4 : Pesta Atap

1999 Words
“Tersenyumlah.” Noah meletakkan satu tangannya di belakang punggung Layla dan mencubitnya keras-keras. “Jangan buat aku malu,” bisiknya kemudian. Layla menggigit bibir bawahnya sekencang mungkin sebagai upaya untuk menahan rintihan. Minggu itu Noah mengajaknya untuk menghadiri pesta ulang tahun salah satu kliennya. Acara digelar pukul 4 sore tepat ketika matahari bersinar tak terlalu ganas. Acara yang digelar di rooftop gedung tertinggi di kawasan Jl. H. R. Rasuna Said, Jakarta itu terlihat ramai. Banyak wajah asing yang tak Layla kenal. Orang dewasa, remaja, bahkan sejumlah anak-anak juga ikut hadir. Dan Noah memaksa Layla untuk menyapa setiap orang itu. Dulu ini adalah pekerjaan yang menyenangkan. Layla akan mengenal banyak orang yang berasal dari latar belakang bergengsi; politik dan pebisnis besar. Namun, sejak Layla tahu jati diri Noah yang sesungguhnya kegiatan mendatangi pesta bersama Noah lebih mirip penyiksaan. “Wah, cantik sekali tunanganmu, Noah.” Seorang wanita menyapa. Penampilannya luar biasa s3ksi untuk sekelas acara pesta rooftop. Noah menampilkan senyum bangga. “Bebe, kenalkan ini Annette, pemilik Anntte’s Wedding Diary. Kamu tau? Itu merek butik gaun pengantin di kawasan Setiabudi.” Layla menyambut jabat tangan Anette. Entah Noah sadar atau tidak, tetapi perempuan bernama Anette itu memberikan pandangan menilai kepada Layla dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. “Layla,” kata Layla memperkenalkan diri. “Aku senang bisa bertemu langsung dengan kamu. Noah sering menceritakan tentang kamu.” Layla cukup heran mendengarnya. Itu berarti Noah dan Annette sering bertemu. Noah yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Layla buru-buru menjelaskan, “Aku mulai mencari tau tentang gaun pengantin yang mungkin akan kamu gunakan di pesta pernikahan kita nanti. Annette dan aku enggak sengaja bertemu saat itu. Nanti akan aku ajak kamu mengunjungi butiknya. Bagaimana, Annette?” Annette mengangguk setuju. “Aku akan sangat senang kalau Layla sampai datang. Aku sudah punya beberapa rancangan yang cocok untuk kamu dan … mungkin Noah juga akan suka.” Layla tidak menyukai Annette. Perempuan itu memiliki cara yang unik untuk merendahkan lawan bicaranya termasuk kepada Layla. Namun, Layla cukup bersyukur atas kehadiran perempuan itu. Annette mengekori Noah dan Layla ke mana pun mereka pergi dan selalu berusaha ikut di dalam percakapan sampai akhirnya Layla ada di titik di mana dia menyaksikan Noah mengabaikannya dan lebih memilih untuk bercakap-cakap dengan Annette. Tentu saja Layla tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Secara diam-diam Layla meninggalkan Noah bersama Annette. Layla tidak pulang. Tidak mungkin. Noah bisa murka jika sampai menyadari Layla pulang tanpa dirinya. Sebagai pelarian Layla berjalan memasuki bar and resto yang terhubung dengan rooftop tempat diadakannya pesta. Di dalam sana atmosfernya terasa jauh lebih hangat dan tak seberisik di luar. Layla menyukai tempat ini. Ketika sedang mencari tempat duduk yang kosong seseorang menabrak kaki Layla. Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya Layla menyadari bahwa yang menabraknya adalah seorang gadis kecil. Usianya mungkin baru 5 tahun. Dia menangis karena pantatnya membentur lantai secara keras. “Ya, ampun. Maafkan aku.” Layla berjongkok demi mensejajarkan tinggi. “Kamu enggak apa-apa?” “Diana!” Seorang anak lelaki menyusul. Wajahnya mirip dengan gadis kecil yang sedang menangis. Melalui visual keduanya Layla bisa langsung menyimpulkan kalau mereka adalah saudara. Anak lelaki itu menunduk demi memastikan kondisi adiknya. “I told you supaya enggak berlarian di ruang indoor seperti ini. Mommy will scold us if she knows kamu lari-larian kayak kuda.” Gadis bernama Diana itu merengut di tengah isak tangisnya karena tahu dimarahi oleh Dion—sang kakak. Layla yang ikut terlibat secara tidak langsung merasa bertanggung jawab sebagai penengah. “Emm … sorry, aku juga enggak liat-liat tadi makanya dia—Dianna enggak sengaja menabrak aku.” Seakan baru menyadari eksitensi Layla, Dion melirik Layla lantas mengembuskan napas berat. Anak lelaki yang usianya paling baru menginjak angka 7 itu terlihat sudah menanggung beban sebesar gunung. “It’s okay, Tante. Diana memang agak menyebalkan. Kadang dia enggak tau tempat untuk bermain. Hei, ayo, bangun. Enggak pantas anak perempuan menangis di lantai seperti itu.” Dion mengulurkan tangannya, tetapi Diana menolak untuk menerima. Gadis itu secara terang-terangan menunjukkan kalau dirinya sedang ngambek. Dion menggeram kesal, namun Layla justru tersenyum menyadari tingkah lucu keduanya. “Kamu mau Tante gendong?” tawar Layla kemudian. Orang-orang yang berlalu-lalang mulai melirik Diana penasaran. Karena tidak mau menjadikan gadis kecil itu sebagai pusat perhatian Layla langsung berusaha mencari solusi. Diana mengerjapkan matanya. Tampak jelas kalau dia tertarik dengan tawaran Layla. “Mau.” Dalam sekali tarikan napas Dianna sudah berada di dalam gendongan Layla. Beruntungnya sore itu Layla menggunakan gaun yang panjangnya hanya sedikit di bawah lutut sehingga dia tidak kesulitan berjalan sambil menggendong Diana. “Mama kalian di mana?” “She is busy,” jawab Dion. “Yang punya birthday party ini Papi but Mommy yang sibuk mengatur ini itu. That’s why my sister and I seperti anak hilang.” Kening Layla berkerut samar. “Harusnya kalian punya orang dewasa yang mengawasi. Bagaimana pun tempat ini enggak aman apalagi di bagian rooftop.” “I know, tapi sebentar lagi Paman Athala datang.” Dion mengedarkan pandangnya. “There he is!” Layla mengikuti arah tunjuk Dion. Di pintu masuk Layla melihat Athala. Lelaki itu mengenakan setelan formal berupa black velvet tuxedo yang dipadu dengan kemeja putih serta bowtie berwarna senada. Sekilas penampilan Athala terlihat lebih mirip lelaki yang ingin menghadiri Met Gala alih-alih perayaan ulang tahun biasa. Athala yang melihat kehadiran Layla juga menampilkan ekspresi tak menyangka. “Lho, Diana kenapa kamu digendong?” “Dia jatuh, Paman. Menabrak Tante ini.” “Berat, lho. Sini biar Paman aja yang gendong.” Diana cemberut dan menolak untuk pindah. “Enggak mau! Paman lama datangnya. Aku sebal.” Athala menunjukkan ekspresi bersalah kepada Layla. “Sorry, kalau kamu keberatan—” “Enggak apa-apa kok.” Layla buru-buru menjawab. “Lagian aku suka anak kecil.” Layla mengeratkan gendongannya kepada Diana. Aroma sampo Diana tercium manis dan segar kala itu. Ah, menggendong Diana mengingatkan Layla akan mendiang Kiara. Kalau saja Kiara lahir dalam kondisi hidup mungkin ketika besar nanti dia akan tumbuh cantik, sehat, dan aktif sebagaimana Diana. Mengingat itu membuat Layla sedih kembali. Athala melihat sekeliling. “Kita duduk yuk? Sekalian kita makan.” Dion yang bersemangat. Melihat saudaranya bersemangat Diana juga jadi ikut-ikutan. Mereka berempat duduk di meja yang kebetulan berkapasitas 4 orang. Beruntungnya Diana bersedia untuk duduk. Gadis kecil itu sudah sibuk dengan makanannya sama seperti Dion. “Mereka keponakan kamu?” tanya Layla sambil memperhatikan kedua bocah yang makan dengan lahap itu. “Diana dan Dion itu anaknya sepupuku. Yang punya pesta ini. Mereka enggak menyebalkan ‘kan selama aku belum datang?” “Enggak kok. Justru aku kagum. Dion itu umurnya berapa tahun ya? Dia sudah pandai bicara.” Layla jadi teringat pada sosok Liliana kecil. Liliana sejak kecil sudah pandai menggunakan bahasa Inggris. “I’m 7 years old,” jawab Dion ikut nimbrung. “And she is turning 5. Anyaways, what’s your name?” Lalya menampilkan senyum manis. “Layla.” “Such a beautiful name. Apa arti namanya?” “Namaku Layla Cantika artinya malam yang indah. Diambil dari bahasa Arab laila.” Dion mengangguk bagai mainan di dashboard mobil. “Seperti nama Paman Athala yang juga dari bahasa Arab. Apa artinya, Paman? Aku lupa.” “Anugerah.” “A perfect match. Anugerah berupa malam yang indah. Sounds good, right?” Dion menelan kentang gorengnya. “Tante udah punya pacar? Kalau Paman Athala belum.” Athala melotot. Kadang-kadang Dion itu terlalu cerdas untuk ukuran anak seusianya. “Kenapa?” Dion yang dipelototi tampak santai menanggapi. “I have a girlfriend tho. She is pretty. Mommy bilang semua orang diciptakan berpasangan like Mommy and Papi. So, you have to, Paman.” “Serius?” Layla nimbrung. “Siapa namanya?” “Emina. She has a beautiful eyes seperti milik Tante. I think you should date Paman Athala. Dia butuh teman untuk datang ke acara kayak gini. Mommy said Paman Athala kelamaan sendiri.” Layla terkekeh melihat wajah Athala yang sudah semerah kepiting rebus. Pasti lelaki itu mulai berpikir untuk mengepang bibir keponakannya supaya bungkam. Meskipun demikian, keempatnya menikmati sisa hari dengan hati yang ringan. Dion itu bawel, tapi pintar sehingga celetukannya seringkali membuat Layla gemas. Sementara itu, Diana lebih seperti kebanyakan anak seusianya di mana dunianya berputar pada kegiatan main. Rupanya pesta malam itu memiliki playground berukuran sedang. Kebanyakan tamu undangan yang merupakan orangtua menitipkan anak-anak mereka di sana dalam pengawasan pengasuh. Dion dan Diana menjadi anak yang tidak membawa baby sitter sebagai gantinya Athala dan Layla yang mengawasi mereka. “Kamu punya keponakan yang lucu-lucu,” komentar Layla ketika dia melihat Diana melambai ke arahnya. Gadis kecil itu kembali sibuk menekuni kegiatan membuat gelang yang terbuat dari manik-manik. “Kamu lihat sisi lucunya aja. Kalau lagi rese waduh … pusing aku. Apalagi Dion. Mungkin karena masih anak-anak Dion jadi enggak merasa bertanggung jawab untuk menyaring ucapannya sendiri.” Layla tertawa melihat ekspresi tertekan di wajah Athala. “Tapi, mereka kelihatannya sayang banget sama kamu.” “Yah, mungkin begitu. Dari kecil mereka memang aku yang urus. Orangtuanya sama-sama sibuk jadilah masa kecil mereka lebih banyak dihabiskan bersamaku daripada orangtua mereka sendiri.” “Jadi, kamu tau cara merawat anak kecil?” “Tau. Cara memandikan, mengganti popok, membuat s**u formula, sampai mengepang aku tau.” Sorot sedih muncul di mata Layla. Melihat itu Athala jadi teringat makam kecil yang diratapi oleh Layla tempo lalu. “Kamu suka anak kecil?” Seulas senyum pahit terbit di bibir Layla. “Suka. Mereka lucu. Pikiran mereka masih murni belum terpapar kerasnya hidup. Pandangan mereka polos dan jujur. Tangan mereka ….” Layla mengingat jari-jemari Kiara yang kaku. “Hangat.” “Kamu punya keponakan?” “Ada. Tapi, dia sudah besar. Sudah jadi mahasiswa yang sibuk. Katanya yang mengabari dia tentang kondisiku di RS adalah kamu.” “Oh, iya.” Athla teringat akan sosok Harsa. “Kalian mirip banget. Kalau dia enggak mengaku sebagai keponakan kamu mungkin aku pikir kalian kakak adik.” “Tante Layla!” Pada saat itulah Diana kembali. Gadis kecil dengan rok tutu itu menyodorkan satu gelang bermatakan manik-manik ke arah Layla. “Untuk Tante Layla.” Layla terkesima mendapatkan hadiah tak terduga itu dari Diana. “Boleh tolong kamu pakein?” Diana mengangguk. Dengan tangannya yang kecil Diana memakaikan gelang DIY tersebut di pergelangan tangan Layla yang kurus. Dipandanginya lamat-lamat gelang tersebut. Warna yang dipilih oleh Diana cenderung bertabrakan, namun Layla menyukainya. Ada ketulusan yang murni dari hadiah ini. “Thanks, Diana,” kata Layla sungguh-sungguh. “Ini buat Paman Athala. Aku pakein juga.” Tanpa menunggu persetujuan Athala langsung saja Diana meraih tangannya dan memaksakan supaya gelang itu masuk. Warna gelang yang terang membuatnya tampak mencolok di kulit tan Athala. “Warnanya agak norak, tapi makasih.” Diana melotot, tetapi kemudian mengangguk sebagai jawaban. Sisa pesta dihabiskan dengan mengobrol ringan sampai akhirnya Diana mulai menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Dion juga terlihat sudah tak tertarik dengan permainan apapun. “Aku antar mereka dulu ya kamar hotel. Kayaknya udah jam mereka buat tidur.” Layla mempersilakan Athala membawa kedua keponakannya. Pada saat itulah Layla kembali merasa kesepian. Ingar bingar pesta mewah ini sama sekali tak terasa menghibur lagi setelah kepergian Athala. Layla berniat untuk mencari Noah. Malam sudah merangkak naik dan Layla harus memastikan kapan mereka akan pulang. Noah tidak ditemukan di seluruh penjuru pesta. Insting Layla memintanya untuk mencari ke lorong toilet. Benar saja Layla menemukan Noah di sana. Lelaki itu tak sendirian. Ada Annette yang sedang bersandar di dinding, sedangkan kedua tangannya sudah mengalung di leher Noah. Annette melihat kehadiran Layla melalui ekor matanya. Namun, bukannya menjauh Annette justru menarik Noah supaya mendekat dan menc*mbu bibir Noah detik itu juga. Noah sama sekali tak melawan. Lelaki itu justru ikut tenggelam. Layla terpaku di tempatnya. Dia tak merasa sakit hati karena dikhianati. Layla justru merasa bahwa harga dirinya baru saja diinjak. Tak tahan dengan pemandangan itu Layla memilih untuk keluar dari gedung tempat acara berlangsung. Perset4an kalau Noah mau marah. Layla tak peduli. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD