Bu Susi dengan sengaja memperjelas status dan posisinya untuk menegur Bianca secara halus, dan nampaknya gadis itu mengerti. Raut wajahnya berubah seketika, tangannya mengepal menahan emosi.
“Iy, iya, Ma. Bianca pergi kerja dulu, yah.”
Berusaha untuk bersikap seakan tidak terjadi apapun dalam hidupnya, inilah kehidupan yang dijalani Bianca sejak masuk ke dalam keluarga Linardi. Selama dirinya diperhatikan dan dimanja dengan fasilitas mewah untuk dirinya, Bianca tidak akan berbuat onar yang berimbas akan merugikan dirinya sendiri..
Karisa harus ke sekolah pagi ini untuk menyerahkan laporan nilai anak-anak didiknya, sebentar lagi akan libur semester.
Saat tiba di sekolah, ia menunggu Bu Henny, yang ternyata sedang rapat. Sambil menunggu ia mengerjakan tugas kuliahnya lagi di meja kerjanya.
"Miss Risa, mungkin Bu Henny selesai rapat 30 menit lagi." kata Bu Danu bagian bendahara sekolah.
"Iya ngak apa-apa, Bu Danu, saya sambil mengerjakan tugas saya disini. Jadwal kuliah saya masih 3 jam lagi."
Di dalam ruang kepala sekolah sesaat setelah rapat selesai, Bu Henny menanyakan perihal Karisa kepada Kenzo.
"Pak Kenzo, bagaimana dengan Miss Risa dan Jonathan, apa Jonathan bisa menerima Miss Risa?"
Dengan malas, Kenzo menjawab pertanyaan Bu Henny dengan sedikit kebohongan.
"Saya belum pernah bertemu langsung, tapi dari kelakuan Jojo, sepertinya dia guru yang baik dan bisa mengambil hati Jojo."
Bu Henny hanya tersenyum dan sudah tidak terkejut lagi dengan kemampuan Karisa dalam mendekati murid-muridnya. Sedangkan Kenzo sebenarnya tidak ingin memuji Karisa, namun ia tidak bisa memungkiri kenyataan kalau Jojo memang dekat dengan Karisa dan menunjukkan perkembangan yang baik sejak diajarkan oleh Karisa.
"Yah, disini juga Miss Risa itu guru favorit semua kelas, dari hasil survey murid, mereka bilang cara Miss Risa mengajar itu menyenangkan, dia tidak hanya memberi PR saja tapi selalu membahas pelajaran dengan permainan atau obrolan ringan dan anak-anak juga terpancing untuk menyukai pelajaran Inggris di sini. Biasanya, dia mengajar setiap Selasa dan Kamis, tapi hari ini dia datang untuk menyerahkan nilai rapot, harusnya sudah datang sekarang."
Kenzo berdiri menyudahi percakapannya dan melanjutkan pekerjaannya lagi melihat-lihat situasi sekolah.
"Saya akan berkeliling sekolah sebentar untuk melihat-lihat."
Kenzo keluar ruangan sendiri dan ia melihat seorang perempuan muda sedang menunduk, tangannya sibuk mencatat dan sesekali melihat ke arah smartphone nya seperti menyalin sesuatu.
"Sibuk banget, apa jangan-jangan dia kebut buat laporan rapot hari ini. Enggak profesioanl kalo bener."
Ia berjalan mendekati Karisa untuk mencari tahu. Karena fokus dengan pekerjaannya, Karisa benar-benar tidak menyadari Kenzo sedang berdiri di depannya. Kenzo menjadi pusat perhatian para guru karena lama berdiri di tempatnya.
Merasa menjadi sorotan, akhirnya Kenzo makin mendekat dan berdehem memberi tanda kehadirannya.
"EHEM!"
Karisa masih tertunduk menulis, akhirnya Kenzo keluar dengan rasa kecewa karena usahanya menyapa diacuhkan begitu saja.
‘Kayaknya tadi ada yang berdehem yah. Apa manggil gua?’
Karisa mengangkat kepalanya celingak celinguk ke kiri kanan, tapi tidak ada orang. Kebetulan jam segitu semua guru sedang mengajar, hanya beberapa staff kantor administrasi saja. Kemudian melihat ke arah ruang kepala sekolah, pintu ruangan Bu Henny sudah terbuka. Ia merapikan filenya dan memasukkan kembali ke dalam tas slempangnya. Lalu berjalan menghampiri dan mengetuk pintu tersebut.
"Permisi, Bu Henny, saya mau memberikan file nilai anak anak."
"Oh iya, silahkan masuk,.Miss Risa. Tadi anda sudah bertemu Pak Kenzo?"
Karisa menunjukkan sikap bingung tidak mengerti, kemudian memutar kepalanya melihat ke belakang.
"Eh ... ngak, Bu, tadi saya mengerjakan tugas kuliah waktu menunggu ibu. Tidak ada orang."
‘Apa tadi suara deheman itu dari pak Kenzo? Ck, bukannya manggil aja, sok cool banget.’ Dalam hati Karisa.
Bu Henny membaca laporan nilai murid sekolah SD dan tersenyum, sejak Risa memegang kelas bahasa Inggris, nilai murid meroket naik dan terbukti dari para murid yang sudah mulai berani bicara bahasa Inggris sehari-hari.
"Kalau kamu sudah selesai kuliah, kamu mau ngak jadi wali kelas atau mungkin menambah mata pelajaran lainnya "
"Akan saya pertimbangkan, Bu, saya senang kalo murid-murid sudah berani bicara tanpa takut salah. Saya menekankan kalo salah itu wajar asal mau diperbaiki."
"Oh ya, saat acara Natal nanti Miss Karisa bisa hadir kan, kalo boleh bisa bantu sumbang satu acara atau permainan buat anak anak nanti."
"Bisa, Bu, saya akan info mau buat permainan seru apa yah."
Karisa berdiri untuk pamit berangkat kuliah, Bu Henny ikut berdiri dan tersenyum namun matanya mengarah ke pintu, Karisa memutar tubuhnya melihat ke arah pintu, matanya dengan Kenzo saling beradu pandang, keduanya terus menatap tajam seperti ingin memangsa satu sama lain.
Bu Henny yang tidak mengetahui permasalahan mereka, berbasa-basi mengenalkan keduanya.
"Kebetulan Pak Kenzo datang, Miss Karisa baru saja selesai menyerahkan rapot dan akan berangkat kuliah."
Kenzo menatap Karisa kembali dan memberikan senyum dengan terpaksa karena kehadiran Bu Henny.
Karisa juga menyadari bahwa dirinya harus menunjukkan sikap sopan di sekolah, terutama dengan pemilik sekolah ini, walaupun masih ada rasa tidak rela dalam hatinya merasa kalah dengan peristiwa lalu.
"Pagi, Pak. Saya permisi dahulu. Mau berangkat kuliah." Lalu memberikan senyuman sebagai tanda hormat.
Kenzo terdiam sesaat dan membalas dengan senyuman dengan gugup. Ada desiran yang berbeda saat menatap senyuman Karisa. Jantungnya berdebar kencang.
‘Kenapa rasanya deg-deg an ketemu macan galak ini yah.’
"Sore ini saya akan ke sana. Sudah kangen juga sama Jojo. Kalo gitu saya permisi dulu, Pak Kenzo."
Karina keluar ruangan dengan wajah merona karena Kenzo menatapnya tanpa berkedip.
‘Apa apaan sih, liat orang kaya mau ketemu setan aja, apa jangan jangan dia beneran laki laki m***m. Bener kan, dulu dia pasti yang bikin onar di bis.’ batin Karisa sambil keluar dengan cepat dari ruangan itu.
Kenzo sendiri tidak membalas ucapan Karisa, ia terpana melihat Karisa apalagi saat ia memberikan senyuman lembutnya.
“Pak Kenzo, apa masih ada yang harus dibahas lagi?” Tanya Bu Henny.
“Oh, tidak ada. Saya mau mengunjungi sekolah lain.”
Kenzo meninggalkan ruangan Bu Henny dengan wajahnya yang masih memerah.
Sore hari Karisa kembali ke rumah besar kediaman Kenzo. Pak Madun bagian keamanan sudah mengenali Karisa dan senang selalu mendapati hadiah senyuman yang menyejukkan dari wanita cantik tersebut.
Karisa masuk ke dalam ruangan Jojo dan mendapati Jo sedang menonton film kartun kesayangannya sambil tertawa cekikikan.
"Afternoon, Jo, what are you doing?"
"Hai, Miss Ica, aku nonton sebental ya."
Karisa melihat jam tangannya, masih ada waktu sebentar sebelum memulai pelajaran mereka.
"Ehmm lima menit lagi ya, Jo."
Setelah waktu yang diberikan berlalu, Karisa mengingatkan Jonathan kembali. Namun ucapannya tidak di dengar oleh anak tersebut. Matanya masih saja menonton acara kesukaannya sambil tertawa kencang.
"Jo, ayo sudah waktunya.Kita main yang lain yuk."
Jonathan mulai merasa terusik kenyamanannya. Suaranya mulai meninggi.
"No! Jo like this movie!"
Karisa tetap membalasnya dengan lembut namun terdengar tegas.
"You can watch it again at night, Jo."
Jojo mengelengkan kepala, watak keras kepalanya kambuh lagi. Mba Sumi yang berada di kamar itu, mulai merasa waspada kalau kejadian biasanya terulang lagi.
Karisa mulai merasakan tantangan menghadapi sifat asli Jojo yang sekarang
"I give you five minutes, after that I will shut down your TV."
Jo mendiamkan ucapan Karisa.
Setelah 5 menit, benar saja Karisa mengambil remote TV dan mematikan film yang anak itu suka.
Spontan amarah Jojo keluar, ia berteriak dan turun dari sofa. Dengan cepat menghampiri Karisa, tangannya ingin menggapai meminta remote TV nya kembali.
Karisa berusaha memberitahukan dengan perlahan
"Jo, waktu menonton TV kamu masih banyak, setelah miss pulang, terus makan malam, kamu bisa nonton TV lagi kan."
"NO!!, I want it NOW !!" Teriaknya sambil menangis, membuat Bu Susi dan mbak Sum menuju kamarnya menatap kembali pemandangan yang sudah seminggu ini tidak terjadi, nyatanya sekarang terjadi lagi.
Ketakutan mereka muncul lagi, sikap keras kepala Jojo kambuh.
"Ada apa, Risa?" Tanya Bu Susi.
"Tante, apakah Jo selalu dituruti kemauannya walaupun itu tidak pada tempatnya?"
Wajah Bu Susi memerah dan merasa malu, memang semua orang yang menjaga Jojo memberikan apapun kemauan Jonathan agar anak itu tidak mengamuk.
"Iya, Miss, kami terpaksa melakukan itu karena Jo selalu mengamuk dan membanting barang kalo marah."
Karisa berpikir sejenak sambil menatap anak yang sedang bergelayut di lantai sambil berteriak menangis. Kemudian ia merasa harus melakukan sesuatu untuk kebaikan anak tersebut.
"Tante, sebelumnya Karisa minta maaf, bukan maksud saya untuk turut campur, tapi kalau boleh saya ingin merubah sikap Jojo ini, hanya saja saya butuh dukungan keluarga dekat Jojo."
Bu Susi bingung dengan maksud perkataan Karisa, " A ... apa yang mau kamu lakukan, Risa?"
Melihat kekhawatiran Bu Susi, Karisa membelai lengan wanita itu dan menenangkannya.
"Tenang saja, saya tidak akan menyakitinya, kekerasan justru akan membuat Jojo semakin menjadi, tapi pembiaran hal yang tidak baik juga bukan solusi untuk membangun karakter Jojo. Kasihan kalau terus dibiarkan."
Melihat keyakinan pada mata Karisa, akhirnya bu Susi menyetujuinya
"Mungkin Karisa akan terlambat pulang untuk menangani Jojo, tapi saya minta tolong supaya jangan ada satupun yang membela Jo walaupun ia berteriak minta tolong."
Karisa masih melihat keraguan di mata wanita yang menyayanginya.
"Saya pastikan tidak akan menyakiti Jojo sedikitpun, kalau boleh, saya minta semua keluar dari kamar ini, biarkan saya berdua dengan Jo. Tante bisa melihat kami dari pantauan CCTV di kamar ini."
Bu Susi mengangguk menyetujui dan ingin melihat apa yang akan dilakukan guru Jojo ini, ia meninggalkan ruangan dan bergegas ke ruang CCTV untuk melihat keadaan Jojo.
Karisa kembali menghampiri Jojo yang sedang menangis, berteriak mengamuk mencari-cari remote TV nya.
"I want to watch TV, Miss Ica, you bad!!"
Jojo mulai memukuli Karisa dengan membabi buta.
Karisa membungkuk dan menggendong Jojo, lalu membawanya ke pojokan ruangan yang di rasa aman untuk Jojo agar tidak melukai dirinya ketika mengamuk.
Ia meletakkan Jojo kembali lalu menyamai tingginya dengan berlutut sambil menghadang Jojo yang terus berusaha menghindar.
Jojo masih terus berteriak dan mengumpat dengan tangisannya.
"You go! I hate Miss, you bad! Go now!"
Karisa tidak menjawab dan membiarkan emosi Jojo keluar sampai ia lelah sendiri.
Di tempat lain, bu Susi menghubungi Kenzo putranya, ia melihat cucunya menangis sesegukan dan berteriak, batinnya merasa tersiksa dan khawatir, walaupun Karisa benar-benar menepati janjinya, tidak melukai Jonathan.
"Hallo, Ma, ada apa?"
"Ken, kamu bisa pulang sekarang? Jojo ngamuk lagi."