Laki-laki berumur 24 tahun itu menghampirinya dan memegang lengan kiri Karisa dengan cepat dan tampak kilatan amarah di matanya
"Laki-laki di dalam mobil tadi itu siapa? Pacar baru kamu?"
Robin menunggu Karisa di depan gang karena ia tidak berani mengunjungi rumah Karisa, lebih tepatnya ia menghindar bertemu dengan Kevin agar tidak terlibat masalah.
Karisa menepis tangan Robin dengan wajah geramnya.
"Kamu apa-apaan sih, aku mau pulang sama siapa, itu bukan urusan kamu lagi."
"Risa, please, aku mau memperbaiki hubungan kita seperti dulu lagi. Boleh kan?"
Karisa tidak menjawab dan berusaha menjauhi Robin, namun langkahnya dihadang Robin.
"Maaf, aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas, aku baru pulang kerja dan capek. Kalo kamu memaksa, aku akan teriak biar kamu dipukulin para teatangga, mau!"
Karisa terpaksa mengancam Robin yang keras kepala.
Akhirnya Robin melepaskan pegangannya, karena matanya melihat beberapa warga sudah mulai keluar rumah dan melihat ke arah mereka.
"Aku pasti akan kembali lagi dan kita harus bicara berdua. Aku sudah putus dengan pacarku dan aku menyesal dulu sudah meninggalkanmu begitu saja. Aku mohon, Sa."
Robin akhirnya pergi meninggalkan Karisa, yang memberikan tanda ke warga bahwa tidak ada apa-apa, kemudian berjalan masuk ke dalam gang ke arah rumahnya dengan cepat.
Kevin sudah di dalam kamar mengenakan pakaian tidurnya. Risa merasa lelah hari ini, aktivitas dari pagi sampai malam. Menghadapi sikap tantrum Jojo dan bertemu dengan Robin. Ia menghela nafas berbaring di atas kasurnya sambil tersenyum membayangkan wajah seseorang.
"Wajah pak Kenzo ganteng banget kalo senyum tadi." Batin Karisa, lalu ia tertidur karena lelah.
***
Kenzo menatap kosong layar monitor di ruang kerjanya. Kenzo melihat dari kaca mobilnya, seorang pria menghampiri Karisa di depan gang. Ia memikirkan siapa pria yang kemarin menghampiri guru anaknya tersebut. Beberapa asumsi terlintas dipikirannya. Apa mereka pernah berhubungan? Atau Karisa mempunyai hutang sampai di hadang di depan rumahnya. Apa kemarin Karisa dicegat preman?
Lamunan Kenzo mematikan indera pendengarannya, sampai-sampai ia tidak sadar saat Daniel mengetuk pintu ruangan dan masuk ke dalam ruangannya.
BRAK!
Kenzo terperanjat kaget membuyarkan lamunannya, matanya menatap tajam seperti serigala yang ingin sekali menerkam mangsanya. Sedangkan Daniel tertawa puas karena berhasil mengerjai temannya.
“Siang bolong gini ngapain melamun, Bos?“ Goda Daniel sambil memberikan cengiran meledek menahan tawa.
“Bukan urusan loe! Lain kali ketuk pintu dulu!“
Daniel melipat tangannya disisi kedua pinggang dan senyuman nakalnya semakin menjadi-jadi.
“Loe tanya sama Julia, sekretaris loe yang super sexi di depan, berapa kali gua ketok pintu, ngak ada jawaban, sampe kita buka pintu ngeliatin ke dalem, kirain loe pingsan. Eh, tenyata dia malah kesambet siang-siang.“
Merasa dirinya memang salah, Kenzo tidak menjawab Daniel lagi.
“Mikirin apa sih? Pasti mikirin miss cantiknya Jojo ya?“
Kenzo melempar sebuah pulpen ke arah Daniel dengan muka judesnya.
“Ngaco, Loe.“
Daniel menangkis lemparan tersebut dan terkekeh geli.
“Bener juga ngakpapa. Kalo loe ga suka, gua yang maju nih, Julia buat loe aja. Bidadari kok di tolak. Masa lalu dikubur aja, jangan dijadiin batu sandungan. Inget, loe juga berhak bahagia boss.“
Kenzo tidak menanggapi omongan sahabat sekaligus partner kerjanya tersebut, ia melanjutkan pekerjaanya kembali.
Julia sang sekretaris mengetuk pintu dan masuk membawa sebuah berkas, ia berjalan ke arah Kenzo.
Cara berjalannya bak peragawati di ajang catwalk, dengan pakaian serba kurang bahan. Rok merah pendek yang memperlihatkan pahanya seperti terjepit ketat, menonjolkan kedua bokongnya dipadu dengan blazer warna senada dan dalaman tanktop lowcut.
“Permisi, Pak, ini dokumen untuk menjalankan gaji karyawan bulan ini, tinggal di tanda tangani.“
Tubuh Julia menghadap kearah bosnya, ia membungkukkan badan, berharap agar terlihat lipatan gunung kembar di balik tanktopnya tersebut.
Daniel mngerdikan bahunya dan tersenyum kecil, ia menggeleng kecil melihat sikap kelakuan tidak pantas sekretaris mereka berdua.
Tapi sayangnya Kenzo tidak pernah memperhatikan gerak gerik Julia, ia fokus menatap dokumen, membacanya dengan serius dan menandatanganinya.
Julia merasa kesal, aksi menggodanya selalu tidak mendapat perhatian bosnya itu.
“Terima kasih, Pak.“
“Besok-besok mending jangan pake tanktop sekalian. Biar langsung kelihatan.“ Sindiran telak dari Daniel dengan wajah serius.
Wajah Julia spontan memerah menahan malu akibat sindiran atasannya itu. Ia melangkahkan kaki dengan cepat keluar dari ruangan tersebut. Mau marah tapi tidak berani, memang dirinya yang salah.
Kenzo menahan tawa melihat tingkah laku sahabatnya, yang ia tahu Daniel menyukai Julia. Tidak heran lagi, kalau Daniel menjadi ketus setiap melihat tingkah Julia genit dihadapannya.
“Thanks Niel, gua malah ngak nyaman kalau cewek nyosor begitu. Cuma mau gimana, kerjaan dia lumayan cepet dan bisa diandalkan, sori yah kalau loe jadi kesel. Gua ngak akan ngembat bagian loe.“
“Makanya muka ganteng jangan suka ditebar-tebar.“
“Berisik, loe.“
*****
Hari itu Karisa merasa senang, entah mengapa. Seperti ada yang mulai mengisi kembali sesuatu yang pernah hilang dari hidupnya.
Karisa memang sudah mengenal Pak Ferry dan Bu Susi beberapa tahun sejak kematian orang tuanya, namun baru sekarang ini, Karisa dapat merasakan kasih sayang dari orang tuanya yang sudah meninggal melalui Pak Ferry dan Bu Susi. Merasakan obrolan akrab saat di meja makan, atau acara masak bersama Bu Susi, menggantikan kebahagiaan yang tidak dapat dibayarkan dengan materi. Terkadang, ia ingin menikah dengan Kenzo karena ingin dekat dengan dua orang yang begitu berjasa bagi hidupnya dan Kevin.
Semua orang di dalam rumah mewah tersebut sangat menyukai Karisa, hanya Kenzo saja yang tidak menunjukkan sikap ramahnya sampai sekarang. Sedangkan Bianca, tidak menunjukkan sikap tidak bersahabat, namun Karisa bisa merasakan sikap Bianca yang selalu menghindari mengobrol dengannya.
Pak Madun sang petugas keamanan sudah hafal betul kapan Karisa datang, ia membukakan pintu gerbang saat melihat kedatangan Karisa di monitor CCTV ruang tunggunya, kemudian membuka pintu gerbang sebelum Karisa sampai.
“Silahkan masuk, Miss Risa.“
“Wah, makasih, Pak Madun. Sampai ditungguin. Saya bisa pencet bel pak, jangan ditungguin, jadi durhaka sama yang lebih senior di sini.“
Karisa menyapa sambil mengajak pak Madun bercanda.
“Ngakpapa, Miss. Saya senang, sejak ada Miss Risa, semua orang di dalam rumah mukanya berseri-seri, apalagi den Jojo sama Nyonya.“
Pak Madun melancarkan rayuannya untuk bersikap ramah.
Karisa tertawa, dalam batinnya, ada satu yang berbeda dalam rumah tersebut, atau mungkin dua orang.
“Saya permisi masuk dulu ya, Pak..“
“Oh iya, silahkan, Miss.“
Karisa masuk ke dalam rumah megah tersebut dan langsung menuju ruangan pribadi Jonathan, ia sudah hafal dengan letak kamar murid lesnya, di seberang ruangan Jojo adalah kamar Kenzo.
“Hai, Miss Ica. I’m waiting fol you.“
Wajah bocah tampan dengan mata yang mirip sekali dengan papanya itu, menyapa miss kesayangannya dengan senyum termanisnya.
“Hello, Jo. Wow you look happy today.“
Karisa menyapanya sambil tersenyum dan mereka berjalan bersama bergandengan tangan menuju ruang belajar Jojo.
Setelah selesai belajar, Jojo memaksa meminta supaya dimandikan dengan miss Risa.
Karisa sangat menyayangi anak ini, dan ia seperti tidak dapat menolak permintaan anak ini yang haus akan kasih sayang seorang ibu.
Kenzo baru pulang dari kantor, seperti biasa ia selalu ke kamar putra satu-satunya itu untuk menyapanya sebentar lalu bergegas mandi.
Saat di kamar Jojo, ia mendengar suara tertawa di dalam kamar mandi, ia melangkahkan kakinya perlahan dan membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Melihat sebuah pemandangan manis yang ia rindukan, sayangnya dengan orang yang berbeda.
“Hemmm… Jojo wangi banget.“
Karisa memasang wajah seperti memperhatikan Jojo, matanya memandang dari atas sampai ke bawah.
“Wow, Jo… you look so handsome. Rambutnya disisir rapi, wangi, trus happy face gini, bikin Miss suka lihatin Jojo terus. Pinginnya peluk Jojo, soalnya wangi.“
Jojo melompat girang mendengar pujian guru favoritnya, lalu merangkul kedua tangannya melingkar ke belakang leher Risa yang saat ini sedang berposisi berlutut dihadapannya.
“You also pwiti, Miss. I love you so much.“
Lalu Jojo menyandarkan kepalanya manja ke salah satu bahu Risa.
Ehem ehem…
Kenzo memberikan tanda keberadaannya agar disadari oleh Jojo dan Karisa.
Jojo mengangkat bahunya dan melihat pria tampan di depan pintu kamar mandinya.
“Daddy!!… You pulang.“
Tangannya mengarah ke atas, wajahnya mendongak meminta Kenzo untuk menggendongnya.
Karisa bangun dari posisinya dan tersenyum ke arah ayah dan anak itu.
“Permisi, saya ke bawah untuk membantu tante menyiapkan meja makan.“
Ya, setiap malam Karisa makan malam bersama keluarga ini, awalnya ia sungkan namun karena sering dipaksa oleh bu Susi dan pak Ferry, akhirnya menjadi kebiasaan dan Karisa senang sekali. Kedua orangtua Kenzo bahkan menganggap Karisa seperti putri mereka sendiri.
Hal ini membuat Bianca cemburu dengan kehadiran Karisa, apalagi ia tahu kalau Kenzo akan dijodohkan dengan Karisa. Dan dirinya tidak ingin Karisa masuk ke rumah ini menggantikan posisinya sebagai putri satu-satunya di sini.
Saat Kenzo keluar dari kamar Jojo, Bianca menghampiri Kenzo.
“Kak. Memangnya loe mau dijodohin sama Karisa?”
“Kenapa?”
“Gua cuma takut kalau dia manfaatin kebaikan Mama sama Papa aja. Dia bukan tipe loe juga, kan. Hati-hati aja, jangan sampai kejebak sama mulut manisnya. Gua cuma bisa ngomong ke loe aja. Kalau ke Mama, kayaknya udah kemakan kata manis dia deh. Buktinya, Jojo aja bisa nurut, apa enggak curiga, jangan-jangan dia make guna-guna lagi. Hii serem.”
Karisa sampai ke ruang makan dan membantu Bu Susi, seperti biasanya.
“Tante, mari aku bantu tata piring dan sendoknya.“
Bu Susi menoleh mendengar suara lembut yang menawarkan bantuannya, perempuan incarannya yang akan dijodohkan ke Kenzo.
“Boleh sini, tante ajarin, kamu letakkan sendok dan garpu di sebelah kiri dan kanan piring yah.“
Karisa mengangguk lalu menjalankan perintah.
“Baik, Tante, laksanakan.“
“Andai tante punya menantu, pasti Tante ada teman di rumah.“
Mata Bu Susi melekat tajam ke arah Karisa saat mengatakan hal tersebut.
Mata Karisa menatap bu Susi dengan lembut dan menyunggingkan sebuah senyuman,
“Semoga cepat dapat menantu yang Tante harapkan, yah. Di rumah juga ada kak Bianca buat jadi teman ngobrol.“
“Andai saja menantu itu kamu, Risa, aku pasti bahagia sekali.“ dalam hati bu Susi sambil menatap Karisa, tersenyum dengan menghela nafas.