Chapter 25

1121 Words
Akan sangat menyenangkan jika aku memiliki kekuatan sihir, pikir Eisha berkhayal. Di dalam khayalannya dia bisa terbang dengan bebas di langit biru, di antara awan-awan sambil menikmati pemandangan yang indah dan menawan. Membayangkan hal tersebut membuatnya tak sadar tersenyum sendiri, dan tak sadar jika kepalanya mundur ke belakang terantuk jendela. "Aduh!" ucapnya mengaduh kesakitan, mengusap kepala bagian belakang. "Siapa itu?" Dia meletakkan pisau dapur di atas meja dengan tergesa sebelum berjalan keluar dari ruangan dapur mencari sumber suara. Mampus, aku harus segera pergi dari sini sebelum ketahuan, batin Eisha yang ketakutan. Jantungnya berdetak dengan kencang. Eisha hendak melangkah pergi dari depan ruang dapur istana saat dirasakannya kakinya tak bisa bergerak seolah ada perekat di sana. "Kaki kenapa kau tak bisa bergerak? Kau tahu kan kalau nyawaku bisa saja dalam bahaya," omel Eisha, dia terus berusaha agar bisa menggerakkan kakinya, tapi tetap saja tak bisa. Kakinya berjalan di tempat. "Kau mau ke mana pengintip?" ucap suara seorang laki-laki membuat Eisha menoleh ke belakang dan mendapati bapak koki gemuk yang dilihatnya beberapa saat yang lalu sedang berkacak pinggang menatap lekat Eisha. Sebelah tangannya mengeluarkan kekuatan sihir untuk menahan langkah kaki Eisha. Aduh, bagaimana ini? Apa dia akan memberitahuku pada pihak kerajaan kalau aku mengintip dia yang sedang masak tanpa izin, batin Eisha yang ketakutan. "Aku.. aku... tak ke mana-mana, Pak," jawab Eisha yang menunduk takut. "Kau ingin berbuat sesuatu yang buruk, ya, sehingga mengintipku sedang masak?" Koki bertubuh gemuk langsung menuduh Eisha. Eisha yang tak merasa ingin melakukan hal yang jahat segera menggeleng. "Tidak, Pak, aku hanya ingin melihat saja, karena aku lihat keahlian Bapak dalam memasak sangatlah bagus, aku jadi kagum saat melihatnya," jelasnya. Pria bertubuh gemuk, topi putih khas koki menghiasi di atas kepalanya yang bulat. Rambutnya hitam. "Hahaha, kau pandai sekali memujiku, gadis kecil. Kemampuanku dalam memasak memang yang paling terbaik di sini. Tapi walaupun kau memujiku dan membuatku senang, tetap saja aku harus menyelidiki apa yang hendak kau lakukan di dapur kerajaan." Di sinilah Eisha berada, dua orang perempuan dan satu orang laki-laki mengelilingi Eisha. Seakan takut gadis muda itu akan melarikan diri dari ruangan yang hanya berukuran empat kali meter. Eisha mengembuskan napas. Dia dipaksa untuk duduk di kursi yang berada tepat di tengah ruangan. Di dalam ruangan tak banyak barang yang mengisi sepertinya ini adalah ruangan untuk istirahat. Harusnya aku tak mengintipnya saat sedang masak, batin Eisha sedikit menyesal. Namun apa boleh buat semuanya sudah terlanjur. "Katakan apa yang ingin kau lakukan dengan mengintip koki Ghio masak?" tanya seorang wanita yang tubuhnya ideal, pakaian hijau kecoklatan bertanya pada Eisha. Rambutnya dicepol ke atas memakai kain hijau. "Aduh, sudah aku katakan, kalau aku hanya kebetulan lewat, dan tak sengaja tertarik dengan keahlian koki," jelas Eisha dengan jujur. Dia menatap secara bergantian ketiga orang yang masih menatapnya seolah Eisha adalah tersangka kejahatan. "Jangan percaya dengannya, gadis kecil ini pasti punya rencana yang buruk, jika tidak kenapa dia mengintipku secara sembunyi," sahut koki yang ternyata bernama Ghio dengan menunjuk Eisha. "Koki, kenapa ucapanmu menyudutkan aku? Tunggu sebentar, apa aku terlihat seperti seorang penjahat yang ada di luar sana?" tanya Eisha sambil menunjuk dirinya sendiri. Dia merasa heran dengan tingkah para pekerja di kerajaan harvy, yang terlalu curiga terhadap orang luar. Koki bertubuh gemuk dan rambutnya hitam ikal pun tertawa. "Aku sudah sering melihat seorang gadis yang tampaknya baik dari luar, ternyata punya maksud yang jahat kepada keluarga kerajaan." Laki-laki tersebut mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Bagaimana pun juga makanan untuk keluarga kerajaan harus terjaga kualitas dan mutunya, serta bebas dari racun." "Iya, aku tahu, tapi Koki tak boleh sembarang menuduhku yang tidak-tidak," ucap Eisha tak terima. Rasa takut di dalam dirinya tiba-tiba menghilang. "Jangan mengelak! Aku tahu kau pasti orang suruhan kerajaan musuh!" jawab Koki masih dengan wajah yang tak bersahabat. Eisha berusaha untuk menahan dirinya agar emosinya tak meledak dan menyebabkan masalah yang baru. Dia sudah tak ingin mendengar kata-kata yang menurutnya tak masuk akal. "Aku adalah orang baik, jangan asal menuduh!" ucapnya dengan nada meninggi. Situasi yang kian tegang, wanita yang lain yang sepertinya lebih muda dari wanita satunya pun akhirnya ikut bicara untuk mengakhiri debat yang tidak ada gunanya. "Sudah, daripada terus berdebat seperti ini. Bagaimana jika kita buktikan saja ucapan gadis kecil ini," ujarnya memberikan jalan tengah yang menurutnya yang paling terbaik dan juga adil. Dia juga merasa kasihan pada gadis kecil itu umurnya mungkin sekitar seratus delapan puluh tahun, bahkan tua putri kandungnya. Dia merasa gadis cantik berambut hitam dan bermata hijau adalah gadis yang baik. "Iya, Bibi, aku juga setuju dengan yang bibi ini katakan. Kalau tak percaya silakan saja periksa, apakah di tubuhku ada benda yang sekiranya membahayakan atau tidak," ucap Eisha berusaha untuk memberanikan diri, tentu saja dia harus berani, ini menyangkut tentang hidup dan mati dirinya. Sangat tidak lucu, jika dia kehilangan nyawa atas tuduhan yang tidak benar. "Baiklah, jika kau yang meminta gadis kecil, " respon wanita yang lebih tua dari wanita yang satunya. Rambutnya berwarna biru senada dengan warna matanya. Dan pakaian hijau kecokelatan membalut tubuhnya yang berisi. Wanita berambut biru bergerak memeriksa dari atas sampai ke bawah tubuh Eisha dengan teliti, tak melewatkan satu bagian apapun. Dan dia tidak menemukan apapun yang mencurigakan dan membahayakan. Mungkinkah hanya kesalahpahaman? "Bagaimana Bibi? Tidak menemukan yang mencurigakan 'kan? Kalau begitu, aku bisa pergi dari sini," ucap Eisha dengan santai dan tenang, dia berkata sambil melihat ke arah Koki Ghio yang kini tak bisa bicara lagi. "Nona, kau boleh pergi, dan maafkan Paman Ghio yang telah menuduhmu. Dia hanya khawatir dengan keselamatan keluarga kerajaan," jelas Bibi yang lebih muda. Eisha tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, aku tak akan mempermasalahkannya lagi. Kalau begitu aku pergi dulu!" pamitnya sebelum berjalan melangkahkan kaki dari dalam ruangan yang sempit meninggalkan ketiga orang dewasa. *** Eisha akhirnya bisa menemukan di mana letak perpustakaan setelah berputar mencari. Rasa pegal kakinya pun terbayar. Dia hendak berjalan masuk ke dalam perpustakaan. "Maaf, Nona, Anda tidak boleh masuk!" larang petugas perpustakaan yang berjaga di depan perpustakaan sambil mengangkat pedang yang masih tersarung. Dia memakai balutan pakaian merah dan hitam. "Kenapa aku tak boleh masuk?" tanya Eisha menatap pria prajurit yang masih di posisi tempatnya yang sama. "Justru aku yang harus tanya padamu Nona. Kau siapa? Dan kenapa bisa masuk ke dalam wilayah kerajaan harvy?" tanya laki-laki yang sama. Wajahnya tampak garang dan tak bersahabat. Dia tak mengenal wajah gadis yang berdiri di hadapannya. Daritadi aku dicurigai terus sama orang-orang bekerja di sini, batin Eisha mengeluh. "Namaku Vaiva. Apakah ada larangan orang tak boleh masuk ke dalam perpustakaan?" Eisha malah bertanya balik. "Nona, tempat ini bukanlah tempat untuk bermain. Lebih baik kau pulang saja ke rumahmu jika ingin bermain boneka," usir prajurit mengibaskan tangan menuju ke gerbang pintu keluar. Astaga, apa wajahku ini kelihatan seperti anak kecil ya? batin Eisha tak habis pikir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD