Bab 8. Mengenal Karisa

1612 Words
Jojo senang dengan pujian dari Karisa karena sudah merubah sikapnya dan menaati peraturan yang diberikan. Jiwa bijaknya muncul seketika. "Fistbump promise." Kenzo menatap heran dengan kelakuan putranya, tidak ada yang bisa membuatnya duduk diam dan makan sampai habis selama ini. Karisa bisa membujuknya uintuk duduk makan, bahkan Jojo mulai menyuap makanannya sendiri dengan panduan Karisa ke mbak Sum. Suara pujian Karisa dan tawa Jojo mewarnai suasana makan malam itu. Jojo makan dengan situasi sekeliling meja tempat Jojo berantakan dengan nasi, lauk dan sayuran yang jatuh. Bu Susi merasa tidak nyaman dengan pemandangan meja makan yang kotor tersebut, namun ia tahan merasa tidak enak hati, sekaligus kagum dan senang melihat cucunya bisa makan sendiri. Karena Risa sempat berkata ke Jojo, kalau tidak berantakan, enggak akan belajar makan dengan rapi. Setelah selesai makan, Jojo memeluk Karisa dan mengucapkan salam berpisah. "Bye, Miss, I want to watch my movie now, boleh kan?" Karisa mengangguk dan kembali merendahkan posisinya menatap mata anak kecil lucu tersebut. "And remember, nontonya sampai jam berapa?" "Jam delapan." "Kalo mbak Sum, Oma atau Opa ingetin, Jojo the best boy harus bagaimana?" "Dengelin kata Oma, telus Jojo bobo, tomolow I will not clanky like today. " Karisa memberikan ekspresi terkejut dan tersenyum. "Wow, Jojo is the best boy loh, I'm proud of you. Give me a goodnight hug then." Jojo memeluknya dan kali ini menambahkan kecupan di pipi Karisa. Cup Karisa terkejut dan tersenyum, merasa lega dengan sikap Jojo. Setelah Jojo ke kamar dengan Mbak Sum, ia pamit kepada semuanya. "Kalo begitu saya permisi semuanya, sudah malam." "Saya antar kamu pulang." Kenzo berdiri dari duduk santainya di sofa. Membuat Karisa menoleh dan mengerti maksud gerakan bosnya. "Engh ... Tidak perlu, Pak, saya bisa pulang sendiri, tinggal pesan ojek online saja." "Ada yang perlu saya bicarakan dengan anda mengenai perkembangan Jojo, makanya sekalian saya antar biar sambil bicara di mobil." Kenzo memakai alasan tersebut supaya tidak merasa canggung, padahal dia merasa khawatir kalo membiarkan Karisa pulang malam sendirian, walaupun bukan kewajibannya mengantarkan, tapi dalam hatinya merasa tidak tenang dan takut terjadi sesuatu pada Karisa. "Oh... Baik kalo begitu, asal tidak merepotkan." Bu Susi segera menimpali karena senang melihat sikap Kenzo, baginya ini adalah langkah awal usahanya menjodohkan mereka berdua mulai berhasil. “Enggak akan repot kok, Risa. Kami malah khawatir kalau kamu pulang malam-malam sendirian. Sudah, di antar sama Kenzo saja, sekalian kalian ngobrol saling mengenal juga.” Jantung Karisa tiba tiba berdebar kencang, padahal hanya di antar pulang. Namun ia berusaha menutupi kegugupannya, apalagi perkataan sindiran Bu Susi yang begitu blak-blakan. Mobil Kenzo sudah berada di depan halaman rumahnya. Karisa berniat duduk di kursi penumpang belakang. Dengan cepat Kenzo melayangkan protesnya. "Kamu duduk di depan, saya bukan supir kamu." Suara Kenzo memerintah dengan wajah dinginnya. ‘Ih...jutek banget ini orang, pantes aja anaknya sampe keras kepala kalo marah, ketahuan turunan siapa.’ Dalam hati Risa, merajuk kesal. Risa terpaksa duduk di sebelah Kenzo. Pertama kalinya ia naik mobil mewah, karena kikuk dan takut mengotori interior dalam mobil bosnya, ia hanya duduk kaku saja dan berusaha menetralkan dirinya. Tiba-tiba tubuh Kenzo mendekati dan wajah mereka semakin dekat, Karisa merasa gugup, mengerutkan dahi dan menutup matanya CEKLIK "Walaupun rumah kamu ngak jauh, tetap saja harus pake sabuk pengaman. Kamu tahu peraturannya, kan?" Ketus Kenzo dengan datarnya . Wajah Karisa memerah sampai ketelinganya, untung saja hari sudah gelap sehingga tidak begitu terlihat. Kenzo mengantar Karisa ke rumahnya, hanya butuh waktu 20 menit saja untuk sampai ke rumah Karisa. Di dalam mobil Kenzo diam saja dan menyetir santai ke arah alamat yang diberitahukan Karisa. Merasa suasana kikuk, akhirnya Kenzo dan Karisa berusaha memecah kesunyian. "Pak." "Miss." Keduanya menyapa satu sama lain bersamaan. "Maaf. Kamu duluan, Miss." "Eh, begini... Saya mau minta maaf, kalau yang saya lakukan ke Jojo hari ini mungkin membuat rasa tidak nyaman buat Bapak , Tante dan Om di rumah." Seperti mengerti jalan pikiran Kenzo, Risa lebih dahulu meminta maaf, walaupun yang ia lakukan demi kebaikan Jonathan. "Memangnya kamu ngapain ke Jojo?" Kenzo pura pura bertanya, padahal ia sudah tahu semua kejadiannya dari rekaman kamera CCTV yang ia lihat dengan cepat, sesaat setelah mandi tadi. "Sebenarnya saya hanya membuat Jojo meluapkan kekesalannya, dan memberitahukan perasaan apa yang dia rasakan saat itu." "Maksud kamu? Selama ini dia ngamuk sama gurunya itu enggak meluapkan?" "Bukan begitu. Anak anak perlu mengerti emosi mereka, Pak, kadang orang tua merasa risih ketika anak mereka tantrum, padahal mereka hanya meluapkan kekesalan mereka dan tidak mengerti harus berkata apa karena tidak pernah ada yang menjelaskan apa nama perasaan yang mereka hadapi saat itu." Dahi dan wajah Kenzo makin merengut memahami maksud Karisa di luar pemikirannya. "Nah, kita yang dewasa harus bisa membimbing dan memberitahu mereka, ohh kamu lagi marah karena apa, ohh kamu menangis karena kamu sedih. Dan saya mencoba merubah Jojo agar mengerti akan dirinya sendiri, dan mau terbuka dengan perasaan dia ke orang lain." “Merubah dan mengerti diri sendiri?” "Seperti hari ini, setelah tenang, dan bertanya mengapa ia marah dan apakah kemarahannya wajar, akhirnya ia mengakui kalo Jojo salah dan saya tidak perlu repot membalas kemarahannya dengan rasa marah juga, ataupun hanya mendiamkannya. Rasa marah Jojo karena saya membubarkan acara nontonnya ia luapkan itu sudah benar, tapi saya coba mengingatkan kalau yang saya lakukan karena apa. Yang saya lihat, Jojo belum mengerti mana marah yang boleh dan marah karena egois. Sampai akhirnya dia mengerti, dan dia sendiri yang menjalankan peraturan yang saya dan Jojo buat bersama." Kenzo tersenyum mendengarkan sambil menyetir, membayangkan raut muka lucu Jojo setelah menangis. Tidak lama kemudian, mimik wajahnya berubah sedikit muram. "Mungkin karena ia besar tanpa sosok mamanya, dan saya tidak bisa selalu menemani dia. Karakternya terbentuk jadi anak yang keras. Lucu kan, anak kepala yayasan malah keras kepala." Karisa mengangguk mengerti ucapan bosnya, ia merasa suasana menjadi lebih santai bersama Kenzo karena pembahasan tentang Jojo. "Saya juga tahu bagaimana perasaan Jojo, karena saya tahu rasanya kehilangan mama. Tidak ada lagi tempat saya untuk bercerita di saat saya membutuhkannya. Sekarang, tinggal kami berdua yang saling menopang, saya dengan adik saya." Kenzo sedikit tergelitik penasaran dan akhirnya bertanya tentang Karisa. "Orang tua kamu sudah meninggal?" Karisa mengangguk dengan wajah muram. "Mereka meninggal bersamaan waktu saya masih SMA, karena kecelakaan tunggal, menurut laporan polisi, papa menghindari seorang anak yang didorong temannya ke jalan raya, papa banting setir dan ditabrak truk dari samping hingga mobilnya terpental. Tapi, dari pemeriksaan polisi, katanya mobil papa saya sengaja disabotase seseorang agar terlihat seperti kecelakaan." Air mata Karisa mengalir saat ia mengingat lagi kisah pahit tersebut. Kenzo mengambil tissue dan memberikannya kepada Karisa, ikut merasakan bagaimana kehilangan. "Maaf, saya jadi membuat kamu menangis." Karisa menggeleng sambil tersenyum. "Bukan salah Pak Kenzo, saya yang orangnya melankolis mudah nangis, apalagi kalo ingat Mama dan Papa saya. " Merasa lebih baik, giliran Karisa memberanikan diri bertanya. "Kalo boleh tahu, mama Jojo kenapa, Pak?" Kenzo diam sesaat, sedikit malas membahas masa lalunya, namun karena tidak enak hati sudah di tanya akhirnya ia menjawab juga. "Mama Jonathan pergi meninggalkan kami, sewaktu Jojo berusia 3 bulan, dia lebih memilih karir dibanding putranya sendiri." Karisa tidak kaget lagi karena rumor yang sering ia dengar, ternyata memang benar kenyataannya. "Maaf ya, Pak, jadi mengorek luka lama." Kenzo hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tanpa menjawab. Kemudian wajahnya berubah menjadi dingin dan datar kembali sambil menyetir. "Jujur awalnya saya marah sama kamu, waktu Mama saya bilang Jojo menangis histeris, dan kamu membiarkan dia sampai diam apalagi menyuruh siapapun keluar dari ruangan Jojo. Tapi, saat saya lihat bagaimana Jojo berubah di meja makan tadi, saya mencoba mengerti dengan sikap kamu terhadap Jojo, semua demi kebaikan sikapnya." “Kalaupun Bapak marah, tentu saja saya akan melontarkan lebih banyak lagi argumentasi. Saya orangnya itu blak-blakan kalau bicara. Menerima kalau salah dan memperbaikinya.” "Dan satu hal lagi, mulai besok saya ingin kamu melaporkan apa saja yang kamu sudah ajarkan kepada Jojo, mulai dari pelajaran baru sampai pengembangan karakter nya. Saya rasa, saya berhak untuk itu semua." Karisa merasa kesal melihat sikap dingin Kenzo yang kumat lagi. ‘Memangnya aku satpam anaknya apa, mesti buat laporan segala, ampun dah ini bos. Kalo bukan gajinya besar, ogah bener nurutin.’ Dalam hati Karisa mendumel. Kenzo menghentikan mobilnya sudah sampai ke tujuan, karena rumah Karisa berada di dalam gang kecil, mobil tidak bisa masuk. Karisa tersenyum dan kali ini matanya memandang ke arah bosnya. "Selama permintaan Bapak masih dalam batas kewajaran, saya akan lakukan. Kalau tidak, sepertinya akan berhadapan dengan sikap keras kepala saya juga." Kenzo menoleh ke arah Karisa dan menatap balik dengan mengernyitkan dahinya. "Maksud kamu apa? Kamu berani menantang saya?" Karisa tertawa kecil melihat emosi bosnya, ganteng tapi darah tinggian. "Yah, karena yang saya lakukan buat Jojo bukan untuk kepentingan saya ataupun kepentingan Bapak, tapi untuk karakter Jojo menjadi lebih baik, kalo Bapak marah, saya akan menganggap kalo Pak Kenzo sudah gagal mendidik Jojo dan rasanya tidak pantas menjadi pemilik sebuah institusi pendidikan." Mata Kenzo melotot, tidak percaya dengan perkataan guru les anaknya ini, begitu blak-blakkan dan menusuk. Namun ada benarnya juga, dan ia menghela nafas mengontrol emosinya, diam kemudian menatap kosong ke depan. "Baik, Pak, terima kasih sudah mengantar saya dan jadi merepotkan Pak Kenzo." Karisa melepaskan sabuk pengaman dan hendak membuka pintu mobil. "Tunggu dulu." Karisa menoleh kembali menatap Kenzo. "Sabtu ini, kamu ikut acara di sekolah?" "Ehmm iya, Bu Henny meminta saya membantu, ada apa, Pak?" "Tidak apa, cuma nanya." "Baik, terima kasih sekali lagi sudah diantar, Pak. Selamat malam." “Malam.” Kenzo pergi setelah Karisa turun dari mobilnya tanpa menunggu Karisa sampai ke rumahnya. Saat Karisa berjalan masuk ke dalam gang menuju rumahnya, ia mendengar seseorang memanggil namanya. "Risa!!" Karisa mengenal suara orang yang memanggilnya, ia menoleh ke arah belakang dan ternyata benar dugaannya "Ro...Robin."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD