Layla sedang mencari kursi kosong ketika dia melihat keberadaan Athala. Lelaki itu duduk di pojok kafe dan sepertinya sedang serius memilih menu. Setelah rapat Layla memutuskan untuk menyebrang. Tepat di seberang kantornya berdiri sebuah kafe yang sekaligus menjual menu makan siang. Layla sudah pernah datang ke sana bersama rekan kerjanya yang lain.
“Hai,” sapa Layla ramah.
Athala mengangkat pandangannya. Secara refleks kedua sudut bibir Athala naik membentuk senyum manis. “Hai. Mau lunch?”
“Iya. Kamu datang sendiri? Atau lagi nunggu orang?” Layla melirik jas Athala yang disampirkan di sandaran kursi tepat di seberangnya.
Athala mengikuti arah tatapan Layla. Seakan paham laki-laki itu segera menarik jasnya. “Aku sendiri. Silakan duduk.”
“Tumben enggak bareng teman kamu yang bawel itu.”
Layla membuka percakapan setelah keduanya memesan menu. Sebetulnya Trios Jaya Group memiliki kafetaria yang terletak di lantai 3. Akan tetapi, menu makannya cenderung membosankan. Karyawan yang punya lebih banyak waktu dan uang biasanya akan lebih memilih mencari opsi makanan lain.
“Oh, Dimas maksud kamu ya? Dia makan sama yang lain. Kamu sendiri tumben enggak bawa teman?” balas Athala mengingat kebiasan Layla.
“Dia juga lagi makan sama yang lain.”
Athala mengangguk paham. Pandangannya teralihkan pada gelang dengan manik warna-warni yang melingkar di pergelangan kiri Layla. Gelang sederhana itu bersanding dengan carti-er watch-nya. “Kamu masih pakai gelang dari Diana.”
Arah tatapan Layla jatuh ke gelang pemberian keponakan Athala. “Iya. Aneh enggak?”
“Enggak … hanya aja komposisinya agak enggak pas. Kesannya kamu seperti ibu-ibu sosialita dengan satu anak yang dipaksa pakai gelang DIY karya anak kamu sendiri.”
Layla terkekeh mendengarnya. “Aku harap aku bisa jadi ibu-ibu sosialita dan punya anak semanis Diana. That would be fun.”
Terhitung sudah seminggu Layla dan Athala menjalin hubungan gelap. Selama itu pula keduanya mulai merasa nyaman dengan status yang mereka miliki.
Bertepatan dengan itu pula dapat Athala merasakan ponselnya bergetar panjang di dalam saku
“Paman!!!!!” Suara yang sangat Layla kenali terdengar ketika Athala menerima panggilan video. “Where you at, Paman?”
“Lagi makan siang, nih. Kamu lagi apa?”
“Aku lagi nunggu dijemput. Habis ini mau les piano sama Diana. Cape banget rasanya jadi anak SD, Paman.”
Athala dan Layla—yang mau tak mau menguping—tertawa mendengar keluhan Dion.
“Paman lagi makan siang bareng Tante Layla. Kamu mau bicara sama dia?”
Di layar ponselnya Dion mengangguk antusias. “Mau!”
Athala mengoper ponsel pintarnya kepada Layla. Tentu saja Layla menerima dengan senang hati. Dion mode anak sekolah terlihat agak beda dengan Dion mode pesta atap. Anak lelaki itu mengenakan kacamata dan rambutnya juga disisir terlalu rapi.
“Hi, Dion. Gimana kabar kamu?”
“Good. Kebetulan tadi ada pelajaran menggambar and I drew you.”
Sepasang mata Layla berkilat-kilat antusias. “Boleh lihat?”
Layar ponsel bergetar agak heboh sampai akhirnya Dion menunjukkan kertas gambarnya yang penuh akan warna. Ada 4 orang yang digambar oleh Dion di atas selembar kertas gambar ukuran A3. “Ini Paman Athala, ini Tante Layla, ini Diana, dan yang terakhir adalah aku.”
Athala bangkit dari duduknya dan memilih untuk berdiri di samping Layla dengan posisi agak menunduk supaya bisa ikut bergabung melihat mahakarya Dion. “Kok bentuk muka Paman kayak pempek lenjer gitu, Dion?”
Dion cemberut. “I got A+ for this one, Paman. Memang Paman Athala enggak punya selera seni yang tinggi.”
Layla terbahak mendengar ucapan pedas Dion kepada Athala. Sepertinya hanya Dion yang berani menghina Athala seburuk itu.
“Aku suka gambarnya, Dion. Kamu pandai dalam memberikan gradasi warna,” puji Layla. “Aku harap aku bisa simpan gambarnya.”
“Oh, bisa! Tante datang aja ke ulang tahun aku. Nanti kita ketemu di sana dan akan aku kasih gambar ini.”
“Tante boleh datang?”
Dion mengangguk penuh semangat. “Nanti aku kirim undangan resminya lewat Paman Athala. Kalian bisa gantikan Mommy dan Papi karena aku tau mereka enggak akan bisa datang.”
“Kayaknya orangtuanya Diana dan Dion sibuk banget.” Layla menyinggung hal tersebut ketika pesanan keduanya sudah tiba.
“Sayangnya, begitu. Diana dan Dion lebih banyak menghabiskan masa kecil bersama sopir dan nanny mereka alih-alih dengan kedua orangtuanya.”
“Pantas mereka sangat mengandalkan kamu. Mereka berdua enggak punya figur yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk mengekspresikan masa kanak-kanak yang layak.”
Pada saat itu Athala melihat jejak makanan di ujung bibir Layla. Secara refleks laki-laki itu mengusapnya menggunakan ibu jari. Seakan sudah terbiasa Athala menjilat ujung ibu jarinya—tepat di mana sisa saus yang sempat menempel di bibir Layla. Baru setelahnya Athala menimpali, “Sepertinya kalau Diana dan Dion sudah puber, kelak aku akan dilupakan karena enggak seasik pacar mereka.”
Berbeda dari Athala yang terlihat biasa saja, Layla justru membeku. Perlakuan Athala tadi terasa begitu intim. Sepertinya itu kontak fisik paling dekat yang pernah tercipta di antara mereka.
Menyadari perubahan ekspresi di wajah Layla dengan cepat Athala menyadari kesalahannya.
“Maaf, aku lupa tempat.”
Layla berdeham canggung. “Mungkin kita bisa cari tempat di mana enggak ada yang bisa menguping dan melihat kita. Tapi, enggak terlalu jauh dari kantor.”
“Bagaimana kalau rooftop? Tempat itu jarang dipakai sejak kantin kantor direnovasi.”
“Aku setuju.”
***
Layla bergerak dengan tidak nyaman. Mobil yang membawa dirinya dan Noah telah melaju di atas aspal selama 45 menit. Tadi pagi ketika baru saja Layla beres memoleskan blush on tiba-tiba saja Noah datang. Secara impulsif lelaki itu membawa sebuket bunga besar dan ajakan untuk brunch bersama.
Kalau dulu mungkin Layla akan tersipu malu karena merasa Noah sangat romantis. Akan tetapi, sekarang berbeda. Layla justru kesal setengah mati karena seharusnya hari ini dia pergi ke panti asuhan dan menemui Dion—serta Athala. Namun, gara-gara Noah memaksanya pergi rencana Layla jadi gagal. Padahal perempuan itu sudah berjanji akan datang untuk merayakan ulang tahun Dion.
“Kamu kenapa, sih?” Noah yang menyadari gerak-gerik Layla menegur. “Kayak gelisah gitu.”
Layla tak mungkin berkata jujur. Bisa-bisa Noah menceki-knya di sini. “Mobil ini agak wangi. Wanginya manis dan bukan berasal dari parfum milikku.”
Layla berbohong. Dia tak dapat mencium apapun selain parfumnya dan parfum Noah. Layla hanya ingin melihat reaksi Noah.
Rupanya gertakan Layla berhasil. Noah terlihat terpengaruh. Rahang lelaki itu mengetat sedangkan cengkramannya pada kemudi semakin erat. “Ini parfum baru Mama. Aromanya memang gourmand banget.”
Bohong! Geram Layla di dalam hatinya. Calon ibu mertuanya bukanlah tipikal perempuan yang menyukai aroma manis. Ini pasti parfum milik Annette atau barangkali perempuan lain. Layla ragu Noah setia kepada Annette. Dengan Layla saja Noah bisa selingkuh, bukan? Apalagi kepada perempuan yang hanya Noah jadikan sebagai hiburan di kala bosan.
“Oh,” balas Layla pendek.
Dia ingin semua ini segera berakhir. Layla enggan berlama-lama bersama Noah. Lelaki itu sudah tak memberikannya kenyamanan.
Seakan semesta mendengar doanya pada saat itulah ponsel Noah bergetar panjang di dalam saku celana. Noah menepikan mobilnya demi memastikan panggilan itu datang dari siapa. Ketika melihat nomor Annette langsung saja Noah berdeham salah tingkah.
“Aku angkat telepon dulu ya? Ini dari kolega jadi, obrolannya pasti bersifat pribadi.”
Layla mengangguk saja padahal Layla tahu kalau itu bukan panggilan dari kolega kerja. Entahlah perasaannya benar atau tidak. Layla tak lagi bisa berpikir positif tentang Noah.
Butuh waktu 15 menit bagi Noah sampai akhirnya dia mampu mengakhiri percakapan. Noah buru-buru kembali masuk ke dalam mobil. “Maaf, tapi aku harus ketemu klien. Ada pembicaraan yang urgent dan enggak bisa ditunda. Kamu … aku pesankan taksi ya?”
Di dalam hatinya Layla bersorak senang karena kini kesempatannya untuk kabur dari Noah jadi lebih besar. “Enggak apa-apa. Aku turun di sini aja. Lagian di depan ada halte kok. Aku bisa nunggu taksi di sana.”
“Beneran?”
“Iya. Kata kamu itu panggilan penting ‘kan? Jangan sia-siakan setiap menitnya.”
Noah tersenyum. Egonya merasa menang karena dia mampu mengendalikan Layla menjadi perempuan yang patuh serta tak banyak menuntut. Noah mengusap puncak kepala Layla gemas. “Okay. Tapi, jangan bilang Kak Sheila kalau aku menurunkan kamu di tengah jalan.”
Layla berjanji dan Noah meninggalkannya.
Layla sudah bersiap untuk memesan taksi daring ketika sebuah mobil yang amat dia kenali berhenti tepat di hadapannya.
“Ateu mau ke mana?” Harsa menurunkan kaca mobilnya. Kebetulan Harsa baru pulang dari kampus setelah menyelesaikan acara jurusan.
Layla tersenyum gembira karena merasa ditolong oleh dewi fortuna. “Kamu mau anterin Ateu?”
[]