Kasus buku sobek di dua halaman terakhir ini adalah yang pertama kalinya terjadi. Sebelumnya beberapa halaman buku digigit oleh tikus sampai kalimatnya tak kelihatan dan terpotong-potong. Buku yang ini seperti memang sengaja disobek. Yang menjadi pertanyaannya siapa yang telah menyobeknya?
Mungkin tikus yang lebih besar yang menyobeknya, pikir Ibu Nieke.
"Aku akan mencari buku yang lain saja. Ibu duduk saja di sana," ujar Eisha.
"Ya sudah Ibu ke sana," jawabnya.
Eisha bangkit dari posisi duduknya menuju ke rak-rak merapikan buku-buku yang berantakan ke tempatnya yang semula. Sebagai ucapan terima kasih karena Ibu Nieke sudah memperbolehkannya membaca buku yang ada di perpustakaan, meskipun peraturannya orang luar tidak boleh masuk ke perpustakaan.
Saat merapikan buku dia melihat ada buku yang menarik perhatiannya. Eisha menarik buku bersampul hijau dengan tulisan menjadi wirausaha muda. Dia membawa buku tersebut ke bangku tempat duduknya yang semula. Saat sedang asyik membacanya, tiba-tiba beberapa tetes air tumpah dan membasahi salah satu lembaran buku.
"Air dari mana ini?" tanya Eisha, dia melihat ke atap atas yang mungkin saja bocor.
"Atapnya baik-baik saja, tak ada yang bocor. Lalu dari mana asal airnya?"
Eisha mengingat kembali posisinya saat membaca buku tadi hanya ada tangannya yang sedang ada di atas buku tersebut. Apa mungkin air bening berasal dari tangannya? Tapi apa itu mungkin? Jika dipikir hanya itu yang paling memungkinkan.
Merasa tak ingin pusing lagi karena masalah kecil, Eisha lebih memilih untuk melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda.
Di kawasan yang sama hanya saja berbeda bagian sisi tempat saja. Layla baru saja selesai dari kelas Ibu Fely. Dia segera menuju ke gazebo tempat Vaiva menunggu sebelumnya.
"Hey, di mana dia? Dia tak mungkin nyasar 'kan?" ujar Layla menyapukan ke sekelilingnya mencari sosok gadis berambut hitam panjang yang memiliki sepasang mata hijau yang sejuk.
Layla berjalan menghampiri salah satu teman satu academy yang sedang bersama temannya. "Nina, apa kau melihat seorang gadis dengan tinggi seperti ini, matanya hijau dan rambutnya hitam panjang?"
"Maaf, aku tak melihatnya, mungkin kau bisa bertanya dengan murid-murid yang lain," sahut Nina.
Layla pun bertanya pada teman-teman yang lain. Layla berjalan menghampiri Riris, Fanjiko, Meri, dan Kevin yang sedang menyiram tanaman herbal di taman herbs. Riris, Fanjiko, Meri, dan Kevin adalah teman-teman akrab Layla sejak masuk di Qoura Academy di tahun pertama.
"Layla, kau belum pulang?" tanya Riris pada Layla dengan pandangan bertanya setelah menyerahkan alat menyiram bunga pada Fanjiko. Sebelumnya mereka bertemu di kelas Ibu Fely.
"Belum, aku sedang mencari temanku," sahut Layla.
"Teman baru? Kenapa temanmu menghilang?" tanya Fanjiko.
"Sepertinya begitu. Teman-teman bisa bantu aku mencarinya?" pinta Layla.
"Iya, baiklah kami akan membantumu."
Layla dengan dibantu empat temannya yang lain membantu mencari Eisha dengan berkeliling academy. Hingga akhirnya bertemu juga dengan Eisha yang ternyata ada di dalam perpustakaan sedang membaca buku.
Eisha menutup buku yang sedang dibacanya, lalu menatap Layla dan yang lain secara bergantian.
"Kami telah mencarimu kemana-mana, Vaiva. Rupanya kau ada di sini," ujar Layla bernapas dengan lega.
"Iya, Layla, aku tadi keliling academy. Dan akhirnya ke perpustakaan," sahut Eisha dengan jujur.
"Iya, kau harus tahu kalau kami sampai memasuki satu per satu ruangan untuk mencarimu," timpal Meri. Seorang gadis bertubuh langsing. Rambutnya lurus dan sedikit warna merah di ujungnya. Eisha membalas dengan tersenyum.
"Layla kau tak mengenalkan kami dengan teman barumu," sahut Riris yang berdiri di samping Layla.
"Iya nih, Layla. Kenalkan kami juga," tambah Fanjiko. Seorang laki-laki berambut kuning.
"Oh, iya, Riris kenalkan ini Vaiva. Vaiva ini adalah Riris temanku."
Eisha berkenalan dengan teman-teman Layla satu per satu secara bergantian. Eisha mengenalkan namanya sebagai Vaiva sama seperti pada Layla, tak mungkin dia mengenalkan nama yang berbeda. Menurut Eisha teman-teman Layla baik semua dan ramah.
Setelah itu Layla dan Eisha pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan Layla menceritakan tentang semua teman-temannya pada Layla. Mereka duduk berdampingan di dalam kereta, dengan seorang pengendali kuda yang mengendalikan jalannya kuda.
"Bagaimana pandangan pertamamu tentang mereka?" tanya Layla pada Eisha.
"Mereka semua baik," ujar Eisha.
"Hanya itu?" tanya Layla kembali. Eisha mengangguk.
"Apa kau tak merasa bahwa Fanjiko ada rasa suka denganmu?"
"Tidak biasa saja," jawab Eisha menggeleng.
"Masa? Aku sudah berteman dengannya selama tiga tahun, belum pernah melihatnya melihat seorang gadis seperti memandangmu tadi," jelas Layla.
"Dia hanya menganggapku sebagai temannya tak lebih."
"Baiklah, kita tak membahas itu lagi. Apakah kau ingin sekolah di tempatku? Kau juga sudah melihat fasilitas yang ada dan ada kelas apa saja," ujar Layla.
Eisha tidak langsung menjawab, dia sedang berpikir.
Kalau aku sekolah di Qoura Academy, pasti memerlukan banyak biaya. Aku tak mau merepotkan Layla dan Nenek Jasmine. Cukup sudah memberatkan makan dan minum, aku tak mau menambah beban lagi, pikir Eisha dengan bijaksana.
"Aku tak berminat sekolah di Qoura Academy," sahut Eisha pada akhirnya.
"Kenapa?" tanya Layla. Dia merasa sedikit kecewa karena Eisha tak mau bersekolah di tempat yang sama.
"Karena aku merasa tak cocok saja di bidang menjahit pakaian," jelas Eisha dengan raut wajah yang meyakinkan. Semoga saja tak kelihatan kalau dia sedang berbohong.
"Baiklah, aku mengerti."
***
Saat ini Eisha sedang membantu Layla merapikan benang yang berlebihan di pakaian yang baru saja selesai dengan mengguntingnya. Eisha segera merapikan pakaian yang sudah rapi ke dalam kotak.
Layla dan Eisha pamit pada nenek Jasmine terlebih dahulu sebelum berangkat. Semua kotak yang berisi pakaian sudah dinaikkan ke atas kereta.
Kereta kuda bergerak dengan kecepatan sedang membentuk jejak di atas tanah yang dilapisi salju. Salju tak pernah tidak turun. Eisha mengeratkan jaket yang dipakainya. Saat bernapas keluar asap putih.
Eisha membuka sedikit tirai jendela yang menampilkan pemandangan hutan yang ditutupi tumpukan salju putih. Beberapa hewan seperti rusa dan kelinci terlihat sedang berjalan dengan riang.
"Saat kita sampai di Kota Nanlin, kita bisa melihat pemandangan alam yang lebih indah," ujar Layla sambil makan kacang rebus.
Suara sepatu kuda berjalan di atas tanah bersalju ikut terdengar.
"Aku tak sabar melihatnya, pasti di sana ada banyak bunga-bunga beragam jenis yang sedang mekar."
"Benar sekali. Aku akan memetik beberapa tangkai bunga untuk dibawa pulang nanti," sahut Layla.
"Layla, apa bunganya bisa tumbuh di musim dingin?" tanya Eisha yang penasaran. Karena di kota quattor tak ada tanaman bunga yang bisa tumbuh dan berkembang.
"Aku dengar ada bunga yang bisa bertahan saat musim dingin," sahut Layla.