi tidak dengan Kenzo. Merasa perbuatan Lolita disengaja, Kenzo menegurnya. “Maaf, mbak. Berdirinya jangan terlalu dekat. Saya risih.” Beberapa orang yang berdiri di dekat mereka, menoleh karena suara Kenzo. Merasa harga dirinya terinjak, Lolita membela dirinya. “Pak, kalau sudah sengaja, jangan menuduh saya yang salah dong. Saya yang dirugikan, bukan kamu.” Dua orang gadis dengan mata menusuk ke arah Kenzo sudah merasa geram melihat tingkah pria borjuis itu. Saat Kenzo hendak mengalihkan kekesalan dengan melihat jam tangan, bis tiba-tiba mengerem lagi. Kali ini, Kenzo hilang keseimbangan dan tersungkur menindih tubuh gemoi Lolita. “Awh, tolong. Ini keterlaluan. Aku masih gadis, jangan diperlakukan seperti ini.” Melihat situasi mulai tidak kondusif, Kenzo memutuskan turun di halte berikutnya. Saat turun, Lolita ikut turun untuk memperkarakan tabrakan tadi, berharap Kenzo bertanggung jawab mau menikahinya. “Kamu mesti tanggung jawab. Tadi itu sudah tindakan pelecehan.” “Kamu yang sengaja berdiri terlalu dekat. Saya masih punya otak jernih untuk bisa membedakan mana tindakan salah dan benar.” “Kamu jangan pergi. Kamu mesti tanggung jawab, Kenzo.” Kenzo menoleh karena terkejut, darimana perempuan ini tahu namanya. Belum selesi rasa terkejutnya, tiba-tiba Kenzo mendapat serangan di bawah perut, tepatnya di area kelaki-lakiannya. “Dasar laki-laki m***m! Loe udah salah, masih ngak mau ngaku. Gua dari tadi lihat kelakuan loe di bangku belakang!” Karisa geram melihat sikap pria pengecut yang tidak bertanggung jawab, tanpa tahu menahu kejelasan dari awal. Merasa di bela, Lolita melancarkan lagi serangannya. “Dia ini calon suami saya, mbak. Saya sedang hamil dan dia tidak mau tanggung jawab.” Sebagai sesama perempuan, Karisa dan Cika semakin geram dengan laki-laki ini. Diseret Kenzo menuju kantor polisi yang tidak terlalu jauh. Selama 1 jam semuanya diinterogasi, dan akhirnya selesai ketika Lolita mengaku dengan ancaman polisi. Karisa merasa kesal dan masih berpikir kalau Kenzo sudah memakai kekuasaannya untuk memutarbalikkan fakta, sampai perempuan korban itu merubah pernyataannya. Flashback off setahun lalu. Kenzo dan Karisa berdiri berhadapan, tatapan tajam dan sinis menyerang Karisa, seperti pisau yang ingin menusuk musuhnya terus menerus. Dua mata coklat itu saling memandang sengit, tidak ada yang mengalah untuk berkedip. Nafas mereka bahkan terdengar berat, penuh dengan emosi terpendam. Karisa mengulurkan jarinya ke hadapan Kenzo. Begitu juga dengan Kenzo, menudingkan jarinya dihadapan Karisa. “Kamu!!” Bu Susi dan Pak Ferry serta Bianca yang berada di ruangan itu, menoleh bergantian ke Kenzo dan Karisa. Merasa bingung dengan sikap keduanya yang sedang bersiap untuk meledakkan diri. “Kalian sudah kenal?” Tanya Bu Susi penasaran. Baru saja Kenzo ingin melontarkan kekesalannya, tiba-tiba terdengar suara panggilan nyaring. “Daddy!” Jojo berteriak memanggil Kenzo, berlari menghampirinya. Seketika itu juga, raut wajah Kenzo berubah. Kegeramannya berubah menjadi sebuah senyuman menyeringai. Membungkukkan tubuh sambil merentangkan kedua tangannya, menyambut pelukan Kenzo. “Sudah mandi?” “Sudah, Dad. Ini Miss Kalisa, miss balunya aku. I like hel, Dad.” “Oww, begitu yah.” Jojo mengangguk dengan senyuman manisnya. Jarang sekali Kenzo melihat senyum lebar putranya setelah sesi les privatnya. Biasanya, Jojo akan menampilkan wajah merengut karena kesal dengan ajaran guru les sebelumnya. Jojo melepaskan pelukan Kenzo, beralih ke Karisa. Menarik tangan Karisa untuk mendekati Kenzo. “Miss, this is my Daddy.” Karisa masih menatap tajam ke arah Kenzo, tapi sudah tidak sesengit tadi, karena kehadiran Jojo. “Halo, saya Kenzo. Daddynya Jonathan.” Melihat uluran tangan Kenzo, mau tidak mau Karisa membalas salaman tersebut. “Saya Karisa.” Suasana menegangkan mencair karena kehadiran Jojo. “Ken, kita makan bareng yah. Mama ngundang Miss Karisa untuk makan malam bareng.” Berniat untuk menolak makan malam bersama, merasa tidak nyaman saat melihat kehadiran perempuan yang membuatnya tersandung masalah. Jojo menarik-narik ujung kemeja Kenzo. “Please, Dad. Temenin Jojo.” Permintaan yang tidak mungkin ditolak Kenzo, walaupun suasana hatinya sedang kesal. “Okay. Give me 10 minutes. Daddy shower dulu.” Jojo senang sekali bisa makan bersama daddynya, apalagi ditemani guru barunya. Suasana makan di kediaman Linardi selalu hangat, mereka meluangkan waktu berkomunikasi sambil makan. Pak Ferry dan Bu Susi bukan orang tua yang kaku, malahan cenderung jahil dan saling mengusili. Hanya Bianca saja yang tidak berbicara sedikitpun di meja makan. Pak Ferry duduk di tengah, di sebelah kanannya ada Kenzo, Karisa dan Jojo. Lalu di sebelah kirinya da Bu Susi dan Bianca. Duduk bersebelahan yang memang sengaja direncanakan Bu Susi, membuat Kenzo dan Karisa tidak nyaman. Pak Ferry yang menyadarinya, memecah suasana tersebut. “Kalau Karisa yang masak terus, jangan-jangan Papa bisa jatuh cinta sama Karisa nih, sayang.” “Heh, enak saja. Ngak boleh. Dibagi tugas saja, Karisa masak seminggu dua kali kalau gitu, biar Papa tetap jatuh cinta sama Mama.” Wajah Karisa terlihat canggung awalnya saat Pak Ferry mengatakan demikian, namun ia jadi tertawa mendengar jawaban Bu Susi. Sikap mereka sama dengan kedua orangtuanya yang sudah meninggal. ‘Andai Mama sama Papa masih hidup, pasti kita bercanda seperti ini juga di meja makan.’ “Karisa! Hei! Kok bengong.” “Eh, Maaf Tante. Lihat Om sama Tante, aku jadi ingat almarhum Mama sama Papa. Sama banget bercandanya.” Pak Ferry tersenyum dengan wajah wibawanya. “Kamu dan Kevin sudah kami anggap sebagai anak sendiri. Jangan sungkan, yah. Dipanggil Papa juga enggak keberatan. Punya anak perempuan seperti kamu itu sebuah kebanggan buat kami.” “Terima kasih, Om. Saya yang beruntung kalau begitu.” Bianca mengerutkan dahinya saat mendengar Bu Susi dan Pak Ferry bicara kepada Karisa, sangat akrab seakan sudah mengenal lama. Begitu juga dengan Kenzo yang bingung melihat tingkah laku orang tuanya. ‘Kenapa Mama sama Papa kayak kenal banget sama perempuan ini, yah. Terus, darimana Daniel bisa nemuin ini orang sih. Dari sekian banyak guru di sekolah, kenapa mesti pilih dia, sih.’ Dalam hati Kenzo bermonolog. Bu Susi meminta Kenzo mengantar Karisa, namun ditolak langsung oleh Karisa. Tidak berani terlalu memaksakan, Bu Susi mengalah untuk sekarang. Kenzo menemani Jojo sebelum tidur di kamarnya. Mereka duduk bersandar di dipan ranjang Jojo. "Anak daddy, hari ini kamu belajar apa?" Jojo memberikan senyum cengiran ke daddynya "Daddy, Jojo sekalang main teyus tiap ali, Miss Ica baik deh." Kenzo merengut, terkejut mendengar penuturan Jojo. "Lah! Kok anak gua malah di ajak main, ngapain di gaji gede kalau begitu. Apalagi si mama pake acara jodohin sama dia, bisa rusak generasi penerus gua." gumam dalam hatinya sambil memegang area di antara kedua pahanya. Setelah Jojo tidur, Ken menuju ruang orang tuanya. "Mam, ini guru serius ngak sih ngajarin Kenzo, kalo di ajak main terus mending suruh berhenti aja deh. Ngak guna bayar mahal." Bu Susi menghela nafas melihat kekesalan putranya yang tidak beralasan. "Ken, kamu dengerin mama dulu. Sejak Miss Risa datang dan menjadi guru Jojo, anakmu itu justru banyak perkembangannya. Ruang bermain dia yang selalu berantakan sekarang rapi tanpa mba Sumi harus membereskan setiap hari. Cara miss Risa mengajari Jo juga beda, makanya Jo seneng dan merasa kalo Risa ngajakin dia main, padahal Jo itu belajar tanpa dia sadari. Mama juga suka sama Miss Risa, udah cantik, lembut, baik, sabar banget. Kriteria mama idaman buat Jojo, Ken." Kenzo merengutkan dahinya. "Ma, Kita lagi bahas Jojo, kenapa jadi ke mama Jojo sih. Apalagi nikah sama perempuan jutek itu. Ngak masuk kriteria aku, Mama belum kenal dia saja." "Mama mau sesekali kamu melihat bagaimana Karisa mengajar Jojo. Mama itu kenal Karisa sudah lama, bahkan sebelum Karisa kuliah, Mama sudah kenal sama dia. Anaknya tangguh, mandiri banget. Dia enggak mau dikasihani karena nasibnya. Apalagi, ternyata Karisa yang ngajarin Jojo dan anaknya bisa dekat. Ini pertanda kalau dia memang cocok jadi Mommynya Jojo." Ken masih kesal dengan bujukan mamanya untuk menikah. Ia merasa ragu dengan perkataan mamanya. Bisa saja perempuan itu menutupi sikap buruknya dengan menggunakan topeng manis, pura-pura baik di depan orangtua dan anaknya. "Aku mau gurunya buat laporan, setiap hari dikasih tahu dia belajar apa saja secara detail." Bu Susi menatap kesal dengan anak diktaktornya ini, bukan merespon usulannya menikahi Karisa, malahan membuat tugas tidak penting untuk Karisa. "Nanti mama kasih tahu Miss Risa, besok kan Sabtu, dia ngak ngajar. Lagian, kalian itu kenapa sih. Baru ketemu saja sudah kaya kucing sama anjing saja. Jodoh baru tahu rasa. Biasanya orang berjodoh itu, awalnya memang suka berantem, kayak Papa kamu dulu, sukanya bikin Mama marah. Eh, kecantol juga malahan jatuh cinta." Pak Ferry tertawa geli, gemas dengan istrinya. Di saat menggerutu pun masih saja menyerempet soal perjodohan. Terbesit sebuah akal saat Kenzo memberikan perintah tentang perkembangan anaknya. Bu Susi mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Halo, kamu di rumah?” “---“ “Sebentar, ada yang mau bicara sama kamu. Katanya penting.” Bu Susi memberikan ponselnya ke Kenzo, sambil menutup speaker telepon agar tidak terdengar. “Nih, langsung ngomong sama orangnya saja. Mama kamu bukan kurir penyampai berita.” Mata Kenzo melotot melihat kegilaan sang Mama, bibirnya sudah komat-kamit mengomeli sikap Mamanya yang seenaknya saja bertindak, sebaliknya, Pak Ferry tertawa lepas melihat tingkah kekanakan istrinya ini. Terpaksa Kenzo menerima ponsel tersebut dan berbicara. “Halo, dengan Miss Karisa.” “Ada apa, Pak!” Suara Karisa begitu ketus ditelinga Kenzo. “Saya mau kamu menulis laporan tentang hal-hal apa saja yang sudah Jonathan pelajari dari kamu.” “Oke, baik. Sudah itu saja, kan.” “Memangnya kamu mau bahas apalagi selain Jojo?” “Tidak ada, Pak. Sekedar saran saja, kalau mau membahas tentang pekerjaan, baiknya di waktu jam kerja saja. Jadi Bapak akan terlihat professional di mata saya. Kalo semalam ini, kesannya Bapak cari kesempatan buat hal yang macam-macam. Selamat malam.” Karisa menutup teleponnya tanpa menunggu balasan bosnya, sedangkan Kenzo merengut sembari menatap ponselnya yang sudah tidak ditutup, masih dibuat bingung dengan sindiran tidak jelas Karisa. Bu Susi hanya tersenyum melihat kecemberutan Kenzo, ia tahu kalau Karisa adalah anak yang tegas. ‘Benar-benar enggak jelas ini orang. Otaknya saja enggak waras, Mama dapat ide darimana buat jodohin aku ke dia. Huf.’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD