Mencurigakan

1892 Words
“Jika dalang memang sama, berarti manusia tidak bisa dimasukkan ke dalam kemungkinan bahwa mereka adalah dalang dari meningkatnya kekuatan para mhonyedt,” ucap Riolo. Ostra mengangguk. Sebab dirinya juga sejak awal merasa bahwa kemungkinan bahwa manusia yang menjadi dalangnya sangat kecil kemungkinannya. Baginya, itu hanyalah cara bagi para manusia untuk hidup semakin sulit. Jika para mhonyedt memiliki kekuatan yang lebih besar, tentu saja hal itu hanya akan membuat para manusia semakin lemah, dan tidak bisa bergerak dengan bebas. “Kalau begitu, kini semakin sulit bagi kita untuk menebak siapakah dalang dari semua masalah baru ini,” ucap Ostra dengan kening mengernyit. Gaal tentu saja memiliki pemikiran yang sama dengan kedua saudaranya itu. “Kita tidak tahu apa yang membuat orang ini mendalangi situasi ini, tapi aku yakin jika dia juga yang mendalangi kekacauan sejak awal mula di bumi ini. Dia sudah datang lebih dulu sebelum kedatangan kita,” ucap Gaal. Teori Gaal sangat masuk akal. Sebab Ostra sendiri tahu, jika mhonyedt mulai muncul pertama kali sebelum dirinya datang memimpin bangsanya untuk menginvasi bumi. Jika mengingat waktunya, dan menimbang semua aspek dimulai dari kemunculan mhonyedt pertama kali, tentu saja sangat masuk akal bahwa para manusia sendiri yang membuat ulah. Namun, jika melihat situasi saat ini, rasanya sangat mustahil jika manusia yang menjadi dalangnya. Semuanya membuat situasi menjadi sangat rancu. Bahkan Ostra yang biasanya senang untuk memecahkan masalah seperti ini, terlihat bingung karena ia bahkan tidak bisa menebak dengan tepat mengenai situasi ini. “Wah, ini terlalu membingungkan,” gumam Riolo. Gaal dan Ostra mengangguk sebab keduanya memang sama-sama merasa tidak mengerti dengan situasi ini. Namun, meskipun begitu, ketiganya tidak merasa jika harus meninggalkan masalah ini begitu saja. Sebab situasinya bisa saja mengancam kekuasaan mereka yang belum sepenuhnya mengakar di bumi ini. Ostra pun berkata, “Meskipun membingungkan dan terasa sulit, kita tetap harus memikirkan hal ini lebih lanjut. Kita tidak bisa mengabaikannya, karena aku merasakan firasat yang sangat buruk. Aku yakin, kalian juga merasakan ancaman bahaya saat membicarakan hal ini.” Riolo dan Gaal mengangguk. Sebab memang benar-benar mereka merasakan hawa mengancam, saat mereka tengah membicarakan hal tersebut. Seakan-akan memang mereka akan menghadapi musuh yang sangat berbahaya jika tidak menangani masalah ini dengan serius. “Karena itulah, kita harus fokus dan mencari tahu mengenai masalah ini lebih jauh. Aku rasa, kita juga akan mengetahui atau menemukan hal yang sangat mengejutkan ketika kita mengorek masalah ini lebih jauh,” ucap Ostra membuat Gaal dan Riolo saling berpandangan. “Kalau begitu, aku akan menganalisis semua ini lebih lanjut. Aku rasa, aku bisa menemukan hal yang baru jika terus melakukan penelitian,” ucap Gaal. “Aku akan melakukan pembersihan sekaligus menangkap bahan penelitian jika dibutuhkan oleh Gaal. Selain itu, aku akan mengawasi apa yang terjadi di luar sana,” ucap Riolo. Mereka sudah berbagi tugas dengan sangat cepat, karena saling mengerti posisi mereka sendiri, mereka juga sudah sangat terbiasa dalam berbagi tugas seperti ini. Sementara Ostra yang belum menyatakan tugasnya pun terlihat berpikir dengan ekspresi yang sangat serius. Sebelum dirinya berkata, “Kalau begitu, aku akan berbicara dengan istriku sendiri. Aku ingin tahu, apa yang ia ketahui mengenai para mhonyedt dan mengetahui cerita mengenai kehancuran bumi mengenai pandangannya sebagai seorang manusia.” Gaal yang mendengar hal itu pun setuju dan mengangguk. “Itu ide yang bagus. Bisa saja kita mendapatkan informasi atau hal penting yang memang hanya diketahui oleh para manusia. Aku harap, kau bisa menemukan sesuatu. Jadi, jangan bertingkah keras padanya. Kau harus bisa mendapatkan hatinya agar mendapatkan informasi yang kau inginkan,” ucap Gaal. Ostra yang mendengar pun mengernyitkan keningnya dan menatap tajam pada Gaal. “Memangnya kau siapa hingga bisa mengaturku seperti itu? Berhenti bertingkah kurang ajar dan ikut campur dengan masalah hubunganku dengan Clara,” ucap Ostra sebelum dirinya beranjak pergi dari tempat duduknya. Gaal yang melihat hal itu pun terlihat mengubah ekspresinya menjadi mengejek. Riolo juga terlihat mengejek Ostra yang seketika berkata, “Wah, benar-benar menjengkelkan. Apa sikap menjengkelkan dan pemarahnya itu semakin parah semenjak dirinya menikah? Inilah mengapa aku tidak mau menikah. Terlebih menikah dengan seorang manusia.” Gaal yang mendengar perkataan tersebut pun menoleh dan menatap saudara sekaligus rekannya tersebut. Riolo yang mendapatkan tatapan tersebut pun bertanya, “Apa?” Gaal menghela napas dan menjawab, “Jika kau tidak ingin menikah dengan manusia, lalu kau ingin menikah dengan siapa? Apa kau memilih untuk menikah dengan sesama jenis, menikahi salah satu prajurit dari bangsa kita?” Riolo pun terlihat begidik ngeri dan berseru, “Apa kau gila?! Bagaimana bisa kau memikirkan ide yang sangat tidak masuk akal itu?!” “Kau yang lebih dulu mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal. Kita membutuhkan manusia untuk melanjutkan keturunan dan menghindari kepunahan, sebab tidak ada lagi wanita yang tersisa di bangsa kita. Tapi kau malah membicarakan hal yang tidak masuk akal. Sungguh, membuatku frustasi karena masalah yang tidak penting,” ucap Gaal lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkan Riolo yang seketika menampilkan ekspresi yang sangat buruk. “Wah, apa-apaan ini? Apa aku baru saja diserang oleh kutu buku itu?” tanya Riolo lalu mengejar langkah Gaal dengan bersungut-sungut. ___________________ “Wah! Ini apa?!” tanya Clara terlihat sangat bersemangat saat melihat masakan yang baru saja disajikan oleh Ostra. Itu berupa kalkun yang dipanggang hingga kulitnya terlihat keemasan. Kalkun tersebut kaya dengan nutrisi dan terlihat sangat lembut. Sebab Ostra dan para pelayan menaruh perhatian yang sangat besar dalam memasaknya. Selain kalkun, ada juga sayuran yang dimasak bersamaan dengan kalkun tersebut. Tentu saja, sebagai pelengkap ada menu paket Ostra berupa roti telur panggang yang menjadi santapan wajib bagi Clara. Semuanya Ostra sajikan demi mendapatkan hati Clara. Sebab jelas, apa yang akan Ostra cari tahu nantinya, sangatlah sensitif dan bisa saja membuat Clara menutup bibirnya rapat-rapat karena suasana hatinya yang memburuk. Karena itulah, Ostra berpikir untuk membuat Clara berada dalam suasana hati sebaik mungkin. Dan cara untuk melakukannya adalah, membuat Clara dimanjakan dengan makanan-makanan lezat yang kemungkinan besar ia sukai. “Ini kalkun. Aku rasa, di bumi juga ada spesies hewan ini. Tapi, sepertinya kau belum pernah melihat atau bahkan memakannya. Sekarang cobalah, kurasa kau akan menyukainya,” ucap Ostra lalu memotong dagingnya agar lebih mudah bagi Clara untuk menikmatinya. Clara pun mencicipinya dengan rasa penasaran yang tinggi. Ia bertanya-tanya mengenai rasa makanan tersebut. Ia pun terkejut karena daging tersebut ternyata kaya dengan sari dan terasa sangat lembut. Itu benar-benar sangat lezat, hingga Clara tidak kuasa untuk menahan nafsu makannya yang seketika melonjak. Mendorong dirinya untuk menikmati potong demi potong daging yang memang disiapkan oleh Ostra, demi membuat Clara lebih mudah mengunyah makanannya. Ostra sendiri sesekali memakan apa yang ada di hadapannya dengan tenang. Makan malam bersama dengan istrinya yang saat ini memang terlihat lebih berisi daripada sebelumnya. Selain itu, Selina juga terlihat lebih terawat. Rambutnya terurai dan terlihat lembut karena selalu disisir dan dirawat dengan baik. Kulitnya juga terlihat lebih terawat, karena mandi dengan air bersih dan mendapatkan nutrisi yang baik dengan semua makanan yang diberikan oleh Ostra. Hidup Clara jelas benar-benar sangat baik. Berbeda daripada kehidupannya yang sebelumnya di mana dirinya harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah kelaparan berkepanjangan. “Kau sudah kenyang?” tanya Ostra saat daging kalkun masih tersisa cukup banyak. Namun, ternyata Clara sudah memegang roti panggang. Yang artinya Clara sudah kenyang dan ingin menutup acara makannya dengan menikmati roti telur panggang yang dibuatkan oleh Ostra untuknya. Clara menggeleng. “Setelah makan roti ini, aku akan merasa kenyang. Kalkun atau apalah itu, membuat perutku agak tidak nyaman jika makan terlalu banyak,” ucap Clara lalu memilih untuk segera menikmati roti panggangnya dengan lahap. Tidak memerlukan waktu lama, acara makan malam itu pun selesai saat Clara menghabiskan roti panggangnya. Sementara Ostra sendiri menikmati beberapa potong daging kalkun yang kaya akan sari dan memang cukup berlemak tersebut. Setelah merasa cukup, Ostra pun membiarkan para pelayan untuk merapikan sisa-sisa makan malam mereka. Saat melihat Clara akan tidur, Ostra pun menahannya dan berkata, “Jangan langsung tidur. Duduk dulu, biarkan perutmu mencerna makanan yang baru saja kau telan. Jangan bertingkah seperti babi sungguhan.” Clara yang mendengarnya pun menepis tangan Ostra dengan perasaan jengkel. Sementara Ostra sendiri memejamkan matanya, karena sadar dirinya baru saja membuat suasana hati Clara kembali memburuk. Padahal, ia sudah susah payah memutar otaknya untuk membuat suasana hati Clara membaik. Namun, sebelum suasana benar-benar memburuk tak tertolong, pada akhirnya Ostra teringat dengan sesuatu. Ia pun beranjak menuju sebuah lemari dan mengeluarkan sesuatu dari laci lemari tersebut. Ternyata ada sebuah kotak yang Ostra keluarkan dari laci tersebut. Ia pun memberikan kotak tersebut pada Clara dan berkata, “Bukalah. Menurut Gaal, kemungkinan besar kau akan menyukainya.” Clara yang mendengar hal itu pun menatap Ostra dengan penuh waspada. Namun, tak ayal ia menerima kotak tersebut dan membukanya. Lalu Clara pun terkejut saat melihat isi kotak itu hingga berseru, “Ini cokelat!” Clara tanpa meminta izin langsung menikmati cokelat tersebut dan hampir menangis karena merasa sangat bahagia. Ia bahagia karena dirinya sudah sangat lama tidak menikmati makanan manis ini. Rasanya, Clara pun hampir melupakan bagaimana rasa dari makanan yang disebut cokelat tersebut. Ostra bisa melihat jika suasana hati Clara saat ini jauh lebih baik. Ostra pun duduk di kursi yang menghadap posisi Clara dan bertanya, “Aku ingin menanyakan sesuatu. Apa kau bisa menjawabnya?” “Tergantung. Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?” tanya balik Clara. “Aku ingin tau apa yang terjadi sebelum bumi mengalami kerusakan dan peradaban manusia mengalami kehancuran seperti ini,” ucap Ostra membuat ekspresi Clara seketika memburuk. Saat itulah Ostra sadar, bahwa usahanya untuk membuat suasana hati Clara membaik, adalah hal yang sia-sia. Karena apa pun yang ia lakukan, tidak akan membuat Clara bisa bereaksi santai atau normal saat dirinya membahas hal ini. Jadilah, Ostra pun memilih untuk bersikap seperti biasa dalam mebghadapi Clara ini. Toh, Ostra merasa sudah sangat terbiasa berhadapan dengan Clara yang keras kepala dan bertengkar dengan wanita yang berstatus sebagai istrinya ini. “Apa sekarang kau tengah mengejek diriku serta bangsaku? Memangnya, kau pikir bangsa kami hancur begitu saja tanpa alasan? Berkacalah. Menurutmu, atas dasar apa bumi dan kami mengalami kesulitan seperti ini? Sudah jelas, semuanya karena dirimu dan bangsamu yang jahat itu!” seru Clara penuh kemarahan karena dirinya benar-benar tidak senang dengan tingkah Ostra yang menanyakan hal yang menurutnya sangat jelas ini. Meskipun berhadapan dengan kemarahan Clara, Ostra masih terlihat tenang. Ia pun bertanya, “Apa itu artinya, kau berpikir jika peradaban bangsa manusia hancur karena kedatangan kami?” “Apa itu masih perlu untuk dipertanyakan? Sudah jelas, bahwa bumi mulai hancur saat kedatangan kalian ke bumi. Kalian yang berusaha untuk merebut bumi dari kami para manusia, membuat kehidupan kami hancur dan pada akhirnya mengalami penderitaan yang panjang,” ucap Clara bahkan tidak lagi bisa mengendalikan ekspresi wajah dan nada bicaranya. Seakan-akan Clara sudah melupakan rencananya untuk bersikap baik, dan tidak membuat Ostra marah kepadanya. Jika terus seperti ini, tentu saja harapan Clara untuk melarikan diri dari tempat tersebut akan gagal. Sayangnya, Clara yang sudah tenggelam dalam kemarahannya tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia kesal setengah mati, karena Ostra berbicara seolah-olah dirinya tidak terlibat dalam kehancuran bumi dan peradaban manusia. Sekaligus tidak paham mengapa semua kerusakan ini bisa terjadi. Namun, Ostra masih tetap tenang menghadapi Clara yang terlihat meledak-ledak tersebut. Ia pun berkata, “Jangan membodohi diri, Clara. Aku rasa, kau sendiri tahu jika kedatangan bangsaku ke bumi bukanlah awal dari kehancuran peradaban manusia dan kerusakan bumi. Coba kau ingat-ingat dengan baik, Clara. Kapan awal mula semuanya terjadi?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD