Wajah Kenzo terlihat begitu dingin saat mengantar Karisa pulang. Perkataan Bianca 2 hari lalu mulai mempengaruhi pikirannya.
“Kalau kamu mendekati Jojo hanya untuk mendekati saya, maka cara kamu itu salah. Saya tahu Mama menjodohkan kita, bukan berarti saya bakalan luluh melihat kebaikan kamu selama ini terhadap Jojo dan orang tua saya.“
Kenzo tetap menyetir mobilnya dan pandangannya menatap ke depan tanpa ekspresi.
Mata Karisa membulat sempurna, kata-kata yang masuk ke gendang telinganya dan disampaikan ke syaraf otaknya itu bagaikan pisau yang menusuk jantungnya. Namun ia masih mencoba untuk bersabar dengan tudingan yang tidak ada buktinya.
“Mak… maksud Bapak, apa ya?“
Setelah mendengar tanggapan Karisa, Kenzo menoleh sekilas ke arah Karisa dengan wajah ketus dan kembali menatap ke arah jalan di depan.
“Tugas kamu hanya mengajari anak saya, bukan mendekati orang tua saya ataupun membantu pekerjaan di rumah. Paham!!“
Karisa sangat kesal, bagaimana mungkin niat baik dan tulusnya dituduh yang bukan-bukan. Tentu saja aliran darahnya naik sampai ke kepala. Bukan hanya marah dengan tuduhan yang tidak beralasan, bahkan harga dirinya sebagai perempuan ikut teriinjak.
“Tolong berhenti, Pak, saya bisa jalan kaki.“
“Sebentar lagi sampai, saya hanya menyampaikan pikiran saya saja. Kamu ngak perlu marah.“
Laki-laki tampan sekaligus menyebalkan dihadapan Karisa ini, benar-benar membuat tanduk dikepalanya muncul dengan cepat. Sudah menuduh, sekarang memerintah sesuka hatinya.
“Saya bilang BERHENTI!!“
Karisa membentak bosnya, ia sudah tidak mempedulikan lagi nasib nya besok apakah masih bisa mengajar lagi atau tidak setelah bentakan barusan. Namun, ia harus mempertahankan harga dirinya sebagai wanita terhormat.
Tangan Karisa nekat memegang handel pintu disebelah kirinya, berusaha untuk membuka pintu mobil yang masih jalan.
Spontan, Kenzo menekan rem mobilnya tiba-tiba, terkejut dengan tindakan spontan Karisa, emosi mereka memuncak.
“Apa yang kamu lakukan hah! Itu berbahaya!“
“Saya menyayangi Jonathan dengan tulus, dan saya hanya membalas kebaikan dari kedua orang tua anda, Pak. Jadi silahkan tarik kembali ucapan bapak. Saya tidak terima.“
Tanpa mendengar jawaban Kenzo, Karisa melangkah keluar dari mobil bosnya dan berjalan kaki, rumahnya sudah tidak jauh dari posisi mereka berhenti.
Terdiam karena terkejut dengan reaksi Karisa. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya.
‘Apa aku salah menilainya?’
FLASHBACK ON Sebelum kejadian.
Sore itu seperti biasa Kenzo pulang dari kantor dan mencari Jonathan sang putra kesayangan. Hari ini ia pulang lebih cepat karena pekerjaannya sudah selesai di kantor.
Melihat Karisa yang sedang menemani Jojo mandi, merupakan pemandangan yang sudah biasa bagi Kenzo beberapa hari ini. Semakin hari Kenzo mendapati perkembangan baik dalam diri putranya, seperti hari ini Jojo, latihan mandi sendiri dibimbing oleh Karisa, mbak Sum hanya ikut menemani saja.
Karisa yang menyadari kehadiran Kenzo, memberi anggukan sebagai tanda salam hormat sambil tersenyum dan kembali memperhatikan murid kesayangannya.
“Sudah, Jo mandinya? Coba di cek lagi, masih ada sabun ngak badannya?“
“Clean and flesh.“
Jojo membusungkan dadaa nya dengan senyum bangga, ia sudah bisa mandi sendiri.
“Oke good. Miss ke bawah dulu ya, ada daddy kamu sudah pulang.“
“Yes, Miss, see you at dinner.“
Karisa hendak berjalan keluar ruangan Jojo agar Kenzo bisa bermain dengan putranya.
“Saya ke bawah sebentar, Pak, permisi.“
Seperti hari lalu, Bianca menghampiri Kenzo lagi dan mengatakan sesuatu.
“Tuh, makin hari makin berani ikut campur. Sekarang yang masak di dapur juga dia. Apa enggak terlalu aneh. Mana ada guru mau disuruh-suruh begitu kalau enggak ada niatannya. Pasti dia lagi ambil hati Mama biar bisa nikah sama kamu, Ken.
Sesampainya di dapur, mba Pur yang biasa mengurus masakan di rumah itu, sudah menyiapkan semua bahan yang di minta Karisa dan akan membantu Risa supaya proses memasak cepat.
Gadis cantik itu berencana untuk memasak makan malam untuk keluarga ini. Tentu saja, Bu Susi begitu senang saat mengetahui Karisa bisa memasak, berbagai macam masakan dan ia ingin selalu mencoba semua masakannya, apalagi cocok di lidah suaminya juga. Semakin gencar bagi Bu Susi untuk mendekatkan Kenzo.
Karisa bahagia melihat isi dapur rumah ini, begitu lengkap. Segala macam saus, kecap lengkap. Saus tiram, saus jamur, saus barbeque, soya sauce, saus bulgogi dan teriyaki, saus chasiu, semua tersedia. Jangan tanya lagi dengan bumbu dapurnya. Pokoknya Karisa tinggal memasak saja, seakan salah satu hobinya itu dapat tersalurkan di dapur ini.
Harum masakan memenuhi ruangan dapur ini, pertama ia membuat sup krim jamur, setelah semua bahan tercampur dan memasukkan bumbu dan tinggal menunggu matang, ia melanjutkan ke masakan selanjutnya. Risa menggoreng campuran adonan udang dan ayam yang digiling dan di beri bumbu, setelah mba Pur mengerti caranya, ia yang melanjutkan menggoreng. Risa membuat saus nankinnya, hanya butuh waktu 5 menit saja membuat saus. Dilanjutkan dengan mencah irisan daging sapi slice dengan saus tiram dan sedikit lada hitam, kemudian di tuang ke dalam tatanan brokoli yang sudah direbus sebentar. Menu terakhir adalah mun tahu dengan sisa campuran daging udang dan ayam giling. Kurang dari satu jam, empat menu sudah tersedia di meja makan.
Semua anggota keluarga keluar dari kamar masing-masing saat jam makan malam dan duduk di kursi mereka.
“Wah, hari ini Chinese food yach.“
Mata Pak Ferry bersinar menatap hidangan kesukaannya di meja makan itu, begitu pula dengan Kenzo yang hanya tersenyum sinis melirik menu di meja. Kebetulan Kenzo dan papanya mempunyai selera makan yang sama.
Karisa menyeka keringat di pelipisnya setelah berkutat di dapur, ia ke kamar mandi dan menyemprotkan sedikit parfum agar bau keringatnya tidak menyengat, kemudian kembali ke ruang makan.
“Hari ini bukan mba Pur yang masak, Tuan, tapi Miss Risa.“
Ujar mba Pur saat menyiapkan mangkok besar berisi nasi putih di meja.
“Oh ya? Ini semua kamu yang masak, Risa?“
Risa mengangguk sambil tersenyum manis.
“Iya, Om. Mama dan Papa yang ajarin saya dulu, bahkan Kevin adik saya juga bisa masak.“
Pak Ferry mengangguk-angguk merasa kagum dengan Risa dan Kevin yang mandiri.
“Kamu tahu ngak, kenapa Om sangat mencintai Tante?“
Semua mata memandang heran dengan ucapan pak Ferry yang jauh dari formal, termasuk Bu Susi sendiri yang dahinya mengernyit terheran, namun segera mengerti kelanjutan dari perkataan suaminya.
“Karena Tante ini pintar memasak. Semua suami pasti kepikiran pulang ke rumah setiap mereka pulang kerja, memikirkan kejutan masakan apa hari ini yang dimasak istrinya.“
Pak Ferry berkata sambil mengelus punggung istrinya yang sedang tersenyum malu merona.
“Dan kamu akan menjadi istri kesayangan suami kamu suatu hari nanti, Risa.“
“Terima kasih, Om. Risa masih banyak belajar soal memasak.“
Pujian Pak Ferry begitu berarti buat Risa, ia membayangkan wajah papanya muncul sambil memuji masakannya dulu, walaupun keasinan, papanya tidak pernah komplain bahkan terus memuji dan memakannya sampai habis.
Di sisi lain, Kenzo hanya menikmati makan malam hidangan di depannya tanpa berkomentar sepatah kata pun. Pikirannya terus terpengaruh perkataan Bianca.
Bu Susi beralih menatap putranya
“Ken, gimana masakan Risa, kamu suka?“
Merasa disudutkan, mau tidak mau dia harus menjawab mamanya dengan datar tanpa ekspresi.
“Enak.“
Risa tertunduk malu mendengar komentar Kenzo yang pelit suara itu. Baginya pernyataan singkat itu sudah mewakili pujian dari seorang Kenzo.
“I love my tofu, Oma.“
Jojo menyela tidak mau kalah dan ikut memuji. Kedua pipinya membulat terisi makanan di dalamnya. Wajahnya makin menggemaskan, apalagi melihat tingkahnya yang menggerakan badannya ke kiri kanan walaupun sedang dalam posisi duduk,.
“Kriteria Karisa sudah pas banget, Ken. Kamu tunggu apalagi, sih.”
Pipi Karisa merona, yang mengerti maksud pembicaraan Bu Susi,
Kenzo hanya diam dan merasa sikap dan kedekatan orangtua serta anaknya sudah melewati batas kewajaran. Dan ia tidak mau ada kesalahpahaman dengan guru cantik ini kedepannya.
Setelah makan malam selesai, Karisa segera pamit pulang.
Kenzo sudah mengambil kunci mobilnya untuk mengantar Karisa, ia berjalan keluar menuju garasi. Melihat gelagat Kenzo berbeda dari sebelumnya, Karisa berusaha menolak diantar pulang bosnya.
“Maaf, Pak, saya bisa pulang dengan ojek online saja, biar Bapak bisa istirahat.“
Kenzo menoleh dan menatap tajam ke arah Karisa dengan kesal.
“Trus, saya bakal di marahin sama Mama Papa saya, karena tidak mengantar kamu pulang, gitu! Sudah naik saja ke mobil, biar cepat sampai. Jangan protes lagi. “
Kenzo masuk ke dalam mobil, Karisa memonyongkan bibirnya kesal dengan ucapan jutek bosnya itu, lalu masuk ke mobil dengan cepat dan memasang sabuk pengamannya.
FLASHBACK OFF sebelum kejadian
Karisa meninggalkan mobil dan melangkahkan kakinya terburu-buru. Entah mengapa ada rasa sakit di d**a nya seperti tertimpa benda keras di sana. Dipikirannya, apa salah kalau ia menyayangi keluarga itu dengan sepenuh hatinya?
Sejak kejadian malam itu, Karisa berusaha menghindar dari bosnya itu. Ia tetap mengajar seperti biasa di sekolah dan mengajar Jojo. Tidak terasa sudah empat bulan lebih berlalu sejak kejadian itu. Karisa sedang menyiapkan tugas akhirnya untuk menjadi seorang sarjana pendidikan.
Perkataan Kenzo waktu itu seperti menampar dirinya agar tahu diri dengan posisinya sebagai seorang guru les Jojo. Ia hanya berkunjung dan mengajar Jojo, setelah selesai ia segera pulang ke rumah. Ibu Susi sering membujuk Karisa untuk makan malam bersama, namun selalu ditolaknya. Tentu saja, hal ini membuat Kenzo semakin pusing karena harus mendengarkan ocehan Mamanya hampir setiap malam.
“Pasti karena kamu mengatakan sesuatu yang ngak enak, makanya Risa jadi menghindar. Sekarang enggak mau makan lagi di sini. Mama jadi kesepian, kepingin ngobrol sama Karisa.”
“Ma, Karisanya udah bilang, kan. Kalau dia mesti fokus sama skripsinya. Lagian, masih ada Bianca di rumah yang bisa nemenin Mama.”
Kalau sudah berargumen, Bu Susi sudah pasti kalah dengan Kenzo. Akhirnya, ia hanya dapat menelan kekesalannya sendiri. Setidaknya, ia bisa melakukan video call dengan Karisa sesekali.
Selain menghindar, Risa juga disibukkan dengan tugas akhir dengan segudang tugas yang memaksanya harus bolak balik kampus dan sekolah tempatnya magang. Sejak ia meminta ijin untuk magang dan memakai sistem sekolah tempatnya mengajar, Karisa justru mendapat tawaran bekerja sebagai guru trainer jika ia sudah lulus nanti.
Di sisi lain, ada rasa penyesalan akibat ucapan Kenzo terhadap Karisa. Ia bahkan seperti terkena karma ucapannya sendiri. Sejak Karisa menghindar dan mereka sudah jarang bertemu, Kenzo justru merasa rindu bertemu dengan gadis tersebut, bahkan ia rindu dengan suara lembutnya.
‘Kenapa jadi mikirin dia terus, sih. Huh, apa memang salah gua? Aduh, kenapa jadi mumet sih gara-gara urusan Karisa.’