12 : Tak Mau Kehilangan

1928 Words
“Pak Athala!” Bukan hanya Athala yang menoleh. Layla juga ikut melakukan hal yang serupa. Di kafetaria kantor saat Layla sedang menyantap makan siangnya seorang perempuan menyebut nama Athala di tengah hiruk pikuk kesibukan. Tak jauh dari meja Layla tampak Athala duduk sendirian. Lelaki itu juga sedang menikmati makan siangnya. Sementara itu, seorang perempuan dengan nampan berisi menu makan siang berjalan mendekat. Tak lama perempuan itu duduk di meja yang sama dengan Athala. “Namanya Mahira.” Puspa yang duduk di samping Layla memberikan informasi. “Enggak tanya, tuh?” Puspa ini bekerja di divisi yang sama dengan Layla, meskipun jabatannya berada di bawah Layla. Kalau sedang di luar jam kantor mereka berdua memang lebih santai. Di antara seluruh anak buahnya yang lain Puspa memang yang paling cukup dekat dengan Layla. Jadilah Psupa tak terlalu merasa sungkan untuk menyindir atasannya tersebut. Puspa menyendok sayur sambil mendengkus geli. “Tapi, lo keliatan ingin tanya. Di jidat lo seakan-akan muncul tanda tanya. Ditambah dari tadi lo ngelitin mejanya Athala mulu. Seandainya mata lo bisa keluar sinar laser, udah pasti jidatnya Mahira bolong karena diliatin mulu sama lo.” “Masa, sih?” “Ya, iya. Manusia emang paling susah menilai diri sendiri. Tapi, yah … sehubung gue baik gue akan kasih tau tentang Mahira.” Layla menegakan punggungnya. Lauk dan nasi di nampan makannya kini tak lagi menarik. Seketika selera makan Layla hilang. “Jadi, dia siapa?” tanya Layla akhirnya. Tak tahan lidahnya menahan pertanyaan itu. “Mahira itu anak magang. Dia masuk sini karena bapaknya menjabat sebagai Senior Vice President di Divisi Hukum Korporat. Kalau enggak salah dia masuk sini pas semester 6, deh. Umurnya 20-an dan … gue rasa dia naksir sama Athala.” Layla melotot. “Tapi, Athala lebih cocok jadi pamannya daripada jadi gebetan.” “Itu ‘kan menurut elo.” Puspa meletakkan sendoknya. Kini dia menatap Layla lurus-lurus. “Athala itu pebimbingnya Mahira selama magang di sini. Lagian, Athala dari dulu emang jadi pembimbing favorit, sih tiap kali ada anak magang. Gue denger dia yang paling baik. Juara, deh. Lo enggak cemburu ‘kan?” Layla tidak memberikan respons berupa jawaban, tetapi tindakannya sudah cukup jelas bagi Puspa. Layla kembali melirik ke meja Athala. Di sana Athala terlihat sedang mengobrol seru dengan Mahira. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Sesekali Athala menampilkan senyum atau bahkan terkekeh. Api cemburu mulai tumbuh kala itu untuk alasan yang tak dapat dijelaskan. Detik berikutnya pandangan Athala berada di dalam satu garis lurus yang sama dengan Layla. Kontak mata tersebut hanya terjadi sebentar karena Athala langsung menjadi orang pertama yang memutusnya. Layla menelan ludahnya sendiri. Padahal Layla yang menjauh duluan, tetapi kenapa ketika Athala ikut melakukan hal yang sama Layla malah merasa tak adil? *** Dari jauh Layla memperhatikan Athala. Minggu itu Layla dan sejumlah karyawan Trios Jaya Group diundang untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu kepala divisi. Di ballroom tempat acara berlangsung Layla melihat Athala. Di dalam balutan kemeja batiknya Athala tampak luar biasa memesona. Sayangnya, pemandangan itu harus terganggu karena kehadiran Mahira. Anak magang itu terlihat lengket berada di samping Athala. “Kamu kesal karena laki-laki itu datang bersama perempuan lain dan bukannya kamu?” Suara Noah terdengar. Dengan malas Layla menoleh. Karena hubungan kerja sama antara Noah dengan Trios Jaya Group, jadilah Noah ikut diundang. Padahal Layla tidak mengharapkan kehadiran Noah. “Terserah apa katamu,” balas Layla ogah-ogahan. Jari Noah bergerak menarik sejumput Layla ke belakang telinga. Sentuhannya begitu pelan dan lembut mengingatkan Layla pada hari di mana cinta masih tumbuh di dalam hati keduanya. Sayang, kini cinta itu sudah berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan—bagai petaka. “Layla, kalau pun kamu menjalin hubungan diam-diam dengan dia itu semua enggak akan ada artinya. Begitu laki-laki itu tau bahwa kamu pernah hamil di luar nikah, pasti dia akan langsung meninggalkan kamu.” Melihat ekspresi ngeri yang muncul di wajah Layla membuat hati Noah merasa puas. Dengan gerakan s*****l Noah mendekatkan bibirnya ke telinga Layla. “Di dunia ini enggak ada laki-laki baik yang menginginkan perempuan rusak. Perempuan yang enggak bisa menjaga keper-awanannya.” Layla menggigit pipi bagian dalamnya. Dia berusaha untuk menahan diri dengan tidak menampilkan rasa sakit di hadapan Noah. Layla tak lagi sudi menangis di hadapan Noah. Noah menarik kembali wajahnya menjauh. Ditampilkannya seulas senyum sambil melanjutkan, “Hanya aku yang bisa menerima kamu, Layla.” Layla membuang muka. “Aku mau ambil minum.” Layla tak benar-benar haus. Dia hanya butuh alasan untuk melarikan diri dari Noah. Beruntungnya kali itu Noah melepaskan Layla. Di antara lautan manusia yang kebanyakan tak Layla kenal pada akhirnya dia memutuskan menjauh dari keramaian. Ballroom berada di sebuah hotel bintang 5. Tempat itu ramai dan penuh sesak. Satu-satunya tempat yang jauh dari jangkauan keramaian adalah tangga darurat. Di tempat itulah Layla duduk termenung bersama sunyi. Layla butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali berhadapan dengan Noah. Sekitar 10 menit duduk Layla dapat mendengar suara langkah kaki. Sewaktu menoleh Layla melihat tubuh jangkung Athala. “I found you,” kata Athala lega. Suaranya masih terdengar sama seperti ketika mereka mengobrol untuk terakhir kalinya di elevator. “Kamu seharusnya enggak di sini. Pasanganmu mungkin akan kelabakan mencari.” Athala tak langsung menimpali. Laki-laki itu memilih untuk mendudukan tubuhnya terlebih dahulu tepat di samping Layla. Aroma parfum Athala tercium di hidung Layla dan mengisi paru-parunya yang penuh sesak. Ada kenangan akan ombak dan langit malam setiap kali Athala berada di dalam jarak sedekat ini dengan Layla. “Aku datang tanpa pasangan,” jawab Athala pada akhirnya. “Lantas kamu anggap apa Mahira?” “Mahira?” Athala menatap Layla dengan heran seolah-olah perempuan itu baru mempertanyakan sesuatu yang tak masuk akal. “Dia hanya karyawan magang bagiku. Bukan siapa-siapa.” Layla mendengkus. Sambil bertopang dagu Layla membalas, “She adores you. Aku bisa lihat itu.” “Bukan urusanku soal perasaannya.” “Dia bakal sakit hati kalau dengar ini.” “Not my business. Lagi pula, aku datang ke sini bukan untuk membicarakan tentang perasaannya.” Athala menjawab dengan tegas. “Aku kemari karena ingin melihat kamu, mendengar suara kamu, dan berada di dekat kamu. Apa mungkin kamu betul-betul sudah enggak menginginkan aku lagi?” “Kita sudah membicarakan soal ini, Athala ….” “Aku tau,” potong Athala cepat. “Aku hanya merasa bahwa semua tentang kita belum selesai. Aku yang belum mau selesai, Layla. I still want to feel the warmth of the world with you by my side.” Layla juga memiliki keinginan yang sama. Dia masih ingin menghabiskan malam dengan kencan diam-diam bersama Athala. Layla masih ingin memandangi langit malam Jakarta bersama Athala yang membagi rahasianya kepada Layla. Masih ada terlalu banyak hal yang ingin Layla lakukan bersama Athala. Akan tetapi, kenyataan menjadi tembok yang menghalangi seluruh angan-angan tersebut. Dengan cepat Layla menggeleng berusaha menepis bayangan akan hidup bersama Athala di dalam kepalanya. “Lupakan aku, Athala. Cepat atau lambat kamu akan terbiasa. Pada akhirnya posisiku akan tergantikan entah oleh Mahira atau perempuan lain.” “Kenapa bukan dengan kamu?” “Aku sudah bertunangan—” “Do you love him?” Pertanyaan Athala berhasil memotong ucapan Layla. Layla tak dapat menemukan jawaban. Lidahnya menolak untuk berbohong di hadapan Athala. “Cinta itu enggak penting.” “Aku enggak masalah kalau harus jadi bayangan untuk kamu.” Ucapan Athala begitu manis dan memabukan. Layla khawatir akan terjebak di dalam kalimat yang Athala ciptakan. Karena itu pula, Layla memaksakan diri untuk berdiri. “Ada hal yang enggak akan pernah bisa kamu pahami tentang diriku,” kata Layla detik itu juga. Athala ikut bangkit. “Apa yang enggak bisa aku mengerti tentang kamu?” “Aku bukan perempuan baik-baik, Athala. Manusia seperti kamu ….” Layla menelan ludahnya yang terasa pahit. Mendadak tenggorokannya terasa perih. “Seseorang seperti kamu enggak layak untuk bersanding denganku. Dan, sebelum perasaan kamu semakin dalam ada baiknya kita saling melupakan.” “Layla ….” Layla menggelengkan kepala. Menolak untuk mendengar apapun yang ingin Athala katakan. Layla paham Athala dapat dengan mudah membolak-balikan perasaannya. “Athala, kelak kamu akan menemukan perempuan yang lebih pantas bersanding bersama kamu. Seseorang yang enggak akan menjadikan kamu bayangan. Mari … kita lupakan tentang apa yang terjadi kemarin. Mulai hari ini anggap aku orang asing.” Setelah mengatakan itu Layla berjalan cepat meninggalkan Athala. Hatinya berdenyut sakit mengetahui bahwa keputusan ini diciptakan bukan karena Layla ingin, akan tetapi karena Layla harus. Cepat atau lambat mereka pasti akan saling melupakan. Layla percaya. *** “Lho, datang on time?” Puspa bertanya ketika dia melihat Layla yang baru akan masuk ke ruangannya. Layla mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan tempat karyawannya berada. Banyak kubikel yang masih kosong padahal waktu kerja sudah dimulai. “Memangnya yang lain kenapa telat?” “Itu ‘kan di daerah Plumpang ada kecelakaan beruntun, Bu. Karyawan banyak yang tinggal di daerah Jakarta Utara. Denger-denger, sih macet. Ibu enggak lewat situ emang?” Layla mengerutkan dahinya. Layla berusaha mengingat-ingat. Tadi, sih memang sempat ada kemacetan kecil, tetapi menurut Layla itu adalah hal yang wajar mengingat Jakarta di jam kerja memang selalu padat merayap oleh kendaraan. “Macet dikit, sih.” “Ibu kayaknya belum tau, deh jadi keliatan tenang.” “Tau apa? Jangan main tebak-tebakan gitu.” “Salah satu karyawan Trios ada yang ikut jadi korban.” “Siapa?” “Pak Athala.” Jantung Layla seperti langsung pindah ke perut, Waktu seakan ikut berhenti kala itu. Layla mampu mendengar dengung panjang di telinganya sebagai reaksi dari panik dan keterkejutan yang munculnya secara mendadak. “Athala?” Layla ingin memastikan. “Athala Rayhan Wijaya?” “Iya. Nama Athala di kantor kita cuman ada satu.” Layla langsung meraih kedua tangan Puspa dengan panik. “Sekarang dia ada di mana?” “Katanya seluruh korban dibawa ke RS Harapan, Bu. Termasuk Athala—” Layla tak mendengarkan perkataan Puspa sampai tuntas. Layla langsung berlari. Dia juga tak memiliki waktu untuk menunggu pintu elevator terbuka. Sekuat tenaga Layla menggerakan kakinya untuk berjalan menuruni tangga darurat. Setibanya di lobi Layla baru ingat kalau dia tadi diantar sopir Gasendra. Meminta sopir untuk putar balik dan menjemput pasti akan memakan banyak waktu. Sebagai solusi paling efektif Layla berlari bagai orang kesetanan menuju jalan besar dan menyetop taksi yang lewat. Di sepanjang perjalanan jantung Layla berdegup riuh. Bagaimana kondisi Athala? Pikiran tentang Athala membuat Layla buru-buru mengetik di layar ponsel. Layla masuk ke portal berita harian dan mencari informasi mengenai kecelakaan yang terjadi hari ini. Kecelakaan Beruntun Truk Tangki di Jakut, 3 Tewas dan 5 Korban Lainnya Terluka. Tubuh Layla lemas membaca headline berita. Airmata bahkan tumpah tanpa mampu dibendung. Segala penyesalan muncul memenuhi dadanya sampai membuat sesak. Setibanya di UGD RS Harapan Layla langsung berjalan menuju pusat informasi. Kedua lutut Layla bergetar ketika dia bertanya, “Korban kecelakaan hari ini … Athala Rayhan Wijaya. Di mana dia?” “Ibu siapanya pasien ya?” “Saya pacarnya,” jawab Layla tak sepenuhnya berbohong. Perawat yang berjaga menjelaskan posisi Athala. Layla langsung berjalan ke tempat yang dimaksud. Layla menyibak gorden yang menutupi brankar Athala. Dan di sanalah Athala berbaring. Athala menutup matanya. Perban melapisi kening Athala dan darah … darah ada di mana-mana. Di kemeja Athala … di pipinya … di tangan. Ada terlalu banyak darah. Layla harus menggigit bibir bagian bawahnya demi menahan isakan. Dengan ujung jari yang membeku Layla menyentuh pipi Athala. “Athala ….” panggil Layla. Nada suaranya bergetar. “Athala … bangun. Maafkan aku.” Tak ada jawaban. Kedua bahu Layla bergetar seiring dengan keluarnya isak tangis. Kini yang tersisa tinggal penyesalan. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD