Bab 4. Perubahan Jojo

1683 Words
Karisa membuka matanya, rencana bangun lebih lama terganggu karena bunyi alarm ponselnya, ia lupa mengganti mode alarmnya karena hari Sabtu dirinya tidak bekerja ataupun kuliah. Baru jam 7, padahal hari ini mau bangun siangan jam 8 atau jam 9 kalau bisa. Ia keluar kamar dengan rasa kesal dan mengambil segelas air putih, masuk kembali, lalu membersihkan diri. Kemudian membuat sarapan. Harum aroma pandan dadar guling sampai ke hidung Kevin, adiknya dan terbangun dari tidur lelapnya. Keluar dari kamar hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek. "Tumben, pagi-pagi udah buat sarapan, Kak." Kevin melihat jam dinding dengan menyipitkan mata. "Baru jam 8 kurang loh. Biasanya juga belum bangun." "Iya, tadi gua kebangun karena lupa matiin alarm. Puas!!" Kevin tertawa meledek melihat wajah kusut kakaknya dengan rambut di cepol bulat ke atas. "Pantesan pagi-pagi udah wangi kue kesukaan gua." "Ya udah sih, gua mau ke pasar beli keperluan mingguan, loe jangan lupa habisin sarapan. Mandi dulu, sana!" "Siap, Bu Risa." Risa tersenyum dan menghampiri adiknya lalu merangkul dan bersandar di bahu Kevin, merajuk seperti anak kecil. "Vin... Nanti siang temenin gua yah, ke supermarket, beli barang keperluan rumah." "Ogahh ah, nanti disangka gua pergi sama pacar lagi, padahal perempuan tua, galak, juteks sejagad raya." Pletak ... Sebuah toyoran ke kepala Kevin, hadiah dari Risa akibat ledekannya "Gua memang kakak loe yang paling cantik, baik hati, serta tidak sombong. Anugerah terindah karena muka gua lebih anak anak... Akui lah... Hahahaha." Kevin membulatkan mata jengahnya, karena memang benar kenyataannya seperti itu. Walaupun Karisa sudah 22 tahun, namun dari wajah dan postur tubuhnya seperti anak remaja beusia 17 tahun. "Oke sip, sekalian makan siang aja di luar yuk. Gua yang traktir, jadi ngak usah masak." Risa menyetujui keinginan adiknya. Kevin memang sudah mempunyai penghasilan sendiri. Risa menerima ajakan Kevin, semata-mata untuk menghargai keinginan sang adik untuk membahagiakan dirinya. "Habis dari pasar, aku masak sebentar buat besok terus kerjain sisa tugas, habis itu kita pergi yah." Kevin mengangguk dan hendak memakan dadar gulung buatan kakaknya, tiba tiba telinganya dihadiahi jeweran lagi. "Eh.. eh.. eh... Ini anak, sikat gigi dulu sana, baru makan. Jorok!" "Kirain ngak ada mama bakalan ngak ada yang larang-larang aku lagi, ternyata kakak gua lebih muacan dari ibunya muacan." "Kevinnnn!!!" Kevin keburu lari ke kamar mandi sambil tertawa, sebelum Karisa menoyor kepalanya ataupun menjewernya lagi. Dan sesuai ramalan cuaca Kevin, orang orang mengira Risa adalah pacarnya, apalagi Risa selalu dengan sengaja memeluk manja lengan adiknya kemanapun mereka pergi. "Kak, jangan ngelendot gini dong, gimana gua mau dapat pacar kalo loe nempel gini." "Dih... Biarin aja sih, siapa yang berani melirik adek gua, langsung dapat hadiah pelototin balik, terus gua bilang, adik gua ini masih kuliah, masih bau kencur, belom boleh pacaran dulu." "Dih .. Kan bener si ibu macan satu ini yah, Mama oh Mama, kupikir dirimu galak ternyata kakakku lebih-lebih galaknya, why this is happen to me." Karisa menyikut bahu adiknya yang sedang memainkan mimic muka merajuk sedih. "Ck, drama banget. Nanti ngak gua masakin makan malam, biarin aja makan diluar terus pake uang jajan kamu itu. Belom kuat juga kan buat makan di luar setiap hari." Kevin merengutkan wajahnya agar terlihat imut di depan Karisa. "Kalau loe pacaran, anak orang mau di kasih makan apa coba. Kalau loe sudah dapat penghasilan lumayan, seenggaknya mandiri deh, baru boleh pacaran. Itu juga belum tentu cewek normal mau diajak makan irit.. Kakak loe ini hanya mengajarkan arti tanggung jawab, kasihan anak orang, loe ajak makan sepiring berdua. Lah, loe aja makan nasi nambah, gimana sepiring berdua coba, sakit maag nanti." Kevin tertawa geli mendengar ceramah sang kakak yang benar pada intinya. "Iya.. iya... Kalah deh kalau ngomong sama bu guru satu ini. Lagian, gua masih mau fokus belajar buat kebut S2.” **** Jonathan masuk ke dalam kamarnya setelah jadwal makan buah. Setelah 30 menit kemudian ia keluar kamar lagi dan mengecek ke arah pintu luar, hal yang sama ia lakukan sampai tiga kali. Kenzo memperhatikan anaknya dari ruang tamu mondar-mandir, setelah ketiga kalinya ia melihat ke arah pintu saat Jojo masuk dan matanya mulai berkaca-kaca. Kenzo penasaran ada apa dengan sikap Jojo. "Jo, kamu nangis?" Jo yang mulai terisak menatap marah daddynya. "Daddy jahat, miss Ica uda ngak boyeh ketemu Jo lagi kan! Jo mau miss Ica, Dad." Jo berlari menangis ke kamarnya. “Biar aku yang coba bujuk Jojo.” Jawab Bianca menawarkan diri, kemudian berjalan ke kamar Jojo. Ken terheran dengan sikap Jojo, baru kali ini ia melihat putranya menanti seseorang dan menangis karena rindu dengan guru lesnya sampai ia lupa ini hari Sabtu. Kenzo yang mengetahui perangai putranya, menghampiri Jojo yang masih menangis di dalam kamarnya, artinya bujukan Bianca tidak berhasil menenangkan putranya ini. "Jo, kamu lupa yah, ini kan hari Sabtu. Miss Risa kan libur setiap Sabtu dan Minggu, hari Senin baru mengajar lagi Jojo lagi." Jojo menatap mata daddynya dengan tatapan memelas. Sebuah tatapan yang sama ketika Jonathan ditinggalkan Kenzo keluar kota, dan ia akan menatap Kenzo seperti ini setiap ia merindukan daddynya. "Daddy ngak suluh Miss Ica stop kan? Jo sayang sama Miss Ica, Jo ngak suka diajalin miss lain lagi. Enggak mau." "Jojo lebih sayang sama Daddy apa Miss Risa?" "Ehm... Sekalang sama Daddy, hali Senin sama Miss Ica, kan Jo udah ketemu daddy kalo mau pelgi kelja. Jojo kangen sama Miss Ica, please, Dad. Suluh Miss Ica ke sini." Ken semakin penasaran dengan Miss Risa, yang sudah menjadi kesayangan anaknya ini. Ia menghubungi Daniel, daripada meminta ke mamanya. Sudah dipastikan kehebohan akan terjadi, dan ia akan diinterogasi habis-habisan karena ia meminta nomor telepon seorang perempuan. "Hallo, Pak. Ini Sabtu kali, masih aja nyari gua. Kangen?" "Nil, gua minta nomor kontak Miss Karisa dong." "Nah, iya tuh, gimana si Jo sama miss cantik barunya." "Justru itu, si Jo sampe lupa hari ini Sabtu, saking seneng sama miss baru ini, biasanya dia sadar banget sama hari Sabtu Minggu, berasa kayak beruang lepas kandang kalau enggak les. Ini malah mewek bilang kangen sama gurunya." "Bagus dong kalo gitu. Terus lu ngapain minta nomor dia, biasanya ngak pernah." "Yah, ngakpapa, buat jaga jaga aja, tadi Jojo nangis. Dia kira gua pecat miss dia." "Wuih, sampe segitunya Jojo uda deket sama miss Karisa. Hebat juga itu guru bisa naklukin anaknya harimau, hahahaha." Kenzo hanya diam mendengar ledekan sahabatnya itu, hanya dengusan nafasnya terdengar di telinga Daniel. "Udah gua kirim ya ke HP loe, kontaknya miss Risa. Jangan lupa di deketin, pertanda itu dari Jojo. Dia mau Mommy Karisa." Daniel segera menutup telponnya sebelum mendapat umpatan dari sahabat dinginnya itu. Kenzo menyimpan nomor miss Karisa, lalu melihat foto profile pribadinya sedang tersenyum menunjukkan barisan gigi rapinya. "Cantik juga " Senin pagi Kenzo sarapan bersama Bianca, papa dan mamanya di ruang makan, aktifitas rutin yang mereka lakukan sebelum berangkat kerja. "Hari ini kamu mau ke sekolah cabang mana Ken?" Tanya Pak Ferry. "Aku mau ke cabang Jakarta Barat deket sama rumah, lanjut daerah Utara dan cek proyek sekolah baru kita daerah Tangerang dan Jakarta Selatan. Aku lihat kawasan Bekasi juga bagus untuk bangun cabang di sana, beberapa perumahan sudah mulai dibangun. Besok baru cek ke bagian pemasaran disana untuk kavling yang tersedia." Sejak Pak Ferry pensiun, Ken yang meneruskan semua pekerjaan papanya dan Pak Ferry bisa melihat sistem kerja Kenzo yang lebih fleksibel. Kadang harus bisa menerima masukan generasi berikutnya supaya perusahaan tetap hidup dan mengikuti perkembangan jaman. "Good, kamu cek saja, budget untuk mendirikan sekolah juga masih ada kan? Kalau memang prospeknya oke, beli sekaligus saja jadi kita punya lahan luas untuk membangun gedung sekolah di semua jenjang." "Maksud aku juga gitu, Pa. Kebetulan, tanah yang ditawarin sesuai kemauanku. Lebih besar sedikit." Jojo keluar dari kamar dan menghampiri opa, oma dan daddynya, mengecup pipi mereka semua satu per satu. "Moning, Opa." cup "Moning, Oma." cup "Moning, Daddy." cup Lalu tangannya terulur ke atas, minta naik dipangku daddynya. Ken mengangkat dan mendudukkannya dipangkuan. Ada rasa senang ketika Jojo melakukan hal barusan. "Tumben, anak Daddy sudah bangun. And you look so happy." "Daddy, today is Monday, I'm excited to meet my teacel." Pak Ferry tersenyum menatap cucunya yang sangat lucu kalo sedang tidak mengamuk. "Tumben banget anak ini, semangat ketemu gurunya sekarang, ngak kaya biasanya." Kata Pak Ferry. "Kamu harus kenal Miss Risa, pertama kali ketemu dia aja, aku langsung suka, orangnya cantik, ramah, baik, sabar lagi, ditambah pintar masak yang enak. Catet tuh! Kriterianya ngak cuma cocok jadi guru, tapi juga calon istri idaman. " sela bu Susi. Pak Ferry tersenyum dan melihat reaksi putranya ketika disindir oleh Bu Susi, yang selalu menuntut dirinya untuk menikah lagi, dan kali ini sepertinya sangat niat menjodohkannya dengan Karisa. Kenzo mengerti maksud mamanya, namun ia masih pada pendiriannya, ia melipat surat kabarnya dan meletakan di atas meja, lalu bersiap siap untuk berangkat. "Aku pergi dulu, Ma, Pa." Lalu menggendong Jojo sebentar. "Daddy go to work okay, you be a good boy at home." "Okay daddy, I love you. Have a nice day." Cup, Jo memeluk daddynya. Dan itu membuat Kenzo terkejut, anaknya tidak pernah semanis ini sebelumnya. "Who teach you like this, you never kiss and hug Daddy before going to work." Jojo menutup mulutnya sambil tertawa malu. "Miss Ica said to me, that daddy will love me, if I being a nice boy. She told me to kiss and hug you befole you go to wolk." Segaris senyuman timbul di wajah Kenzo, merasa senang dengan sikap manis Jojo karena Karisa. Ia semakin penasaran dengan perempuan yang bisa merubah putranya dengan cepat. Apa pemikiran Ken tentang Karisa salah, karena pengalaman buruknya dulu. ‘Kenapa Karisa yang waktu itu galak banget yah, tapi Jojo bisa nurut banget. Apa gua harus turutin kata Mama, buat kenal dia dulu.’ Kenzo begitu kecewa dengan Madie yang meninggalkannya. Mereka memang menikah bukan karena cinta, mereka dijodohkan oleh kedua orang tua mereka yang sudah berteman lama, namun Kenzo mulai mencintai istrinya, karena ia menganggap pernikahan harusnya hanya sekali untuk seumur hidup. Namun apa mau di kata, pemikirannya dan istrinya tidak sejalan, bahkan Madie begitu kesal ketika mengetahui berat badannya naik banyak akibat melahirkan. Setelah melahirkan, Madie kabur dan menghilang, meninggalkan suami dan anaknya untuk meraih impiannya yang sempat tertunda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD