Dengan ragu Gina mengikuti Thalia turun dari mobilnya memasuki rumah kediaman keluarganya. Sejak tadi Gina mencari kesempatan dan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada Thalia namun wanita tersebut selalu saja memotong pembicaraannya dan akhirnya mereka terlibat dalam percakapan lainnya. Terlebih lagi saat mereka makan siang dan Thalia menceritakan soal kondisi kesehatan Bastian yang sedikit membuat Gina lega dan ingin mengambil kesempatan tersebut untuk pergi begitu saja. Namun saat keadaannya sudah seperti saat ini, ia kembali kesulitan untuk berbicara dengan Thalia lagi.
(" Nggak bisa. Aku harus bilang semuanya hari ini. Sebelum Tian keluar dari rumah sakit, aku harus sudah pergi dari sini. Aku nggak bisa menghadapi dia. Aku nggak berani. Aku harus pergi dari sini dan aku harus mencari papa. Aku nggak peduli lagi apa yang akan terjadi.") batin Gina sambil melangkahkan kakinya memasuki gerbang besar yang menjadi pintu utama rumah milik Thalia.
Gina tak bisa menyembunyikan kekagumannya akan betapa besar dan mewahnya rumah tersebut. Rumah dengan konsep alam buatan yang terdapat begitu banyak pepohonan rindang dan juga tanaman hijau di sekitarnya.
" Tian sangat suka dengan alam. Dia suka pegunungan, laut, dan hal- hal semacamnya. Suami kamu seorang arsitek yang handal." ucap Thalia dengan bangga yang menjelaskan tentang pertanyaan di kepala Gina saat ini.
Gina hanya mengangguk dan tersenyum. Apa yang Thalia ucapkan barusan, kurang lebih sama seperti pria yang menikahinya pernah ucapkan padanya juga. Ia mengatakan jika ia menyukai alam bebas, petualangan, dan seorang arsitek yang hebat.
" Ayo, kita masuk. Mama kenalkan dengan yang lainnya." ucap Thalia dengan merangkul pundak Gina dengan ramah.
***
" Itu Lira, adik perempuan Tian. Dia anak mama dari papanya Tian. Dan dia sangat dekat dengan Tian. Meski sedikit manja dan ketus, tapi dia sebenarnya baik hati. Dan mama harus akui, dia kurang ramah sama orang lain. Jadi kamu sabar aja ya..." ucap Thalia dengan menepuk pundak Galina dengan lembut sambil terus berjalan mendekati sang putri yang sedang bermain dengan kucingnya.
" Halo, sayang... Halo Oreo..." Sapa Thalia pada Lira.
" Halo, ma... Gimana Kak Tian? Udah baikan?"
" Udah bisa pulang besok atau lusa. Dan dia nyariin kamu." jawab Thalia dengan mengusap rambut pendek gadis 18 tahun tersebut.
" Oh ya... Mama mau ngenalin seseorang... Gina, ayo sini."
" Mbak, panggil semua pelayan ke sini. Ada yang mau saya sampaikan." ucap Thalia lagi kepada salah seorang pelayan yang membawakan cemilan untuk putrinya tersebut.
" Baik, bu."
Gina lalu menarik nafas panjang dan memberanikan diri mendekati Thalia dan Lira yang sedang duduk di samping kolam renang mereka.
" Lira... Kenalin, ini Galina. Kamu bisa panggil dia kak Gina." ujar Thalia dengan hati- hati.
" Oh... Ini yang kemarin mama bilang istri kak Tian?"
" Lira... " tegur Thalia.
" Aku mau bilang apa lagi, ma? Selamat datang? Ya kan dia udah disini. Ayo Oreo. Kita main di kamar." ucap Lira bahkan tidak menoleh pada Gina sedikitpun. Sangat tipikal gadis kaya yang manja dan sombong, pikir Gina. Namun ia mencoba tidak peduli akan sikap gadis tersebut. Toh, ia akan pergi juga secepatnya.
" Lira, kamu---"
" Udah, ma. Nggak apa- apa. Biarin aja." sela Gina yang tidak ingin ada perdebatan lagi. Ia sudah tahu ini akan terjadi. Ia tahu jika orang yang menikahinya cukup mapan, namun ia tidak tahu jika pria tersebut ternyata sangat kaya raya dan akhirnya ia akan menghadapi anggota keluarga yang pasti akan memandang rendah padanya layaknya seperti di kebanyakan film dan opera sabun yang ia tonton.
" Maafkan Lira ya, Gin. Dia masih kecil dan dia nggak begitu ramah. Kadang malah mama merasa gagal mendidik dia. Dia terlalu mama manjakan dan itu membuat dia keras kepala."
" Iya, ma. Aku nggak apa- apa."
Beberapa orang pelayan kemudian mendekati mereka dan ikut berbaris mengikuti sang kepala pelayan yang berdiri tepat di hadapan Thalia.
" Ibu memanggil kami?" tanyanya dengan sopan.
" Iya, saya mau mengenalkan kalian semua dengan anggota baru keluarga kita. Namanya Galina. Kalian bisa memanggilnya dengan nama ibu Gina. Dia ini istrinya Bastian. Jadi kalian harus memperlakukan dia dengan sangat baik dan hormat karena dia adalah nyonya rumah ini. Kalian mengerti?" ucap Thalia dengan tegas. Ia terlihat sangat berwibawa di hadapan para karyawannya.
" Mengerti, bu." ucap para pelayan yang hampir bersamaan.
" Selamat datang, ibu Gina. Saya Sita. Saya yang bertanggung jawab untuk pelayan dan kebutuhan semua anggota keluarga. Kalau ibu butuh sesuatu dan butuh bantuan, jangan ragu untuk memanggil saya. Atau mungkin ibu butuh pelayan sendiri?" ucap wanita berumur 50 tahunan tersebut dengan ramah.
" Nggak perlu... Terima kasih." jawab Gina dengan sungkan. Ini semua sangat berlebihan untuknya. Ini bukanlah tempatnya dan ini tidak pantas ia terima. Semua ini membuatnya sangat merasa bersalah.
" Gina, nggak perlu sungkan untuk meminta apapun keperluan kamu. Ini sudah menjadi rumah kamu juga." ucap Thalia.
" Makasih, ma. Tapi aku nggak butuh apa- apa."
" Ya udah... Kalau gitu, kita ke kamar Tian saja. Biar---"
" Ma... Ada yang mau aku omongin. Bisa minta waktunya sebentar?" tanya Gina dengan ragu. Ia tahu ini bukan waktu yang tepat, namun ia tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Berada di dalam rumah ini membuatnya semakin sesak dan tidak tahu harus berbuat apa.
Thalia menatap Gina dengan heran dan kemudian meminta para pelayan untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing- masing.
" Boleh... Kamu mau ngomongin apa sih sejak tadi? Kamu baik- baik aja? Kamu kelihatan kurang sehat, Gina." ucap Thalia dengan cemas.
" Aku nggak apa- apa, ma. Hanya saja, aku harus ngomongin sesuatu sama mama dulu. Dan ini sangat penting." jawab Galina.
" Baik. Kita ke ruang kerja Tian saja. Ayo, kita ke sana." ajak Thalia sambil berjalan beriringan dengan Gina.
Meski dalam hati Gina merasa sedikit ketakutan akan reaksi Thalia nanti, namun ini adalah hal yang harus dan mesti ia lakukan sejak awal. Ia tidak ingin semuanya semakin ruwet dan kesalahpahaman ini menjadi semakin jauh.
Gina dan Thalia berjalan memasuki ruang keluarga dengan begitu banyak jendela kaca besar dan taman yang berada tepat di salah satu sisinya tersebut sambil sesekali mengamati sekitarnya.
Dan langkah Gina terhenti ketika ia melihat foto keluarga besar Thalia yang membuatnya begitu sangat terkejut.
" Mama... Ini..." ucap Gina dengan gagap. Apa yang dilihatnya saat ini, langsung menimbulkan begitu banyak pertanyaan di kepalanya.
" Ini foto keluarga kami. Ini mama dan papanya Bastian. Ini Tian, suami kamu tentu saja. Ini Alira, adik bastian tadi. Yang ini anak mama dari pernikahan sebelumnya, namanya Nikita. Dan ini suaminya, Aslan. Dan yang ini anak mama juga, dia anak sulung mama." jelas Thalia dengan berjalan mendekati foto berfigura besar tersebut yang ia gantungkan di salah satu dinding.
" Dia... Anak sulung tante namanya siapa?" tanya Galina dengan jantung yang berdebar.
" Namanya Nikolas Sebastian. Kebetulan sekali namanya dan Tian hampir sama. Tapi, sifat mereka sangat jauh berbeda. Yeah, bisa dibilang semua yang ada pada Tian, adalah kebalikan dari Niko. Namun biarpun begitu, mama menyayanginya meski dia dan Tian tidak pernah bisa akur." jawab Thalia panjang lebar.
(" Apa yang terjadi disini? Jadi selama ini Niko mengaku kalau dia adalah Bastian? Tapi kenapa? Untuk apa?") batin Gina dengan kening berkerut.
" Lalu dimana anak- anak mama yang lainnya? Apa mereka tidak tinggal disini?" tanya Gina lagi.
" Mereka semua tinggal disini. Hanya saja, setelah menikah, Nikita ikut dengan Aslan yang harus bekerja di kota lain. Dia bekerja di salah satu anak perusahaan Tian." jawab Thalia dengan tersenyum. Ia tiba- tiba begitu merindukan putrinya tersebut.
" Dan... Ni... Niko?"
" Niko itu casanova. Dia tidak pernah tinggal lama di sini. Dia pergi kemanapun yang dia inginkan dengan teman- teman wanitanya. Dan terakhir, dia mengatakan akan pulang sebentar lagi. Mama nggak bisa menghubungi dia sampai beberapa hari yang lalu dan memberitahukan soal kecelakaan Bastian. Dan katanya, dia akan pulang sebentar lagi. Sebenarnya dia cukup menyenangkan andai saja dia bukanlah seorang pemberontak. Itulah yang membuat Tian selalu memarahinya." jawab Thalia.
(" Casanova? Banyak teman wanita? Tunggu... Apa dia sedang mempermainkan aku? Apa hubungannya ini semua dengan aku? Lalu pernikahan kami?") tanya Galina dalam hati.
" Ayo, sayang. Kita bicara di ruangan sana." ajak Thalia lagi.
Baru saja Gina hendak melangkahkan kakinya, suara Lira yang berseru langsung membuat ia kembali menghentikan langkahnya dan mengikuti arah langkah cepat Alira yang langsung berlari ketika melihat kedatangan sosok pria yang baru saja mereka bicarakan.
" Kak Niko....!!!"