Chapter 22

1004 Words
"Kuda kau tunggu di sini ya jangan kemana-mana aku ingin mencari majikanmu," ujar Eisha setelah mengikat tali kekang kuda ke salah satu pohon terdekat. Kuda merah meringkik sebagai jawaban. Eisha melihat ke kiri dan ke kanan secara bergantian yang banyak ditumbuhi pepohonan yang indah. "Dia tadi lewat mana? Ke kiri apa ke kanan?" ujarnya yang bingung. Setelah berpikir cukup lama akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke arah kanan, seingatnya Layla pergi ke arah sana. Ya, semoga saja itu adalah pilihan yang tepat, batin Eisha. Eisha mengambil batu yang tergeletak di atas tanah, yang tepinya runcing, lalu mulai menandai batang pohon dengan bentuk segitiga dengan cara mengukirnya. Eisha melakukannya dengan tujuan, agar tak tersesat di dalam hutan ketika ingin mencari jalan untuk kembali ke tempat yang awal. Suara sepatu bergesekan dengan rerumputan yang lumayan tinggi membuat suara. Terkadang kakinya tak sengaja menginjak ranting-ranting kering sehingga menciptakan suara yang murni, yang berasal dari alam. Hingga akhirnya Eisha bisa menemukan dimana letak posisi Layla setelah berkeliling dan berusaha. Eisha baru bisa bernapas dengan lega. "Dia sedang bertarung dengan seekor rubah?" ujar Eisha pelan. Dia mengambil posisi bersembunyi di balik pohon yang besar, bersembunyi di antara dedaunan yang lebat. Untung saja tak ada semut yang hinggap di batang pohon. Di depan terlihat Layla sedang bertarung dengan seekot rubah. Rubah merah masih menyerang, seolah tak ingin menyerah dari Layla. Di beberapa bagian tubuhnya sudah lecet dan terluka dan mengeluarkan darah, namun Layla terus saja memainkan pedangnya. Layla bernapas dengan terengah, kekuatan apinya sudah berkurang banyak. Dan dia membutuhkan waktu untuk beristirahat untuk mengembalikan kekuatannya yang telah berkurang. Bagaimana ini, kekuatanku sudah tinggal sedikit lagi, dan dia masih punya kekuatan yang lebih besar dariku, batin Layla. "Layla, hati-hati!" teriak Eisha refleks saat rubah merah melayangkan cakar tajamnya ke arah Layla. Layla segera menghindar dan melompat ke belakang. Lagi-lagi cakar rubah tajam hanya mengais tanah. Layla mengambil kesempatan menusukkan pedangnya ke perut rubah yang lengah. Si rubah merah meraung kesakitan dan jatuh tergeletak di atas tanah berumput. Darah segar mengalir dari luka tersebut membasahi rerumputan hijau. "Maafkan aku rubah, aku terpaksa melakukannya," ujar Layla dengan wajah yang merasa bersalah. Dia menarik pedang dengan pelan dari perut rubah merah. Rubah merah mengakui kekalahannya. Berselang beberapa saat kemudian muncul sebuah simbol berwarna merah. Simbol merah itu adalah simbol yang menandakan jika si rubah merah rela menjadi atma Layla. "Terima kasih, karena mau menjadi atmaku," ucap Layla tersenyum. Tak lama kemudian sebuah simbol berbentuk gambar rubah muncul di telapak tangan bagian atasnya. Begitu juga dengan rubah merah, muncul simbol di dahinya. "Mulai hari ini sampai ke depannya kau adalah atmaku. Dan harus mematuhi apa yang aku katakan," pesan Layla pada rubah merah. Layla kemudian mengarahkan kekuatan apinya ke perut rubah dan luka berukuran kecil tersebut perlahan menutup dan sembuh. Eisha menyaksikan semua itu dengan wajah yang kagum. Dia keluar dari tempat persembunyiannya berjalan menghampiri Layla. "Layla, bagus sekali kau sudah mendapatkan atma baru." Eisha berkata sambil menunjukkan wajah yang senang. Dia senang, Layla ke depannya akan punya partner yang menemaninya. "Ya, akhirnya aku punya atma juga," sahut Layla. Dia akan menunjukkan atmanya pada nenek Jasmine saat dia pulang nanti. Untuk nenek Jasmine sendiri dia tidak mempunyai atma, karena memang sengaja tak mencarinya. "Dia tampaknya imut juga," puji Eisha sambil menatap rubah merah yang berdiri di dekatnya. Si rubah menatap kurang bersahabat pada Eisha, namun tak masalah baginya, karena memang dari awal rubah merah itu termasuk hewan yang tak ramah. "Kenapa mukamu jutek sekali rubah merah? Tidak takut mukamu menjadi tak cantik lagi?" ujar Layla sambil menatap wajah rubah merah yang kini melengos seolah kurang setuju. Rubah merah berdecih sebal. Dia sebenarnya tak sudi menjadi atma gadis yang baru saja dilihatnya itu. Namun apa yang bisa dia lakukan? Dia sudah kalah, dan harus menerima kekalahannya itu. Setelah beberapa bulan atma gadis itu, rubah merah berencana untuk melepaskan ikatan sebagai atma. Aku akan pergi, jika butuh aku panggil saja, ucap suara seseorang melalui pikiran Layla. Layla sudah mengetahui jika suara itu adalah suara rubah merah. Antara atma dan majikannya bisa saling berkomunikasi. Baiklah, aku mengerti. Ke depannya usahakan wajahmu jangan jutek. Gadis yang memujimu itu, dia adalah temanku. Aku harap kau ke depannya lebih ramah dengannya, pinta Layla pada atma barunya itu. Aku tak bisa bersikap ramah dengannya, dia bukan siapa-siapa bagiku, jawab rubah merah terkesan cuek. "Dia mau pergi ke mana?" tanya Eisha pada Layla saat rubah berbulu merah berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Dia merasa sikap atma baru yang berwujud rubah cukup menyebalkan. "Entahlah rubah merah tak memberitahu apapun padaku, dia sepertinya rubah yang tertutup, sahut Layla menjelaskan. Layla mendengarkan dengan baik. "Aku rasa dia membutuhkan waktu untuk bisa beradaptasi menjadi seorang atma." Terutama hewan magis yang semula hidup dengan bebas, berubah harus mematuhi apa yang majikannya katakan pasti agak sulit. Layla mengangguk mengerti. "Iya, aku akan memberikan rubah merah waktu agar terbiasa dengan kehadiranku." "Oh, ya, kau 'kan sudah mendapatkan atma, sekarang aku sudah bisa ke istana untuk melakukan tujuanku," ujar Eisha teringat dengan tujuan awalnya. "Oke, baiklah, Vaiva. Kita lanjutkan perjalanan kita lagi." Eisha mengambil sebotol obat dari dalam tas rajut Layla. Dengan perlahan dia mengolesi ramuan obat ke luka luar Layla. Terdapat beberapa luka cakaran di tubuh Layla. "Bagaimana keadaamu? Apakah menjadi lebih baik?" tanyanya. "Lumayan, hanya saja kulitku terasa panas seperti terbakar setelah diolesi obatnya." Layla meniupi kulitnya. Sudah ditiup, tetap saja rasanya panas. "Apa aku terlalu banyak mengolesi obatnya?" tanya Eisha dengan nada yang takut salah dosis obat. Dan takutnya Layla akan marah dengannya karena melakukan kesalahan. Layla segera menggeleng. "Tidak, rasanya memang sedikit panas. Jangan khawatir rasa panasnya bentar lagi akan hilang." Berharap tak membuat Eisha khawatir. Eisha dan Layla kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Yulan. Layla membawa Eisha untuk pergi melewati jalan pintas yang dia ketahui dari warga setempat. Hari ini tak terlalu banyak orang yang melintas mungkin saja mereka sedang tak urusan yang penting. Jalanan yang sempit dan cukup curam yang hanya bisa dilewati oleh satu orang saja membuat mereka berjalan dengan hati-hati. Jika melihat ke bawah yang cukup tinggi, bisa membuat kulit menjadi merinding.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD