“Om Yudistira memutuskan untuk enggak menarik kamu kembali ke perusahaan yang sebelumnya.”
Sheila berkata demikian sambil menarik roller blind. Seketika cahaya matahari yang hangat memasuki ruang inap VVIP tempat di mana Layla dirawat. Jejak embun dan air hujan tampak menempel di kaca selebar dinding. Cuaca pagi ini berbeda dengan kemarin. Hari ini matahari bersinar terang tanpa awan kelabu yang saling berarakan menutupi langit.
Kemarin malam Layla melakukan operasi pemasangan pen di kaki kiri. Beruntungnya Layla tak mengalami cedera di bagian organ dalam sehingga kondisinya tak terlalu mengkhawatirkan. Kalau keadaan Layla terus stabil besar kemungkinan dia sudah diperbolehkan untuk pulang paling lambat lusa.
Harsa yang ikut mendampingi mendengarkan ucapan ibunya dalam diam. Pemuda itu sibuk mengetik tugas kuliah menggunakan macbook yang dia tenteng sejak kemarin malam.
“Baguslah. Aku juga enggak mau jadi beban untuk Om Yudistira. Mempertahankan aku di perusahaan sebesar itu hanya akan mencoreng nama besar Hoesnadi,” balas Layla seakan tak peduli.
Sheila mengembuskan napas berat. Kakak perempuan Layla itu tampak dua tahun lebih tua sejak kasus Layla naik ke publik. Sebagai kakak jelas Sheila merasa bertanggung jawab atas hidup adiknya. “Padahal dulu kamu mati-matian lho supaya bisa dapat posisi sebagai kepala divisi di perusahaan Om Yudistira. Mulai dari jadi karyawan magang yang gajinya hanya setengah UMR sampai kamu dituduh naik jabatan karena adanya orang dalam. Kenapa sekarang kamu pasrah aja?”
“Enggak tau,” jawab Layla pendek.
“Sebagai gantinya kamu akan ditarik ke perusahaan Trios Jaya Group.”
Trios Jaya Group merupakan sebuah anak perusahaan yang berada di bawah naungan The Hoesnadis. Di antara seluruh anggota keluarga Hoesnadi, Yudistira adalah yang paling dekat dengan Sheila dan Layla. Sebagai pengganti Gundar, Yudistira merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan kakak beradik itu.
Walaupun Sheila dan Layla sudah lama lepas dari belenggu kemiskinan tetap saja Yudistira tak lantas melepaskan tangannya dari mereka. Yudistira bahkan agaknya lebih pantas disebut sebagai ayah daripada mendiang ayah biologis mereka sendiri.
“Aku enggak mau, Kak.” Layla menolak. “Aku udah enggak pantas buat kembali ke masyarakat.”
Sheila menggeleng tak ingin mendengar penolakan Layla. “Kamu tetap harus kembali, Layla. Suka atau tidak kamu tetap harus kembali seperti dulu. Kakak juga enggak akan membiarkan kamu untuk kembali tinggal sendiri di apartemen. Jangan juga mendatangi kelab malam dan jauhi teman-teman yang kamu temui di kelab. Kalau bukan karena mereka pasti kamu enggak akan menyentuh barang haram itu.”
Layla membuang muka. Dia enggan membalas ucapan Sheila. Lagi pula kakaknya tak akan paham sekalipun Layla menceritakan alasannya menyentuh nark0tika. Sebagai gantinya Layla memilih untuk menjadikan Harsa sebagai objek penglihatan. Keponakannya itu sekarang sudah besar. Harsa bukan lagi bayi merah yang menangis setiap kali berada jauh dari dekapan Sheila.
“Kamu enggak perlu menemani Ateu terus-menerus. Fokus aja pada kuliah kamu, Harsa,” kata Layla kemudian.
Ateu adalah panggilan yang Harsa berikan kepada Layla dan pelesetan dari tante.
Merasa jika dirinya sedang diajak bicara Harsa mengangkat pandangan. Wajah Harsa mirip sekali dengan Gasendra. Sheila hanya sedikit mewarisi gennya. Meski demikian, tak sedikit yang mengira bahwa Layla dan Harsa adalah sepasang kakak adik.
“Zaman udah berubah kok. Sekarang ada opsi untuk kuliah daring,” jawab Harsa santai. “Lagian kampusku deket kok dari sini. Ngesot dikit aku udah sampai di UI. Lagian … aku enggak mau ninggalin Ateu dalam keadaan seperti ini. Gimana pun kemarin itu salah aku. Kalau aja aku enggak kebelet buang air pasti—”
“It’s okay,” potong Layla cepat. Dia tidak mau membebani Harsa dengan sesuatu yang bukan salahnya. Keputusan Layla untuk mendatangi makam mendiang Kiara—nama bayinya muncul secara impulsif.
Kala itu di taman kota Layla melihat sebuah keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang balita. Mereka terlihat bahagia meniup balon sabun. Pemandangan itu langsung mengiris hati Layla dan menghantarkan jutaan rindu yang tak tersampaikan untuk mendiang bayinya. Bermodalkan uang seadanya Layla mendatangi pemakaman. Dia ingat di mana Kiara dikubur. Hatinya terasa kosong kala itu dan satu-satunya hal yang ingin Layla lakukan hanyalah menyusul Kiara ke tempat di mana keabadian berada.
“Untungnya ada orang baik yang menolong kamu,” celetuk Sheila.
“Ah, iya. Namanya Mas Athala. Kemarin dia yang menelepon aku.” Harsa menoleh ke kanan dan kiri. “Itu jasnya aja masih ada di sini.”
Layla ingat pada Athala. Lelaki itu yang membantunya. Mereka berdua basah kuyup, namun Athala lebih mementingkan Layla daripada dirinya sendiri.
“Coba mana jasnya?”
Harsa meraih jas yang disampirkan di sandaran sofa dan memberikannya kepada Layla. Jas itu sudah kering setelah kemarin malam ikut basah karena digunakan untuk menyelimuti tubuh Layla. Jejak aroma Athala tercium di jas itu ketika Layla mendekap jas tersebut.
Athala … Layla menggumamkan nama lelaki itu.
Di detik yang sama pintu ruang rawat Layla diketuk. Tak lama kemudian muncul wajah Noah. Lelaki itu mulai memasang topengnya. Dia menampilkan ekspresi khawatir.
“Bebe, maaf. Aku baru dapat tiket pesawat tadi malam.” Noah menjelaskan. Ketika tragedi itu terjadi Noah memang sedang tidak ada di Indonesia. Lelaki itu meletakkan sebuket bunga berukuran besar di atas lantai rumah sakit. Kedua tangannya meraih tangan Layla dan menggenggamnya lembut. “I wish I could take your pain away.”
Layla tak bereaksi. Tak seperti Noah, Layla payah dalam berakting.
***
2 bulan kemudian.
Di jam makan siang Dimas menyenggol pelan lengan Athala. Mereka berdua baru selesai membeli kopi di seberang kantor.
“Itu, deh kayaknya yang jadi sumber gosip anak-anak sini,” bisik Dimas.
Athala menoleh ke arah yang dimaksud. Siapa sangka orang yang dibicarakan oleh Dimas adalah Layla. Jika dibandingkan dengan Layla yang Athala temui 2 bulan lalu, maka Layla yang sekarang terlihat jauh berbeda. Perempuan itu mengenakan make-up yang berhasil menutupi kantong matanya yang gelap lagi cekung. Rambutnya yang dulu tampak tak terurus kini ditata rapi dan bergelombang di bagian ujung.
Layla nampak terlahir kembali sebagai manusia yang memiliki nyawa dan bukannya patung porselen. Layla yang begini semakin mengingatkan Athala pada sosok Elaine saat dia masih sehat.
Perempuan itu terlihat sibuk bicara dengan rekan kerja lain sambil menunggu lift terbuka.
“Gosip yang mana?” tanya Athala heran.
Di antara teman-temannya yang lain Athala memang yang paling sering ketinggalan gosip. Bukannya apa, sih. Bagi Athala kebanyakan gosip itu tak penting baginya. Kalau bukan urusan cinta terlarang maka, ya … tak jauh-jauh dari hinaan yang disusun sedemikian rupa supaya terdengar seperti kritik.
“Dia masuk sini karena jual beli jabatan. Dulu gue denger dia kena sandung kasus penyalahgunaan nark0ba. Gila ‘kan? Mantan pengguna nark0ba bisa menjabat jadi kepala divisi suplain chain management. Kalau gue, sih udah pasti kelar karier gue.”
“Emang dia anak siapa sampai muncul gosip tentang jual beli jabatan?”
Dimas berdecak gemas. “Dia itu cucunya Gundar Hoesnadi, konglomerat paling kaya di Indonesia. Bukan cuma itu dia juga adik iparnya Gasendra Tanoewidjaya. Pokoknya latar belakang keluarganya Layla mantep, dah.”
“Apa lagi yang lo tau soal dia?”
“Dia tunangan sama Noah Elio Rahardjo.”
“Pengacara yang suka wara-wiri di tv itu?” Athala ingin memastikan.
“Nah, itu lo tau. Gosipnya, sih Noah mau terjun ke dunia politik. Kalau dipikir-pikir buat orang sekelas Layla yang punya backing-an keluarga konglomerat dan tunangan publik figur jabatan sebagai kepala divisi suplain chain management rendah juga ya? Kalau gue, sih mending sekalian minta jabatan jadi CEO.”
Athala tak menimpali lagi karena sekarang fokusnya tersedot kepada Layla. Secara kebetulan Layla menoleh ke tempat di mana Athala berada. Masih segar di ingatan Layla tentang sosok Athala. Semula Layla menampilkan raut wajah terkejut karena tak menyangka dapat bertemu dengan Athala di sini.
Akan tetapi, beberapa detik kemudian Layla menampilan seulas senyum sopan ke arah Athala.
Refleks Athala membalas sapaan tersebut sebelum akhirnya Layla masuk ke dalam lift.
***
“Belum pulang?”
Di minggu kedua Athala akhirnya memiliki kesempatan untuk mengajak Layla bicara. Selama 2 minggu bekerja di Trios Jaya Group Athala diam-diam memperhatikan Layla. Perempuan itu akan makan siang di luar kantor dan pulang tepat waktu dengan dijemput sopir. Hanya saja, sore itu sampai pukul 6 mobil yang biasa menjemput Layla belum datang juga.
Layla menoleh ke sumber suara. Dia sedang berdiri di lobi kantor kala Athala datang. “Belum. Karena hujan dan jalan tergenang banjir di luar sana jadi macet. Sopirku mungkin baru sampai sekitar jam 7 malam.”
“Mau pulang bersama?”
Layla melirik arlojinya. Dia memang sudah lelah. Menunggu jemputan juga terasa begitu membosankan. Tak ada alasan untuk menolak Athala. “Kalau enggak merepotkan.”
“Tentu aja enggak. Sebentar ya kamu tunggu di sini.”
Layla mengangguk. Selama Athala pergi Layla mengirim pesan ke Gasendra bahwa dia akan pulang bersama dengan Athala. Gasendra tak perlu merasa cemas karena dia sudah tahu siapa sosok Athala yang dimaksud.
Sekitar 10 menit kemudian suara klakson terdengar. Layla menoleh dan menemukan mobil milik Athala. Tak lama dari itu Athala keluar sambil melebarkan payung.
“Ayo,” ajaknya.
Layla agak gugup. Sejak masuk pusat rehabilitasi Layla tak pernah lagi bersosialisasi. Hidupnya seakan terkurung di dalam sebuah gelembung raksasa. Kehadiran Athala yang tiba-tiba sedikit membuatnya agak tak nyaman. Athala yang menyadari itu agak menarik diri sehingga menciptakan jarak yang aman dengan Layla. Walaupun demikian, Athala tetap mencodongkan payung ke arah Layla.
Athala memastikan agar pundak Layla tak basah oleh hujan sementara pundak kanannya sendiri sudah basah.
“Jas kamu masih ada di rumahku. Nanti sekalian ambil aja ya?” Layla membuka obrolan setelah menyebutkan alamat tempat tinggal Sheila.
“Oh, itu. Okay.”
Tadinya Athala kira Layla masih tinggal di apartemen yang dulu hanya saja beda lantai. Namun, begitu mendengar alamat yang disebutkan Athala langsung dapat tahu kalau perempuan itu sudah pindah.
Athala tiba di tempat tinggal Layla tepat ketika makan malam telah disajikan. Sebagai orang yang paling merasa berhutang budi tentu saja Sheila memaksa Athala untuk makan malam bersama. Kali itu Gasendra belum sampai sehingga di meja makan hanya ada Layla, Sheila, dan Harsa.
“Tunggu ya. Aku ambil jasnya dulu.”
Layla berpesan setelah makan malam selesai. Selama Layla pergi ke kamarnya Athala duduk menunggu di ruang tengah. Ruang tengah keluarga Tanowiedjaya diisi oleh dinding foto. Ada banyak foto yang menempel di dinding. Semua foto itu dibingkai di dalam satu ukuran yang sama sehingga tampak elegan dan rapi.
Athala tak mau hanya duduk sambil menunggu jadi, dia berkeliling memerhatikan setiap foto. Di dalam hampir semua foto itu ada Layla. Layla versi anak-anak—sepertinya itu Layla mengingat fitur wajahnya mirip, Layla versi remaja, dan Layla versi Dewasa. Layla selalu bersama dengan keluarganya. Latar foto pun berbeda-beda. Ada yang berlatar di Pantheon Roma, Sydney Opera House, sampai Arc de triomphe de l'Étoile.
“Aku penasaran sekuat apa paspor kamu sampai bisa mengunjungi banyak negara.” Athala menunjukkan kekagumannya ketika Layla kembali.
“Tapi, aku lebih suka pergi ke liburan di negara sendiri.”
“Kenapa?”
Layla ikut memandangi dinding yang penuh akan foto. Setiap foto memiliki kenangannya masing-masing. “Karena aku enggak perlu pusing nyari nasi, enggak perlu mikirin apakah harus bawa baju winter atau summer, dan enggak perlu mengalami jet lag.”
“Ini siapa?” Telunjuk Athala mengarah kepada potret Liliana kecil.
Di dalam foto itu Liliana sedang tersenyum bersama dengan Layla, Gasendra, dan Sheila. Foto tersebut diambil puluhan tahun silam ketika mereka berempat pergi liburan ke Taman Marga Satwa Ragunan.
“Itu … saudaraku. Dia anaknya Mas Gasendra dan Kak Sheila. Kakaknya Harsa.”
“Dia enggak tinggal bersama kalian?”
Ada senyum pahit yang merekah di bibir Layla. Athala langsung dapat tahu kalau dia salah bertanya. Tadinya Athala bermaksud untuk meminta maaf, akan tetapi Layla sudah kepalang menjawab.
“Dia tinggal di luar negeri. Sudah tahunan di sana. Awalnya dia sakit, tapi setelah sembuh Lili enggak ingin kembali. Jadilah menetap di sana. Status kewarganegaraannya masih WNI.”
“Kalian pasti kangen dia.”
Layla mengangguk. “Kangen sekali. Liliana itu bukan hanya saudara, tapi dia juga guru. Dia mengajari aku banyak hal. Semoga nanti kalian bisa bertemu.”
Ucapan Layla terdengar bagai janji yang membawa harapan kepada Athala bahwa hubungan mereka akan berlangsung panjang.
[]