Ostra masih tetap tenang menghadapi Clara yang terlihat meledak-ledak tersebut. Ia pun berkata, “Jangan membodohi diri, Clara. Aku rasa, kau sendiri tahu jika kedatangan bangsaku ke bumi bukanlah awal dari kehancuran peradaban manusia dan kerusakan bumi. Coba kau ingat-ingat dengan baik, Clara. Kapan awal mula semuanya terjadi?”
Clara yang mendengar hal itu pun menampilkan ekspresi yang sangat serius. Apa yang dikatakan oleh Ostra tentu saja terasa sangat tidak masuk akal bagi Clara. Meskipun dirinya masih kecil ketika kasus manusia yang berubah menjadi mhonyedt muncul secara cepat, Clara tidak merasa jika dirinya salah mengingat. Ia yakin betul, jika semuanya memang berawal dan disebabkan oleh para draconian yang ingin menguasai bumi sebagai tempat tinggal baru mereka. Saat masih tinggal dengan orang-orang dengan nyaman di desa, dan orang tua Clara masih ada, Clara samar-samat mengingat jika para draconian datang untuk mencari tempat tinggal baru bagi mereka.
Jadi, menurut Clara teori bahwa bangsa Draconian yang menjadi dalang dari kehancuran peradaban sekaligus kerusakan yang dialami bumi tak lain adalah bangsa Draconian, yang memang sudah secara resmi menjadi musuh bangsa manusia. “Aku tidak membohongi diriku sendiri. Tanyakan saja pada manusia lain yang kau tangkap atau kau temui, mereka semua pasti sepakat dengan apa yang kukatakan. Menyatakan bahwa bangsa kalianlah yang bertanggung jawab atas kerusakan dan penderitaan yang kami alami ini,” ucap Clara.
Ostra menghela napas saat mendengar Clara yang masih saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya sebelumnya. Tentu saja jika situasi ini terus berlanjut sudah pasti Ostra tidak mendapatkan apa yang ia butuhkan. Ia tidak akan mendapatkan informasi apa pun yang ingin ia korek dari Clara. Ostra pun terdiam untuk memutar otak, dan mendapatkan informasi lanjutan dari Clara. Lalu, tak lama Ostra pun pada akhirnya memutuskan sesuatu. Keputusan yang harus ia ambil untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Ostra memutuskan untuk membuka apa yang sudah dibicarakan oleh dirinya dan Gaal sebelumnya. “Sebelumnya Gaal sudah melakukan penelitian pada mhoyedt yang terakhir kali tertangkap oleh Riolo. Lalu membandingkan sampel otak dan semua hal yang berkaitan dengan kondisi tubuh mereka. Secara mengejutkan, Gaal pun menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan. Menurut Gaal, kebodohan yang membuat manusia berubah menjadi mhonyedt disebabkan oleh sesuatu yang diturunkan secara genetik.”
Clara membulatkan matanya. Meskipun tidak terlalu paham dengan istilah medis, tetapi apa yang yang dijelaskan oleh Ostra masih bisa ia mengerti dengan cukup mudah. Clara menggigit bibirnya kuat-kuat, lalu dirinya secara hati-hati bertanya, “Apa itu artinya, ada seseorang yang sengaja membuat kami mengalami ancaman kebodohan seperti itu dan pada akhirnya membuat kondisi kami menjadi sangat buruk seperti ini?”
Ostra mengangguk. “Benar, ada seseorang yang sengaja melakukannya,” jawab Ostra.
Clara pun seketika berseru, “Maka orang itu sudah dipastikan adalah bangsa kalian. Kalian lah yang membuat situasi sulit ini menghampiri kami.”
Ostra mendengkus, karena situasi ini benar-benar membuat dirinya merasa sangat frustasi dengan situasi yang tengah terjadi ini. Keningnya mengernyit saat dirinya melihat Clara masih saja keras kepala dan tidak mengerti dengan apa yang ia maksud. Clara sendiri tiba-tiba merasa sangat takut. Padahal biasanya, ia tidak pernah merasa takut di hadapan Ostra. Saat Ostra bertingkah menyeramkan pun, dirinya sama sekali tidak merasa takut. Namun, kini berbeda.
Ostra kembali mendengkus saat dirinya sadar bahwa saat ini Clara tengah merasa takut. Membuatnya berada dalam kondisi takut, jelas tidak akan baik bagi untuk mereka berkomunikasi. Karena itulah, Ostra pun berkata, “Sudah kubilang, bangsaku bukan dalangnya. Aku yang memimpin bangsa ini jelas tahu apa saja yang dilakukan oleh para bawahanku. Pada awalnya, niatku sama sekali tidak ingin memiliki musuh, apalagi berperang dengan kalian. Namun, saat seiring berjalannya waktu kalian sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menjaga tempat tinggal kalian sendiri. Karena itulah, aku memilih untuk mengambil bumi sebelum sepenuhnya hancur.”
Ostra menjeda kalimatnya terlebih dahulu dan menatap Clara yang masih mendengarkan perkataannya. Ia melanjutkan dengan berkata, “Aku bisa menjamin, bahwa bangsaku terlibat dalam hal ini. Terlebih, Gaal sudah mengatakan jika perubahan yang membuat para manusia menjadi mhonyedt tersebut dimulai jauh sebelum kedatangan kami. Karena itulah, sekarang kau harus mencoba mengingat dengan baik-baik. Apa yang kau ketahui atau kau ingat mengenai situasi ini.”
Clara menggigit bibirnya kuat-kuat saat secara tiba-tiba dirinya mengingat sesuatu yang samar-samar mengani hal yang terjadi di saat dirinya kecil. Clara ingat jika dulu ada kekacauan yang terjadi di labolatorium di mana beberapa ilmuan yang dikenal oleh ayahnya bekerja. Clara ingat jika kekacauan itu terjadi saat itu bertepatan dengan situasi genting yang terjadi karena banyak manusia yang berubah bodoh dan menjadi sangat gila.
Seketika Ostra yang menyadari hal tersebut pun seketika menyadari jika kemungkinan besar ada sesuatu yang diketahui oleh Clara. Saat itulah dirinya mencengkram bahu Clara dengan tekanan yang tidak terlalu besar dan bertanya, “Apa yang kau ketahui?”
Clara menggeleng. Tampak enggan untuk mengatakan apa yang ia ketahui atau pikirkan. Sebab jika sampai Clara mengungkapkannya, hal itu bisa mematahkan pernyataan Clara sebelumnya yang menuduh bangsa draconian sebagai dalang dalam masalah ini. Clara menggeleng dan berkata, “Aku tidak tahu apa pun.”
Namun, Ostra tidak bisa dibodohi dengan mudah. Ia pun segera menggeleng dengan tegas dan berkata, “Apa kau pikir, kau bisa dibodohi dan percaya dengan apa yang kau katakan barusan? Sekarang lihat aku baik-baik dan katakan apa yang kau ketahui. Asal kau tau, Clara. Jika kau mengatakannya, maka ini bisa saja menjadi titik terang dari masalah yang menimpa bangsamu sendiri.”
________________________
Saat Clara tengah diintorgasi oleh Ostra mengenai apa yang ia ketahui di masa lalu, maka saat ini Clavin yang berada di sisi lain tengah berada dalam keadaan yang merasa sangat gelisah. Rasanya kegelisahan yang dirasakan oleh Calvin dari waktu ke waktu terus bertambah. Tentu saja ia mencemaskan kondisi Clara yang masih belum dirinya ketahui keberadaan serta kondisinya saat ini. Walaupun Calvin yakin jika Clara masih hidup dan belum disentuh oleh para draconian, tetapi Calvin masih belum bisa merasa tenang jika dirinya belum mengetahui kondisi Clara dengan benar.
Calvin pun menghela napas dan dirinya pun bangkit dari posisi berbaringnya dan menatap Zayn dan Hial yang berada di kamar yang sama dengannya. Mereka memang mendapatkan kamar yang cukup nyaman dan luas untuk mereka tinggali bertiga. Tentu saja para anggota kelompok yang lain juga memang mendapatkan tempat beristirahat yang sama-sama nyaman. Mereka sama-sama mendapatkan perlakuan yang baik dari para tuan rumah. Setidaknya mereka semua mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tetapi saat ini Calvin masih belum merasa nyaman.
“Aku sepertinya harus menghirup udara bebas,” ucap Calvin lalu dirinya beranjak dari posisinya. Merasa jika dirinya memang tidak bisa beristirahat dan bernapas lega. Sebab itulah, dirinya merasa jika situasi saat ini benar-benar tidak akan bisa beristiahat dengan tenang. Jadi, lebih baik dirinya naik ke permukaan untuk menghirup udara malam. Setidaknya hal itu bisa membuat dirinya lebih tenang dan berpikir lebih jernih.
Namun, saat dirinya masih melangkah menyusuri lorong, ia berpapasan dengan Mavro yang ternyata tengah melakukan patroli untuk memeriksa apakah semuanya baik-baik saja atau tidak. Mavro yang melihatt Calvin tentu saja terkejut dan bertanya, “Ada apa? Kenapa kau masih terjaga da nada di luar seperti ini? Apa ada yang kau butuhkan?”
Tentu saja Mavro menanyakan hal tersebut untuk memastikan apakah Calvin memang benar-benar membutuhkan sesuatu. Jika iya, maka Mavro akan membantu untuk mencari dan memenuhi kebutuhan Mavro tersebut. Namun, saat itulah Mavro menggeleng dan berkata, “Aku tidak membutuhkan apa pun. Hanya saja, aku merasa sedikit gelisah dan sesak. Karena itulah aku berniat untuk naik ke permukaan untuk sedikit menghirup udara bebas dan melihat langit malam.”
Mavro yang mendengar hal itu pun mengangguk. “Kalau begitu, mari pergi bersama. Akan kutunjukkan jalan yang lebih cepat menuju area permukaan dan tentu saja menuju tempat yang aman untuk melihat langit,” ucap Mavro.
Sebenarnya, Calvin enggan untuk ditemani oleh siapa pun saat ini. Ia ingin menghabiskan waktu sendiri, tetapi Mavro sadar jika saat ini ia memang butuh untuk mengetahui jalan cepat dan tempat yang aman untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tak begitu lama, keduanya pun tiba di tempat yang dibicarakan oleh Mavro sebelumnya. Calvin pun berkata, “Terima kasih. Tapi bisakah kau meninggalkan aku sendiri? Aku akan kembali setelah lima belas menit.”
Mavro yang mendengar hal itu pun mengangguk dan berkata, “Kalau begitu silakan nikmati waktumu. Hanya saja, jika kau memang butuh bantuan, kau bisa mengatakannya padaku. Meskipun kita baru bertemu, tetapi kita semua saudara dan rasanya sangat wajar bagi kita untuk membantu satu sama lain.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mavro, Calvin hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Sementara Mavro pun terlihat berbalik untuk pergi meninggalkan area tersebut. Namun, tiba-tiba Calvin bertanya, “Jika begitu, apa kau tau cara untuk menyerang bangsa Draconian?”
Mavro yang mendengar hal itu tentu saja menghentikan langkah kakinya. Lalu dirinya pun berbalik untuk menatap Calvin dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. “Kenapa kau ingin menyerang bangsa Draconian? Jika pun aku tahu caranya, aku tidak akan memberitahunya jika alasan yang kau miliki tidak masuk akal,” jawab Mavro mendesak Calvin harus mengatakan terlebih dahulu alasannya.
Calvin terdiam. Seakan-akan dirinya memang enggan untuk membuka hal tersebut pada Mavro. Calvin mengernyitkan keningnya, tampak tengah mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Mavro sendiri segera berkata, “Jika kau tidak mau atau belum siap untuk mengungkap hal tersebut padaku, maka kau tidak perlu melakukannya. Kau bisa datang kepadaku dan mengatakannya saat kau memang sudah siap untuk membuka diri padaku.”
Mavro sudah bersiap untuk pergi lagi, tetapi Calvin sudah lebih dulu berkata, “Adikku diculik dan disandra oleh bangsa Draconian.”
Tentu saja perkataan tersebut kembali menahan langkah Mavro tersebut. Membuat kening Mavro mengernyitkan keningnya dan bertanya, “Sejak kapan?”
“Sudah lama. Tepatnya saat tempat perlindungan kami sebelumnya diserang oleh para prajurit bangsa Draconian. Semenjak itu, aku tidak tahu bagaimana kondisi atau bahkan keberadaan adikku. Namun, salah satu anggota kelompok berkata jika mereka melihat dengan jelas bahwa ada beberapa manusia yang dibawa menuju markas pusat bangsa Draconian,” jawab Calvin.
Mavro terlihat mengangguk. Mengerti dengan situasi yang tengah dialami oleh Calvin. Sangat masuk akal jika Calvin merasa sangat gelisah seperti ini. Sebab adiknya satu-satunya anggota eluarga Calvin saat ini tengah berada dalam cengkraman para Draconian. Tentu saja itu adalah situasi yang sangat berbahaya. Pasti Calvin sangat mencemaskan kondisi adiknya itu.
Karena itulah, Mavro pun berkata, “Ada kemungkinan untuk melakukan apa yang sudah kau tanyakan sebelumnya. Ada cara untuk menyerang bangsa Draconian dan menyelamatkan adikmu.”
Mendengar hal itu, Calvin pun seketika mendapatkan sebuah harapan. Seakan-akan dirinya menemukan sebuah cahaya setelah sekian lama dirinya melangkah di tengah lorong gelap dengan rasa takut serta cemas yang ia rasakan berkaitan dengan kondisi adiknya yang berada sangat jauh darinya. Calvin pun bertanya, “Apa? Apa caranya? Tolong katakan padaku bagaimana caranya bagiku untuk menyelamatkan adikku?”
“Tenanglah,” ucap Mavro meminta Calvin untuk lebih tenang terlebih dahulu. Sebab ini adalah pembicaraan yang sangat serius, hingga mereka harus lebih hati-hati dalam membicarakannya.
“Aku sudah cukup tenang selama ini. Hingga aku tidak bisa lagi menahan diri dan merasa tenang. Katakan padaku sekarang juga. Bagaimana caraku menyelamatkan adikku?!” tanya Calvin benar-benar terlihat kehilangan kesabarannya.