Bab 7. Jojo The Best Boy In The World

1667 Words
Dahi Kenzo mengerut ketika mendapat kabar tentang anaknya, wajahnya terlihat marah. "Jojo kenapa lagi, Ma?" Bu Susi menjelaskan kronologi kejadian dari awal Risa meminta baik-baik, sampai tahap Jojo mengamuk karena remote tv nya diambil. Kenzo menghela nafasnya sejenak sambil memijit pelipis nya, seperti biasanya aka nada kejadian gnti guru lagi, padahal sudah aman selama seminggu ini. "Terus, Miss nya di apain lagi, Ma? Ada yang harus di bawa ke dokter?" "Ck, kok malah begitu tanyanya. Karisanya aman, ngak ada yang terluka, Ken, malah semua orang rumah termasuk mama di suruh keluar kamar. Jojo cuma berdua sama miss Risa di dalam kamarnya." "Hah! Terus, anakku mau di apain?” "Kamu mendingan pulang deh, Mama ngak tega lihat Jojo nangis sambil teriak kenceng gitu, takut dia masuk angin terus sakit." Kenzo makin kesal dan memikirkan jangan-jangan gurunya bakal melakukan kekerasan terhadap anaknya. ‘Baru jadi gurunya saja, anak gua sudah dibuat jejeritan, gimana jadi mamanya Jojo, bisa disembelih kali.’ "Aku pulang sekarang, Ma, kerjaanku juga sudah selesai." "Oke Ken, cepetan ya." Bu Susi menutup telepon, sambil menghela nafas. Pak Ferry mendekatinya ketika keluar dari ruang kerjanya dan mendengar suara teriakan cucunya. Kemudian mencari keberadaan istrinya, ternyata berada di ruang CCTV karena diberitahukan mbak Sum yang sedang menunggu di depan kamar Jojo. "Kenapa Jojo ribut-ribut? Terus, kenapa kamu bisa sampai ke sini, Ma?" "Aku memantau cucu kita, Pa, lagi ngamuk sama miss nya lagi, tapi sekarang kita semua disuruh keluar sama Risa. Aku penasaran mau tahu, Jojo diapain sama Risa." Dengan santainya, Pak Ferry hanya menjawab ringan sambil menepuk bahu istrinya. "Ohh ... nanti juga diam, namanya anak kecil. Pasti Risa bisa nangani anak itu" Mata bu Susi melotot ke suaminya, betapa tenang sekali melihat cucunya meraung raung, tidak merasa panik dengan apa yang baru saja ia beritahu.. Pak Ferry tersenyum, ia hanya berusaha tidak ikut campur dengan hal mendidik cucunya karena percaya penuh dengan kepribadian seorang Karisa.. Jojo yang keras kepala begitu tangguh meluapkan segala emosinya, masih terdengar umpatan demi umpatan khas anak-anak keluar dari mulut kecilnya.. Sampai 30 menit berlalu, akhirnya suara teriakan Jojo menghilang digantikan dengan sesegukan karena kelelahan. Setelah dirasa sudah bisa diajak bicara, Karisa menghampiri Jojo. "Can I hug you, Jo?" Karisa menjulurkan kedua tangannya untuk memeluk muridnya ini, menatapnya dengan lembut. Jojo memberi respon dan mendekap manja di dalam pelukan Karisa. Isak tangisnya terdengar kembali, kali ini terdengar menyayat hati Karisa sendiri. "Jo, Miss tahu tadi Jojo marah karena ga bisa nonton TV, betul kan?" Suara tangisan kecil muncul lagi, merengek manja sambil mengangguk, menjawab sesegukkan. "Iya, Jojo masih mau nonton." Lalu Karisa memegang kedua bahu Jojo agar menghadapnya, kemudian mendongakkan wajah Jojo dengan lembut agar mata mereka saling berinteraksi. "Miss Risa loves you, Jo, that's why I did this. So tell me, do you know why I did not want to give you the remote?" Jojo mengangguk perlahan, sambil terisak halus. "Because, I did not listen to you." "And why you did not listen to me?" "Because, its the time fo me to study." "Its time for study and playing, right?" Jojo kembali mengangguk, tangisannya sudah berhenti. "Come, sit here." Risa memberi tanda agar Jojo duduk di pangkuannya, Jojo menurut. Ia mengambil segelas air dekat meja tempat mereka duduk dan memberikan Jojo minum. Lalu mencoba mengajaknya bicara lagi. "Let me tell you something, you know what, everybody always want to have fun right? I also want to have some fun." “Yes, Jojo too.” "Tuhan itu mengajarkan kita untuk mengatur waktu. Misalnya Daddy, ada waktunya daddy harus bekerja, padahal pingin banget main sama Jojo di rumah setiap hari. Tapi, setiap weekend, daddy libur dan bisa main sama jojo. betul ngak?" "Yes, Miss." "Nah, sama dengan Jojo. Setiap hari, ada waktunya Jojo belajar, waktunya makan, tidur siang, bermain, nonton tv dan waktunya tidur malam. Can I ask you something?" "Ehem .. " "Are you only a good boy or the best boy in the world ?" Jojo mendongak ke arah wajah Karisa, sebuah pertanyaan yang memancing harga dirinya. "I want to be the best boy in the wold." Risa tersenyum dan memegang pipi Jojo "Do you know that best boy has a role, that called responsible?" "Jojo kalo belesin mainan, tidyup books, namanya lesponsibel ya?" Risa mengangguk dan senyum menanggapi muridnya yang mulai paham "And so with study, that is your responsible, like daddy had to work is his responsible. Miss Risa teaches Jojo is my responsible." Jojo memeluk erat Risa kali ini dan menangis lagi "I'm solly miss, Jo plomise not do that anymole." Risa membalas pelukan Jojo dan membelai punggungnya. "I love you Jo, and I'm proud of you, nanti miss bantuin kamu buat jadwal mau? Jadi Jojo tau, kapan waktunya makan, main, belajar, bobo. Oke?" "Ehee,I want to do that." "Fist bump promise?" Karisa memberikan kepalan tangan untuk membuat simbol berjanji dengan Jojo "So, now ... Miss mau lihat Jojo yang punya tanggung jawab dan happy face nya Jojo " Jojo beranjak dari duduknya lalu berdiri dan memberikan wajah cerianya kembali. Karisa memberikan aneka rupa mimik wajah lucu untuk menghibur muridnya ini agar Jojo merasa terhibur, juga membalikkan mood belajar anak ini. Kenzo sampai rumah dan berlari ke kamar anaknya tanpa menghiraukan panggilan mamanya atau mba Sum. Ia membuka pintu dan matanya menatap Karisa dengan tajam dan penuh amarah Kenzo Pov Mama menelponku, memberitahu tentang Jojo yang sedang mengamuk, menangis histeris. Sebenarnya sikap Jojo ini adalah sebuah hal biasa yang sering ku dengar sejak Jojo mulai les di rumah. Namun, perkataan mama tentang miss Risa yang menyuruh semua orang keluar dari ruangan anakku, membuatku panik dan meradang, berpikir buruk tentang guru baru ini. Wajahnya boleh cantik dan lembut, ternyata berani main kasar sama anak kecil. Kalau sampe anakku kenapa-napa, dia tidak akan kubiarkan. Setibanya di rumah, dengan langkah setengah berlari ke kamar Jojo dengan perasaan cemas. Mama dan mba Sum memanggilku, namun kuabaikan karena merasa geram dan ingin memaki gadis ini, setidaknya dendam setahun lalu akibat perbuatannya bisa terbalaskan sekaligus.. Aku segera membuka pintu kamar Jojo dan mencari keberadaan guru itu, ia menengok spontan karena suara pintu terbuka. Mataku menatap tajam mencari suasana dalam benakku tadi, namun, situasinya jauh berbeda dari yang dikatakan Mama. "Daddy uda puyang?" Karisa yang membalas tatapan ku dengan sinis, menatap Jojo dan mengatakan sesuatu seakan sedang mengacuhkan tindakanku barusan. "Thirty minutes more oke, after this you can play or continue to watch your movie." Jojo mengangguk dan melihat ke arah ku. "Dad, go out please, I'm still studying. I’ll see you befole dinnel, oke." Jujur baru kali ini Jojo mengusirku dan bilang dia masih mau belajar. Biasanya justru aku harus bersembunyi menunggu les nya selesai. Akhirnya aku menutup pintu kamar Jojo kembali dan keluar. Aku mencari Mama dan melihatnya di ruang makan sedang menyiapkan makan malam. Bianca baru saja pulang dari kantornya. Wajah Mama terlihat berbeda saat ia menelponku, begitu tenang tidak sepanik tadi. "Katanya Jojo ngamuk, kok aku ke kamarnya dia uda anteng. Malah aku diusir lagi." "Iya,akhirnya tenang juga. Eh, Ken, Mama salut loh sama Miss Risa, bisa nenangin Jojo tanpa marah sedikitpun." "Tapi Jojo bener-bener nangis histeris, Ma?" "Iya, nangisnya kenceng banget, sampe Mama panik takut Jojo kenapa-napa." Setelah mendengar ucapan mamanya, Aku berlalu ke kamar tidurnya untuk mandi. Namun aku masih belum puas, ada rasa kesal mendengar anakku dibuat nangis histeris hari ini. ***** Karisa mengirim pesan ke Kevin, agar malam ini membeli makanan diluar. Hari ini ia terlambat pulang karena insiden amukan Jojo Tidak lama kemudian Jojo selesai dengan belajarnya, ia keluar kamar dengan wajah ceria. "Permisi, Tan, saya pamit pulang dulu." "Eh, jangan pulang dulu, Risa, Tante sudah masak lebih buat kamu, makan bareng yah." Karisa merasa tidak nyaman dengan ajakan makan malam dari Bu Susi. Jojo yang sudah turun ke ruang makan setelah selesai mandi memegang tangan Karisa. "Please, Miss, I want to eat dinnel with you." Tatapan mata Jojo meluluhkan hati Karisa, apalagi mereka baru saja melewatkan hari berat. "Okay then, I will eat dinner with you." Ia mengirim pesan lagi ke Kevin bahwa ia akan makan di tempatnya mengajar dan pulang lebih malam dari biasanya. Kenzo yang baru selesai mandi menuju ruang makan berbarengan dengan Bianca dan Pak Ferry. Ia melihat Karisa di ruang makan dan sudah duduk dengan Jojo. Kali ini Karisa duduk diantara Kenzo dan Jojo, karena keinginan Jojo duduk di ujung. "Daddy, lets eat." Ken tersenyum membalas ajakan putranya. Pak Ferry mengajak Karisa makan agar suasana tidak kikuk. "Ayo, silahkan di makan Risa, cobain masakan Tante kamu, enak loh." "Iya, Om, terima kasih." "Terima kasih apaan sih, kamu itu sudah kami anggap anak sendiri. Jangan sungkan. o*******g kalau kamu nyaman, kapan-kapan ajak Kevin juga ke sini, banyak yang mau Om ngomongin sama dia." "Iya, Om. Nanti saya kasih tahu Kevin." Kenzo dan Bianca menunjukkan raut wajah penuh tanya, ada hubungan apa Karisa dan adiknya dengan orang tua mereka. Semua memulai acara makan, Jojo sendiri mempunyai menu makan berbeda dari menu orang dewasa. Sewaktu makan, mba Sum berdiri di sebelahnya dan menyuapi Jojo, 5 menit kemudian Jojo berdiri dan melangkah keluar dari meja makan. Mba Sum berjalan mengikuti ke mana kaki Jo melangkah, kemudian menyuapi Jojo yang sedang asik sendiri. Spontan saja hal ini langsung menarik perhatian Risa.. "Maaf, saya mau hampiri Jojo, sebentar." Risa meninggalkan meja makan dan menghampiri Jojo. Pak Ferry, Bu Susi, Bianca dan Kenzo ikut menghentikan kegiatan makan mereka karena rasa penasaran dengan apa yang akan Karisa lakukan sekarang. Karisa menghampiri tempat Jojo duduk, membungkuk turun dan menyamakan posisi tingginya dengan Jojo, yang langsung mendapat respon senyuman dari anak ini. "Jo, kalo makan harusnya duduk di mana?" Jojo menatapnya, merasa malu, lalu melakukan gerakan menepuk tangannya ke kepala dan memberikan cengiran penuh arti. "Dining table, Miss." Risa memberikan tangannya,menuntun dan mengajak Jojo kembali ke meja makan. Jojo mengikuti perkataan Karisa tanpa perlawanan dan duduk kembali ke tempatnya, Risa menatap mata Jojo dan tersenyum. "Thank you, best boy, I'm proud of you now, and promise yach setiap hari follow the rule, deal?" "Deal, hehehe."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD