"Bunga itu pasti bunga yang kuat sanggup bertahan di musim dingin," jawab Eisha.
Layla menghentakkan tali cambuk saat kuda putih berjalan terlalu lambat. Kuda putih bergerak lebih cepat dari yang sebelumnya.
"Vaiva, kita ke Qoura Academy terlebih dahulu untuk mengumpulkan tugas. Setelah itu kita langsung ke pasar asri," jelas Layla.
"Baiklah, aku nanti menunggu di depan Qoura Academy saja."
"Tak masuk?" tanya Layla.
"Tak usah, aku sekalian menjaga kotak-kotak pakaian ini." Eisha berkata sambil memegang kotak-kotak kayu yang berada di dalam kereta, dekat dengannya.
"Baiklah, kalau begitu."
Setelah mengumpulkan tugas berupa hasil pakaian buatan tangan Layla dengan Ibu Fely. Ibu Fely melihat dan memberi nilai, kemudian mengembalikan lagi dengan muridnya Layla. Layla kembali membawa satu setel pakaian. Dan kereta kuda berangkat menuju ke pasar asri.
"Bagaimana apa gurumu memberi nilai yang bagus?" tanya Eisha ketika Layla kembali.
"Ya, Ibu Fely bilang, hasil jahitan dan mode pakaian yang aku buat bagus. Dan yang paling utama dia menyukainya," ungkap Layla dengan nada yang senang dan gembira. Selain mengerjakan tugas dari guru, hasil pakaiannya bisa dijual ke pasar.
"Syukur deh, aku ikut senang mendengarnya," ucap Eisha sambil tersenyum.
"Kau bawak boneka yang kau jahit kemaren?" tanya Layla yang tiba-tiba ingat dengan boneka yang dibuat Vaiva dua hari yang lalu. Boneka tersebut sangatlah unik, bahannya terbuat dari kaos kaki. Selama ini Layla hanya tahu kalau kaos kaki hanya berguna untuk melindungi kaki agar tak dingin. Siapa yang tahu kalau kaos kaki bisa pula dibuat boneka.
"Tentu saja aku membawanya. Aku ingin menjual beberapa boneka kaos kaki. Nanti kalau bonekanya sudah laku dibeli orang, aku akan mengembalikan biaya yang aku pakai untuk membuat bonekanya."
"Tak perlu, Vaiva simpan saja uangnya. Aku hanya punya satu permintaan, apa kau ingin mendengarnya?" tanya Layla sambil fokus memegang tali pengendali kuda. Tatapan matanya terarah pada jalanan yang ditimbun salju putih.
"Tentu saja, katakanlah," sahut Eisha membuka tirai yang ada di bagian depan. Tirai ini penutup tempat duduk kereta.
"Karena kau ingin mendengarnya, maka kabulkankanlah keinginanku ini, aku ingin kau buatkan aku juga boneka kaos kaki." Permintaan Layla membuat Eisha sedikit kaget, awalnya Eisha pikir, Layla akan meminta sesuatu yang lain rupanya hanya permintaan yang sederhana.
Eisha sudut bibirnya membentuk senyuman yang menawan. "Tentu saja, aku akan akan menjadikannya nyata."
"Aku sebenarnya sudah menyiapkan satu boneka khusus untukmu, warnanya aku buat sesuai dengan kesukaanmu warna kuning cerah," sambung Eisha.
Layla membawa kereta ke pinggir jalan dan menghentikan sejenak langkah kuda.
Eisha berjalan dan memberikannya pada Layla. Layla dengan senang hati menerima boneka berbentuk kucing yang lucu. Dia menyimpannya di dalam jaket yang membalut tubuhnya. "Terima kasih, Vaiva, aku pasti akan menjaganya dengan baik."
"Iya, sama-sama," sahut Eisha, kemudian kembali lagi ke tempat duduknya yang semula.
Eisha memutuskan untuk istirahat saja karena dia merasa lelah dan mengantuk.
Beberapa jam berlalu kini kereta kuda sudah memasuki jalan yang menghubungkan antara Kota Quattor dengan Kota Nanlin. Jalan tersebut berbentuk jembatan yang terbuat dari kayu. Bukan hanya kereta mereka saja yang lewat, ada beberapa kereta kuda yang lain juga.
Udara dingin berubah menjadi udara yang bersahabat. Tampak tanaman bunga-bunga yang tumbuh dengan indah di sekitar jalanan yang dilewati. Sangat berbeda dengan Kota Quattor yang tak ada bunga yang bisa tumbuh.
"Keindahannya selalu sama setiap aku datang ke Kota Nanlin," ujar Layla yang belum melepas jaket yang dipakainya. Wajahnya tampan tersenyum cerah.
"Vaiva, bangunlah! Kita sudah sampai di Kota Nanlin!" teriak Layla, kepalanya menoleh ke belakang.
"Vaiva! Kau tak mau melihat keindahan taman bunga kah? Kau bilang ingin melihatnya sampai puas," jerit Layla lagi.
Berhasil! Teriakan Layla berhasil membangunkan Eisha dari alam mimpinya. Eisha mengucek matanya sebentar dan sedikit merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku akibat posisi tidur yang salah.
Eisha pun menjawab. "Apa kau bilang tadi? Kita sudah sampai di Kota Nanlin?" ulangnya.
"Ya, kita sudah sampai, ayo keluarlah dan duduk di sebelahku agar kau bisa melihatnya dengan baik," jawab Layla.
Layla menggeser posisi duduknya, mempersilakan Eisha duduk di sampingnya.
Eisha mengedarkan pandangan ke sepanjang jalan yang mereka lewati. Kereta kuda melewati jalan tanah, di sampingnya terdapat bukit hijau yang tak terlalu tinggi. "Banyak sekali bunga di sana, apa orang sengaja menanamnya di sepanjang jalan?"
"Aku pernah bertanya pada salah satu warga, mereka bilang ada bunga yang tumbuh sendiri karena penyerbukan oleh serangga seperti lebah, dan kupu-kupu. Namun adapula yang memang sengaja ditanam," jelas Layla membuat Eisha mengangguk-angguk mengerti.
Terlihat beberapa kereta yang lain yang sedang melintas sama seperti mereka. Eisha melihat ke atas langit dan melihat ada seorang laki-laki yang mengendarai seekor singa. Kali ini singanya bukanlah singa yang biasa Eisha lihat, singa tersebut memiliki sepasang sayap seperti seekor burung. Warna bulu sekujur tubuhnya berwarna kuning.
"Eisha, singa itu?" tunjuk Eisha ke arah langit biru yang dihiasi awan-awan putih. Sekelompok kawanan burung juga sedang melintas.
"Oh, itu, biasa, singa memang bisa menjadi kendaraan tidak hanya kuda saja," jelas Layla dengan ekspresi yang biasa sambil melihat sekilas ke arah yang ditunjuk sahabatnya. Seolah pemandangan tersebut merupakan pemandangan yang sudah lumrah.
"Singa itu bukankah hewan yang buas?" tanya Eisha dengan raut wajah yang bingung. Entahlah, sepertinya dirinya yang tak terbiasa dengan pemandangan yang menurutnya baru tersebut. Oke, baiklah dirinya harus mulai membiasakan diri mulai saat ini.
"Hewan itu adalah atmanya," jelas Layla yang membuat Eisha tambah bingung.
Eisha memiringkan kepalanya ke arah Layla dengan kening yang berkerut. "Atma itu apa?" Pertanyaan itu spontan meluncur saja dari bibirnya.
"Vaiva, kau sungguh-sungguh tak tahu atau hanya ingin mengerjaiku saja?" tanya Layla dengan nada yang sedikit bercanda.
"Aku benar-benar tak tahu," ujar Eisha dengan nada yang sungguh-sungguh.
"Ingatanku menghilang," tambah Eisha.
Layla mengangguk mengerti, Eisha pernah mengatakan hal yang sama. "Atma itu pasangan kita."
"Pasangan seperti kekasih?" tanya Eisha.
"Bukan sebagai kekasih, tapi sebagai partner kita. Jiwa kita dan jiwa atma kita itu bersatu dengan suatu ikatan yang berupa simbol."
"Yang biasanya simbol itu terdapat di salah satu bagian tubuh kita. Namun tak semua tanda ikatannya berupa simbol, bisa juga berupa kalung atau mungkin cincin. Tergantung dengan atma kita sendiri bagaimana," jelas Layla panjang lebar. Eisha di tempatnya duduk mendengarkan dengan baik penjelasan Layla. Informasi tersebut sangatlah penting baginya. Mungkin saja ada kaitannya dengan cara Eisha bisa pulang ke dunianya sendiri.
"Apa aku bisa menyebutnya sebagai hewan yang kita pelihara biar aku lebih mudah memahaminya?" tanya Eisha.
Layla mengangguk. "Bisa saja asal Vaivanya mengerti."