Chapter 24

1039 Words
"Rubah merah harusnya kau beri tahu aku dulu kalau mau bawa aku," keluh Layla saat dia sudah sampai di tepi. Rubah merah tak menjawab, tanpa kata dia dia berjalan pergi dari sana. "Dia malah pergi tanpa menjawab," ucap Layla sambil melihat ke arah rubah merah yang sekarang melompati bebatuan. "Layla, bagaimana keadaanmu? Aku sangat khawatir padamu," ujar Eisha sambil berjalan menghampiri Layla. Layla beralih menatap Eisha yang wajahnya khawatir. "Aku baik-baik saja." Dia berkata begitu agar Eisha tak khawatir. Namun nyatanya Eisha masih khawatir. "Layla, kau bohong denganku, tubuhmu penuh dengan luka," ujarnya sambil menunjuj kulit Layla yang penuh dengan luka goresan dan cakaran. Dia menatap miris dan tak tega pada Layla. Jika saja Eisha punya kemampuan sihir yang baik, dia pasti bisa melindungi Layla. "Tapi kita tak bisa istirahat di sini, terlalu berbahaya, kita bisa saja menemui hal yang menakutkan," sambung Eisha menyapukan pandangan ke sekitar. Dia harus mempertimbangkan yang mana yang lebih baik. Layla mengangguk setuju atas saran Layla, tubuhnya memang sudah sangat lelah dan sakit Kedua gadis itu kemudian melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Luka Layla diobati seadanya saja. Layla merasakan tubuhnya sakit dan tidak enak, tapi dia menahannya karena tak ingin mengganggu perjalanan Vaiva. Tak terasa mereka sampai juga di Kota Yulan. Mereka sampai pada waktu sore, sebentar lagi matahari akan hilang sepenuhnya dari langit. Setelah melewati gerbang dengan pemeriksaan surat izin sama seperti saat di Kota Nanlin, mereka memilih menginap di penginapan terdekat bernama penginapan teratai. Penginapan ini merupakan penginapan yang terkenal dengan harganya yang murah dibandingkan dengan tempat penginapan yang lain. Pelayan mengantarkan Eisha dan Layla ke kamar penginapan. Di dalam kamar penginapan terdapat dua buah ranjang. Isinya sama seperti penginapan di kota yang lain. Hanya saja letak perbedaanya terletak pada interior dan bentuknya saja. Eisha membantu membawa Layla ke kamar penginapan. Setelah meletakkan barang dan Layla. Eisha pun naik ke atas keranjang dan membiarkan tubuhnya untuk istirahat sejenak. Tubuhnya juga rasanya pegal. Sementara itu Layla bangkit dari posisi telentang di atas ranjang. Dia memposisikan diri bersila, dia harus mengisi kembali kekuatan sihirnya yang banyak berkurang. Setelah satu hari beristirahat, Eisha menyiapkan barang-barang yang dibutuhkannya untuk pergi ke istana. Keduanya berangkat dengan menaiki seekor kuda. Eisha dengan perlahan turun dari punggung kuda, dengan diikuti Layla. Kuda mereka berhenti tepat di depan gerbang istana kerajaan harvy. Istana ini bukanlah istana yang utama, melainkan istana yang ukuran paling kecil dibanding ukuran istana yang lain. Di sekitar ada banyak gadis dan wanita yang baru datang. Rupanya banyak yang tertarik mendaftar menjadi pelayan istana. Pelayan istana tingkatannya lebih tinggi dibanding dengan pelayan dari keluarga biasa. Meskipun begitu status pelayan, tetaplah pelayan. "Semangat Vaiva, semoga tujuanmu berhasil!" ujar Layla memberikan semangat seraya mengangkat tangannya. "Iya, terima kasih atas ucapan selamatnya." Eisha tersenyum yang menampilkan dua lesung pipit di pipinya. "Sama-sama, Vaiva. Aku pergi dulu ingin istirahat. Nanti kalau urusanmu sudah selesai beri tanda padaku, ya," pesan Layla. "Baiklah, aku mengerti Layla. Kau bisa pulang." Sebelum pergi Layla pamit terlebih dahulu dengan Eisha. Eisha masuk ke istana yang letaknya terpisah dari bangunan istana yang lain, dia mendaftar ke bagian pendaftaran. Terlihat barisan antrean yang panjang untuk mendaftar sebagai pelayan. Beberapa alasan banyak gadis yang mendaftar menjadi pelayan, memiliki kemungkinan untuk bertemu dengan keluarga kerajaan, kemungkinan diangkat menjadi gundik atau selir. Tentu saja hal itu merupakan keberuntungan para pelayan bila diangkat sebagai pelayan kaisar. Kaisar Kerajaan Harvy memiliki beberapa istri, yang statusnya sebagai permaisuri, selir, gundik, dan pelayan. Hal itu tak heran lagi karena seorang kaisar harus memiliki banyak keturunan. Akhirnya tiba juga giliran Eisha setelah lama menunggu. "Nama?" tanya petugas sambil tangannya memegang kuas. Di atas meja ada alat penggiling tinta. Seragam merah dan putih membalut tubuhnya, dia sedang duduk dengan nyaman. "Eisha Vaiva Nafeda." "Alamat rumah?" tanya petugas sambil menatap wajah Eisha. "Jalan Naskah Satu, Perumahan Permata Permai, Blok A5, No. 2, Kota Quattour," sahut Eisha. Dia sudah meminta izin sebelumnya dengan Layla untuk menggunakan alamat rumah Layla dan nenek Jasmine. Dan petugas menanyakan beberapa pertanyaan yang lainnya. "Oke, baiklah kau bisa pulang sekarang. Ingat besok pagi datanglah jam sembilan pagi dengan pakaian yang rapi. Oh, ya jangan lupa membawa token ini." instruksi petugas, dia memberikan sebuah token yang bertuliskan nama nama Eisha. Token tersebut adalah bukti bahwa Eisha telah mendaftar sebagai pelayan. Dia juga tak bisa masuk jika tak ada token tersebut. Jadi, token tersebut sangatlah berharga. Dia mengangguk mengerti sambil mengucapkan kata terima kasih. Eisha berjalan menuju ke arah taman. "Maaf, Nona, di mana letak kamar kecil?" tanya Eisha pada salah satu pelayan wanita yang kebetulan lewat. "Oh, kamar mandinya letaknya ada di sana, " tunjuk perempuan tersebut pada salah satu ruangan yang terletak di dekat taman istana yang luas. "Terima kasih sudah menunjukkan." Eisha terkagum dengan interior di istana yang sangat indah dan mewah. Di salah satu dinding istana terdapat gambar dan ukiran tetang naga dan phoenix, serta beberapa gambar yang lainnya yang tak kalah bagus. Rerumputan di istana tumbuh dengan rapi dan tertib tak seperti rumput yang tumbuh di luar istana. Para bunga tumbuh dengan baik dan terawat, di istana ada pelayan yang khusus merawat bunga-bunga milik keluarga kerajaan. Aroma campuran bunga membuat pikiran Eisha menjadi lebih rileks dan tenang. "Woah, taman istana memang sangat luas dan bagus. Tapi seluas ini dimana aku bisa menemukannya?" Eisha bermonolog bicara dengan dirinya sendiri. "Baiklah, karena aku sudah melihatnya, lebih baik aku melihat bunga-bunga terlebih dahulu." Eisha berjalan lebih dekat menghampiri taman bunga. Aroma semerbak semakin tercium. Eisha kemudian teringat dengan tujuan dia mendaftar. Dia harus segera mencari di mana letak perpustakaan kerajaan harvy. Karena tak tahu di mana letak perpustakaan berada. Eisha malah tersesat dan malah melihat ruangan dapur kerajaan. Aroma masakan dan suara koki yang sedang memasak pun terdengar. Kebetulan salah satu jendela sedang terbuka, Eisha melihat dari sana. Di dalam ada seorang laki-laki bertubuh gemuk berisi yang sedang memasak, tubuhnya dibalut celemek hitam yang sedikit kotor oleh masakan. Tangan kananya memegang pisau dapur, sayuran hijau tampak melayang di udara. Pria tersebut mengeluarkan kekuatan sihirnya dan kekuatannya itu memotong sayur-sayuran menjadi lebih kecil. Begitu juga dengan ayam. Pria yang sama membawa sayuran dan ayam yang sudah dipotong ke dalam kuali ukuran besar. Dia mengeluarkan kekuatan sihirnya untuk membuat api. Oh, ini ternyata salah satu fungsi memiliki kekuatan sihir? Untuk membantu pekerjaan sehari-hari rupanya, batin Eisha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD