Kereta kuda berjalan dengan kecepatan sedang. Hanya butuh waktu satu hari untuk mencapai pusat Kota Nanlin tanpa istirahat. Dan membutuhkan waktu dua hari dengan beberapa kali istirahat.
Pintu gerbang ganda dibuka dengan lebar. Terdapat sekelompok prajurit kerajaan yang berjaga di sana. Pakaian berbahan baja membalut tubuh kekar mereka. Pedang diselipkan di pinggang mereka. Dan penutup menutup kepala.
Dua orang prajurit menghentikan laju kereta kuda Layla sambil meminta menunjukkan surat izin masuk ke Kota Nanlin. Layla berjalan turun dari posisi semula dan meminta agar Eisha turun terlebih dahulu dari kereta kuda. Eisha dan Layla berdiri bersebelahan. Udara di Kota Nanlin cenderung lebih hangat dibanding Kota Quattour. Keduanya sudah melepas jaket dari tubuh mereka.
Dua orang prajurit membuka tirai pembatas antara penumpang dengan pengemudi. Keduanya bergerak memeriksa dan membuka kotak-kotak yang ada di sana tanpa melewatkan sedikit pun. Sementara satu orang prajurit yang lain sedang memeriksa keaslian kertas yang isinya tentang surat izin memasuki Kota Nanlin dengan dibubuhi cap stempel dari pemimpin Kota Quattour.
"Kalian berasal dari Kota Quattour?" tanya prajurit yang tampak lebih muda dari prajurit yang lain. Kulit badannya putih, dengan kumis tipis di atas bibir tebalnya.
Layla melipat kembali kertas surat izin yang dikembalikan prajurit tersebut ke dalam tas rajutnya. "Iya, benar, kami dari Kota Quattour," jawabnya.
Eisha mengedarkan ke sekitar, rupanya setiap warga dari kota lain datang ke Kota Nanlin dicegat. Para prajurit meminta agar menunjukkan surat izin masuk ke kota. Barang-barang yang dibawa diperiksa satu per satu. Jika terbukti membawa barang yang tak diizinkan, barangnya disita oleh prajurit. Sedangkan jika tak membawa surat izin masuk ke kota, tak diperbolehkan masuk. Peraturan di Kerajaan Harvy ketat juga. Semua itu demi menjalankan amanat dan perintah dari Kaisar Kerajaan Harvy.
"Kalian boleh masuk ke Kota Nanlin," ujar prajurit tersebut sambil tangannya mengibaskan ke arah pintu masuk.
Layla dan Eisha sudah berada di tempatnya yang semula. Kereta kuda bergerak melewati pintu gerbang bersama warga lain yang juga diperbolehkan. Tampak warga lain yang tak diizinkan untuk masuk bersikeras untuk menerobos dengan berbagai cara dan adapula yang menurut untuk mengambil surat izin masuk kota yang ketinggalan di rumah.
Setelah jauh dari pintu masuk gerbang, Eisha pun bertanya. Dia membuka tirai kuning dengan gambar bunga dan menyembulkan kepalanya. "Layla, apa setiap mau keluar atau pun masuk harus diperiksa?"
"Benar sekali! Kalau tak punya surat izinnya kita tak bisa masuk atau pun keluar. Jadi, surat izinnya sangatlah penting," jelas Layla sambil menatap fokus ke jalanan.
"Berarti sama pentingnya dengan bawa uang 'kan, ya?" sahut Eisha.
"Iya, begitulah."
Setelah itu Layla dan Eisha sibuk dengan diri mereka masing-masing. Sepanjang perjalanan yang dilewati Eisha membuka tirai, menyunggingkan senyum lebar melihat setiap bangunan yang ada. Banyak warga yang berkeliaran di jalanan dengan berbagai kegiatan. Para pedagang dengan semangat menjajakan para dagangan mereka. Kota Nanlin memang lebih hidup dan berwarna dibanding Kota Quattour yang beku dan sangat dingin.
Gadis itu turun dari kereta saat kereta berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang cukup besar. Terlihat beberapa orang tampak keluar masuk bangunan toko. Sementara itu Layla sedang menurunkan kotak-kotak berisi pakaian.
"Ayo kita masuk ke dalam, kita harus menjual barang-barang yang kita bawa ini," ujarnya sambil mengangkat dua kotak secara sekaligus berjalan masuk ke dalam bangunan. Eisha mengangkat satu kotak ukuran kecil mengikuti Layla ke dalam. Mereka masuk ke ruangan khusus pemilik toko dengan pihak yang menjual barang.
Di dalam Eisha dan Layla disambut oleh pemilik toko yang ternyata mengenal Layla. Layla memang setiap bulan menjual hasil pakaian yang dibuatnya di toko merpati milik Tuan Abraham. Layla dan Eisha meletakkan kotak yang dibawanya di sisi kanan ruangan. Layla dan Pak Abraham sudah lama menjalin kerja sama. Toko Merpati bergerak di bidang khusus pakaian, mulai dari pakaian dalam sampai pakaian luar dengan berbagai tipe dan model.
"Nona Layla, kau datang lebih cepat dari bulan kemaren. Biasanya kau datang pada tanggal delapan belas setiap bulannya dan hari ini tanggal lima belas," sapa Tuan Abraham.
"Aku sengaja datang lebih cepat karena semua pakaiannya lebih cepat selesai," jawab Layla sembari tersenyum. Hubungan antara Tuan Abraham dan Layla cukup baik, mereka tampak seperti ayah dan anak. Ya, memang benar umur Layla dan anaknya Pak Abraham hampir sama hanya berbeda dua tahun.
Tuan Abraham memerintahkan agar pegawai toko merpati mengambil semua kotak yang sudah punya tanda khusus untuk dibawa ke dalam toko. Enam kotak diletakkan di dekat Tuan Abraham, Layla, dan Eisha.
"Mari kita lihat tipe pakaian apa yang Nona Layla kali ini buat?" Tuan Abraham mengambil posisi duduk di tempatnya yang semula.
Pria itu mengeluarkan satu per satu pakaian dari kotak dan meletakkannya di atas meja. "Seperti biasa pakaian yang dihasilkan bagus-bagus semua. Aku akan memberikanmu harga yang seperti biasanya," ujarnya sambil mengambil sekantong uang dari tempat penyimpanan uang. Layla mengucapkan terima kasih sembari menerima sekantong uang.
Tuan Abraham baru sadar jika tak hanya ada Layla, namun ada juga gadis yang lain. "Dia temanmu?" tanyanya sambil menatap Eisha dengan pandangan bertanya.
"Iya, Tuan, dia adalah temanku. Namanya Vaiva," sahut Layla mengenalkan temannya. Eisha tersenyum dan mengucapkan salam perkenalan pada Tuan Abraham dengan sopan.
Setelah dari toko Merpati, Layla membawa Eisha ke toko yang menjual mainan seperti boneka, layang-layang, dan mainan yang lainnya. Di toko tersebut Eisha menjual beberapa boneka kaos kaki buatan tangannya. Pemilik toko memberikan harga yang cukup tinggi untuk setiap boneka kaos kaki yang dibelinya dari Eisha. Pemilik toko menjelaskan boneka kaos kaki buatan Eisha sangatlah unik dan menarik.
Eisha memandangi kantong uang yang dihasilkan dari jualan boneka kaos kaki dengan wajah yang gembira. Dia tak menyangka akan mendapatkan hasil yang cukup banyak. Ke depannya dia akan membuat lebih banyak boneka kaos kaki jika memungkinkan agar uang yang didapatkan semakin banyak.
Layla memutuskan untuk membawa Eisha ke salah satu restoran terdekat. Layla menyerahkan tali pengendali kuda ke pelayan restoran. Aroma masakan menguar di udara saat Eisha dan Layla berjalan masuk ke dalam restoran tersebut. Semua meja dan kursi hampir semuanya terisi oleh pengunjung. Restoran Jasuma Raya merupakan salah satu restoran yang cukup terkenal di Kota Nanlin. Interiornya yang mengambil tema hutan menjadikan ciri khas restoran Jasuma Raya. Tak hanya itu pelayanannya yang baik membuat pengunjung merasa nyaman.
Eisha dan Layla dibawa salah satu pelayan perempuan menuju meja yang kosong di pojok kanan. Layla memesan makanan utama dari restoran, hitung-hitung memberikan hadiah pada diri sendiri karena telah bekerja keras.
Eisha menyapukan pandangan ke sekitar, pengunjung restoran Jasuma Raya kebanyakan berasal dari kaum berada. Eisha sama sekali tak merasa rendah diri berada di tengah orang berkelas, dia biasa saja.