Chapter 26

1029 Words
"Biarkan aku masuk!" pinta Eisha dengan wajah dan nada yang memohon. Rupanya petugas tetap saja tak luluh. "Aku tidak bisa membiarkanmu masuk," jawab laki-laki tersebut dengan tegas. Sekali tidak, tetaplah tidak boleh. Dia harus menjalankan amanah dari atasannya agar tak sembarangan orang luar masuk ke dalam perpustakaan. Setelah berulang kali tak diperbolehkan masuk akhirnya Eisha merasa lelah juga. Dia mengambil posisi duduk di dekat perpustakaan sambil merenungkan nasibnya sendiri. Bagaimana aku bisa mengingat semua kenanganku yang hilang? Jika aku saja tak diperbolehkan untuk masuk ke dalam perpustakaan. Padahal ini adalah harapan terakhirku, batin Eisha yang menunduk lesu, melihat sepatu putih yang membalut kakinya. "Vaiva, sedang apa kau di sini?" tanya seseorang membuat Eisha yang sedang menunduk mendongak mencari tahu siapa yang tengah menyapanya. Pandangan mata Eisha dan Tuan Muda yang berdiri di hadapannya bertemu. "Tuan Muda Ghaisan?" sapanya balik, dia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menghampiri Tuan Muda Ghaisan. Tak disangka prajurit yang bertingkah kasar menyapa Tuan Muda dengan ramah sangat berbeda ketika bicara dengan Eisha. Ini sudah kedua kalinya, orang memperlakukannya dengan tidak adil. Tapi tunggu sebentar? Si Tuan Muda Ghaisan apa punya kedudukan yang khusus di istana kerajaan Harvy ini? batin Eisha yang bertanya-tanya. "Vaiva, kau di sini?" tanya Tuan Muda Ghaisan yang menatap Eisha penuh tanda tanya. Kira-kira apa yang dilakukan gadis itu di istana? pikirnya. "Aku barusan mendaftar menjadi pelayan di istana. Karena merasa bosan aku ingin masuk ke perpustakaan untuk baca buku, tapi pengawal ini tak memperbolehkanku untuk masuk," adu Eisha sambil menunjuk prajurit yang sudah keringat dingin takut dimarah. "Tuan Muda, aku hanya menjalankan tugasku saja sebagai prajurit. Aku tak tahu jika gadis kecil ini adalah teman Tuan Muda," jelasnya untuk membela dirinya. Tak ada yang tak tahu jika Tuan Muda Ghaisan adalah sepupu dari Pangeran Pertama Adom. Itu mengartikan Tuan Muda Ghaisan punya kedudukan yang cukup tinggi. Dan dia tak ingin mendapatkan masalah karena hal tersebut, apalagi sampai dia kehilangan pekerjaanya. Jika itu sampai terjadi, bagaimana nasib anak dan istrinya di rumah nanti? Wajah prajurit ini bisa takut juga ternyata? Di mana wajahnya yang galak saat bicara padaku tadi, sepertinya sudah menguap ke udara, batin Eisha, dia tersenyum geli melihat tingkah lucu prajurit tersebut. Baiklah, tak apa-apa aku kehilangan harga diriku di depan seorang gadis ingusan yang bahkan umurnya belum dua ratus tahun, batin prajurit dalam diam. Dia ingin marah, tapi tak bisa. Tuan Muda mengangguk mengerti. "Baiklah, tak apa-apa." Ghaisan menatap Eisha sekilas yang berdiri di dekatnya. "Ya sudah kita masuk ke dalam Vaiva," ajaknya yang dijawab anggukan senang hati Eisha. Tuan Muda Ghaisan mengambil salah satu buku yang ada di salah satu rak. Sementara itu Eisha terpana karena bahan kayu untuk membuat rak buku lebih bagus dari perpustakaan biasa yang ada di luar. Ya, namanya juga perpustakaan kerajaan pasti lebih istimewa, batin Eisha. Eisha mulai mencari buku tentang mengembalikan ingatan yang hilang dari rak satu ke rak yang lainnya. Dia menemukan kategori yang sesuai dan ternyata bukunya kosong. "Kenapa bukunya juga tak ada?" keluh Eisha mengembuskan napas lelah, sudah mencari berhari-hari malah tak menemukan hasilnya sangat menyebalkan. "Buku apa Vaiva?" tanya Tuan Muda Ghaisan yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Eisha. Untung saja gadis itu tak punya penyakit riwayat jantung. "Tuan Muda Ghaisan, apa suaraku mengganggumu?" tanya Eisha, karena tadi dia lihat Tuan Muda Ghaisan sedang membaca buku. Apa suaranya terlalu keras? "Sama sekali tidak," jawab Ghaisan. "Hanya saja aku melihatmu yang kebingungan, memangnya Vaiva sedang mencari buku apa? Jika tidak keberatan aku akan membantu mencarinya." Ghaisan telah berbaik hati menawarkan bantuan pada Eisha. "Aku sejak tadi sedang mencari buku untuk mengembalikan ingatan yang hilang." Eisha menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku sudah mencarinya berdasarkan kategori yang sesuai, tapi sepertinya aku sedang tidak beruntung bukunya kosong tak ada," jelas Eisha, raut wajahnya menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. "Buku mengembalikan ingatan, ya?" ulang Tuan Muda dari keluarga Danka. Tangannya bergerak mencari buku yang dimaksud, sementara itu Eisha memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Setelah beberapa saat mencari, Tuan Muda Ghaisan mengambil posisi duduk di samping Eisha yang duduk bersender. "Tuan Muda Ghaisan, apakah kau menemukan bukunya?" tanyanya. Laki-laki tampan berbalut pakaian hijau muda pun menggeleng. "Aku tak menemukannya, kemungkinan besar buku itu sudah dipinjam sama orang lain. Aku beberapa minggu yang lalu pernah melihat buku itu," jawabnya. "Hah? Apa dipinjam oleh orang lain? Lalu bagaimana apa aku harus menunggu orang itu mengembalikan bukunya?" tanya Eisha menatap Ghaisan yang kini mengangguk. Eisha rasanya ingin menjerit sekeras-kerasnya jika tak ingat sedang berada di perpustakaan kerajaan. Dia mengembuskan napas lelah, tak tahu harus bagaimana lagi? "Vaiva, aku ingin tanya. Apakah ingatanmu menghilang sehingga membutuhkan buku tersebut?" tanya Tuan Muda Ghaisan. Karena dia melihat wajah Vaiva yang sangat sedih mendengar buku yang dicarinya dipinjam oleh orang lain. "Iya, Tuan Muda Ghaisan. Sebagian ingatanku hilang, oleh karena itu aku mencari buku untuk mengembalikan ingatan," jelas Eisha. "Vaiva, jangan sedih. Kalau aku mendapatkan buku itu aku pasti akan memberikannya padamu," janji Tuan Muda Ghaisan. Dia menganggap Vaiva adalah temannya juga. "Terima kasih, Tuan Muda Ghaisan." "Sama-sama, Vaiva." *** "Bagaimana apakah rencanamu berhasil?" tanya Layla menatap ingin tahu temannya. Beberapa saat yang lalu Eisha pulang ke penginapan teratai diantar oleh Tuan Muda Ghaisan. Eisha menggeleng. "Aku sudah susah payah mencari bukunya, tapi aku kalah cepat, ada orang yang lebih dulu meminjam bukunya." "Lalu bagaimana dengan rencanamu ke depannya? Tetap mencari buku itu atau tidak?" tanya Layla. Dia ikut merasa sedih karena Layla tahu Vaiva ingin sekali mengembalikan ingatannya yang menghilang. Kehilangan sebagian ingatan sama seperti kehilangan sebagian tubuh sendiri dan itu sangatlah tidak enak. Beda ceritanya jika menghilangkan ingatan yang buruk. "Aku akan tetap mencari buku yang aku butuhkan. Walaupun dengan menjadi pelayan di istana agar aku punya akses untuk keluar masuk perpustakaan." Layla bisa mendengar keputusan yang bulat dan tekad yang kuat ketika Vaiva mengucapkan kalimat tersebut. "Tapi Vaiva, menjadi pelayan di istana sangatlah berbahaya. Aku yakin nenek Jasmine pasti tak akan setuju." "Apapun resikonya akan aku terima. Layla, sampaikan permintaan maafku pada nenek Jasmine karena tak sempat pamitan langsung dengannya." "Apa tak ada cara lain selain menjadi pelayan di istana?" tanya Layla yang tanpa disadarinya air matanya menetes. Walaupun kurang dari sebulan bersama dengan Vaiva, tapi Layla telah menganggap gadis yang lebih muda darinya sebagai saudarinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD