Karisa menyandarkan tubuh lelahnya ke dipan ranjang. Ia merenungkan sikap bosnya yang mudah berganti emosi, sambil memikirkan kesalahan apa yang di perbuat hingga membuat wajah ceria bosnya berganti beku lagi. Merasa tidak mendapat jawaban, Karisa menghubungi Cika kembali menanyakan pendapatnnya. “Hai, Cik, gua uda di rumah nih.“ “Hei, Sa, aduh gua dag dig dug nih nunggu Sabtu. Kak Nathan bakal jemput kita di rumah gua, Sabtu jam 4 sore.“ “Cie cie, yang mulai pedekate, trus kenapa dia pake ngajak temen segala, bukannya enakan berduaan yah?“ “Ehm … Gua yang minta, Sa. Kan gua belum tau luar dalamnya dia, kalo pergi berdua trus dia niat jahat gimana nasib gua dong. Setidaknya gua punya bala bantuan kalau dia kurang ajar.“ Karisa terkekeh mendengar temannya yang sedang kasmaran itu, tapi

