6 : Kekasih Rahasia

1357 Words
Di antara riuh rendahnya suara manusia Athala berusaha mencari keberadaan Layla. “Gede juga nyali si Enrico.” Dimas yang duduk di samping Athala berkomentar. Tak jauh dari tempat keduanya duduk terlihat Layla yang sedang berbincang dengan Enrico selaku finance manager. Sebagaimana kebanyakan perusahaan pada umunya Trios Jaya Group juga melaksanakan outing karyawan. Hampir seluruh karyawan dari berbagai divisi ada di sini termasuk itu Layla. Mereka semua tiba sore tadi dan kini mulai memadai area pantai. Dari kejauhan cahaya lampu yang temaram menyinari wajah Layla. Pipi perempuan itu tampak bersemu merah. Melihat itu Athala merasa kesal. “Mau ke mana, woi?” Athala mengabaikan pertanyaan Dimas dan terus melangkah ke tempat di mana Layla berada. Rasanya Athala tak bisa hanya diam saja menyaksikan tangan Enrico yang secara nakal bergerak menyentuh anak rambut Layla dan berusaha untuk menyelipkannya ke belakang telinga. “Layla, ada yang mencarimu.” Athala menginterupsi percakapan yang sedang terjalin antara Layla dengan Enrico. Melihat kehadiran Athala membuat Layla tak bisa menahan ekspresi lega. Layla tidak perlu merasa tak enak hati untuk meninggalkan Enrico. “Kalau begitu aku harus segera menemui orang itu. Aku duluan ya, Enrico.” Tanpa perlu menunggu jawaban dari lawan bicaranya Layla langsung melangkah bersama Athala. Keduanya berjalan menjauhi keramaian menuju sisi resort yang lebih sepi. “Sebetulnya ….” Athala menghentikan langkah. Dia berbalik dan menatap Layla dengan sungkan. “Yang mencari kamu adalah aku.” Alih-alih kesal Layla justru menampilkan senyum tipis. “Aku tau.” “Enrico itu baj-ingan. Dia banyak mendekati perempuan di perusahaan kami. Kamu karyawan baru dan aku hanya berusaha untuk mengingatkan.” “Aku tau juga.” “Tapi, kamu masih membiarkan dia mendekati kamu?” Bibir Layla cemberut mendengar tuduhan yang dilayangkan oleh Athala. “Puspa adalah satu-satunya rekan kerja yang paling dekat denganku. Sayangnya, dia enggak bisa ikut outing. Aku kesepian. Kamu pun enggak bisa aku temukan. Lalu, Enrico datang. Awalnya dia membahas tentang kamu. Jadi, aku membiarkannya duduk agak lama.” “Maaf. Aku juga mencari kamu dari tadi. Sekarang biar aku antarkan kamu ke kamar.” Layla memijat kepalanya yang agak pening sambil menolak. “Aku enggak suka diam di kamar. Rasanya sesak.” Athala memiringkan kepalanya. Tatapan Layla yang sayu, langkah kakinya yang agak limbung, dan samar-samar aroma wine tercium setiap kali perempuan itu membuka mulut. Athala tiba pada satu kesimpulan. “Kamu mabuk?” “Aku?” Layla menangkup kedua pipinya sendiri. Kulit pipinya terasa lebih hangat. “Oh ya, tadi Enrico menawariku wine. Tapi, aku sober kok. Aku hanya minum sedikit.” “Kalau begitu mau cari angin?” Pada akhirnya mereka berdua memilih untuk berjalan di bibir pantai. Di malam hari suasana Pantai Anyer terasa begitu magis. Debur ombak yang terdengar konstan, aroma laut yang khas, dan keberadaan Layla. Hanya dalam hitungan minggu eksistensi Layla sudah berhasil menyedot hampir seluruh atensi milik Athala. “Hati-hati!” Athala berkata dengan gemas ketika Layla tersandung dan nyaris saja jatuh. Dengan cepat Athala meraih satu tangan Layla, menahan perempuan itu supaya tak terhuyung sehingga kini Layla mampu berdiri stabil. “Kamu mabuk. Sebaiknya kita duduk dulu sebentar di sini.” Beruntungnya Layla patuh. Mereka berdua duduk di atas pasir yang agak jauh dari jangkauan air laut. “Sejujurnya, Athala. Aku ingat pernah bertemu dengan kamu di apartemen. Pada malam di mana aku ditangkap oleh BNN.” Layla menoleh. Tidak ada ekspresi yang berarti di wajahnya. Layla bicara dengan nada datar seakan yang dia ucapkan bukanlah sesuatu yang penting. “Kamu juga pasti sudah mendengar berita tentang diriku sebagai mantan pecandu nark0ba. Jadi, apa tujuan kamu mendekatiku?” Bagaimana Athala harus menjawab? Pada awalnya Athala hanya penasaran karena sosok Layla mengingatkannya kepada Elaine ketika masih sehat. Rasa penasaran itu kemudian bergelung menjadi sesuatu yang lebih besar dan sukar untuk Athala jelaskan. “Enggak ada,” jawab Athala setengah tak yakin. “Aku hanya penasaran awalnya.” “Apakah kamu juga sama seperti Enrico dan rekan kerja lainnya yang berharap bisa dengan mudahnya tidur denganku?” Athala menampilkan ekspresi tersinggung yang kentara. “Aku bukan lelaki seperti itu, Layla. Jujur, saat pertama kali melihat kamu di apartemen, aku pikir kamu adalah seseorang yang kukenal. Kalian begitu mirip bagai satu jiwa yang sama. Pertemuan kedua kita di pemakaman juga tanpa sengaja. Aku melihat kamu terluka. Mana mungkin aku mengabaikannya? Dan, yang ketiga entahlah aku bahkan masih enggak percaya bahwa dunia kita jadi lebih banyak bersinggungan.” Layla tidak langsung menjawab. Pandangannya kembali teralihkan pada lautan yang tampak gelap di depan sana. “Aku enggak tau apakah aku bisa percaya sama kamu atau enggak. Tapi, harus kuakui kalau aku bisa bernapas lega ketika bersama dengan kamu.” “Adakah alasan khusus?” “Aku ingat kamu begitu dekat dengan Diana dan Dion. Anak kecil itu murni. Mereka enggak pandai menyembunyikan perasaan seperti orang dewasa. Melihat respons mereka yang begitu nyaman pada kamu, aku langsung tau kalau kamu bukan orang yang berbahaya.” “Itu karena hanya aku orang dewasa yang bisa mereka kerjai.” Layla mendengkus. Rona merah di pipinya semakin kentara akibat hawa dingin yang menusuk. Walaupun demikian, Layla belum ingin berpisah dari Athala. Lelaki itu membawa nyaman yang lama sekali hilang dalam dirinya. “Aku yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi ayah yang baik,” kata Layla sungguh-sungguh. Dipandanginya lekat-lekat wajah Athala. “Seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya dengan penuh cinta.” “Kamu juga akan menjadi ibu yang baik. Sebentar lagi kamu akan menikah ‘kan?” Ada perasaan tidak rela yang muncul di dalam hati Athala ketika pertanyaan itu meluncur dari lidahnya. Padahal sejak melihat Layla di lobi kantor Athala sudah tahu kalau perempuan itu telah memiliki pasangan. Pun, Athala sendiri juga terikat sebuah janji untuk menikahi seseorang. Hanya saja, entah mengapa ada bagian dari diri Athala yang berharap bahwa di dunia ini masih ada kesempatan baginya dan Layla untuk bersama. Meskipun hanya sebentar. Layla tersenyum pahit. Kalau boleh jujur Layla tidak ingin menikahi Noah. Hanya saja, bayangan untuk melepaskan diri dari Noah juga masih abu-abu. Mau bagaimana pun Noah memegang rahasia besar milik Layla. Sebagai gantinya Layla melemparkan sebuah pertanyaan kepada Athala. “Ini gi-la, tapi apa mungkin kamu mau menjadi kekasihku, Athala? Hanya sampai kita merasa bahwa hubungan kita sudah terlalu melelahkan saja.” Athala harus memastikan bahwa indera pendengarannya tidak salah menangkap suara Layla. “Kamu ingin mengajakku untuk berkencan?” “Kencan diam-diam. Tanpa ada seorang pun yang tau. Tapi, di dalam hubungan itu aku enggak bisa menjanjikan kamu masa depan.” “Kenapa aku?” Layla menyugar rambutnya yang sengaja diurai sebelum menimpali, “Jalan-jalan di monas malam itu … aku masih ingin menghabiskan waktu bersama kamu. Tanpa ada yang tau. Hanya aku, kamu, dan langit malam Jakata.” “Kamu sudah bertunangan ….” Layla yang sudah dapat menduga bahwa dirinya ditolak memilih untuk bangkit. “Kalau kamu menolak, ya sudah.” “Sebentar.” Athala menahan lengan Layla berusaha membuat perempuan itu tetap diam di tempat. “Apa yang kamu harapkan dari hubungan semacam itu?” “Rasa nyaman,” kata Layla cukup sadar. “Kamu mengingatkanku pada diriku yang dulu, Athala. Kebaikan hatimu entah itu tulus atau enggak … mengingatkan aku pada diriku ketika aku belum berduka. Aku ingin menikmati hari di mana aku bisa merasa nyaman bersama kamu meskipun hanya sementara.” Athala gamang. Secara moral tindakan keduanya salah. Layla sudah bertunangan dan Athala juga sudah terikat janji pada seseorang. Meskipun begitu, apakah Athala rela melepaskan kesempatan ini? “Kita mungkin memang bisa berkencan diam-diam.” Seulas senyum terbit di bibir Layla. Idenya memang gi-la. Layla sendiri tidak percaya dia menjadi orang yang menawarkan sebuah hubungan gelap kepada Athala. Setelah ini Layla tidak tahu apakah Athala akan berubah menjadi monster mengerikan sebagaimana Noah atau justru malaikat penolongnya. Hanya saja, untuk saat ini Layla ingin tenggelam ke dalam pelukan Athala. Meskipun masih canggung, namun Layla tetap menjatuhkan tubuhnya ke dalam rengkuhan Athala. Kontak fisik itu masih terasa asing. Tubuh keduanya masih berusaha untuk menyesuaikan keberadaan masing-masing. Walaupun begitu, Athala tetap melingkarkan kedua tangannya di belakang punggung Layla. Tubuh perempuan itu sedikit lebih pendek dan ramping daripada dirinya sehingga di dalam pelukan Athala tubuh Layla seakan tenggelam. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD