Di lobi Layla baru menyadari kalau dia tak membawa kendaraan untuk pulang. Layla datang menggunakan mobil Noah. Layla juga tak mungkin menghubungi Harsa untuk minta dijemput.
“Layla?”
Setelah berdiri termenung di lobi selama hampir 20 menit seseorang memanggil namanya.
Athala berdiri di belakangnya. “Kenapa kamu di sini? Tadi aku mencari kamu di atas. Tapi, aku pikir kamu sudah pulang karena enggak kelihatan di mana pun.”
“Aku mau pulang.”
“Yang jemput belum datang?” tebak Athala.
Layla menggeleng—berbohong.
“Mau pulang bersama?”
Layla tak melewatkan kesempatan itu. Untuk kedua kalinya Layla dan Athala pulang bersama. Memasuki kawasan Jakarta Pusat Layla mengalihkan tatapan ke jendela kiri mobil. Dari jarak jauh dia bisa melihat cahaya lampu LED yang menerangi puncak monas dengan begitu cantik.
“Kamu mau melihat monas lebih dekat?” Athala bertanya ketika Layla tak kunjung melepaskan pandangannya dari monumen nasional yang tampak jauh di sana.
Mendengar tawaran itu membuat Layla menoleh. “Memangnya bisa? Ini ‘kan sudah malam.”
“Bisa. Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum monas ditutup. Kita bahkan bisa naik ke puncaknya dan melihat pemandangan dari atas sana. Kamu mau?”
“Mau!”
Waktu kecil Layla sudah pernah mengunjungi monas bersama dengan Liliana, Gasendra, dan Sheila. Akan tetapi, pengalaman datang ke monas saat malam hari sama sekali belum pernah Layla rasakan. Jadi, Layla menurut saja ketika Athala mengajaknya berjalan melewati Pintu Lenggang Jakarta sampai keduanya berhenti di depan loket penjualan kartu JakCard.
Malam itu bukan hanya Athala dan Layla saja yang hadir. Terdapat sekitar 15 orang yang juga ikut naik ke puncak monas. Kebanyakan orang itu melirik Layla heran. Dengan gaun terbuka yang dikenakannya membuat penampilan Layla menjadi yang paling mencolok. Dengan agak malu Layla memegang ujung jas Athala sambil berjalan menunduk.
“Lihatlah, Layla.”
Suara Athala menyadarkan Layla bahwa mereka sudah tiba di area observasi—area tertinggi di mana pengunjung bisa melihat Jakarta dari ketinggian 100 meter.
Layla dibuat terpukau ketika melihat hamparan pemandangan Jakarta pada malam hari. Di bawah sana lampu-lampu menyala terang, sedangkan rembulan menggantung dengan cantik di atas langit. Sejenak Jakarta yang terasa begitu padat dan berisik terasa lebih sepi dan hening.
“Aku suka di sini,” kata Layla jujur.
“Dulu mendiang kakek buyutku adalah salah satu arsitek yang mengikuti sayembara untuk membuat rancangan monas.”
“Oh ya?”
Athala mengangguk. Dia mulai mengenang masa kecilnya. “Kakek buyutku ikut sayembara kedua di tahun 1960. Meskipun desainnya enggak dipilih, tapi kakek buyutku cukup puas karena pada masa itu dia mengenal sosok Soedarsono yang desainnya kemudian dipilih. Inilah monas yang beliau rancang.”
“Kamu lahir dari orang yang hebat, Athala.” Layla berkata dengan sungguh-sungguh. Pandangannya lantas tertuju pada sebuah bangunan besar yang tampak mencolok bahkan dari jarak jauh. “Itu bangunan apa?”
Athala mengikuti arah pandang Layla. “Itu masjid istiqlal. Pembangunannya memakan waktu hingga 17 tahun lamanya.”
“Kamu mengenal Jakarta dengan cukup baik, Athala.”
Athala menunjuk satu titik yang amat jauh dari tempat mereka berada. “Aku pernah tinggal di sana. Di kampung Rawa. Perkampungan itu begitu padat dan penuh sesak, tapi di sana aku mengenal seseorang yang gemar membaca. Dia punya banyak koleksi buku sejarah termasuk sejarah yang memuat tentang Jakarta. Hampir setiap hari aku akan mampir ke rumahnya hanya untuk membaca.”
“Aku ingin bertemu dengan orang itu. Ingin membaca apa yang kamu baca juga.”
Athala menoleh. Di sampingnya Layla terlihat luar biasa cantik. Cahaya yang menyorot di ruang observasi menerangi wajah Layla. Dari jarak sedekat ini Athala baru menyadari bahwa Layla jauh berbeda dari Elaine—sosok yang membuat Athala penasaran kepada Layla.
“Dia tinggal di perkampungan yang kumuh. Mungkin kamu enggak akan nyaman berada di sana,” balas Athala kemudian.
Sedikit memori merangkak naik ke kepala Layla. “Aku punya rahasia.” Layla menanti reaksi Athala. Lelaki itu menunggu supaya Layla untuk melanjutkan ucapan. “Kamu tau, Athala … dulu aku dan kakakku permah hidup luntang-lantung di kota besar ini. Menjelang sore kakak akan mengajakku untuk mencari masjid. Di sana selain beribadah, kami juga akan menumpang untuk tidur di luar masjid. Aku ingat setiap azan subuh terdengar, kami akan bangun, solat bersama, dan mencari sarapan. Berminggu-minggu kami hidup seperti itu sampai akhirnya kakak bertemu dengan Mas Gasendra.”
Athala sedikit mengernyitkan kening. Bukankah berdasarkan penuturan Dimas dinyatakan bahwa Layla adalah cucu dari seorang konglomerat negeri ini? Lantas bagaimana mungkin cerita menyedihkan semacam itu bisa keluar dari mulutnya?
Meskipun penasaran setengah mati, akan tetapi Athala memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.
“Aku jarang melihat bintang di langit Jakarta.” Layla berkata demikian sambil menunjuk sebuah bintang yang tampak berkelip di antara luasanya langit malam. “Kalau di kampung halamanku dulu mudah sekali menemukan bintang.”
“Itu semua karena polusi cahaya. Cahaya bintang di langit kalah terang dengan cahaya buatan di sekitar sehingga bintang-bintang sulit diamati.” Berbeda dengan Layla yang memandangi hamparan langit yang gelap, seluruh perhatian Athala jutsru tersedot pada pesona Layla. “Di mana kampung halamanmu, Layla?”
“Sukabumi,” jawab Layla. Dia menoleh. Di bawah cahaya lampu iris Layla tampak seterang madu. Athala nyaris lupa caranya berkedip kala itu. “Saking mudahnya melihat bintang, mendiang ibuku sampai menamaiku Layla. Katanya, ketika mengandungku dia melihat bintang paling terang. Dulu mendiang ibuku enggak punya uang buat melakukan USG, jadi dia hanya menebak saja. Kalau bayinya perempuan maka, akan diberi nama Layla, tapi kalau laki-laki akan diberi nama Langit.”
“Nama yang memrepresentasikan dirimu … cantik.”
Layla dibuat tersipu mendengar pujian yang dilontarkan oleh Athala. Hanya saja, karena tak mau terlalu kentara Layla memilih untuk mengalihkan percakapan. “Kamu mungkin enggak akan percaya, tapi dulu aku pernah menunggangi kerbau, menggiring bebek masuk kandang, dan menggembala kambing. Dulu aku bahkan bisa memanjat pohon mangga. Pokoknya apa yang dikerjakan oleh Kak Sheila selama aku bisa membantu maka, aku akan mengulurkan tangan.”
Athala ikut tersenyum mendengar kisah lama yang diungkit kembali oleh Layla. “Masa kecil kamu terdengar menyenangkan.”
“Kedengaran menyenangkan karena diceritakan sekarang, tapi dulu lain lagi rasanya. Aku banyak merasa kedinginan, lapar, dan kotor. Kalau kamu melihatku versi umur 7 tahun mungkin kamu enggak akan sudi mengenalku, Athala.”
“Lho, kenapa?”
Layla mengangkat bahunya tak acuh. “Hidupku menyedihkan. Dulu aku dan Kak Sheila sangat miskin. Gaun yang aku gunakan ini harganya 20 kali lipat dari biaya hidup kamu di desa.”
Angin malam itu bertiup menerbangkan anak rambut Layla. Secara gemas Athala meraih rambut Layla dan menyelipkannya ke belakang telinga. Kulit Athala terasa hangat sewaktu bersentuhan dengan kulit Layla.
“Aku juga punya rahasia,” kata Athala dengan nada percaya diri. Entah mengapa Athala seperti dapat langsung tahu kalau Layla adalah orang yang tak akan membocorkan masalalunya yang kelam ini kepada orang lain. “Dulu hidupku juga menyedihkan. Aku pernah menumpang makan di rumah seorang wanita PSK setelah membantunya memindahkan berpeti-peti miras karena Mama belum pulang dan ayahku … yah, dia enggak bisa diandalkan.”
Kala itu Layla seakan mampu merasakan rasa sakit yang pernah diterima oleh Athala. Pun, sebaliknya. Athala mampu mengecap nyeri yang tersembunyi di dalam jiwa Layla. Rasanya begitu aneh karena mereka baru bertemu beberapa kali dan sudah membicarakan rahasia masing-masing.
Hanya saja, entah mendapatkan dorongan dari mana rahasia-rahasia itu keluar dari mulut mereka.
“Sepertinya kita berdua sama-sama melewati masa kecil yang enggak mudah,” balas Layla simpatk.
“Kamu benar. Tapi, penderitaan itu yang membentuk diriku yang sekarang. Katanya, rasa sedih membuat manusia bisa lebih menghargai kebahagiaan.”
Keduanya membicarakan banyak hal sampai akhirnya suara perut Layla yang kelaparan membuyarkan percakapan mereka.
Layla merutuki perutnya sendiri yang bunyi tidak pada waktunya.
“Kamu enggak sempat makan tadi di pesta?”
Layla menggeleng malu.
Sambil berjalan memasuki elevator yang akan membawa mereka turun ke lantai dasar Athala bertanya, “Mau makan di mana?”
“Pecel ayam, yuk?”
Awalnya Athala ragu apakah Layla sedang pencitraan semata atau sungguh-sungguh ingin makan di warung kaki lima. Akan tetapi, begitu duduk di kursi plastik dan memilih menu Athala langsung dapat tahu kalau Layla bersikap apa adanya.
“Kamu enggak masalah makan di tempat seperti ini? Aku bisa bawa kamu resto bintang 3 kalau mau.”
“Eh? Enggak apa-apa kok. Waktu kecil aku dan Kak Sheila sering makan di warung tenda kayak gini. Kalau habis gajian dari pabrik Kak Sheila akan mengajakku makan pecel ayam. Kami makan masing-masing satu porsi. Tapi, kalau lagi enggak punya uang kita biasanya makan 1 piring bersama.”
Athala tak sanggup menahan tanda tanya di dalam kepalanya. Jadinya laki-laki melemparkan satu pertanyaan. “Bukannya kamu berasal dari keluarga berada?”
“Memang. Tapi, sebelum itu aku dan kakakku hanya masyarakat menengah ke bawah. Sebelum ada di posisi sekarang aku hanya seorang adik dari kakak yang bekerja di pabrik yang gajinya enggak seberapa.”
“Sungguh?”
Layla mengangguk. “Orangtuaku dulu hidup miskin. Aku dan kakak dirawat oleh keluarga bibi yang kejam. Karena enggak sanggup menahan derita terlalu lama akhirnya kami memutuskan untuk kabur. Di perjalanan yang panjang di hidup Jakarta itu pula aku baru tau kalau ibuku adalah anak yang hilang dari Gundar Hoesnadi, mendiang kakekku.”
Athala mendengarkan Layla, namun pandangannya teralihkan pada sekelompok pemuda yang mencuri pandang ke arah Layla. Gaun Layla yang agak terbuka membuatnya menjadi manusia paling mencolok di warung tenda. Athala merasa wajib untuk melepaskan jasnya dan memberikannya kepada Layla.
“Pakai ini mau? Di sini dingin.”
Layla menerima jas Athala secara terbuka. Aroma parfum Athala tercium lebih jelas saat itu. Rasa-rasanya Layla seperti dipeluk secara tidak langsung oleh Athala.
Ketika makanan telah tiba seperti sudah terbiasa Layla mencuci tangannya ke dalam wadah kecil yang sudah diberi perasan jeruk. Perempuan itu juga makan dengan lahap mengabaikan kuku cantiknya yang kotor terkena sambal.
Rasa penasaran Athala kepada perempuan ini semakin besar.
“Sekarang coba ceritakan tentang dirimu, Athala.” Layla berkata begitu ketika keduanya berjalan berdampingan menuju mobil yang parkir agak jauh dari tenda pecel. “Aku akan merahasiakannya dari orang lain.”
Athla menoleh ke kanan dan kiri. Begitu melihat tiang lampu merah Athala menunjuk. “Aku pernah jualan koran di lampu merah itu. Kamu percaya?”
Kedua alis Layla menukik tipis. “Masa, sih?”
“Ceritanya agak panjang, tapi pokoknya dulu aku hanya bocah bau matahari yang menawarkan koran setiap kali lampu merah menyala. Aku memang enggak sampai menggembala kambing dan naik pohon mangga, tapi masa kecilku mungkin bisa dibilang setara dengan kamu.”
“Seandainya kita bertemu pas masih kecil.”
“Memang apa yang akan kamu lakukan?”
“Akan aku tawari kamu mangga yang baru aku petik.”
Keduanya terkekeh. Pada saat itu trotoar yang mereka lewati menyempit sehingga mau tak mau mereka harus berjalan di atas aspal dengan posisi Layla yang berjalan di belakang Athala. Sebuah suara klakson motor membuat Athala menoleh. Pada saat itulah dia melihat sebuah sepeda motor yang berjalan mepet ke trotoar. Dengan cepat Athala menarik tangan Layla membuat perempuan itu menjauh dari aspal.
Pada saat itulah kulit keduanya bersentuhan. Kulit Athala terasa hangat menyapu kulit Layla. Dan Jakarta malam itu menjadi saksinya.
[]