Frans menyunggingkan senyumnya, jumlah anak buah Amran yang mengepungnya, tidak sedikit pun menyiutkan nyalinya. Imel terus berusaha berontak, Edo tidak lagi memegang tangan Imel, tapi dia memeluk erat Imel dari belakang, demi Aslan apapun akan Edo lakukan, termasuk membawa paksa Imel dari sisi Amran yang sudah mencuci habis otak Imel. “Lepasin aku!” teriak Imel. “Diamlah, Mel … aku akan bertanggung jawab atas semuanya, percayalah …” lirih Edo. Imel tidak peduli, dia terus berusaha berontak dari ipelukkan Edo. Amran menatap Edo penuh amarah. “Lepaskan Imel, Do!” teriak Amran untuk yang kesekian kalinya. Edo benar-benar sudah membangkitkan Amarahnya. “Kamu yang seharusnya melepaskan dia! Sadarlah kamu, Ran. Sampai kapan kamu akan membuat Imel dalam kegelapan, itu semua hanya akan menyi

