Seorang laki-laki dengan perlahan mendarat ke tanah bersalju dengan gerakan yang elegan. Dia sempat mendengar percakapan antara Eisha dengan dua penjaga pintu gerbang masuk.
"Aku setuju dengan dia," sahut suara seseorang. Eisha menoleh mencari sumber suara yang satu pendapat dengannya. Dahinya mengernyit saat melihat seorang laki-laki muda berdiri dengan jarak dua meter darinya. Pakaian seragam biru tua membalut tubuh laki-laki muda tersebut. Rambut hitam panjangnya sebagian dikuncir dan sebagiannya lagi terurai. Sebuah tanda pengenal disampirkan di pinggangnya.
Kedua penjaga gerbang serempak membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan Muda!" sapa keduanya dengan nada ramah, berbeda sekali ketika berbicara dengan Eisha.
Dasar menyebalkan, batin Eisha berdecak kesal.
Murid-murid yang lain yang baru datang serempak memberikan hormat, begitu juga dengan Layla. Layla memberikan tanda agar Eisha ikut memberi hormat. Eisha pun ikut memberi hormat, walaupun dia tak tahu kenapa harus memberi hormat dan apa kedudukan laki-laki tampan tersebut?
Laki-laki berwajah tampan dan berkulit putih tersebut memberikan tanda agar mereka berdiri kembali.
"Apa ini yang diajarkan oleh Qoura Academy?" tanya laki-laki tersebut bertanya dengan tenang menatap secara bergantian dua penjaga gerbang yang usianya lebih tua darinya.
Eisha mencuri pandang melihat wajah laki-laki tersebut. Siapa dia? pikirnya.
"Tuan Muda, kami hanya menjalankan perintah saja," ucap pria yang lebih tua membela diri.
"Sudahlah, kalian kembali bekerja saja," ucap Tuan Muda tampan.
"Terima kasih, Tuan Muda."
"Terima kasih atas bantuannya Tuan Muda Ghaisan," ujar Layla dengan sopan. Laki-laki tersebut mengangguk pelan.
Tuan Muda Ghaisan siapa? batin Eisha yang kebingungan.
"Vaiva, cepat ucapkan terima kasih." Layla memberi kode.
"Terima kasih sudah membantuku," sahut Eisha beberapa saat kemudian. Yang dijawab anggukan Tuan Muda Ghaisan.
Ketiganya berjalan berdampingan masuk ke Qoura Academy. Di halaman Qoura Academy tumbuh bunga-bunga putih yang kebetulan sedang mekar dengan indahnya.
"Sangat langka bisa melihat bunga mekar saat musim salju," komentar Eisha sambil menatap bunga-bunga putih.
"Aku harap kalian tak merasa tersinggung dengan sikap dua orang penjaga gerbang tadi," ucap Tuan Muda Ghaisan secara tiba-tiba. Kipas berlukiskan hutan bambu dikipaskan di tangannya dengan gerakan yang elegan.
Eisha mengangguk. "Iya, tidak apa-apa, Tuan Muda. Aku tahu mereka hanya sedang menjalankan tugas menjaga keamanan," sahutnya.
"Kau ingin masuk ke Qoura Academy?" tanya Tuan Muda Ghaisan menatap gadis yang berdiri di sampingnya.
Eisha pun menggeleng. "Aku hanya ingin melihat-lihat di dalam Qoura Academy. Kebetulan aku diajak oleh temanku Layla."
Ghaisan mengangguk mengerti. "Siapa namamu?" tanyanya.
"Panggil saja Vaiva," jawab Eisha tersenyum.
"Salam perkenalan dari Tuan Muda Ghaisan. Jika kau berubah pikiran kau bisa beritahu aku, aku pasti akan membantumu," tawar Ghaisan dengan senyuman yang menawan.
Eisha mengangguk mengiakan. "Terima kasih atas tawarannya Tuan Muda Ghaisan," sahutnya dengan sopan.
"Kalian bebas berkeliling academy. Aku pamit undur dulu ada pekerjaan yang harus aku lakukan," pamit Ghaisan, lalu meninggalkan Eisha dan Layla berdua.
Selepas Ghaisan pergi, Eisha langsung bertanya pada Layla. "Layla, dia tadi itu siapa?" tanyanya dengan wajah yang penasaran.
Layla menoleh pada Eisha. "Dia adalah Tuan Muda Ghaisan. Putra dari pemilik Qoura Academy. Jadi, saat berbicara dengannya kita harus sopan."
"Iya, aku tahu Layla. Dia putra dari keluarga bangsawan?" tanya Eisha lagi. Dia masih penasaran. Eisha bisa menebak karena melihat tingkah laku dan pakaian yang dipakai Tuan Muda Ghaisan yang tidak biasa. Rakyat biasa mana mungkin punya pakaian sebagus itu bukan?
"Benar, dia termasuk keluarga bangsawan yang ada di wilayah kerajaan harvy. Semua orang di Quora Academy menghormatinya."
"Ouh, pantas saja. Kedua penjaga gerbang tadi tak berani menjawab omongan saat Tuan Muda menegur mereka," sahut Eisha. Dia masih ingat bagaimana wajah dua penjaga gerbang yang ketakutan saat dimarah Ghaisan.
"Oh, ya, Vaiva, baru kali ini aku bicara langsung dengan Tuan Muda Ghaisan. Ternyata dia adalah orang yang baik dan ramah seperti orang-orang katakan," puji Layla dengan senyuman. Dia selama sekolah di Qoura Academy hanya mendengar tentang Tuan Muda Ghaisan lewat teman-temannya. Tak jarang pula murid perempuan yang jatuh hati pada Tuan Muda Ghaisan pada pandangan yang pertama.
"Aku pun sependapat denganmu Layla. Dia sepertinya laki-laki yang baik dan tahu tata krama serta tahu cara menghormati orang lain. Tak heran jika para gadis menginginkannya sebagai pasangan mereka," jawab Eisha. Gadis itu melihat murid-murid perempuan yang lain yang curi-curi pandang menatap Tuan Muda Ghaisan, bahkan beberapa salah tingkah. Sampai Eisha rasanya mau tertawa karena tingkah laku murid-murid perempuan.
Layla membawa Eisha ke depan ruang kelas pakaian. Di sana para murid perempuan duduk di bangku masing-masing dan di atas meja terdapat kain, benang, gunting, dan alat-alat yang dibutuhkan. Pakaian kuning cerah membalut tubuh para murid perempuan.
Guru yang ada di depan sedang sibuk menjelaskan cara membuat pakaian yang menarik dan laku di pasaran.
"Aku ingin istirahat sebentar, Layla," pinta Eisha yang kakinya merasa lelah, dia memukul kakinya beberapa kali yang terasa pegal.
"Kita istirahat di sana saja, di sana lagi kosong," tunjuk Layla.
Eisha duduk di kursi batu yang kosong begitu juga dengan Layla. Posisi gazebo ini ada di dekat kolam ikan. Di sana ada banyak ikan di dalamnya yang sedang berenang. Bunga teratai ikut menghias di atas kolam ikan.
"Aku baru jika sadar di dalam Qoura Academy tak ada salju yang bertumpuk seperti di luar," ujar Eisha sambil memandangi pohon bunga yang mekar dengan cantiknya. Dia melepaskan jaket wol yang dipakainya dan meletakkannya di kursi di sebelahnya. Rasanya lega tak memakai jaket wol.
"Hanya di sini saljunya tak menutupi. Aku sering menghabiskan waktu di gazebo sambil menikmati keindahan bunga-bunga yang mekar."
"Hanya di sini kita bisa melihat tanaman dan bunga yang tak bisa dilihat di luar. Maka dari itu kita harus puas melihatnya."
"Aku yakin pasti di atas Qoura Academy ini ada sesuatu yang membuat salju tak masuk ke dalam," ujar Eisha bangkit dari posisi duduknya, dia melihat ke atas dan dia bisa melihat ada kekuatan sihir transparan yang melindungi.
"Kau melihat mantra pelindungnya?" tanya Layla yang ikut berdiri di samping Eisha. Gadis itu juga ikut melihat ke arah yang dilihat Eisha.
Eisha mengangguk. "Iya, aku bisa melihatnya," jawabnya.
Tiba-tiba Layla teringat sesuatu. "Vaiva, aku tinggal dulu ke kelas. Aku baru ingat kalau hari ini ada kelas Ibu Fely," izin Layla.
"Iya, pergilah ke kelasmu nanti kau bisa terlambat," sahut Eisha.
"Vaiva kau tak apa-apa 'kan aku tinggal selama kelasku berlangsung?" tanya Layla lagi, dia sambil menggendong tasnya yang terbuat dari bahan wol.
"Serius tidak apa-apa, aku tak akan kemana-mana, aku akan menunggu di sini," ujar Eisha meyakinkan.
"Baiklah, kalau begitu, aku ke kelas dulu," pamit Layla.
"Hati-hati, Layla!"
Eisha mendaratkan bokongnya ke atas kursi yang semula didudukinya. Dia menyapukan pandangan ke sekitar tak ada murid-murid yang berjalan-jalan. Tak ada teman yang bisa diajak untuk berbicara. Eisha mengembuskan napas bosan. "Huh, baru sebentar saja aku sudah merasa bosan. Pasti masih lama Layla pulangnya. Selama itu aku ngapain, ya? Tak mungkin hanya duduk menunggu saja," ujarnya.
Eisha membawa jaket wolnya. Dia berjalan menyusuri jalan setapak yang ada. "Qoura Academy ternyata luas juga," komentarnya sambil memandang bangunan yang masih tampak bagus dan terawat.
Langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan perpustakaan. Pintu masuknya kebetulan sedang terbuka. Suasana hening dan damai, hanya ada kicauan suara burung yang sedang berada di kandangnya.
Eisha berjalan masuk ke dalam perpustakaan yang kosong dan sepi, tak ada orang. "Di mana orangnya?" ujarnya mencari ke sekitar.