Chapter 21

1017 Words
Di sinilah kedua gadis yang sama-sama cantik itu berada di tengah hutan yang sangat lebat, bahkan pohon-pohon tak terlihat bagian yang paling atasnya. Kumpulan burung cantik liar terlihat sedang bertengger di atas batang dan ranting pohon sambil berkicau. Tampak bunga-bunga sedang mekar dengan indahnya. Rupanya elok dipandang dan aromanya harum saat dicium. Eisha meletakkan tas yang ada di punggungnya meletakkannya di bawah salah satu pohon, kemudian duduk. "Melelahkan sekali," ujarnya sambil tangannya bergerak mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan bersih. Layla sedang mengikat tali pengendali kuda di salah satu batang pohon terdekat. Oh, ya, mereka tak memakai kuda yang lama, Layla membeli kuda baru yang lebih setia dan lebih patuh dengan majikannya. Layla mengusap surai kuda cokelat sedikit kemerahan dengan lembut. "Makanlah sepuas hatimu!" ujarnya yang dijawab ringkikan kuda pelan. Barulah si kuda memakan rumput yang tumbuh dengan baik. Eisha meletakkan sebotol air minum di dalam tas rajut. Tak banyak isi di dalam tas rajut, hanya ada sebungkus makanan ringan, sebotol air, uang, dan pakaian ganti. "Kuda yang baru ini lebih enak dibanding dengan Si Bong-Bong," komentarnya sambil melihat ke arah kuda yang sedang makan rumput. Layla tersenyum, mengangguk setuju dengan pernyataan temannya itu. "Ya, aku harap dia selamanya seperti ini. Kalau tidak, aku akan membeli kuda yang baru lagi." Tatapan Layla kini terarah pada buah apel yang ranum di atas pohon. "Buahnya tampaknya enak untuk dimakan," ucapnya sambil menatap Eisha dengan penuh arti. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Eisha sedikit ngeri. "Aku mau kau ambilkan beberapa buah apel untuk kita makan," jawabnya sambil menunjuk pohon apel. "Hah? Apa? Tidak salah?" tanya Eisha. "Tolong Vaiva, aku paling suka dengan buah apel. Sangat susah untuk mendapatkan buah apel, kau tahu 'kan kalau di tempat tinggal kita tidak ada pohon apel?" bujuk Layla dengan wajah yang memohon. Untuk beberapa saat Eisha terdiam, dia sedang berpikir sambil menatap pohon apel yang berdiri dengan gagahnya di hadapannya. Huh, aku tak mungkin menolak permintaan Layla. Dia sudah dengan baik menerimaku di rumahnya, batin Eisha merasa serba salah. Akhirnya Eisha pun mengangguk. "Oke, baiklah aku akan memetiknya demi Layla." Eisha pun memanjat batang pohon apel dengan perlahan, dia menginjak dahan pohon yang besar dan kuat. Untung saja dia tak punya phobia terhadap ketinggian. Tangan Eisha terangkat untuk memetik buah apel yang sudah matang. Aroma harum apel matang tercium di indra penciuman. "Layla, tangkap dengan baik, jangan sampai jatuh!" pinta Eisha, sambil melemparkan buah apel ke bawah tepatnya di mana Layla berdiri sambil membawa keranjang rotan. "Tenang saja, aku bisa menangkapnya!" sahut Layla. Setelah dirasa buah apel yang didapatkan sudah lumayan banyak, Eisha memutuskan untuk turun dari pohon apel. Dia berjalan menghampiri Layla yang sedang memakan buah apel dengan semangat. "Rasanya sangat manis. Vaiva kau harus mencicipinya," ujarnya sambil menyodorkan buah apel berkulit merah. "Cuci dulu Layla, jangan langsung dimakan," sahut Eisha sambil menerima buah apel. "Tak perlu dicuci 'kan langsung dari pohonnya." Layla melanjutkan menggigit buah apel. Eisha mengambil botol air dan mencuci apel terlebih dahulu sebelum menggigit buah apel. Rasa manis dan segar memanjakan lidah. Meskipun begitu buah mangga tetaplah buah-buahan yang paling dia sukai. "Buah dari pohonnya memang lebih enak dan segar," komentar Eisha. "Tentu saja." Setelah puas makan buah apel, keduanya melanjutkan perjalanan menyusuri hutan dengan menaiki punggung kuda. Hutan ini berbatasan langsung dengan jalan ke Kota Yulan. Oleh karena itu kebanyakan orang pasti akan melewati hutan ini. Dalam perjalanan mereka banyak melihat hewan-hewan kecil yang melintas seperti burung, dan kelinci. "Layla, dalam mencari atma apa itu kita yang harus mendekati mereka dulu, ya?" Pertanyaan Eisha memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka berdua. Layla berada di depan, dan Eisha di belakang berpegangan di pinggang Layla. "Benar, kita yang harus menghampiri atma yang kita incar," sahut Layla, tangannya memegang tali kekang kuda. Kuda bergerak dengan lambat membelah hutan. Pandangan tertuju ke sekitar mencari hewan yang sekiranya cocok untuk dijadikan sebagai partnernya. Layla menghentikan laju kuda saat netra matanya menangkap ada seekor hewan yang sedang melintas. Layla dalam satu kali lompatan turun dari punggung kuda. Ya, dia dari kecil sudah belajar menaiki dan menunggang kuda. "Layla, aku bagaimana?" tanya Eisha menatap Layla yang berada di dekatnya. "Ya, kau tunggu saja di sana. Hati-hati jangan sampai jatuh," pesan Layla sebelum bergerak mengejar seekor hewan berbulu merah yang diincarnya. "Hati-hati, Layla!" jawab Eisha memegang tali kekang kuda. Layla bergerak lebih cepat mengejar seekor rubah yang berlari menginjak rerumputan dan dedaunan. Dia bersembunyi di balik pohon besar, sambil tatapan matanya terfokus pada seekor rubah yang sedang bermain bola yang terbuat dari rotan. Rubah jangan bergerak ke mana-mana, ya. Aku ingin bicara denganmu, batin Layla. Layla pun bergerak dengan perlahan menghampiri rubah yang masih bermain bola rotan. Layla memberikan senyuman. "Hai, perkenalkan namaku Layla. Bisakah kita berteman?" tanyanya dengan ramah. Rubah merah menghentikan kegiatan bermain bola rotan, menatap balik Layla yang masih tersenyum. Rubah merah adalah salah hewan magis yang ada di wilayah Kerajaan Harvy. Rubah merah bergerak menyerang Layla. Gadis berambut pirang tersebut bergerak mengelak, dan cakar rubah merah hanya mengenai pohon di belakang. Nyaris saja kulitnya robek. Rubah merah ini ternyata galak juga, sepertinya aku butuh lebih hati-hati, batin Layla sambil terus mengelak dari serangan rubah. Layla menarik pedang yang berada di pinggangnya. Dia menyerang rubah merah setelah melepaskan sarung pedang. Kaki rubah merah mengais-ngais tanah berumput hijau, hewan berkaki empat itu mengeluarkan suara khasnya. Dia mengarahkan kekuatan apinya ke arah Layla. Layla juga mengeluarkan kekuatan apinya untuk melindungi dirinya. Kekuatan keduanya beradu dan menimbulkan ledakan kecil. Rerumputan yang tak bersalah pun ikut terbakar api. Kekuatan rubah ini sama seperti dengan kekuatanku, dia cocok untuk menjadi atmaku. Aku akan berusaha membuatnya kalah dan mengakuiku sebagai majikannya, batin Layla bertekad. Sementara itu Eisha sedang berusaha untuk turun dari punggung kuda. Setelah berusaha akhirnya bisa turun juga. Eisha tak bisa menunggu lebih lama lagi, dia khawatir dengan Layla yang tak muncul juga padahal sudah lama. "Aduh, Layla berhasil apa tidak ya menaklukan rubah merah itu?" Eisha bermonolog sendiri. "Apakah Layla terluka?" Eisha menebak-nebak. Eisha bergerak mondar-mandir. Dia mengembuskan napas. "Argh, aku bingung, aku harus menyusul Layla," ujarnya. "Tapi aku harus menyusul dia ke mana?" Eisha mengedarkan pandangan ke sekitar yang banyak ditumbuhi pohon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD