11 : Melepaskan Kita

1909 Words
Sebisa mungkin Layla terlihat tak goyah di hadapan Noah. “Kamu enggak mengabari akan datang,” balas Layla enggan basa-basi. Satu tangan Noah masuk ke dalam saku celana. Gelagat Noah santai sekali. “Aku enggak perlu mengabari tunanganku dulu kalau harus datang ke rumahnya ‘kan? Lagi pula, kamu sama aja. Kamu enggak mengabariku seharian ini. Aku sampai bertanya-tanya sekiranya apa yang membuat kamu berani menghilang.” “Aku … menunggu kabar kamu duluan. Kalau kamu bisa baik-baik aja tanpa mengabari aku maka, aku juga bisa melakukan hal yang sama.” “Oh ya?” Noah berjalan mendekat. Aura mengintimidasinya terasa begitu pekat membuat Layla mundur pelan. “Kamu bukan sedang berbohong ‘kan supaya bisa pergi diam-diam dengan laki-laki itu?” Noah menyaksikan mobil Athala meninggalkan halaman rumah tadi. Dia melihat Layla yang melambaikan tangan kepada Athala. Semua Noah saksikan dari kaca di lantai dua. “Aku … enggak—” Noah mencengkeram kedua pergelangan Layla memaksa perempuan itu untuk berhenti menciptakan jarak. Seketika itu juga Layla menahan napas. Ingatan akan perlakuan kasar Noah naik memenuhi otaknya dan menimbulkan rasa gugup serta takut. Kini jantung Layla berdegup panik. Dia harap seseorang akan menolongnya sekarang juga. “Jangan bohong,” bisik Noah. “Aku benci dibohongi.” “Jangan pukul aku, Noah.” Layla meminta dengan nada yang menyedihkan. “Aku harus memberinya pelajaran kalau begitu supaya dia paham kalau pergi bersama tunangan orang lain adalah sebuah kesalahan.” Noah sudah akan keluar dari kamar, namun Layla menahan. “Jangan, Noah. Aku mohon. Please.” Noah menoleh. Salah satu sudut bibirnya naik membentuk seringai yang menyeramkan. “Kamu takut aku melukainya?” Layla menggeleng. “Dia sama sekali enggak salah, Noah. Ini salahku. Maafkan aku karena pergi tanpa mengabari kamu. Aku enggak akan mengulanginya lagi.” “Janji?” Dengan berat hati Layla mengangguk. “Janji.” Noah melunak. Dia mengusap pipi Layla lembut. Dipandanginya wajah perempuan itu. “Tidak ada pengkhianatan di dalam hubungan ini, Layla. Seorang perempuan dilarang untuk mendua. Kamu milikku sepenuhnya, ingat?” Layla terjebak pada situasi yang memaksanya untuk berbohong. “Ingat.” Ibu jari Noah bergerak menelusuri garis leher Layla. Jarak wajah keduanya semakin tipis sampai akhirnya Layla menutup mata ketika Noah menciumnya. Ciuman Noah hari itu terkesan begitu menuntut, memaksa, dan menyakitkan. Segalanya terasa tak nyaman bagi Layla. Perempuan itu hanya menerima dan membuka mulut tanpa bisa melawan. Samar-samar dapat Layla rasakan tangan Noah bergerak di balik gaun yang Layla kenakan. Di dalam hatinya Layla berdoa semoga seseorang menyelamatkannya sekarang juga. “Ateu—” Pada saat itulah Tuhan mendengar doa Layla. Harsa yang mendengar kedatangan Noah buru-buru menyusul ke lantai di mana kamar Layla berada. Pemuda itu tak mengetuk pintu dan langsung membukanya. Keberadaan Harsa langsung saja membuat Noah mengambil jarak yang lebar dari Layla. Layla baru dapat bernapas lega saat itu. Sepasang matanya berkaca-kaca karena luapan rasa takut yang mekar di dalam hatinya. “Oh, Mas Noah. Maaf aku ganggu. Papa dan Bunda baru sampai. Mereka ingin menyapa Mas Noah.” Harsa setengah berbohong. Gasendra dan Sheila memang tiba bersamaan dengan Harsa. Namun, keduanya tak meminta Harsa untuk memanggilkan Noah. Biarlah bagaimana semesta membawa kebohongan Harsa. Noah salah tingkah karena tertangkap basah. Dengan canggung Noah mengangguk. “Okay.” Noah berjalan duluan meninggalkan Layla dan Harsa. “Ateu, are you okay?” Harsa bertanya begitu mendapati tangan Layla yang bergetar. Diraihnya pundak Layla. “Apakah Mas Noah menyakiti Ateu?” Layla memandangi Harsa. Dia menggigit bibirnya. Sebuah gelengan kemudian Layla berikan. Terpaksa dia berbohong untuk yang kesekian kalinya. “Aku enggak apa-apa.” Harsa tak bodoh. Sudah sejak lama Harsa mencurigai Noah. Sejak keluar dari pusat rehabilitasi Layla tampak ketakutan setiap kali berada di samping Noah. Sebagai seorang lelaki tentu Harsa dapat mengendus ada sesuatu yang tak beres. Meskipun demikian Harsa tak mau memaksa. Harsa menarik Layla ke dalam pelukannya dan mengusap sayang punggung Layla. “Aku akan selalu memihak Ateu apapun yang terjadi.” Harsa berjanji. Janji yang akan membawanya pada pengorbanan besar suatu hari nanti. *** “Hai—” Athala tak sempat menuntaskan sapaannya. Layla yang menjadi objek penglihatan Athala langsung melengos begitu saja sewaktu mereka bertemu. “Mau pulang—” Hal yang sama juga terjadi ketika Athala berusaha basa-basi. Layla selalu membuat situasi di mana Athala tak mampu menuntaskan ucapannya. Peristiwa tersebut mendorong Athala pada satu kesimpulan, yakni Athla merasa bahwa Layla menjauh. Secara tiba-tiba saja Layla menolak untuk berlama-lama terlibat percakapan dengannya. Jika sebelumnya setiap kali tidak sengaja bertemu baik itu di kafe maupun di kantor Layla akan senang-senang aja diajak ngobrol, maka sekarang berbeda. Layla akan berjalan cepat ketika melihat Athala. Layla juga tak perlu repot-repot melempar senyum kali keduanya tak sengaja bertatapan. Sebagai alternatif Layla justru akan langsung membuang muka. “Kalian berantem?” Dimas bertanya sewaktu dia dan Athala baru selesai melakukan fingerprint. Tadi Layla juga ada di sana bersama mereka. Baik itu Layla maupun Athala sama-sama bungkam. Tak ada yang menyapa dan tak ada yang berniat untuk menciptakan obrolan. Layla pergi setelah proses fingerprint-nya diterima oleh sistem tanpa melirik Athala sekalipun. Athala mengangkat bahunya berusaha tampak tak acuh padahal jauh di dalam lubuk hatinya lelaki itu merasa tidak nyaman. “Enggak.” “Terus, kenapa tiba-tiba kayak orang asing? Kalau orang lain liat mungkin mereka enggak akan pernah nyangka lo dan Layla pernah sedekat nadi sebelum sejauh matahari dan bumi.” Dimas mengakhiri ucapannya dengan tawa meledek. “Not your business.” Pada satu sisi Athala merasa kesal. Baru saja dia dan Layla dekat. Baru saja Minggu lalu Layla berbaur bersama keluarga besarnya. Dion bahkan sudah bertanya kapan Layla akan datang lagi ke rumah. Pun ketika pulang mengantarkan Layla, Athala yakin hubungan mereka masih harmonis. Lantas mengapa sekarang situasinya berbanding 180 derajat? Apakah ada dari kalimat Athala yang ternyata diam-diam menyakiti hati Layla? “Eh, ini kali. Jangan-jangan dia dilarang sama tunangannya, si Noah.” Dimas berasumsi. “Lo mikirnya ke sana?” “Iyalah.” Dimas kemudian menjelaskan sambil keduanya berjalan menuju lift. “Gue juga kalau jadi tunangannya Layla mana rela ngebiarin cewek gue deket-deket sama cowok lain. Layla itu cantik banget. Kayak bidadari. Lo enggak tau aja Layla itu jadi primadona di divisinya. Kalau tunangannya bukan sekelas Noah Elio Rahardjo, gue rasa udah banyak yang deketin Layla. Cuma … ya mereka ciut nyali duluan. Lo doang, nih yang masih jadi juara bertahan.” “Bentar.” Athala terlihat bingung. “Maksud lo Noah cemburu sama gue?” “Ya, iyalah! Lo jangan kesenengan tapi … nih, ya lo itu ganteng, keluarga lo juga terpandang, dan jabatan lo di sini kepala divisi anggaran. Yang paling penting Layla juga keliatan nyaman sama lo. Kalau gue jadi Noah, ya … gue juga bakal kelabakan. Karena apa? Lo lawan yang setara.” Athala tak menanggapi lagi. Tidak mungkin bagi Athala untuk berterus terang kepada Dimas mengenai statusnya dengan Layla. Melihat Athala yang bungkam membuat Dimas jadi gemas sendiri. “Layla mungkin nyaman sama lo, tapi mustahil juga dia relain Noah buat bisa sama lo. Pahit tapi, perlu diakui kalau lo baru aja dicampakkan sama Layla.” Lift terbuka Dimas melangkah duluan disusul dengan Athala. Kondisi lift penuh sebagaimana isi kepala Athala. Ada rasa tidak rela membayangkan dirinya dicampakkan oleh Layla. Kenapa ya? Apa betul karena Athala kecewa. Akan tetapi, kecewa atas dasar apa? Toh hubungan yang mengikat Athala dan Layla baru terjalin sebentar. Kisah di antara mereka belum banyak. Jika dilihat menggunakan akal yang logis pilihan Layla untuk menjauhi Athala demi menghindari konflik dengan Noah merupakan langkah yang bijak. Meskipun begitu, tetap saja Athala tidak bisa ikhlas begitu saja. *** Semesta sepertinya mendengar kegelisahan Athala. Dia sedang menunggu lift dan ketika pintu lift terbuka Athala langsung bisa melihat Layla. Perempuan itu berdiri di sana. Tampak cantik sekaligus sibuk. Layla sendiri belum menyadari kehadiran Athala karena dirinya sibuk mengutak-atik ipad menggunakan stylus. Di dalam ruangan besi itu hanya ada Layla seorang. Athala melangkah dengan pasti. Mungkin dia punya kesempatan untuk bicara dengan Layla kurang dari 2 menit. “Kamu mungkin bisa menabrak orang kalau berjalan dengan kepala menunduk menatap layar ipad,” ucap Athala sebagai pembuka. Mendengar suara yang sudah tak asing itu membuat Layla refleks mengangkat pandangan. Melalui pantulan badan elevator Layla dapat siluet Athala. Kepalanya menoleh ke samping dan di sanalah Athala berada. Lelaki itu tidak tersenyum sebagaimana kebiasaannya setiap kali mereka bertemu. Meskipun begitu, Athala juga tak terlihat dingin. Athala seperti seorang teman lama yang berusaha menyapa kawannya. “Aku akan baik-baik aja,” balas Layla pendek. Mendadak Layla kehilangan fokus. Tabel angka di layar ipad-nya menjadi sesuatu yang tak dapat menarik perhatiannya lagi. Dengan canggung Layla memeluk ipad-nya. Dia sempat melirik layar elevator demi memastikan kapan sekiranya dia akan tiba di lantai tujuannya. Pemandangan itu tak luput dari perhatian Athala. “Layla, apa yang membuat kamu menjauh dariku?” Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Athala sendiri. Tanda tanya besar yang selama beberapa hari terakhir ini menghantui Athala dimuntahkan di hadapan Layla langsung. Ditodong dengan pertanyaan seperti itu membuat Layla merasa tidak nyaman. Tanpa perlu menoleh ke arah sang lawan bicara Layla menimpali seadanya, “Itu hanya perasaan kamu.” “Layla, tolong. Kalau memang kita harus menjauh seenggaknya kasih aku alasan. Aku enggak butuh jawaban konyol semacam itu.” “Maka, kamu enggak akan menemukan jawaban lain.” Athala melangkah dan berhenti tepat di depan Layla. Athala tak perlu repot-repot menunjukkan rasa frustasinya. Lelaki itu sudah tampak gundah hanya dengan mendengar tanggapan Layla yang dingin. “Apakah menurut kamu hubungan kita memiliki arti?” tanya Athala. Suaranya pelan dan terdengar menyedihkan. “Apakah menurut kamu semua hal yang pernah kita lalui bersama bukanlah hal penting?” Ting! Bersamaan dengan itu pintu elevator terbuka. Layla berniat menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri, namun Athala menahan salah satu tangan Layla. Secara cekatan dengan satu tangannya yang bebas Athala menekan tombol elevator membuat pintu besi itu kembali menutup dalam hitungan detik. “Athala!” Layla protes. “5 menit. Kasih aku waktu 5 menit untuk mendengar jawaban kamu yang paling jujur,” kata Athala pasrah. “Setelah itu aku enggak akan mengganggu kamu lagi. Aku janji.” Layla menggigit bibir bagian bawahnya. Sesuatu di dalam hatinya bergejolak sakit. Bohong jika Layla mengatakan bahwa dia tak ikut terluka. Di dalam periode waktu yang singkat Layla merasa nyaman memasuki dunia milik Athala. Lelaki itu tanpa sadar mampu mengisi kosong di dalam hatinya yang menganga. Athala … adalah keajaiban yang dikirim Tuhan di tengah sunyi dan gelapnya dunia Layla. Namun, tak mungkin bagi Layla untuk memaksakan kehendak. Di dunia ini tak ada lagi ruang baginya untuk bersama Athala. “Athala, di dalam kehidupan kali ini saling melepaskan adalah keputusan paling bijak. Aku harus menghargai Noah sebagai tunanganku. Aku harap kamu mengerti.” “Jadi, kamu ingin kita putus?” tanya Athala dengan nada getir. Walaupun enggan Layla tetap mengangguk. “Sejak awal pertemuan-pertemuan kita selalu terjadi karena kebetulan. Kebetulan aku melihat kamu di tempat-tempat di mana aku kehilangan keinginan untuk hidup. Dan, sebelum aku berharap lebih … sebaiknya kita menyudahi ini. Apapun yang kamu harapkan tentang aku … aku harap kamu melupakannya.” Layla melepaskan tangan Athala yang melingkar di salah satu pergelangan tangannya. “Anggap aja aku cuma mimpi, Athala. Hanya dengan begitu kamu bisa melepaskan aku … melepaskan kita.” Ting! Untuk kedua kalinya pintu elevator terbuka. Kali ini Athala tak menghalangi. Dibiarkannya Layla melangkah keluar meninggalkan Athala yang hanya mampu mendengar suara ketukan high heels-nya yang perlahan menghilang ditelan jarak. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD