Tak lama beberapa saat kemudian dua orang pelayan perempuan datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Pelayan restoran meletakkan dua mangkuk di atas meja berbentuk bulat kecoklatan dengan empat kaki berbentuk batang pohon. Kursi juga senada dengan meja. Tak lupa meletakkan seteko dan dua cangkirnya.
Aroma makanan nikmat yang menguar di udara seketika membuat perut Eisha dan Layla berbunyi nyaring. Mereka berdua memang belum makan malam.
"Selamat menikmati makanan dan minuman di restoran Jasuma Raya," ucap pelayan perempuan yang lebih tua dari yang satunya. Pakaian hijau dan cokelat membalut tubuhnya.
"Jika dua nona membutuhkan sesuatu katakan saja pada kami," sahut pelayan yang lebih muda. Memang sesuai dengan reputasi restoran Jasuma Raya, pelayannya yang ramah dan baik.
Eisha mengambil sumpit yang tersedia di atas meja, menyumpitkan potongan ikan yang tampak lezat saat dipandang. Gadis itu sangat penasaran bagaimana cita rasa makanan utama dari restoran Jasuma Raya. Rasa daging ikan yang gemuk, empuk, dan kaya akan rasa memanjakan lidah. Sangat pantas restoran Jasuma Raya mendapatkan predikat salah satu restoran terbaik di Kota Nanlin. Eisha makan dengan lahap dan semangat.
"Bagaimana apa kau suka dengan masakannya?" tanya Layla pada Eisha di sela-sela makanannya.
Eisha mengangguk mengiakan. "Rasanya memang enak seperti yang aku harapkan."
Layla tersenyum. "Aku sudah mengetahuinya, aku tiap bulan tak pernah melewatkan datang ke restoran Jasuma Raya untuk menikmati makanan utama ini." Layla menuang teh ke dalam cawannya dan meminumnya.
"Sepertinya aku juga mulai sekarang menyukai masakan yang terbuat dari olahan ikan segar ini. Apalagi kita di rumah hampir tiap hari makan daging, untuk ikan sangat sulit untuk dibeli," sahut Eisha mencelupkan daging ikan ke dalam saos berwarna cokelat, kemudian mengunyahnya pelan.
"Kau benar, hampir tiap hari kita makan daging sampai aku bosan. Namun apa boleh buat di rumah kita hanya daging yang jumlahnya melimpah."
Setelah itu Eisha dan Layla tak berbicara lagi, mereka sibuk menikmati makanan utama yang sangat lezat. Pelayan baru saja menambahkan dua mangkuk camilan sebagai hadiah untuk pengunjung. Hal itu membuat Eisha tambah senang.
"Aku mendengar dari rumor yang beredar katanya Pangeran Kedua masih belum sadarkan diri," ucap seseorang membuat Eisha yang sedang makan mencari asal sumber suara yang ternyata berasal dari dua orang gadis yang tempat duduknya tepat di samping meja Eisha dan Layla. Eisha bisa mendengarkan apa yang kedua gadis itu katakan. Dinilai dari pakaian mereka yang bagus dan berkelas, Eisha bisa menebak jika dua orang tersebut seorang nona muda dari keluarga bangsawan.
"Sayang sekali. Pangeran Kedua memiliki wajah yang tampan, namun nasibnya buruk," sahut gadis yang satunya, yang memakai gaun biru. Gadis itu sambil menikmati makanan yang dia pesan.
Eisha mengerutkan dahinya bingung. Siapa Pangeran Kedua yang mereka maksud? Kenapa dia menjadi penasaran dengan laki-laki yang punya nasib jelek tersebut? pikir Eisha. Eisha sambil mengunyah potongan sayuran sawi hijau.
"Kaisar sudah mendatangkan semua tabib hebat yang ada di wilayah kerajaan." Terdengar gadis berambut coklat tersebut mendesah. "Tetap saja tak ada yang bisa menyembuhkannya."
Apa sakitnya sangat parah? Sampai Pangeran Kedua yang dikatakan dua gadis bangsawan itu tak kunjung sembuh? batin Eisha bertanya-tanya.
"Cepat habiskan makananmu Saviera! Kita harus segera pulang ke rumah sebelum orang tua kita tahu jika kita keluar secara diam-diam," ujar gadis bergaun biru terdengar khawatir. Dia berkata pelan.
Putri keluarga bangsawan rupanya suka bergosip juga, batin Eisha yang tersenyum di tempatnya.
"Aku mengerti." Gadis bergaun merah muda dengan aksen bunga putih mempercepat makannya. Dua gadis tersebut membayar makanan yang mereka pesan sebelum melangkah pergi meninggalkan restoran.
Eisha menatap Layla yang sedang meminum secangkir air teh hangat. "Ada apa?" tanyanya usai meletakkan cangkir teh kosong ke atas meja.
"Kau tahu tentang Pangeran Kedua yang dimaksud oleh dua gadis yang baru saja pergi tadi?" tanya Eisha. Dia tak bisa menghentikan rasa penasarannya itu. Eisha mengunyah potongan camilan kue terakhir.
"Vaiva, kau tampaknya sangat penasaran dengan Pangeran Kedua?" tanya Layla dengan nada yang menggoda.
"Kau juga mengagumi Pangeran Kedua seperti gadis yang lain?"
Eisha segera menggeleng. "Aku tidak mengaguminya, aku hanya penasaran saja," jelasnya.
"Oke, baiklah, aku tak menggodamu lagi. Aku akan serius," ucap Layla.
"Aku mendengar dari yang lain, Kaisar Kerajaan Harvy memiliki dua orang Pangeran. Pangeran Pertama dan Pangeran Kedua. Para gadis mengatakan kedua Pangeran memiliki wajah yang rupawan." Layla mengambil jeda sebelum melanjutkan kalimatnya. "Tapi untuk aku sendiri belum pernah melihatnya secara langsung."
"Lalu tentang Kaisar yang membawa tabib dari berbagai daerah, namun tak ada hasilnya itu maksudnya?" tanya Eisha lagi. Banyak yang tak dia mengerti.
"Soal itu aku tak tahu, karena aku bukanlah pelayan yang bekerja di istana melayani keluarga kerajaan," jelas Layla.
"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih penjelasannya."
"Sama-sama."
***
Tak terasa hari sudah semakin sore. Cahaya matahari telah menghilang sepenuhnya dari langit. Para pengunjung restoran Jasuma Raya kini hanya tinggal beberapa saja.
Lantai satu restoran, lantai dua dan lantai tiga penginapan. Layla telah memesan dua kamar penginapan yang ada di lantai dua. Mereka akan menginap selama kemungkinan dua hari jika tak ada masalah.
Eisha mengambil satu setel pakaian bersih dari dalam tas rajut setelah membersihkan diri. Dia mengambil posisi duduk di ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
Aku masih ingat kata Ibu Nieke, buku yang paling lengkap itu ada di perpustakaan yang ada di Kerajaan Harvy.
Tapi bagaimana caranya agar aku bisa masuk ke sana? Dengan menyamar, mengendap-ngendap? Ah, itu tak mungkin! Nanti malah aku dikira ingin berbuat jahat pula. Dan itu sangat berisiko.
Ah, bagaimana ini? Kalau aku tak ke sana bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan buku agar ingatanku kembali?
Aku tak percaya jika perpustakaan yang lain tak ada. Aku juga akan mencoba mencari bukunya di setiap toko buku yang ada.
Eisha menyampirkan handuk putih yang dipakainya di jemuran yang ada di dalam kamar penginapan. Di dalam kamar penginapan cukup lengkap, ada satu buah ranjang, meja, kursi, lemari, tempat bak mandi, meja berhias, dan beberapa hiasan dinding yang menambah keindahan.
Eisha merapikan rambut hitam sepinggangnya. Dia mengambil kantong uang dan menyelipkannya di pinggang. Eisha berencana menemui salah satu pelayan yang melayani saat makan tadi sore.
Eisha berjalan melewati lorong dan berhenti di depan sebuah ruangan. Sebelumnya dia bertanya pada pelayan yang lewat dimana letak kamar pelayan restoran. Oleh karena itulah dia mengetahui letak kamarnya.