"Iya, ini adalah rencana yang baik," ujar Layla.
"Hanya saja aku takut kau kenapa-kenapa. Dan takut kau tak berhasil dalam melakukannya," sambung gadis yang memiliki rambut pirang sepinggang itu. Dia tampak khawatir.
Eisha tersenyum sembari tangannya memegang bahu Layla yang berdiri tepat di hadapannya. "Aku tahu kalau Layla khawatir denganku. Tapi kau jangan khawatir aku pasti akan melakukannya dengan baik," ujarnya berusaha untuk meyakinkan temannya.
Mereka berada di dalam keheningan yang cukup lama. Layla berada di dalam pikirannya.
"Aku bukannya tak yakin, hanya saja... " ujar Layla. Entah kenapa dia masih tak yakin kalau Vaiva bisa melakukan rencananya dengan mulus.
"Sudahlah Layla. Aku sudah memutuskannya, aku harus mengambil resiko ini," putus Eisha tanpa bisa dibantah. Ketika dia sudah memutuskan sesuatu, keputusannya sudah untuk diubah kecuali kalau memang dalam keadaan yang darurat.
Layla tahu nada bicara Vaiva, kalau dia tak ingin membahasnya lagi. "Baiklah, Vaiva, aku dengan terpaksa setuju dengan rencanamu. Karena aku tahu percuma saja jika aku larang," ujarnya.
"Nah begitu Layla." Eisha tersenyum. Tak lama kemudian dia bersin-bersin pasti debu masuk ke dalam hidungnya.
"Ya udah kita keluar saja dulu, aku lihat Vaiva sudah bersin-bersin."
Eisha akhirnya bisa bernapas dengan lega setelah mereka berada di luar dan berada sedikit jauh dari rumah kosong yang terbengkalai.
Layla menyodorkan sapu tangan pada Eisha. "Pakailah ini."
"Terima kasih, Layla." Eisha mengusap dan membersihkan hidungnya. Dia memang tak bisa dekat dengan ruangan yang berdebu pasti bersin-bersin.
"Layla, aku akan mengembalikannya padamu setelah aku membersihkannya."
"Kita kembali ke penginapan lagi."
Eisha dan Layla mengambil kembali barang-barang yang mereka beli. Dan mereka sekarang berada dalam perjalanan menuju ke penginapan.
Di ruangan kamar penginapan, Eisha dan Layla berada di kursi setelah merapikan semua belanjaan mereka. Keduanya duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatas. Di atas meja ada dua mangkuk camilan dan seteko teh beserta cangkirnya. Bentuk meja sama seperti meja yang ada di lantai satu begitu juga dengan kursinya.
"Layla, ngomong-ngomong posisi Kerajaan Harvy itu di mana, ya?" tanya Eisha sambil makan camilan. Akan sangat lucu, dia tak tahu di mana letak Kerajaan Harvy yang akan dia datangi.
"Aku belum pernah memberi tahumu letak Kerajaan Harvy?" tanya Layla, lalu meletakkan cangkir yang isinya tinggal setengah lagi. Dia berkata sambil menatap Eisha yang juga menatapnya dengan tatapan polos.
Eisha menggeleng pelan. "Iya, rasanya memang belum pernah," sahutnya. Karena di dalam memory otaknya tak menyimpan informasi tersebut.
"Baiklah, Kerajaan Harvy ada di pusat Kota Yulan. Dan kalau mau ke sana kita membutuhkan waktu paling cepat dua hari berkuda tanpa istirahat," ujar Layla. Dia pernah mendengarnya dari teman di Qoura Academy.
"Itu pakai kuda yang kecepatannya sedang atau paling cepat?" tanya Eisha.
"Soal itu, temanku itu tak bilang, dia hanya bilang kalau butuh waktu dua hari. Mungkin saja itu pakai kuda dengan kecepatan yang sedang, aku tak tahu juga."
Layla mengambil napas sebelum melanjutkan kalimat selanjutnya. "Jarak antara Kota Nanlin dengan Kota Yulan cukup jauh."
"Apa ada cara lain selain naik kereta kuda?" tanya Eisha. Dia beberapa waktu yang lalu pernah melihat ada orang yang menunggang kuda, mungkin saja mereka bisa menyewa seekor hewan yang bisa terbang.
"Cara yang lain, ya? Bisa saja kalau kita punya atma yang bisa terbang seperti kuda terbang, singa bersayap, atau mungkin seekor naga," sahut Layla menjelaskan. Sebenarnya Layla heran juga kenapa tak ada pebisnis yang menyewakan para hewan terbang. Usaha tersebut pasti lebih banyak peminatnya dibanding dengan hewan darat.
"Kita bisa menyewa hewan-hewan bersayap?" tanya Eisha yang penasaran.
"Setahuku tak ada hewan bersayap yang bisa disewa," jawab Layla setelah berpikir sejenak.
Eisha tiba-tiba ingat tentang pesawat terbang di dunianya. Pesawat terbang yang bisa membawa banyak orang di dalamnya. Dan pesawat terbang yang terbang seperti singa bersayap waktu itu.
"Aku berharap ke depannya bisa ada suatu benda yang canggih yang bisa membawa banyak orang dalam satu waktu," ujar Eisha dengan nada yang berharap. Tak ada salahnya bukan dunia suku elf bisa menjadi lebih canggih.
Layla memasang wajah yang bingung. Dia sebenarnya agak tak yakin dengan yang Vaiva katakan beberapa saat yang lalu. "Memangnya ada ya benda ajaib yang bisa bawa banyak orang?" tanya Layla.
"Apakah tubuh hewannya sangatlah besar? Sehingga bisa bawa ratusan suku elf di atas punggungnya dalam satu kali angkut?" tebak Layla yang sangat salah.
Eisha tersenyum manis, yang menampilkan lesung pipitnya yang menawan. "Tentu pasti akan ada," ujarnya dengan nada yang yakin. Eisha sering melihat pesawat setiap hari.
"Ya, mungkin saja ada seperti yang Vaiva katakan. Itu pasti akan sangat praktis," sahut Layla. Dia juga menantikan benda yang dimaksud oleh Vaiva suatu saat nanti.
"Dan benda ajaib tersebut dia sangatlah cepat dan dia tahan lama," lanjut Eisha bercerita.
Layla mendengarkan omongan Eisha dengan baik. Dia merasa pembicaraan gadis itu menarik dan menyenangkan. "Bisa tahan lama? Artinya dia tak perlu makan dan beristirahat?" tanyanya yang penasaran.
"Benda ajaib itu lebih tahan lama. Dia juga tak makan sayur-sayuran ataupun buah-buahan dan juga air," ujar Eisha yang membuat Layla tambah ingin tahu benda ajaib seperti apa yang mampu melakukannya?
"Lalu, dia makan apa?" Pertanyaan itu langsung meluncur dari mulut Layla. Dia sangatlah penasaran.
"Tentu saja benda ajaib itu makan sesuatu yang luar biasa pula."
"Benar juga, dia pasti makan sesuatu yang berbeda dari hewan-hewan bersayap," jawab Layla mengangguk mengerti.
"Oh, ya, Vaiva, mumpung kita ada di Kota Nanlin. Kau kan sebentar lagi akan ke istana selama beberapa hari." Layla membuka topik pembicaraan yang baru.
"Aku dengar dari warga kalau hutan di Kota Nanlin, terdapat banyak hewan, dan warga kebanyakan mencari atma di hutan tersebut."
"Aku sudah lama ingin punya atma hanya saja tak ada waktu untuk mencari dan mendapatkannya."
"Bagaimana jika kau temani aku ke hutan yang ada di Kota Nanlin?" pinta Layla.
Tanpa menunggu waktu yang lama Eisha mengangguk setuju. Dia juga ingin pergi ke hutan Nanlin. "Hutan yang pernah kita lewati waktu dalam perjalanan ke kota?" tanyanya.
"Bukan hutan yang itu. Hutan yang ada di sisi bagian yang lain, dan pastinya hutan lebih besar dan juga lebat. Aku sangat yakin bahwa di sana aku pasti akan menemukan atmaku," ujar Layla yang semangat.
"Aku setuju denganmu. Tapi ngomong-ngomong sebelumnya kau memang pernah mencarinya, ya?"
Layla mengangguk dengan jujur. "Iya, kau benar."
"Kapan kita akan mulai mencarinya? Kalau bisa sebelum aku ke istana untuk mendaftar," ucap Eisha.