9 : Sunshower

1763 Words
Pagi itu Noah menjemput. Padahal Layla tak memintanya. “Kamu tuh kenapa, sih? Kayaknya menghindar banget dari aku.” Noah hendak menyentuh tangan Layla, namun buru-buru Layla menarik tangannya. Perjalanan pagi itu benar-benar tak menyenangkan. Layla harap mobil Noah mogok supaya dia dapat turun atau kalau bisa sekalian kecelakaan saja. Layla tak sanggup menjalin hubungan dengan lelaki ini. “Kamu mungkin pura-pura enggak menyadarinya, tapi aku udah enggak nyaman sama kamu.” “Hmm?” “Aku enggak tau kenapa kamu masih mempertahankan hubungan kita di saat aku tau kalau sebetulnya bukan aku perempuan satu-satunya yang ada di hati kamu.” Mobil Noah berhenti secara mendadak. Tubuh Layla tersentak ke depan. Seandainya Layla tak memasang seat belt sudah pasti kepalanya menabrak dashboard dengan keras. Kendaraan di belakang mobil Noah serentak membunyikan klakson karena merasa terganggu atas tindakan impulsif Noah. “Kamu tau?” tanya Noah mengabaikan klakson yang saling bersahut-sahutan di belakang sana. “Kita bisa minggir dulu enggak?” Layla menoleh ke belakang demi memastikan jumlah kendaraan yang mengular di sana. “Aku rasa kita mengganggu pengguna jalan lain—” “Kalau aku ajak bicara jangan melihat ke mana-mana!” Tanpa diduga Noah menarik kasar dagu Layla memaksa perempuan itu untuk menatapnya. Sorot matanya yang hangat seketika mencair bergantikan kemarahan yang mengerikan. “Kamu tau?” Layla meringis karena kuku Noah menusuk kulit pipinya. “Jawab!” Noah membentak. “Hanya orang bodoh yang enggak menyadarinya,” balas Layla dengan suara lemah. “Kenapa kamu enggak melepaskan aku aja alih-alih mempertahankan kami berdua?” “Aku enggak akan melepaskan kamu.” “Kenapa?” Noah melepaskan cengkeraman tangannya di rahang Layla. Lelaki itu kembali melajukan mobil. Pada saat itulah Noah baru menjawab, “Aku mencintai kamu.” “Bohong—” Tin! Noah menekan klakson secara kasar dan agak lama membuat Layla tersentak di kursinya. “Aku mencintai kamu. Itu faktanya.” “Cinta enggak seperti ini. Seharusnya cinta enggak saling menyakiti.” “Kamu salah, Layla. Aku begini karena aku mencintai kamu. Kalau enggak, mana mau aku mengubur rahasia kamu? Mana sudi aku menutupi rahasia dari keluarga kamu kalau kamu pakai nark0ba? Kalau aja teman kamu enggak bodoh mungkin sampai saat ini kamu masih pakai barang itu. Lagi pula ….” Noah melirik Layla yang mengkerut bagai anak kucing yang kedinginan. “Pengkhianatan bukan berarti aku sudah enggak mencintai kamu lagi. Perempuan itu hanya mengisi bagian yang kamu tinggalkan. Itu saja. Begitu kamu normal lagi, aku akan meninggalkan dia.” Layla sama sekali tak merasa terhibur mendengar ucapan Noah. Yang ada Layla merasa semakin jijik kepadanya. *** “Namanya sunshower.” Layla sedang berdiri di rooftop kantor dengan satu tangan yang terjulur ke depan merasakan tetesan air hujan yang menitik ke bumi ketika Athala datang. Lelaki itu berjalan mendekat ke tempat di mana Layla berada—di dekat pagar pembatas rooftop. Layla sontak menarik kembali tangannya. Siang ini mereka berdua janji untuk bertemu di rooftop kantor. Di jam makan siang seperti sekarang tempat itu sepi. “Aku pikir kamu akan makan siang sama yang lain,” kata Layla membalas ucapan Athala. Kala itu Athala meraih satu tangan Layla. Jari-jemari Layla terasa agak dingin karena menyentuh hujan. Namun, rasa dingin itu dengan segera digantikan oleh hangat ketika Athala menggenggamnya. “Aku sudah berjanji untuk bertemu kamu di sini.” Layla tersenyum merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit Athala. Rasa takut yang semula ditinggalkan oleh Noah secara perlahan menguap digantikan letupan rasa bahagia ketika Athala berdiri di sampingnya. “Jadi, sunshower itu apa?” “Ini ….” Athala menunjuk langit. “Fenomena ketika gerimis turun padahal langit sedang cerah. Biasanya hanya terjadi sebentar.” Layla menyandarkan satu tangannya yang bebas di pegangan pagar dan memandangi Athala. Lelaki ini selalu punya cerita yang menarik untuk didengarkan. “Tell me more, Athala.” “Singkatnya ada dua alasan. Pertama, ukuran awan hujan enggak terlalu besar jadi matahari masih bisa menyinari dari sisi yang lain. Kedua, adalah ukuran awan hujan besar tapi enggak stabil dan memiliki lubang. Jadinya masih memungkinkan untuk matahari masuk menyinari bumi. Di beberapa negara sunshower identik dengan mitos.” “Misalnya?” “Kalau di Indonesia, sih katanya karena ada yang meninggal.” Layla jadi murung. “Kenapa hujan harus selalui dikaitkan dengan sesuatu yang menyedihkan ya?” “Mungkin karena suasananya muram mirip perasaan manusia ketika sedang berduka.” “Aku enggak suka hujan karena mengingatkan aku pada duka.” Athala menyadari perubahan ekspresi di wajah Layla. Masih segar di dalam ingatan Athala bayangan wajah Layla yang menangis terisak di panti asuhan. “Tapi, dulu Mama pernah bercerita. Mungkin semacam dongeng? Katanya, setiap kali hujan orang yang sudah meninggal dan tinggal di surga akan turun sebentar ke bumi. Mereka akan mengunjungi keluarga, kekasih, atau teman yang mereka cintai untuk memastikan bahwa orang-orang yang telah mereka tinggalkan hidup dengan baik. Bisa dibilang di dalam dongeng yang dibuat oleh ibuku, hujan menjadi jembatan yang menghubungkan orang-orang yang telah meninggal dengan kehidupan di bumi ini. Mereka akan turun meluncur naik pelangi. Lalu ketika hujannya reda dan pelangi hilang mereka akan kembali lagi ke surga.” Seulas senyum tipis terbit di bibir Layla. “Kisah yang manis. Aku suka ibu kamu.” Refleks tangan Layla kembali terulur untuk merasakan rintik gerimis yang turun. Rintik itu begitu ringan dan kecil. Layla tak perlu takut tubuhnya basah karena sebentar lagi gerimis kecil itu menghilang. Di dalam benaknya Layla sedang membayangkan menyentuh tangan Kiara—bayinya. Melalui hujan mereka berdua saling bersentuhan dan bertukar rindu. Sebagaiman yang dikatakan oleh Athala. “Kamu mau ketemu Mama? Dia suka sekali berdongeng. Tapi, sejak anak-anaknya dewasa sudah enggak ada lagi yang mendengarkan. Diana dan Dion enggak bisa diandalkan karena keduanya mudah bosan.” “Memangnya boleh?” Layla memastikan. “Minggu nanti ada arisan keluarga. Biasanya Mama suka masak kue. Kamu suka kue?” Layla mengangguk. “Suka. Aku mau ketemu mama kamu.” Tanpa sadar Athala tersenyum. Di dalam waktu yang singkat ini agaknya Athala sudah cukup mengenal Layla. Perempuan itu memiliki sisi rapuh yang dingin dan tak tersentuh. Namun, pada situasi tertentu dia akan berubah menjadi manusia berhati hangat yang digemari kehadirannya oleh anak-anak—mirip ibu peri yang mengabulkan mimpi. “Omong-omong bayi yang waktu itu kamu gendong sudah diberi nama. Dia juga sudah ketemu orangtua yang mengadopsi.” Athala berusaha mencari topik obrolan lain. “Oh ya?” Athala mengangguk. “Namanya Asherah. Artinya kebahagiaan yang diberkati. Kedua orangtua yang mengadopsinya begitu bahagia karena mereka membawa pulang Asherah. Bayi merah itu sekarang tinggal bersama keluarga yang menyayanginya, Layla. Aku enggak membayangkan kehidupan seperti apa yang dijalani bayi itu seandainya dia dibesarkan di lingkungan yang enggak menginginkan dia.” “Blessing in disguise.” “Ya?” “Blessing in disguise atau berkah yang tersembunyi. Kalau bayi itu tumbuh di lingkungan yang bahkan enggak mengharapkan kehadirannya mungkin dia akan tersiksa. Mungkin itu cara Tuhan untuk menunjukkan cinta ke dalam hidupnya … dia harus melewati proses ditinggalkan di depan bangunan panti saat hujan dalam kondisi kedinginan.” *** “Itu tunangannya Layla.” Dimas menyikut pelan tulang rusuk Athala sambil berbisik. “Mau ngapain dia?” Dimas menggaruk keningnya. “Gue denger, sih perusahaan emang butuh tim legal baru. Mungkin mereka butuh kerja sama Noah. Dia ‘kan pengacara top.” Athala dan Dimas sedang berjalan menuju lift dan ikut bergabung bersama karyawan lainnya yang sedang menunggu lift turun. Di tempat itu pula Noah berada. Noah terlihat tinggi sekaligus gagah di dalam balutan jas navy-nya. Dasi warna merah maroon ikut menambah penampilan Noah. Di antara seluruh karyawan Trios Jaya Group yang sedang menunggu lift Noah menjadi yang paling mencolok, kecuali jika dibandingkan dengan Athala. Yang menjadi perhatian Athala bukanlah Noah, melainkan keberadaan Layla. Tadi pagi Athala melihat Layla pergi diantar oleh sopir. Jadi, besar kemungkinan Noah dan Layla baru bertemu di jam makan siang. Entah kenapa pula laki-laki itu datang ke sini. Layla yang melihat Athala hanya menampilkan senyum sopan sebagai bentuk sapaan. Athala juga melakukan hal yang sama. “Ayo, Bebe.” Noah mengajak Layla masuk duluan ke dalam lift. Satu tangannya meraih tangan Layla dan menariknya hati-hati. Noah dan Layla berdiri berdampingan di dalam lift. Noah terlihat bangga dan percaya diri, sedangkan entah mengapa di mata Athala, Layla justru terlihat tidak nyaman. “Yah, enggak muat.” Dimas mendesah kecewa ketika dia melangkahkan kaki dan lift langsung berbunyi memberikan peringatan bahwa beban bawa telah memenuhi kapasitas maksimal. Terpaksa Dimas, Athala, dan sejumlah pegawai lain yang tak kebagian tempat harus bergantian menunggu sampai lift kembali turun. “Lo cemburu enggak?” tanya Dimas saat keduanya sedang menunggu. “Cemburu kenapa?” “Itu tunangannya Layla datang. Emang lo enggak cembokur?” Athala berusaha tak terpengaruh mendengar pertanyaan rekan kerjanya. “Enggak ada alasan kenapa gue harus merasa cemburu.” “Iya, sih secara status. Tapi, kok gue merasa di antara kalian berdua ada apa-apa ya?” “Apaan, sih?” Athala mulai terganggu menerima serangan pertanyaan mematikan dari rekan kerjanya. “Mabok g-anja ya lo? Dimas sih mengangkat bahunya santai saja. Lagian dia merasa bahwa ucapannya tidak salah kok. “Lo akhir-akhir ini deket tau sama Layla. Tiap mau fingerprint buat ngisi presensi karyawan lo bakal liat kanan kiri dulu buat mastiin apakah Layla udah datang atau belom. Pas mau balik juga lo bela-belain datang ke lobi buat liat apakah Layla udah dijemput atau belom padahal kalau mau pulang mah lo tinggal jalan ke basement. Di sana ‘kan mobil lo parkir. Terus entah lo merasa atau enggak, tapi cara lo menatap dia tuh beda, man.” Rahang Athala seakan mau jatuh mendengar penjelasan Dimas yang terlalu rinci. Padahal Athala merasa sudah bersikap sewajar mungkin. “Lo salah paham. Layla itu karyawan baru. Gue hanya berniat untuk membantu dia kalau-kalau proses fingerprint eror. Terus, dulu dia pernah telat dijemput. Kalau hal itu terulang gue bisa menawarkan tawaran pulang sebagai kolega kerja.” “Iya, deh gue percaya.” Dimas menimpali dengan nada mengejek. “Tapi, lo harus hati-hati sama perasaan sendiri. Jangan sampai karena kebanyakan denial lo sampai enggak sadar kalau lo udah jatuh cinta sama dia. Inget, man. Layla itu calon istri orang. Lo emang enggak kalah ganteng dari Noah tapi, jangan rusak hubungan orang lain. Jangan jantuh cinta sama calon bini orang. Jakarta udah gila, tapi lo jangan ikut-ikutan.” Bohong kalau ucapan Dimas tak membekas di hati Athala. Pada faktanya Athala juga merasa agak takut. Dia takut terlanjur mencintai Layla padahal laki-laki itu sadar bahwa mustahil bagi keduanya untuk saling mencintai dalam waktu yang lama. Cepat atau lambat sosok Layla akan hilang dari genggaman Athala. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD