Setelah pertemuan Mavro dan Calvin yang membuahkan janji bahwa Mavro akan memberikan bantuan atas apa yang tengah dialami Calvin, keesokan paginya sebuah pertemuan kecil yang tertutup berlangsung. Pertemuan tersebut tidak hanya dihadiri oleh Mavro dan Calvin saja, tetapi juga oleh Hial dan Zayn. Tentu saja Hial dan Zayn tidak hadir di sana tidak mengetahui apa yang akan mereka bicarakan. Namun, mereka hadir atas permintaan Calvin. Sebagai sahabat, tentu saja keduanya berpikir untuk membantu sebisa mungkin.
Mavro yang melihat ketiga pria itu sudah hadir pun segera berkata, “Sepertinya kita bisa segera memulai pembicaraan kita.”
Calvin mengangguk, saat dirinya mendapatkan isyarat dari Mavro untuk memulai pembicaraan. Karena Hial dan Zayn adalah sahabat Calvin, sangat masuk akal jika lebih baik Calvin yang mengatakan terlebih dahulu apa maksud dan niatnya. Calvin menatap kedua sahabatnya dan berkata, “Aku akan menyelamatkan Clara.”
Hial dan Zayn tentu saja tidak terkejut dengan bahasan tersebut. Sebab pada dasarnya mereka memang sama-sama memiliki keinginan untuk menyelamatkan Clara yang saat ini tengah berada di tangan para draconian. Namun, situasi mereka saat ini sama sekali tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Rasanya mereka akan sulit untuk melakukan rencana penyelamatan Clara. Sebab situasi saat ini lebih berbahaya dan sulit daripada situasi mereka sebelumnya. Tidak hanya draconian, para mhonyedt juga menjadi ancaman yang sangat berbahaya saat ini.
Tentu saja Calvin dan Mavro bisa membaca apa yang tengah dipikirkan oleh Hial dan Zayn saat ini. Saat itulah Mavro berkata, “Memang terasa sangat mustahil bagi kita untuk melawan para draconian yang kuat dan memiliki senjata canggih tersebut. Terlebih selama ini kita hidup dengan terus bersembunyi dan menghindari mereka, tetapi aku rasa ini sudah saatnya kita untuk sedikit bergerak. Apalagi, ada adik Calvin yang kini nyawanya terancam. Aku akan membantu kalian untuk melanjutkan rencana penyelamatan.”
Jika Hial memikirkan hal tersebut dengan serius dan menimbang bahwa hal itu tidak ada salahnya, maka Zayn terlihat memasang ekspresi yang terlihat tidak bersahabat. Keningnya mengernyit seakan-akan tidak senang dengan apa yang baru saja ia dengar. Seketika Zayn pun bertanya, “Atas dasar apa kini kau ingin melakukan pergerakan yang kemungkinan pada akhirnya akan membuat keberadaanmu diketahui oleh bangsa draconian? Bukankah kau selama ini selalu bertahan dan bersembunyi di tempat persembunyianmu ini demi menghindari bangsa draconian?”
Zayn sama sekali tidak menutupi jika dirinya merasa curiga terhadap Mavro. Namun, saat ini dirinya masih berusaha untuk bersikap sopan terhadap Mavro yang terbilang sebagai tuan rumah di tempat tersebut. Sebab Zayn tentu saja bukan orang yang tidak tahu malu dan tidak tahu terima kasih. Pihaknya sudah mendapatkan pertolongan dari pihak Mavro, meskipun memang merasa curiga, Zayn menahan diri untuk tidak bertindak kurang ajar. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Zayn. Ia tengah bersopan santun pada pria tersebut.
Mavro sendiri merasakan usaha Zayn tersebut dan dirinya pun menjawab, “Alasannya mudah saja, saat ini kalian kesulitan. Kita sama-sama bangsa manusia, dan rasanya sudah cukup aku selama ini menutup mata dan bertindak egois. Karena itulah aku merasa jika ini sudah waktunya bagiku untuk berjuang bersama dengan kalian. Terlebih, aku juga memiliki hutang yang harus kubayar pada guruku.”
Hial yang mendengar hal itu pun pada akhirnya mengangguk. “Rasanya, jika kita menyusun rencana yang baik, didukung dengan semua senjata dan teknologi yang kita miliki, sepertinya kita bisa menyelatkan Clara dalam waktu yang tepat,” ucap Hial jelas mendukung Mavro.
Hial sudah melihat hasil penelitian dan beberapa teknologi yang berada di tempat persembunyian tersebut. Jelas Hial merasa jika mereka bisa menalkukan para prajurit bangsa draconian jika melakukannya dengan benar dan sesuai dengan rencana yang mereka susun. Selain itu, Hial merasa sangat percaya bahwa anak didik dari ayahnya ini benar-benar bisa memberikan bantuan. Hial percaya jika Mavro lebih dari mampu untuk memberikan bantuan atas apa yang akan mereka lakukan. Saat ini Clara adalah prioritas bagi mereka semua.
Nico sendiri setuju dengan hal tersebut, sebab pada dasarnya ia yang menginginkan bantuan dari Mavro tersebut. Sebab Mavro satu-satunya orang yang bisa mengulurkan bantuan padanya untuk menyelamatkan Clara. “Aku jelas akan ikut dalam rencana ini, karena aku memang harus menyelamatkan adikku,” ucap Clara.
Membuat Hial dan Mavro mengangguk, sebab keduanya sudah memiliki satu pemikiran yang sama. Kini tersisa Zayn yang sejak tadi belum mengatakan apa pun. Semua orang pun secara alami menunjukan pandangan dan perhatian mereka pada Mavro. Lalu Zayn yang menyadari pandangan tersebut pun menghela napas. Kini semua orang sudah setuju, rasanya satu suara dari dirinya saja percuma. Jika ia menolak, bisa saja itu hanya akan membuat suasana di tengah kelompok mereka menjadi buruk. Jadi, Zayn pun memilih untuk mengambil langkah bijak.
Zayn pun mengangguk dan berkata, “Aku juga setuju. Kalau begitu, kita bisa menyusun rencana untuk usaha penyelamatan Clara.”
Zayn memutuskan untuk setidaknya menyimpan rasa curiga dan tidak nyamannya atas Mavro sendiri. Setidaknya, ia akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Calvin mengenai apa yang ia rasakan ini. Tentu saja hanya pada Calvin, sebab rasanya tidak mungkin jika Zayn mengatakannya pada Hial yang sudah sepenuhnya percaya pada Mavro. Zayn tidak ingin merusak kepercayaan yang sudah dibangun di antara mereka semua. Karena itulah, ia harus melangkah dengan penuh kehati-hatian dan menghindari apa pun yang mungkin saja membuat situasi semakin memburuk.
______________________________
“Baik, aku sudah mencatat semuanya. Sekarang dengarkan, apakah semuanya sudah sesuai,” ucap Ostra membuat Clara tampak serius untuk mendengarkan apa yang akan dibacakan oleh Ostra.
Sebelumnya, Ostra pada akhirnya berhasil mendesak Clara untuk mengatakan apa yang ia ingat. Sebelumnya Clara mengatakan jika dirinya merasa apa yang ia ingat tidak mungkin berhubungan atau bahkan hal yang akan membantu Ostra. Namun, Ostra terus menekan Clara untuk mengatakan apa pun yang ia ketahui padanya. Pada akhirnya, Clara pun tidak memiliki pilihan lain, selain mengatakan apa yang ia ingat pada Ostra. Walaupun sebenarnya, apa yang ia ingat tidak terlalu banyak. Dan rasanya tidak akan terlalu membantu.
Mengingat sewaktu dirinya kecil, kondisi tubuh Clara lebih buruk daripada kondisinya saat ini. Karena itulah, Clara selalu berada di dalam kamarnya. Clara tidak bisa terlalu bebas seperti anak-anak yang lainnya. Sebagai gantinya, sang kakak kembar selalu menceritakan apa yang terjadi di sekitar mereka. Termasuk saat ada insiden besar yang terjadi saat Clara tidak mengetahuinya secara detail. Ia hanya melihat dari jauh, dan mendengar cerita dari sang kakak.
“Kau dan keluargamu tinggal di sebuah desa yang memang memiliki beberapa orang yang berprofesi sebagai seorang ilmuan. Di desamu bahkan ada sebuah labolatoirum khusus yang digunakan oleh para ilmuan tersebut untuk meneliti. Suatu hari yang tidak kau ingat tepatnya, sebuah kecelakaan terjadi pada labolatorium tersebut membuat desa menjadi sangat kacau. Hal itu disusul dengan kejadian di mana ada beberapa orang di desa yang diserang oleh para manusia liar yang disebut sebagai mhonyedt?”
Clara mengangguk karena apa yang Ostra bacakan sesuai dengan ingatannya. “Ya. Benar. Tapi, aku dan kakakku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi hingga kecelakaan tersebut terjadi. Kami bahkan tidak tahu apa yang diteliti di sana, walaupun ayah kami juga salah satu dari bagian peneliti tersebut. Aku rasa, ini sama sekali tidak berkaitan dengan reori yang sebelumnya sudah kau bicarakan,” ucap Clara.
Semenjak kekacauan itu, para penghuni desa harus mengungsi. Namun, usaha pengungsian tersebut malah membuat mereka semua hidup menderita. Sekitar tiga tahun setelah pengungsian tersebut, situasi semakin kacau bahkan warga desa tidak memiliki pilihan lain selain bergerak terpencar demi bertahan hidup. Situasi itu memang sangat buruk bertepatan dengan kedatangan para draconian. Secara alami para manusia pun berpikir memang para draconian yang menyebabkan semua kemalangan bangsa manusia tersebut.
Ostra yang melihat anggukan Clara pun menatap catatan yang sudah ia buat dan mengernyitkan keningnya. Jika berpatokan dengan ingatan Clara ini, sudah dipastikan bahwa situasi yang sangat buruk mengenai kemunculan mhonyedt muncul jauh sebelum bangsa Draconian datang ke bumi. Jika diteliti lebih jauh, sangat besar kemungkinan jika kehancuran bumi secara perlahan dimulai saat kehancuran dan ancaman kepunahan datang menghampiri bangsa Draconian. Jelas, ini adalah situasi yang sangat mencurigakan bagi Ostra. Ini benar-benar mencurigakan hingga dirinya tidak bisa menahan diri untuk terus memasang ekspresi serius pada wajahnya.
“Ini terlalu mencurigakan,” gumam Ostra yang mendengar gumaman tersebut terlihat merasa sangat gelisah. Clara sendiri tidak mengerti, mengapa dirinya bisa merasa segelisah ini. Padahal, ia masih yakin bahwa bangsa draconian yang menjadi dalang dari kemalangan bangsa manusia. Namun, sepertinya sedikit demi sedikit hatinya mulai terpengaruh oleh Ostra, hingga dirinya mulai merasa sangat gelisah seperti saat ini.
Lalu Clara pun bertanya, “Apa yang kau ketahui? Apa mungkin ada sesuatu yang tidak kuketahui? Apa kau berusaha untuk mencoba menyembunyikan sesuatu dariku? Bahkan setelah aku menceritakan apa kuketahui padamu?”
“Tenanglah sedikit. Aku harus memikirkan sesuatu,” ucap Ostra meminta Clara untuk diam. Tentu saja itu adalah hal yang sangat menjengkelkan, secara alami Clara tidak mungkin bisa menerima hal tersebut begitu saja. Ia memiliki harga diri yang cukup tinggi untuk tidak bisa menerima perlakuan seperti itu begitu saja. Namun, untungnya Clara tidak bertingkah keras kepala dan dirinya pun segera menutup bibirnya rapat-rapat. Namun, ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Ostra. Masih mengamati pria dari bangsa draconian yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
“Sepertinya aku sudah melewatkan sesuatu,” ucap Ostra terlihat masih berusaha berpikir dengan keras. Sementara Clara yang melihatnya tentu saja merasa sangat penasaran. Clara penasaran apa yang sebenarnya diketahui oleh Osra, dan apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu. Namun, sepenasaran apa pun dirinya, Clara menahan diri untuk tidak menanyakan apa pun pada Ostra. Rasanya Clara tahu, jika dirinya memaksakan diri, hal itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri.
Lalu secara tiba-tiba Ostra memaki dengan suara rendah dan membuat Clara yang mendengarnya berjengit terkejut. Ostra bangkit dari duduknya dan menatap Clara. “Tidurlah lebih dulu. Aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu, hingga tidak bisa tidur bersamamu,” ucap Ostra lalu akan beranjak pergi begitu saja.
Clara pun menahan tangan Ostra dan bertanya, “Apa yang akan kau lakukan? Kau akan pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan apa pun padaku?”
Ostra menghela napas pelan. Lalu ia pun mengecup kening Clara dan berkata, “Aku akan menjelaskan semuanya ketika aku sudah yakin, Clara. Jangan bertingkah keras kepala, dan tidurlah. Aku akan kembali setelah pekerjaanku selesai.”
Lalu Ostra pun pergi begitu saja meninggalkan kamar tersebut dan memanggil Gaal serta Riolo menuju ruang kerjanya. Ada hal mendesak yang ingin Ostra bicarakan keduanya, hingga Ostra sama sekali tidak bisa mengulur atau menunda pertemuan mereka lagi. Saat ini juga mereka harus bertemu dan membicarakannya. Untungnya, Gaal dan Riolo yang mendapatkan panggilan tersebut memang tidak tengah berada dalam keadaan yang membuat mereka tidak bisa bergegas untuk memenuhi panggilan Ostra tersebut. Keduanya menjawab akan segera menuju ruang kerja Ostra.
Sementara Ostra yang kini sudah berada di dalam ruang kerjanya menatap catatan yang sudah ia buat mengenai apa yang diingat oleh Clara. Kening Ostra kembali mengernyit, dan raut wajahnya terlihat lebih serius daripada sebelumnya. Ostra tanpa sadar bergumam, “Apa ini semua benar-benar ulah dari Si Hitam? b******n itu benar-benar menjadi dalang dari semua ini?”