Chapter 11

1047 Words
"Baiklah, aku masuk saja dulu nanti aku baru bilang," ujar Eisha melepaskan sepatu boot yang dipakainya di depan pintu masuk. Saat kaki melangkah masuk ke dalam, aroma buku yang khas tercium, membuat Eisha tersenyum. Ya, Eisha suka dengan aroma buku. Deretan rak-rak dibariskan dengan rapi, di setiap rak ada label yang menuliskan genre buku yang ada di sana. Rak-rak terbuat dari kayu dengan ukuran tinggi sekitar tiga meter. Eisha menghampiri salah satu rak dan mencari kategori yang sedang dicarinya. Dia membuka satu per satu buku dengan teliti, Eisha sedang mencari buku yang bisa mengembalikan ingatannya yang melarikan diri. "Haduh, apa di perpustakaan ini memang tak ada bukunya, ya?" ujar Eisha dengan wajah yang berpikir, tangannya terus menyingkap satu per satu buku tebal yang sedikit berdebu. Beberapa kali Eisha terbatuk karena debu. Seorang wanita terbangun dari tidur singkatnya mendengar suara berisik yang berasal dari salah satu rak. "Siapa itu?" pikirnya. Dia melihat ke arah pintu masuk perpustakaan yang memang lupa ditutupnya karena ketiduran. Dia kebosanan, tak ada murid yang harus dilayani mencari buku. Merapikan pakaian oranyenya dia bangkit dari posisi tidurannya, menstabilkan dulu tubuhnya, baru berjalan menghampiri sumber suara. Takut ada kucing nakal yang akan merusak buku di perpustakaan. "Kau rupanya?" ujar Ibu Nieke sambil menyentuh bahu Eisha. Eisha segera menoleh dan mendapati seorang wanita tengah menatapnya dengan pandangan bertanya. "Oh, maaf Bu, aku pikir tadi tak ada orang, soalnya aku cari-cari tadi tak ada," jelas Eisha. Ibu Nieke menilai penampilan gadis di hadapannya. Tampak asing di matanya, sebelumnya dia tak pernah melihat ada murid yang secantik anak perempuan itu. "Kau murid baru?" tanyanya menebak. Eisha tersenyum, senyumannya tampak menawan, dia menggeleng pelan. "Bukan, Bu." "Lalu mengapa bisa masuk ke sini?" tanya Ibu Nieke memasang wajah berpikir. "Aku ke sini bersama temanku Layla, Bu. Dia adalah murid di Quora Academy," jelasnya. Ibu Nieke mengangguk mengerti. "Oh, Layla, aku tahu dengan Layla, dia sering datang ke perpustakaan untuk meminjam buku." "Ah, ternyata dia anak yang rajin." "Sebenarnya yang bukan murid di sini tak boleh ke perpustakaan," ujarnya sambil menatap wajah Eisha yang sedikit khawatir. "Tapi tak apalah aku kecuali kan untukmu seorang, karena Layla sering membantuku merapikan buku-buku yang berantakan habis dipinjam murid lain," ujarnya membuat Eisha mengembuskan napas lega. "Terima kasih, Ibu Nieke," ujar Eisha sambil melihat name tag yang terletak di da da kanan. "Sama-sama, anak cantik," sahut Ibu Nieke membalas senyuman Eisha. "Mau Ibu Nieke bantu mencari bukunya?" tawar Ibu Nieke. "Boleh, Bu, kalau Ibu tak merasa keberatan." Jika penjaga perpustakaan yang mencari dia tak menghabiskan banyak waktu untuk mencarinya, Ibu Nieke pasti lebih hafal di mana letak buku yang sedang dicari. "Oh, tidak keberatan sama sekali, anak cantik. Ibu malah dengan senang hati akan membantu," sahut Ibu Nieke. "Apa judul buku yang ingin dicari?" tanya Ibu Nieke. "Cara mengembalikan ingatan yang hilang," ucap Eisha. "Ibu akan mengambil buku catatannya terlebih dahulu. Tunggulah sebentar." "Iya, Bu." Ibu Nieke mengambil buku catatan yang ada di atas meja. Dia membawanya ke meja terdekat dan mencarinya bersama Eisha. Di buku tersebut tercatat ratusan buku yang ada di dalam perpustakaan Qoura Academy. "Belum ketemu juga," ujar Ibu Nieke. "Sepertinya ini bukunya." Ibu Nieke melihat ke baris buku yang ditunjuk Anak Cantik. "Oh, iya, benar ini, mari kita lihat lebih dekat, Mengembalikan Kembali Ingatan Yang Pudar ada di rak nomor enam tingkatan kelima. Tingkatan lima berarti ada di tingkatan yang paling atas." "Anak Cantik, pegang dulu sebentar bukunya. Ibu ambil tangganya." Eisha mengangguk, dan memegang buku catatan tersebut. Berselang lima menit, Ibu Nieke membawa tangga dari gudang yang ada di dalam perpustakaan. Eisha membantu meletakkan tangga ke depan rak nomor enam dari depan. "Anak Cantik, kau bisa naik ke atas 'kan?" tanya Ibu Nieke. Dia bukannya tak mau membantu mengambilnya, dia takut dengan ketinggian dia beberapa tahun pernah jatuh dari tangga. Ibu Nieke trauma takut jatuh lagi. "Iya, Bu, bisa. Ibu tolong pegang yang kuat tangga bawah ya," pinta Eisha sebelum naik ke atas tangga. "Hati-hati!" pesan Ibu Nieke. Eisha berdiri dengan hati-hati di atas tangga yang paling atas. Mata dan tangannya bergerak mencari buku yang sedang dia cari. Eisha menarik buku bersampul ungu tua dari barisannya. "Sudah, Bu, bukunya sudah ditemukan. Aku akan turun sekarang." Dengan perlahan Eisha turun dari tangga dengan hati-hati. Eisha membawa buku yang diambilnya dan membacanya di meja yang menurutnya paling nyaman. "Anak Cantik, Ibu ke sana, nanti kalau ada butuh sesuatu kasih tahu saja Ibu," pesan Ibu Nieke. "Iya, Bu," jawab Eisha singkat. Dia terlalu fokus membaca buku yang dicarinya. Buku bersampul ungu tua dengan tulisan judul berwarna putih dicetak huruf kapital. Tangan Eisha membuka lembaran isi bukunya. Buku tersebut termasuk tipis jika dibandingkan dengan buku yang lain. Semoga saja aku bisa menemukan cara agar ingatanku seutuhnya kembali, batin Eisha sangat berharap. Eisha membaca dengan teliti dan memahami setiap kata dan kalimat yang tertera di dalam buku. Dia mengambil selembar kertas dan pena bulu angsa yang ada di atas meja yang tersedia, lalu menyalin bahan-bahan yang dibutuhkan. Saat dua lembar terakhir halaman buku, ternyata tak ada sambungannya lagi. Eisha melihat lebih dekat di buku, rupanya ada bekas sobekan dua halaman di sana. Seperti ada yang sengaja melakukannya agar Eisha tak bisa mengingat memorynya yang hilang. "Bagaimana ini? Kalau tak ada lembar selanjutnya obat ini tak bisa juga aku buat," ujarnya. Tak mungkin membuat ramuan obat hanya dengan setengah bahan-bahan yang diketahui, ujung-ujungnya nanti bukan obat mengembalikan ingatan yang hilang malah menjadi obat pelumpuh ingatan, 'kan tidak lucu? "Siapa sih yang kurang kerjaan, membuang dua halaman terakhir?" ucap Eisha dengan kesal. Sudah susah mencari malah waktunya terbuang dengan sia-sia saja. "Mana bukunya hanya tersisa satu pula," sambung Eisha. "Kenapa Anak Cantik? Kelihatan kesal begitu?" tanya Ibu Nieke sebelumnya Anak Cantik dengan semangat membaca buku yang dia cari, sekarang jadi tak bersemangat. Eisha menoleh menatap Ibu Nieke dengan wajah yang kecewa. "Dua lembaran terakhir entah hilang ke mana?" lapornya. "Bagaimana mungkin? Coba Ibu lihat dulu." Ibu Nieke melihat bukunya dan memang dua lembarnya menghilang. Pantas saja Anak Cantik kecewa. "Jangan sedih, masih ada buku yang lain yang bisa dibaca," hibur Ibu Nieke sambil mengusap punggung Eisha. "Bagaimana jika Ibu ambilkan buku tentang meningkatkan kekuatan sihir? Biasanya buku itu yang paling dicari sama murid-murid di sini. Atau mungkin cara menjahit pakaian mode terbaru sekarang?" Ibu Nieke berusaha agar Anak Cantik tak merasa sedih lagi. Eisha menggeleng, tidak mau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD