Setelah itu Eisha dan Layla tak bicara lagi. Layla fokus mengendalikan kereta kuda sambil menikmati pemandangan yang sangat jarang untuk dilihat, sedangkan Eisha sibuk berada di dalam pikirannya. Eisha teringat dengan kejadian janggal beberapa hari yang lalu.
Apa mungkin saat itu aku salah lihat, ya? batin Eisha sambil menatap ke arah telapak tangan bagian bawahnya. Ingin mencari sesuatu di sana, mungkin saja ada yang berbeda, tapi rupanya tak ada yang berbeda.
Kalau memang akar kekuatan yang seperti kata Layla memang ada, pasti dia muncul lagi, pikir Eisha. Dia sebenarnya juga ingin punya akar kekuatan, mungkin saja dengan kekuatan yang dia miliki bisa membawanya kembali ke dunia asalnya. Eisha bukannya tak suka tinggal di negara suku elf, dia cukup senang, hanya saja dia tetap harus pulang.
Eisha mencoba untuk mengeluarkan kekuatan lagi. Setelah berusaha keras tapi tak muncul juga. Dia embuskan napas panjang. "Sepertinya memang tak ada. Apa boleh buat?" ujarnya dengan pelan.
Sudah lewat tengah hari mereka menempuh perjalanan dengan kereta kuda. Layla memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dia pikir mereka harus makan sesuatu untuk menghilangkan dahaga dan juga lapar. Layla sedang berjalan mengikat tali pengendali kuda di salah satu pohon terdekat. Kuda putih dengan semangat memakan rerumputan hijau yang tumbuh dengan subur.
Eisha berjalan turun dari kereta kuda. Di depan mereka hutan rimbun dengan barisan pepohonan berdaun hijau lebat memanjakan mata. Pepohonan tersebut seakan tak ada habisnya. Dengan tanaman bunga liar warna-warni yang tumbuh di atas tanah menambah keindahan. Udara segar membuatnya lebih rileks. "Aku suka sekali dengan tempat ini," ujarnya dengan senyuman di wajah cantiknya. Tak lama kemudian perutnya berbunyi nyaring.
"Vaiva, kau sudah lapar? Ini makanlah." Layla menyodorkan satu mangkuk berisi potongan daging kelinci beyaz dengan lumuran bumbu. Di sana juga terdapat sayur-sayuran juga.
"Terima kasih." Eisha mengambil posisi duduk di bawah salah satu pohon, lalu menyumpitkan potongan daging tipis ke dalam mulutnya. Dagingnya masih terasa enak saat dimakan walaupun sudah tak hangat lagi.
Layla juga makan makanan yang sama dengan Eisha, hanya saja dia sengaja menambahkan sedikit daging saja dan lebih banyak sayurannya. Takut pipinya tambah bulat. "Kalau kita bangun rumah di sini pasti akan sangat menyenangkan," ujar Layla di sela-sela makan. Layla duduk di samping Eisha.
Eisha mengangguk setuju, dia satu pendapat dengan Layla. "Kita bisa menikmati banyak bunga-bunga liar yang indah."
Hewan berkaki delapan berwujud seekor laba-laba sedang berjalan di dekat Eisha.
Merasa ditatap oleh laba-laba berwarna putih membuat keningnya berkerut. "Hey, kenapa kau menatapku?" tanyanya.
Eisha pun berpikir mungkin saja laba-laba putih ingin meminta sepotong daging. Dia menyumpitkan sepotong daging tipis terakhir dari mangkuknya dan meletakkannya di atas tanah berumput hijau. Benar dugaannya, si laba-laba memakannya dengan lahap seolah sedang kelaparan membuat Eisha tertawa geli.
"Vaiva, kau tak merasa takut dengan laba-laba?" tanya Layla pada Eisha sambil mencuci dua mangkuk beserta sumpitnya ke aliran sungai yang kebetulan ada di dekat mereka.
Eisha pun menggeleng. "Tidak, dia sepertinya adalah laba-laba yang baik." Dia masih memandangi laba-laba yang masih makan dengan senyuman menawan.
"Walaupun menurutmu kelihatannya baik, kau juga harus hati-hati," nasihat Layla yang dijawab anggukan Eisha.
Layla sedang memasukkan peralatan makan ke dalam tas. Tiba-tiba kedua kaki Layla terikat dengan tali lengket yang entah darimana asalnya membuat gadis itu sangat terkejut. "Tali ini kenapa mengikatku?" tanyanya sambil berusaha melepaskan diri.
Eisha pun tahu siapa pelaku yang mengikat kaki Layla. Si laba-laba putih adalah pelakunya, tali lengket tersebut berasal dari mulut si laba-laba. Bahkan sekarang laba-laba masih mengeluarkan tali lengket, semakin Layla berusaha untuk lepas maka semakin banyak tali lengket mengikat kakinya kembali.
"Sudah aku duga Vaiva. Dia memang bukan laba-laba yang baik," ujar Layla dengan kesal menatap laba-laba.
Laba-laba putih kelihatan marah dengan ekspresi wajahnya dan tubuhnya yang awalnya kecil sebesar tangan, kini ukuran tubuhnya lebih besar sepuluh kali lipat. Jujur Eisha juga kaget melihatnya, dia tak menyangka tubuh laba-laba akan sebesar ini.
Layla mengeluarkan kekuatan apinya untuk membakar tali lengket yang masih mengikat kedua kakinya. Kini tak hanya kaki sekarang kedua tangannya juga ikut terikat tali lengket.
Layla mengerang kesakitan, tali lengket mengikat tubuhnya lebih kencang.
Aku harus bagaimana? Aku tak punya kekuatan untuk membantu Layla, batin Eisha yang kebingungan. Memang sangat merepotkan jika tak punya kekuatan.
Pandangan mata Eisha terarah pada laba-laba berukuran besar yang berada dengan jarak dua meter darinya. "Laba-laba putih, aku tahu kau marah karena ucapan temanku."
"Vaiva, percuma kau bicara dengannya dia tak akan mendengarkanmu!" ujar Layla terus berusaha agar lepas dari tali lengket. Tali lengket semakin kuat mengikat Layla, sampai dia menjerit kesakitan.
"Layla, jangan bicara seperti itu! Kau tambah membuatnya semakin marah," sahut Eisha. Dia yakin makhluk berkaki delapan ini pasti punya perasaan, sebabnya setiap Layla berkata yang buruk, tali lengket semakin mengikatnya lebih kencang. Layla diangkat ke udara.
"Laba-laba putih aku mohon agar kau melepaskan temanku, Layla. Dia sebenarnya adalah gadis yang baik, hanya saja dia berkata begitu karena mengkhawatirkanku," jelas Eisha berharap laba-laba putih akan mengerti.
"Vaiva, tolong aku! Aku takut dengan ketinggian!" teriak Layla melihat ke arah bawah dimana Eisha berdiri.
"Layla, bertahanlah!" ujar Eisha cemas saat melihat Layla yang diangkat setinggi lima meter dari tanah. Layla takut dengan ketinggian sejak dia masih kecil sampai sekarang. Tak terbayang betapa takutnya temannya itu saat ini.
Tak ada cara lain lagi, batin Eisha.
Gadis itu berlutut di hadapan laba-laba putih sambil menyatukan tangannya. Mengabaikan tanah yang mengotori celana cokelat muda yang dipakainya. Yang dia pikirkan sekarang adalah keselamatan Layla. "Tolonglah laba-laba putih, Layla sangat takut dengan ketinggian."
Eisha mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku tahu kalau kau masih marah dengannya karena ucapan Layla yang menyinggung perasaanmu. Oleh karena itu aku mewakilinya untuk meminta maaf padamu," ujar Eisha terdengar tulus. Perkataan tersebut memang berasal dari hatinya.
"Kenapa kau yang meminta maaf? Yang bersalah bukan kau, tapi dia," sahut laba-laba putih tiba-tiba. Dari suaranya yang terdengar berat, Eisha menebak jika laba-laba putih berjenis kelamin jantan.
Eisha tak menyangka jika seekor laba-laba bisa berbicara seperti suku manusia dan suku elf pada umumnya.
"Layla cepat minta maaf padanya," ujar Eisha pada Layla yang kini wajahnya sangatlah pucat. Eisha sangat khawatir dengan keadaan temannya itu. Dengan berat dan terpaksa Layla meminta maaf.
"Laba-laba putih, Layla sudah meminta maaf padamu. Tolong kau turunkan dia, ya? Kau bisa lihat 'kan jika keadaannya sangat menyedihkan," bujuk Eisha sambil menunjuk Layla yang masih melayang di udara.
****