Kevin mempunyai kesibukan yang sama dengan kakaknya, begitu juga dengan kepintarannya. Kevin mendapatkan beasiswa dari kampusnya dan terikat kontrak untuk bekerja paruh waktu di bagian admisi kampus. Dengan kecerdasan, sifat rajin dan mempunyai hati mendidik yang menurun dari sang kakak, Kevin mendapat sebuah tawaran menarik dari kampus. Dengan perasaan tidak sabar, ia mengetuk pintu kamar Karisa.
Setelah di ijinkan masuk, Kevin segera duduk di sebuah bangku depan meja kaca sambil melihat Karisa yang masih berkutat dengan laptop nya, entah mengerjakan tugas kuliah atau tugas mengajar.
"Kak, gua punya kabar baik."
"Apa, Vin? Jangan bilang loe mau nikah ya."
Kevin tersedak mendengar jawaban kakaknya, belum lagi tatapan mata Karisa yang sangat terbaca sedang menerornya.
"Kak, pacar aja belum ada, lagian gua ngak mikirin itu, gua mau sukses dulu baru mikirin pasangan. Yang ada juga loe, itu yang harusnya cari pacar, umur udah 22 tahun, masih single aja."
"Gua juga males, Vin, cari pacar lagi, apalagi sejak ..."
Kevin berpindah duduk sambil merangkul bahu kakaknya. Mengerti maksud pembicaraan Karisa.
"Masih mikirin laki-laki b******k itu?"
"Enggak lah, uda aku lupain sejak dulu. Cuma aku takut cari pacar, Vin, takut keluarganya tidak mau menerima aku apa adanya dengan keadaan kita."
"Beuh, cewek cakep plus pinter, mandiri dan pinter masak itu kriteria dambaan semua orang tua kak, belajar pede dong."
Karisa hanya tersenyum mendengar adiknya yang sifatnya terlihat ketuaan dari umurnya.
“Tadi loe bilang ada berita baik. Apaan? Cerita dong.”
Kevin terkekeh senang kembali. Kemudian menjulurkan dua jari telunjuk dan tengahnya membentuk angka dua.
“Gua ditawarin kerjaan jadi asisten dosen, di gaji loh. Terus dari pihak admisi juga kasih upah per jam mulai semester depan. Lumayan bisa buat nabung S2.”
Reaksi Karisa malah berbalik dari bayangan Kevin. Ada rasa sedih sekaligus bangga dalam hatinya.
“Seharusnya, loe fokus belajar saja, Vin. Jadi asdos, waktu kamu jadi makin kebuang banyak, gua cuma takut loe enggak ada waktu belajar. Urusan S2, biar kakak loe ini yang pikirin saja.”
“Kakak aja sudah mau S2, masih harus nanggung kuliah gua. Egois namanya, kalau semua gua bebanin ke kakak. Gua ini anak laki-laki, harusnya lebih mandiri dari perempuan. Sudah deh, jangan banyak protes. Kakak bisa kuliah sambil kerja, gua juga pasti bisa bagi waktu antara kerja sama belajar. Kita sama-sama berjuang. Oke.”
Karisa tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Gua bangga sama loe, Vin. Papa sama Mama pasti bangga lihat loe sekarang.”
“Mereka juga bangga sama loe, Kak. Jarang ada di dunia ini.”
“Sebenarnya, gua bisa nabung lebih banyak sekarang, karena gaji gua lebih dari cukup buat cicil uang S2 gua dan uang kuliah loe.”
Mata Kevin menatap Karisa, mencari sebuah jawaban, dari mana Karisa mendapat uang banyak. Karisa yang mengerti, akhirnya bercerita agar tidak ada kesalahpahaman.
“Gua ngajar privat anak pemilik yayasan, anaknya itu keras kepala, makanya mereka berani gaji besar untuk anak ini. Dan ternyata, loe tahu cucunya siapa?”
“Siapa?”
“Cucunya Tante Susi sama Om Ferry.”
Mata Kevin melebar, sebuah kebetulan sekali.
“Dan sekarang, Tante Susi minta gua nikah sama papanya anak itu. Gua enggak tega nolaknya.”
Kevin terkekeh melihat wajah merona Karisa.
“Kesannya mau nolak, tapi muka loe beda. Kayak orang malu-malu kucing.”
“Jangan rese deh.”
“Kak, gua yakin Tante Susi itu enggak akan sembarangan minta orang lain untuk jadi menantunya. Justru karena dia udah kenal loe luar dalam, makanya dia kepingin loe jadi menantunya. Kalau gua sih bakal terima, nasib langsung berubah.”
Kening Kevin dihadiahi jentikan jari Karisa setelah mengatakan hal tersebut.
“Aduh, sakit.”
“Catet, kakak loe bukan cewek matre. Masih bisa berdiri sendiri tanpa harus menempel jadi benalu dari kekayaan laki-laki.”
Kevin terkekeh karena sudah salah bicara, sambil mengatupkan kedua telapak tangannya meminta maaf.
***
Kenzo merenung di dalam kamarnya, membayangkan kembali masa lalunya dengan Madie.
Flashback On.
Waktu usia 26 tahun, Kenzo di jodohkan kedua orang tuanya. Sebelum menikah Kenzo adalah laki-laki dambaan banyak wanita disekelilingnya, wajahnya tampan dengan rahang tegas, mata coklat tajam, hidung mancung, seperti orang bule, karena papa Kenzo adalah blasteran amerika cina jepang. Ia memanfaatkan ketampanannya tersebut dan sering gonta ganti pacar, saat orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Madie awalnya ia menolak, ia sanggup mencari sendiri jodohnya bahkan saat ini ia tinggal memilih perempuan yang cocok dengan dirinya.
"Ma, aku bisa cari istri sendiri, jangan pake sistem jodoh-jodohan gini dong!"
"Sayang, papa Madie berjasa banget sama papa kamu, bahkan papanya sudah menyelamatkan papamu dari orang-orang yang ingin menghancurkan bisnis sekolahnya waktu kamu masih kecil. Papa Madie sangat berjasa maka itu, papa ingin membalas jasa papa Madie dengan menjodohkan kalian berdua."
"Tapi, Ma, itu kan urusan papa, masa aku yang jadi korbannya."
"Kamu kenalan aja dulu sama Madie, nikahnya 6 bulan lagi, papa juga mau kamu mulai serius sebagai laki-laki dan ingin kamu memegang yayasan papa untuk menggantikan posisinya. Papa sudah mau pensiun katanya dan dia butuh kamu untuk membantunya. Lagian, Mama maunya kamu nikah usia sekarang, biar enggak ketuaan punya anak. Kalau kamu sudah punya calon, besok juga kamu harus kenalin ke Mama."
Kenzo menghela nafasnya kasar, pikirnya ngak ada salahnya juga bertemu Madie, dirinya juga bingung, menolak Madie, harus ada calon dan menikah juga, padahal ia masih belum menemukan cinta sejatinya, akhirnya dengan berat hati menyetujui bertemu dengan Madie.
Madie seorang gadis berusia 24 tahun, wajahnya cantik dengan tubuh langsing sempurna, ia bercita-cita ingin menjadi model international. Tentu saja, saat ini dia adalah model dengan bayaran mahal, wajahnya terpampang di berbagai jenis iklan dan ia sering menghadiri fashion show dan memakai rancangan kenamaan. Ia terpaksa menerima perjodohan ini karena tidak mau membuat malu nama ayahnya, sebenarnya karena ayahnya mengancam akan mencoret namanya dari daftar ahli waris jika ia menolak menikah dengan Kenzo. Ia berpikir akan menerimanya dan bercerai saat pernikahan mereka sudah berjalan dengan alasan tidak cocok dan akan melanjutkan cita-citanya kembali.
Kenzo tertarik setelah melihat kecantikan Madie, begitu juga sebaliknya, mereka tertarik bukan karena cinta, namun karena nafsu semata. Apalagi Kenzo mengetahui kalo Madie bukan seorang perawan lagi saat menikah dengannya, namun merasa tidak ingin menyakiti orangtuanya, Kenzo menyimpan rahasia ini sendiri.
Setelah 3 bulan menikah Madie mengandung anak kenzo, hal ini membuat Madie kesal, berbeda dengan Kenzo dan keluarganya yang merasa bahagia. Madie sering marah dengan suaminya.
"Harusnya kamu memakai pelindung setiap kali kita bercinta, aku selalu ingatin kamu soal kerjaanku. Sekarang jadi kebobolan kan, terus kamu bilang lagi ke Mamamu kalau aku hamil. Kalau belum bilang, aku mau tunda dulu."
Wajah Kenzo berubah kesal saat melihat Madie tidak menginginkan bayi mereka.
"Loh, Sayang, harusnya kamu bahagia dong kalo kita akan punya anak."
"Aku belum siap, Ken, aku masih punya cita-cita, aku kepingin go international."
Kenzo memeluk istrinya, "Kamu bisa melanjutkan cita-citamu, Sayang, setelah melahirkan kamu tinggal meneruskan karier mu. Aku enggak akan larang."
Kenzo mulai mencintai Madie, apalagi setelah mengetahui Madie mengandung buah cinta mereka. Namun sayangnya hanya dirinya yang merasakan hal itu, tidak dengan Madie.
"Baiklah kalo gitu, setelah melahirkan ijinkan aku melanjutkan karirku."
Kenzo mengangguk menyetujui permintaan istrinya, pikirnya ia ingin merubah Madie menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya bagi keluarga kecil mereka nanti. Berharap, Madie akan merubah keinginannya setelah melahirkan nanti.
"Aku sayang sama kamu, kita pasti bisa jadi orang tua yang baik buat anak kita nanti, dia bakal jadi anak kepala yayasan disekolahnya nanti."
Madie membulatkan matanya mendengar perkataan Kenzo, malas memikirkan kalo dia akan jadi ibu rumah tangga dan mengurus anak.
Sejak Kenzo menjadi pemimpin yayasan milik papanya, ia membuat terobosan baru dan membuat 5 cabang sekolah baru dengan sistem partnering dan banyak investor tertarik dan menginvestasikan dana untuk proyek terbarunya. Karirnya melonjak pesat dan namanya sangat terkenal bahkan para investor wanita yang menyukainya, sangat menyayangkan Kenzo yang sudah beristri.
Saat Jonathan lahir, semua orang berbahagia tak terkecuali Madie, namun kebahagiaan Madie bukan karena menyambut putranya yang lahir kedunia namun ia menyambut kebebasannya yang sebentar lagi ia raih. Baru sebulan melahirkan, ia memutuskan untuk kembali ke dunia modeling, bahkan ia menolak memberi ASI kepada putranya karena takut bentuk tubuhnya akan rusak dan mempengaruhi kariernya.
Kenzo tentu saja keberatan dengan keputusan Madie yang terlalu cepat bekerja kembali.
"Sayang, kenapa ngak kamu tunda dulu sampai Jojo sudah bisa ditinggal."
"Ken, kamu sudah janji setelah aku melahirkan, aku bisa melanjutkan cita-citaku. Jangan-jangan, sekarang kamu mau ngekang aku yah. Kamu ingkar sama janji kamu."
"Madie, Jojo masih butuh kamu sebagai mamanya. Kamu tega?"
"Loh, kenapa ngak kamu aja, kamu juga papanya kan, yang sengaja buat aku hamil juga kamu kan, jadi jangan salahin aku dong."
Mereka bertengkar hebat malam itu. Kenzo begitu kecewa dengan Madie yang begitu egois, ia bahkan jarang sekali menggendong putranya apalagi bermain bersama bayi mungil yang lucu ini.
Hampir setiap hari Kenzo dan Madie bertengkar, rumah tangga mereka seperti neraka, dan akhirnya Madie mengajukan gugatan cerai kepada Kenzo.
Seluruh keluarga terkejut dengan berita ini bahkan ayah Madie sangat malu dengan ulah putri semata wayangnya ini.
Yang lebih mengangetkan lagi Kenzo, setelah mengajukan perceraian, Madie kabur dengan seorang laki-laki ke Amerika untuk meneruskan karier modelingnya, laki-laki yang pergi bersama Madie adalah seorang pemilik production house terkenal di Amerika.
Hati Kenzo hancur dengan perlakuan istrinya, disaat ia bisa memberikan hatinya kepada Madie, perasaan itu dihancurkan oleh kelakuan egois istrinya.
Akhirnya Kenzo pindah kembali ke rumah orang tuanya karena Kenzo tidak dapat mengurus Jojo seorang diri, pekerjaannya saja sudah banyak menyita waktunya di kantor. Orang tua Kenzo sangat mengerti kesibukan anakanya saat ini. Akhirnya Bu Susi yang membantu mengurus keperluan Jojo selama Kenzo harus bekerja.
Kenzo berubah menjadi seorang pemuda yang dingin dan keras, perceraiannya membuat sebuah trauma di dalam hatinya, bahkan ia menutup hatinya kepada perempuan lain yang begitu gencar mengejarnya. Lelaki tampan, sukses, kaya, dan bertubuh tegap sempurna.
Hanya Bianca yang berani mengajaknya bicara dan bercanda.
Flasback OFF
‘Lebih baik tidak punya istri daripada harus patah hati lagi. Apalagi nikah sama perempuan macan itu. Bisa-bisa dikekang nanti. Hih, mikirin aja udah males. Mama ngapain juga baik sama dia. Ada apa sebenarnya?’
Pagi hari Bianca menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Kenzo turun untuk sarapan.
“Hai, Bi. Sarapan apa?”
“Gua bikin telor omlet kesukaan loe sama sosis panggang.”
“Perfect. Thank you. Loe memang adik yang tahu gua banget.”
Bianca tersenyum, wajahnya merona menerima pujian sederhana Kenzo.
Bu Susi yang baru keluar dari dapur, memperhatikan gerak-gerik Bianca yang tidak disadari Kenzo, namun sebagai sesama wanita, ia dapat membaca hati Bianca dari tatapan perempuan yang sudah dianggap putrinya sendiri dan baru menyadarinya ternyata sikap Bianca berbeda saat berhadapan dengan Kenzo.
Setelah Kenzo berangkat menemani papanya. Bu Susi menghampiri Bianca sambil mengusap punggungnya.
“Bi, sarapan hari ini enak.”
“Terima kasih, Ma. Kenzo juga bilang gitu.”
“Iyah, dia akan selamanya jadi kakak kesayangan kamu. Kamu harus cari jodoh kamu, setelah pernikahan Kenzo, Mama akan nikahin kamu.”