“Tante Layla!”
Saat memasuki panti asuhan Layla langsung disambut oleh suara cempreng Diana. Gadis kecil itu terlihat mengenakan pakaian yang lebih sederhana dari yang mampu Layla bayangkan. Dion yang duduk tak jauh dari Diana ikut menyapa dengan cara melambaikan tangan. Sama halnya seperti sang adik, Dion juga mengenakan pakaian sederhana berupa kemeja lengan pendek dan celana panjang.
Tadinya Layla kira perayaan ulang tahun di panti asuhan akan dilangsungkan secara mewah dengan banyak dekorasi berupa balon dan bunga. Namun, justru sebaliknya. Tempat ini disulap menjadi area permainan.
Ada perosotan yang di bagian bawahnya diisi dengan kolam berisi bola. Di sudut lain ada pojok melukis dan masih banyak lagi hiburan berupa area permainan.
“Kamu datang.” Athala menghampiri. “Bersama Harsa.”
“Aku sudah janji sama Dion.” Layla celingukan. “Di mana orangtua Dion dan Diana? Kok enggak keliatan.”
Athala mengangkat bahunya santai. “Sibuk. Mereka tetap harus kerja di hari Minggu.”
“Jadi, hanya kamu orang dewasa yang mendampingi mereka?”
“Secara biologis mungkin begitu. Tapi, di panti asuhan ini banyak orang dewasa yang juga mengawasi Diana dan Dion. Panti asuhan ini bukan tempat asing lagi bagi mereka.”
“Aku kira … pestanya akan meriah.”
“Ini juga meriah.” Athala memandangi anak-anak panti asuhan yang terlihat bergembira bisa merasakan pengalaman baru bermain dengan mainan yang tak pernah mereka sentuh. “Semua orang merasa bahagia di sini, Layla. Acara tiup lilin hanya akan menyakiti perasaan mereka. Toh, pada dasarnya perayaan ulang tahun itu sama saja.”
“Ini idenya Mas Athala?” Harsa ikut nimbrung karena penasaran.
Sebagai cucu laki-laki pertama Harsa sangat dimanja oleh keluarga dari pihak Gasendra apalagi oleh neneknya. Hampir setiap tahun sejak Harsa lahir keluarga Tanoewidjaya akan mengadakan pesta ulang tahun berskala besar. Jadi, melihat pemandangan ini rasanya masih aneh bagi Harsa.
“Iya,” jawab Athala mantap. “Kedua orangtua Dion setuju untuk menyerahkan acara ulang tahun kepadaku. Mau seperti apa dan di mana mereka enggak terlalu peduli.”
“Tante Layla!” Pada saat itu Diana datang dan langsung menggenggam tangan Layla. “Aku mau kenalin Tante ke temen-temenku.”
Layla menoleh kepada Harsa. “Kamu membaurlah.”
Dia juga sempat melirik Athala sebagai kode bahwa Layla akan mengikuti Diana.
Athala mengangguk sebagai persetujuan. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya Layla berbaur dengan anak-anak panti asuhan. Sikap hangat dan ramah Layla menjadi magnet bagi anak-anak itu. Mereka menyukai kepribadian Layla dan Layla juga merasa nyaman ada di tengah-tengah mereka.
Harsa yang berdiri ajak jauh dibuat terpana saat melihat Layla tertawa bebas. “Sudah lama saya enggak melihat Tante saya tertawa selepas itu.”
Athala juga melihatnya. Layla. Perempuan itu terlihat begitu cantik ketika kedua sudut bibirnya melengkung membentuk tawa geli. Cahaya matahari yang menerobos melewati kaca membasuh wajah Layla membuatnya seakan tampak bagai peri yang tersesat di dunia dongeng berisi anak-anak.
“Apa Mas Athala sudah tau kalau Tante saya adalah mantan pecandu nark0ba?” Harsa bertanya dengan volume suara yang lebih kecil.
Athala memasukan satu tangannya ke dalam saku celana. “Tau.”
“Sejak masuk pusat rehabilitasi sampai dengan tinggal dengan kami, Tante terlihat seperti mayat hidup. Dia bisa makan, bisa bicara, bisa bersosialisasi. Tapi, itu semua seperti enggak ada rasanya. Kalau Mas Athala mengenal Ateu Layla 3 tahun lalu mungkin Mas Athala bisa melihat perbedaannya. Dia … dulu sangat ceria, penuh mimpi, dan warna. Sekarang Tante seperti hanya berusaha melanjutkan hidup saja. Tapi, di sini … di tempat ini saya seperti melihat Ateu Layla yang dulu.” Harsa menoleh kepada Athala. “Terima kasih karena sudah membawa Tante saya ke dalam hidup Mas Athala.”
Athla tak menjawab. Pandangannya lurus tertuju pada Layla. Perempuan itu sempat menoleh dan melambaikan tangan kepada Athala. Ada warna dan cahaya yang mampu Athala lihat ketika Layla tersenyum. Athala mulai membayangkan sosok Layla 3 tahun lalu. Bagaimana cerianya Layla 3 tahun lalu. Bagaimana memesonanya Layla 3 tahun lalu.
Pertama kali bertemu dengan Layla, perempuan itu terlihat bagai cangkang kosong. Layla seakan tak memiliki jiwa untuk mengekspresikan duka.
***
“Eh, Tante saya ke mana ya.”
Harsa celingukan. Saat itu staf panti asuhan mulai mengumpulkan semua orang untuk makan di aula. Hampir semua orang sudah berkumpul. Namun, batang hidung Layla tak kunjung ditemukan.
Athala yang baru menyadari hal itu ikut celingukan. Diana dan Dion sudah ada di sini. Jadi, ke mana kira-kira Layla pergi?
“Biar aku cari. Kamu makan aja duluan sama yang lain.” Athala menawarkan diri.
Panti asuhan ini memiliki denah yang agak rumit dengan banyaknya lorong dan tangga yang menghubungkan satu ruangan dengan ruangan lainnya. Athala khawatir Layla tersesat terlebih lagi Layla menitipkan tasnya kepada Harsa. Besar kemungkinan ponsel Layla juga ada di dalam tas itu sehingga dia tak bisa menghubungi siapapun.
Cukup lama Athala mencari sampai akhirnya langkah kaki membawa Athala ke ruangan bayi. Ruangan itu dikhususkan untuk bayi berusia 0 bulan sampai dengan 1 tahun. Di dalam ruangan itu Athala melihat Layla. Layla tak sendirian terdapat seorang staf panti yang ikut mendampingi.
“Layla?” Athala memanggil.
Layla menoleh. Di dalam gendongan Layla tertidur seorang bayi merah. Bibir bayi yang mungil itu terlihat mengisap dot berisi s**u formula.
“Athala. Kemarilah.”
Athala patuh. Dia mendekat. Athala melihat jari-jemari bayi yang mungil itu bergerak merangkum jari kelingking Layla. Rasa hangat yang dihasilkan oleh tubuh Layla membuat bayi itu merasa nyaman.
“Ini penghuni baru?” tanya Athala kepada staf panti asuhan yang bertugas merawar bayi-bayi.
Staf itu mengangguk. “Dia baru datang minggu lalu. Diletakkan begitu saja di depan gerbang panti asuhan saat sedang hujan … di dalam kardus yang sudah lepek karena basah. Kalau kami enggak mendengar suara tangisnya mungkin bayi ini akan meninggal karena kedinginan.”
“Kasihan sekali kamu ….” lirih Layla sendu. Diciumnya pipi bayi itu dengan penuh kasih.
Athala cukup terpana menyaksikan pemandangan tersebut. Athala dan Layla meninggalkan kamar bayi 20 menit kemudian. Setelah susunya habis bayi itu tidur pulas. Layla yang tak mau mengganggu memilih untuk keluar.
“Bayi tadi … sangat kasihan nasibnya,” kata Layla ketika dirinya berjalan berdampingan bersama Athala di lorong panti asuhan yang sepi. “Dia dibuang. Tak diinginkan. Kejam sekali dunia ini kepadanya.”
“Bayi itu akan tumbuh menjadi manusia kuat yang hebat, Layla.”
Layla menghentikan langkahnya. “Menurutmu kenapa ada orangtua yang bisa tega menelantarkan anaknya? Apakah … apakah hati mereka enggak sakit saat melihat anaknya kedinginan? Digigit semut? Dan kelaparan? Apakah … orang yang menelantarkan bayi itu masih layak disebut sebagai manusia?”
Layla teringat kepada Noah yang dengan tega memberinya obat yang menimbulkan henti jantung pada anaknya sendiri—darah dagingnya sendiri.
“Layla.”
Athala melihat perubahan ekspresi yang cepat di wajah Layla. Perempuan itu terlihat terguncang atas apa yang baru saja dia dengar. Athala tak mengerti mengapa Layla harus merasa sebegitunya.
“Sekarang bayi itu aman. Dia ada di antara orang-orang baik yang akan merawatnya—”
Layla menggeleng bersamaan dengan airmata yang leleh di atas pipi. “Kamu enggak akan mengerti, Athala. Rasa sakit ini enggak akan bisa dipahami oleh siapapun.”
Athala terkejut sewaktu melihat bahu Layla yang bergetar karena tangis. Isaknya terdengar memilukan. Layla seperti terluka, namun Athala tak tahu luka jenis apa yang mengoyak perempuan ini. Satu yang pasti kesedihan Layla seakan mampu menular kepada Athala.
Athala tidak tahu harus menenangkan dengan cara apa jadi dia menarik Layla secara perlahan ke dalam pelukan. Layla tak menolak. Tubuh Layla berada di dalam dekapan Athala. Perlahan Layla mampu merasakan tepukan ringan yang secara konstan Athala berikan ke punggungnya.
[]