Saat itulah, ada sebuah mobil hitam melintas di sebelah mobil Sean dengan keadaan pecah dan setelah melewati mobil Sean, mobil tersebut hilang kendali. Mobil abu-abu yang berada di lawan mobil hitam, tidak siap dan akhirnya terjadi tabrakan. Sayangnya, ada sebuah mobil truk dibelakang mobil abu yang tidak siap dengan kecelakaan di depannya. Kemudan truk tersebut terguling, dan sebentar lagi akan menabrak mobil Sean, dimana didalamnya ada Anita.
Sean pun bergegas mendekat, berharap dia bisa menarik Anita keluar dari mobil. Namun sayang, Sean kalah cepat dengan laju truk yang terguling itu. Truk tetap menghantam mobil Sean, dan membuat Anita menjerit sekeras-kerasnya di dalam. Sean sendiri, terpental jatuh ke belakang dengan wajah penuh dengan luka. Dia yang masih sadar dengan kepala sangat pusing dan mencoba sekuat tenaga mendekati mobilnya, serta memanggil-manggil nama Anita. Namun kondisi Anita, kepalanya terkena pecahan kaca depan mobil dan darah sudah terlihat disana.
Anita sama sekali tak merespon panggilan cemas Sean. Sean berhasil mengeluarkan Anita dari dalam mobil. Dia menggendong Anita dan kini sambil memegang kepala Anita. Dia mencoba membangunkan Anita. Akhirnya Anita membuka matanya dan menatap Sean. Anita yang tahu bahwa waktunya tak banyak, mencoba mendekatkan tangannya ke wajah Sean, dan membelai wajah Sean. Dengan nada sedih, Anita berkata seharusnya mereka tak bertengkar saat itu.
Ternyata hanya itu kalimat yang sempat Anita ucapkan, diapun memejamkan matanya. Tangan yang tadi lemah membelai wajah Sean, sudah jatuh terkulai. Sean menangis menayadari Anita telah tiada. Dia memeluk erat Anita dan menyesali bahwa di saat-saat terakhir tadi mereka malah bertengkar. Menyesal, kenapa dia harus menghentikan mobilnya dan meninggalkan Anita sendiri di dalam mobil. Menyesal, seandainya dia bisa lebih cepat menyelamatkan Anita sehingga Anita tak harus tertabrak truk itu. Kini, Sean hanya bisa menangis sambil mengucapkan kata maaf pada Anita.