Andin berusaha melepaskan diri dari Frans, selalu saja Frans berbuat sesuka hati dia. “Sayang … jangan bikin aku malu …” lirih Andin. Frans tersenyum, mendekatkan dirinya kepada Andin. “Ngapain musti malu, kita ‘kan dah halal,” ucap Frans lembut, tepat di telinga Andin. “Huh! menyebalkan!” sungut Andin. “Ayo masuk ke dalam!” ajak Frans. Andin pun menurut, masuk ke dalam rumah bersama Frans, membiarkan suaminya merangkul mesra pundaknya. Mac ikut merangkul pundak Lusi, dengan sangat cepat Lusi menepis tangan Mac. Dia benar-benar anti Mac, tapi Macnya yang nggak tau diri. “Lepasin! jangan aneh-aneh!” ancam Lusi. “Cuman megang pundak aja nggak boleh, dasar pelit!” Lusi melotot, kenapa ini orang makin hari makin nyebelin aja, itulah yang Lusi pikirkan. “Kamu tuh, makin hari makin n

