Sebagaimana janjinya tempo hari Athala berjanji untuk mengajak Layla bertemu dengan ibunya. Karena itu pula Athala langsung menjemputnya di kediaman Gasendra.
Ketika keluar dari mobil Athala langsung disambut oleh Harsa. Pemuda jangkung itu terlihat sedang memeluk bola basket.
“Mas Athala mau bawa Ateu ke mana?”
Athala kok jadi malu ya mau bilang kalau dia akan mengajak Layla bertemu ibu dan keluarganya. Kesannya seperti sesuatu yang serius. Tetapi, tak mungkin juga Athala harus berbohong. “Mau ketemu Mama. Saya sempat cerita tentang Mama dan Layla merasa tertarik untuk ketemu.”
“Mas Athala udah ngapain Tante saya?”
Athala panik. “Saya ngapain?”
“Sejak keluar dari pusat rehabilitasi Ateu Layla jadi terkesan hidup kalau lagi sama Mas Athala. Di meja makan pun nama Mas Athala enggak lepas dibicarakan dan lambat laun menggantikan nama Mas Noah."
Athala belum mengerti apakah itu pertanda baik atau justru buruk. Otaknya tak dapat digunakan untuk berpikir. Perhatiannya kini tersedot secara penuh ke titik di mana Layla berada.
Siang itu Layla menggunakan gaun warna baby blue yang panjangnya mencapai mata kaki. Rambut Layla dibiarkan tergerai indah. Sebuah hair pins berwarna senada menjempit poninya dengan apik. Penampilan Layla begitu manis sekaligus cantik. Di pelukan Layla terdapat sebuket bunga mawar merah segar yang dibungkus menggunakan cellophane paper.
“Hai,” sapa Layla ketika dia sudah berdiri berhadapan dengan Athala.
“Hai.”
Agak malu Layla berputar pelan membuat bagian bawah gaunnya mengembang secara cantik nan anggun. “Aku cantik?”
“Cantik sekali,” jawab Athala sungguh-sungguh. “Kayak ibu peri.”
Harsa yang memperhatikan kedua orang dewasa itu memilih untuk menginterupsi. “Sebaiknya berangkat sekarang biar pulangnya enggak terlalu sore.”
Seakan baru tersadar Athala mengangguk. “Ah, iya. Kita harus pamit dulu ke kakak kamu, Layla.”
“Papa sama Bunda lagi nge-date, Mas. Udah jalan aja nanti saya sampaikan.”
Sepanjang perjalanan berulang kali Athala mencuri pandang ke arah Layla. Dari samping begini Layla terlihat luar biasa cantik. Perempuan itu seakan menghasilkan cahaya sendiri—sinar yang tak terlalu terang, namun mampu membuatnya berkilauan bagai anak bintang.
Pandangan Athala turun pada cincin di jari manis Layla. Cincin yang mengikat perempuan itu dengan Noah.
Sesaat Athala teringat peringatan yang pernah disampaikan oleh Dimas. Jangan sampai jatuh hati.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah Athala sanggup tak jatuh pada pesona Layla yang begitu surgawi ini?
***
Keluarga Athala heboh. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama akhirnya Athala datang membawa perempuan. Para tantenya langsung mengasumsikan kalau Layla adalah kekasih baru Athala.
“Athala pintar ya cari pacar. Lama ngejomblo, eh sekalinya punya pacar malah bidadari. Selendang kamu dicuri ya, Nak?”
Layla sudah dikelilingi oleh para tante. Athala agak khawatir Layla merasa terganggu menerima perlakuan itu.
“Siapa yang datang?” Suara lain terdengar. Kali ini milik Seruni.
Seruni melenggok elok bagai merak mendekati Layla. Seolah memahami situasi para tante memberikan ruang bagi Seruni untuk berdiri di hadapan Layla dan memandanginya secara jelas.
Seruni rupanya menurunkan gen terbaiknya kepada Athala. Layla bisa melihat bahwa kecantikan di wajah Seruni sepenuhnya diturunkan kepada Athala.
Layla tersenyum hangat. “Halo, Tante. Saya Layla. Athala pernah menceritakan tentang Tante yang menyukai dongeng. Saya suka dongeng tentang pelangi yang menjembatani jiwa-jiwa yang telah meninggal untuk turun ke bumi.”
“Athala bercerita tentang itu kepada kamu?”
“Iya.” Layla menyodorkan sebuket mawar segar kepada Seruni. “Saya petik ini sendiri. Kebetulan halaman belakang rumah kami luas dan beberapa jenis bunga tumbuh di sana.”
Sekitar 20 kelopak mawarnya mekar dengan indah. Duri-duri mawar juga sudah dipotong secara rapi. Tampak jelas kalau Layla benar-benar mempersiapkan hadiah sederhana ini. Niat baik tersebut rupanya menyentuh hati Seruni.
Disunggingkannya senyum di kedua sudut bibir Seuni. “Terima kasih. Athala belum pernah bercerita tentang kamu. Jadi, saya harap bisa mengenal kamu lewat pertemuan ini. Mari, Nak saya kenalkan kepada keluarga yang lain.”
Seruni memanggil ART untuk memindahkan bunga pemberian Layla ke dalam vas. Setelah itu Seruni menggandeng lengan Layla dan mengajaknya untuk berjalan ke ruang tengah.
Ruangan itu sudah didekorasi dengan bunga hidup yang cantik. Makanan dijajarkan dalam bentuk prasmanan yang panjang. Sejauh mata memandang Layla dapat melihat aneka olahan masakan mulai dari appetizer, entrée, maincourse, dessert, sampai beverage.
“Wah, siapa, nih?” Damar—adik Athala yang dari tadi sibuk berkutat dengan macbook-nya mendadak mengangkat pandangan. Pada saat itulah dia melihat sosok asing yang berjalan berdampingan bersama sang ibu. “Pacarnya Mas Athala yang baru? Papa! Mas Athala sudah move on.”
“Athala punya pacar?” Richard muncul dengan ekspresi penasaran.
Untuk pertama kalinya Layla bertemu dengan Richard. Richard memiliki wajah dengan jejak asing di sana. Kalau Athala mirip sekali dengan Seruni maka, Damar mirip sekali dengan Richard.
Layla mendapatkan sambutan yang hangat. Damar yang tadinya sibuk dengan pekerjaan juga sejenak melupakan laptopnya dan lebih memilih untuk bergabung bersama Layla serta Athala.
“Diana dan Dion enggak datang?” Layla celingukan mencari keberadaan dua bocah yang mengisi harinya akhir-akhir ini.
“Harusnya sih bentar lagi mereka diantar nanny—”
“Paman Athala!” Di saat bersamaan Diana menerobos masuk. Gadis kecil itu terlihat antuasis.
Dion yang tadinya terlihat bosan begitu melihat keberadaan Layla langsung berubah menjadi semangat. “Tante Layla!”
Kedua bocah itu memeluk Athala dan Layla secara bergantian. Damar tentu saja dicuekin.
“Happy to see you here, Tante,” kata Dion jujur.
“Aku juga seneng ketemu Dion dan Diana. I miss you so much guys.”
“Bocil-bocil ngapain, sih ikut arisan keluarga? Bukannya kalian ada les musik ya hari Minggu?” Damar ikut nimbrung.
“I think music is not my passion, Paman Damar. Aku bosan ingin cari suasana baru.” Dion mengangkat bahunya tak acuh.
“Buset, bocil udah ngomong soal passion aje.” Damar mencibir lucu. “Zaman Paman seusia kamu mana kenal passion. Paman taunya PS, sepedaan keliling perumahan sampai bau matahari. Kamu tuh bisa enggak jadi anak kecil pada umumnya aja?”
“Main game hanya buang-buang waktu, Paman.”
Dua orang nanny berjalan menyusul. Layla menunggu untuk bertemu dengan orangtua Dion dan Diana, namun batang hidung mereka tak kunjung muncul.
“Orangtua Dion sama Diana kok enggak keliatan?” Layla berbisik kepada Athala saat Damar masih berdebat dengan sang keponakan.
“Mereka emang sibuk. Mana sempat ikut acara seperti ini,” jelas Athala sembari memperhatikan Dion yang masih menjawab pertanyaan Damar dengan lagak seperti orang dewasa. “Bisa dibilang kedua orangtuanya enggak terlalu peduli apakah Diana dan Dion tumbuh sebagaimana kebanyakan anak pada umumnya. Karena itu juga Dion berbeda. Dia dituntut untuk jadi kakak yang bisa menjaga dan mengajari adiknya. Dia enggak punya kesempatan untuk jadi manja dan cengeng ke orangtuanya sendiri.”
***
“Paman! Aku mau berenang.” Dion berlari sambil membawa pelampung bebek yang telah ditiup Damar dengan sisa-sisa oksigennya.
Di belakang Diana ikut mengekor. Keduanya sudah berganti pakaian menjadi baju renang.
“Aduh. Enggak apa-apa aku menemani mereka dulu?” Athala sempat melirik Layla dengan tak enak hati.
Layla sudah bangkit dari duduknya. “Aku ikut temani kamu kalau begitu.”
Pada akhirnya Athala dan Layla ikut mengawasi Dion dan Diana berenang. Damar sih merasa senang karena tugas mengasuh dua bocah itu dipindahkan ke pundak Athala. Sambil duduk di gazebo Damar memperhatikan Athala yang menangkap tangan Layla. Tindakan tersebut perlu dilakukan karena Layla hampir saja jatuh ke dalam kolam.
Mata Damar menyipit. Dia tersenyum miring melihat Layla dan Athala yang sama-sama gugup setelah menyadari betapa dekatnya jarak di antara mereka berdua.
“Udah yuk berenangnya. Itu bibir kalian udah pucat, lho.” Layla mengingatkan.
Dion dan Diana yang sudah menggigil memilih untuk patuh. Layla membentangkan handuk dan langsung membungkus tubuh Diana. Hal yang sama dilakukan oleh Athala kepada Dion.
“Aku harap mamaku itu Tante Layla,” kata Diana tiba-tiba.
“Aku juga harap Paman Athala jadi Papa,” tambah Dion. “Kalau Paman Athala menikah dengan Tante Layla aku akan panggil kalian Papa Nomor Dua dan Mama Nomor Dua.”
“Ngomong apa kamu ini. Udah ayo, mandi dan ganti baju. Masuk angin nanti.” Athala berusaha mengalihkan percakapan.
Athala memanggil nanny untuk memandikan Dion dan Diana. Keduanya segera dibawa menuju kamar mandi.
“Layla.” Seruni muncul di ambang pintu kaca yang menghubungkan taman luar dengan ruang tengah. “Kami mau makan burnt cheese cake. Kamu mau?”
Mata Layla berkilat-kilat senang mendapatkan tawaran emas itu. Dia sempat melirik Athala. “Athala, kamu mau juga?”
Athala menggeleng. “Aku masih kenyang. Pergilah sama Mama.”
Layla patuh. Perempuan itu berjalan dengan hati ringan dan menggandeng lengan Seruni. Keduanya lantas menghilang ditelan oleh jarak. Kini tinggal Athala dan Damar yang duduk di gazebo.
“Layla itu kok kayak enggak asing ya, Mas?”
“Dia perempuan yang kita lihat di makam tempo hari.”
“Hah?” Damar tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Dia mengecilkan suara. “Yang meratapi kuburan kecil itu?”
“Iya.”
“Wah, jauh banget ya bedanya. Pas pertama kali lihat Layla, gue pikir dia orang yang kehilangan semangat hidup. Lo juga liat sendiri ‘kan Mas betapa kosongnya tatapan dia waktu itu?”
Athala merebahkan tubuhnya di lantai gazebo. Kedua tangannya dilipat di belakang kepala sebagai bantal. Mana mungkin Athala melupakan itu? “Gue denger dari keponakannya kalau dia enggak begitu tadinya. Mungkin Layla melalui sebuah truma saat itu.”
“Gue liat di jari manisnya ada cincin.” Damar melirik Athala. “Cincin biasa atau cincin tunangan, sih?”
Seketika itu juga Athala terlihat tidak nyaman. Dia belum siap membahas hal ini dengan Damar. Namun, kabur juga bukan solusi. “Cincin tunangan.”
“Tunangannya enggak marah lo bawa Layla ke sini, Mas?”
Sebenarnya Athala tidak tahu. Dia tidak bertanya. Lebih tepatnya tidak ingin tahu soal Noah. “Enggak tau.”
“Mas. Jangan main-main sama hati manusia. Gue enggak mau salah satu dari kalian terluka.”
“Apaan, sih?” Athala bangkit membentuk posisi duduk. Kedua alisnya menukik tipis. “Itu bukan urusan lo.”
“Mas, hubungan kalian sama sekali bukan urusan gue. Tapi, gue enggak mau lo terluka untuk yang kedua kalinya. Soal Elaine … lo udah beneran move on dari dia?”
Athala tak mampu menjawab. Elaine … sosok itu masih menghantuinya sampai saat ini. Bayangan Elaine menjadi samar setiap kali Layla berada di dekatnya. Lambat laun keberadaan Layla menghapus jejak Elaine di dalam hati Athala.
Dan Athala mulai khawatir. Seandainya suatu saat nanti Layla meninggalkannya, bagaimana dia harus menghapus jejak Layla?
***
“Hati-hati! Kabarin kalau udah sampai.” Layla berteriak ketika mobil Athala meninggalkan halaman rumah.
Mereka tiba di rumah pukul 7 malam. Layla melangkah dengan gembira. Di salah satu tangannya terjinjing tas karton berisi makanan dan kue buatan Seruni. Layla bersenandung pelan mengingat momentum ketika dirinya berada di antara keluarga besar Athala.
“Harsa ke mana, Mbak?” Layla bertanya ketika berpapasan dengan ART di ruang tamu.
Suasana rumah kala itu sepi. Biasanya di jam segini akan muncul suara tv di ruang tengah di mana Harsa akan bermain gim.
Sambil menerima tas karton dari Layla ART itu menjawab, “Mas Harsa jam 4 tadi keluar. Kalau Pak Gasendra dan Bu Sheila memang belum pulang. Ibu mau saya siapkan makan malam? Biar makan bareng sama Mas Noah.”
Kening Layla berkerut dalam mendengar nama tunangannya disebut. “Ada Noah?”
“Ada, Bu. Udah datang dari 30 menit lalu. Tadi, sih nunggu di ruang tamu cuma kayaknya tadi izin naik buat nunggu di kamar Ibu. Enggak apa-apa ya, Bu? Saya takut buat melarang.”
“Kok enggak ada mobilnya parkir di depan?”
“Tadi Mas Noah minta Bang Urip buat bawa mobilnya ke bengkel, Bu. Saya juga enggak tau ada masalah apa sama mobilnya Mas Noah.”
Layla mengabaikan penjelasan ART tersebut. Dia segera berlari naik ke lantai atas demi memastikan keberadaan Noah. Begitu membuka pintu kamar Layla langsung menjumpai Noah. Lelaki itu sedang melihat-lihat foto yang Layla pajang di atas meja rias.
“Seru ya sepertinya kencan kalian?” tanya Noah sarkastis.
[]